Berapa Anda Layak Dibayar?

216

Article Top Ad

SALAH satu dilema yang memusingkan guru adalah berapa sebenarnya ia layak dibayar. Bagi guru-guru pemula, sangatlah sulit untuk bisa menentukan tarif berapa sebenarnya mereka layak dibayar. Persoalannya adalah, mereka menghadapi dua kemungkinan yang dua-duanya ibarat buah simalakama.

Kemungkinan pertama, mereka menentukan tarif rendah atau murah, dengan harapan memperoleh siswa sebanyak mungkin. Atau kemungkinan kedua, menerapkan tarif mahal, dengan konsekuensi belum tentu memperoleh murid sebanyak yang dibayangkan. Kalau boleh disimpulkan, kebanyakan guru pemula lebih memilih menerapkan tarif murah dengan harapan mendapat siswa sebanyak mungkin. Benarkah itu menguntungkan? Bagaimana jika Anda harus menaikkan tarif? Apa saja yang harus dipertimbangkan?

Martha Berth Lewis, Phd, pedagog yang juga konsultan beberapa sekolah musik di Amerika mengatakan, kemungkinan risiko yang paling nyata dihadapi ketika seorang guru menetapkan iuran yang murah adalah, tidak cukupnya income yang akan diterima. Selain itu ada juga beberapa kemungkinan lain yang patut dipertim. Bisa jadi guru menetapkan biaya kursus yang ren dengan alasan barangkali karena merasa kuatir bila siswa-siswa tidak mampu membayar lebih dari itu.

Article Inline Ad

Meski niat itu sebenarnya mulia, namun dampak dari keputusan itu akan secara serta merta merta membuat guru dikategorikan sebagai seorang guru yang murah. “Meski Anda tidak akan mendengarnya secara langsung dari orang-orang di sekeliling Anda, namun rendahnya biaya kursus seorang guru kadang-kadang diasumsikan umum oleh konsumen bahwa Anda bukanlah guru yang bagus, karena jika Anda guru yang sangat bagus tentu Anda akan memberikan tarif yang lebih mahal,” kata Martha.

Sebagai seorang guru yang menetapkan tarif murah, lanjut Martha, secara umum guru akan cenderung untuk mengambil atau menerima siswa-siswa yang menganggap pelajaran-pelajaran musik hanya sebagai sebuah aktifitas jangka pendek, atau mereka yang menganggap apa yang mereka bayar kepada guru sebagai uang yang diberikan untuk sebuah ongkos pelayanan seketika. Semacam biaya potong rambut, misalnya. Jika begitu, ada kecenderungan siswa maupun orangtua akan bersikap “sombong”, tidak terlalu mempedulikan jadwal pelajaran dan kehadiran siswa, gampang sekali meng-kensel jadwal, membayar tidak tepat waktu, dan tidak terlalu kontinyu dalam belajar.

“Penetapan tarif yang rendah pada setiap orang, juga akan membuat mereka beranggapan Anda bukan bukan guru yang pandai. Konsekuensinya, orang akan berusaha mencari sosok yang mampu memberikan pengajaran musik level tinggi, dan itu bukan termasuk Anda. Karena bila Anda guru berkelas, tentu Anda akan menetapkan tarif yang lebih mahal,” kata Martha.

Ketika guru berada pada posisi tersebut, dalam pandangan Martha, guru akan kesulitan keluar dari ‘market rendah’ yang sudah terlanjur terbentuk. Sementara guru itu sendiri juga merasa tidak nyaman dengan harga tersebut. “Ini sebuah kerugian yang tidak sebanding dengan kekacauan yang ditimbulkannya,” kata Martha. Oleh karena itu, Martha menyarankan, seorang guru harus bisa menghitung secara masuk akal berapa tarifnya. “Dengan tarif yang masuk akal, akan memberikan kepada Anda fleksibilitas lebih banyak, bukan hanya secara finansial, tetapi juga dalam hal siswa-siswa seperti apa yang akan Anda pilih,” kata Martha.

Menaikkan Tarif
Dalam beberapa hal, ada kalanya sekolah musik atau guru terpaksa harus menaikkan tarif mereka, setelah beberapa periode pengajaran berlalu. Jika Anda berpikir inilah saatnya untuk menaikkan tarif, dengan berbagai alasan tentunya, ada baiknya dipikirkan dengan matang lebih dulu dampak dan risikonya, agar tidak menimbulkan “keributan”.
Martha memberikan beberapa langkah yang perlu diperhatikan sekolah musik atau guru bila memang harus menaikkan tarif. Pertama, persiapan. “Langkah bijak yang bisa dilakukan bila Anda memang harus menaikkan tarif adalah dengan melakukan persiapan atau pengkondisian lebih dulu sebelum tarif dinaikkan.

Persiapan itu dalam bentuk pemberitahuan bahwa tarif akan naik. Paling tidak, pemberitahuan diumukan satu atau dua bulan sebelumnya. Hal ini semacam “test case’ atau ‘kesiapan mental’ kepada siswa dan orangtua siswa untuk melihat bagaimana respon mereka. “Guru akan melihat bagaimana reaksinya kemudian, apakah kemudian banyak siswa yang terpaksa keluar karena keberatan dengan tarif baru atau mereka tidak terpengaruh dan tetap melanjutkan pelajarannya dengan Anda,” kata Martha.

Menurut Martha, cara itu dianggap paling bijak sekalipun guru mungkin harus kehilangan beberapa siswanya. Hal itu lebih baik daripada memberitahukan kenaikan tarif guru secara mendadak, semata-mata menghidari risiko kehilangan siswa. “Pada kenyataannya, cara tersebut justru sangat tidak bijak, dan bahkan berisiko bahwa Anda akan benar-benar kehilangan siswa,” kata Martha. Dalam pemberitahuan itu, guru sebaiknya menyebutkan berapa kenaikannya, dan bagaimana pembayarannya.

Langkah kedua yang harus dipertimbangkan, kata kata Martha, adalah waktu penerapan atau pemberlakuan tarif baru. Pada kebanyakan kasus, kenaikan tarif biasanya dilakukan pada awal tahun pelajaran baru, atau pada periode tertentu dimana guru telah menyelesaikan skedul pelajaran. Beberapa guru menaikkan tarif pada saat siswa naik tingkat. “Kapanpun waktu untuk menaikkan tarif yang dianggap tepat oleh guru, saya menyarankan agar sebaiknya guru menaikkan tarif tidak bersamaan dengan kemungkinan tarif lain juga mengalami kenaikan. Jika hal ini terjadi, tentu akan sangat membebani siswa dan orangtua siswa,” kata Martha.

Martha memberi contoh, jika guru atau sekolah musik memberlakukan masa satu tahun pelajarannya sama dengan masa pelajaran sekolah umum, maka sulit bagi guru atau sekolah musik itu untuk menaikkan tarif, karena pada saat bersamaan, siswa juga dibebani dengan kenaikan tarif sekolahnya. “Dengan kata lain, hindari waktu atau saat dimana siswa dan orangtua siswa merasa terbebani pada saat yang bersamaan. Jika ini terjadi, kebanyakan orangtua siswa akan menomorsatukan apa yang menjadi prioritasnya. Tentu saja, jika mereka berpan dangan belajar musik hanya second activity di luar sekolah umum, mereka akan lebih memilih mementingkan sekolah anaknya daripada belajar musik. Pada saat ini, guru harus siap kehilangan muridnya,” kata Martha.

Pertimbangan ketiga adalah bagaimana pemberitahuan itu dilakukan. Kebanyakan gur u atau sekolah musik memberitahukannya melalui pengumuman di papan pengumuman atau melalui pemberitahuan langsung. Ini berisiko bahwa pemberitahuan itu tidak akan bisa sampai langsung ke orangtua siswa.

Cara yang baik, kata Martha, adalah dengan membuat surat pemberitahuan resmi dan disampaikan langsung kepada orangtua siswa. Selain menunjukkan profesionalisme, pemberitahuan secara resmi melalui surat juga pertanda guru menghargai kliennya. “Beritahukan dengan kata-kata jelas, dan bijak. Misalnya, tarif baru ini efektif mulai bulan September. Tarif untuk ½ jam pelajaran menjadi sekian, dan satu jam pelajaran menjadi sekian, misalnya. Anda tidak perlu berpanjang kata menjelaskan alasan kenaikan tarif. Yang juga perlu diingat, hindari memberitahu atau menjelaskan soal kenaikan tarif melalui telepon. Ini sangat tidak professional,” kata Martha.

Pada banyak kasus, guru memberitahu orangtua siswa melalui surat resmi dan menjelaskan alasan-alasan mengapa tarif naik, fasilitas apa yang akan diberikan kemudian, program-program apa yang akan dilakukan, dan sebagainya. Penjelasan seperti itu tidak diperlukan, karena meski tujuannya baik, yakni sebagai “pembenar” terhadap kenaikan tarif, disisi lain menunjukkan bahwa guru tidak percaya diri.

“Alasan yang bertele-tele seperti itu membuat orangtua siswa berpikir bahwa Anda tidak percaya diri untuk meminta sebuah tarif yang lebih baik. Kebanyakan orangtua sudah terbiasa dengan kenaikan biaya hidup. Dan bila Anda memang melakukan tugas Anda dengan baik, orangtua siswa menghargai dan menghormatinya, karena mereka merasa mendapat benefit dari Anda. Semakin Anda banyak beralasan, semakin memberi kesempatan orangtua siswa untuk mempertanyakan alasan Anda. Jadi, tulis saja dengan singkat, jelas, dan tidak perlu berbasa-basi,” kata Martha.

Berapa Kali Kenaikannya?
Masalah lain yang berkaitan dengan kenaikan tarif, menurut Martha, adalah seberapa sering kenaikan itu dilakukan. “Banyak guru menanyakan ke saya, apakah sebaiknya tarif dinaikkan setiap tahun, atau menunggu beberapa tahun kemudian, lalu dinaikan dengan tinggi. Terusterang saya tidak bisa memberi jawaban yang tepat. Itu sangat individual sekali, dan sangat tergantung pada apa yang Anda inginkan dengan kenaikan tarif tersebut dan apa yang akan Anda kerjakan,” kata Martha.

Secara umum, lanjut Martha, tidak ada batasan seberapa sering kenaikan tarif sebaiknya diberlakukan, karena sepenuhnya tergantung guru atau sekolah musik. Yang perlu diperhatikan adalah, berapa kenaikan yang menurut Anda masuk akal, dan berapa lama tarif baru itu bisa bertahan sebelum Anda menaikkan tarif lagi.

“Anda harus memiliki estimasi sampai berapa lama kenaikan tarif itu bisa bertahan. Anda juga harus mampu menghitung dan menentukan berapa persen kenaikannya dan sampai berapa tarif itu bisa bertahan. Dalam bisnis apapun, biaya adalah sesuatu yang sensitif, krusial, dan memerlukan manajamen yang hati-hati. Jika tidak, konsekuensinya sangat jelas, Anda akan terlihat professional, atau sangat tidak professional,” kata Martha. (eds)

Article Bottom Ad