“HARUS KREATIF”
TINGGAL cukup lama di luar negeri mengikuti tugas ayahnya yang diplomat, membuat Dian Hadipranowo atau yang lebih terkenal dengan nama Dian H.P, memiliki kesempatan belajar musik klasik di sumber aslinya. Dan ketika kembali ke Indonesia, pengetahuan musiknya mengantar kesuksesannya sebagai pencipta lagu, aranjer dan penata musik sinetron, film, dan banyak proyek musik lainnya. Berikut bincang singkat dengan sosok yang murah senyum ini.
Bagaimana masa kecil Anda dan bagaimana Anda terhubung dengan musik?
Saya lahir di keluarga yang suka musik. Ayah saya diplomat yang sering pindah tugas. Saat ayah bertugas di Paris, beliau membeli piano dan saat itu saya masih berusia dua tahun. Itulah pertamakali saya melihat piano. Saya selalu menyaksikan ketika ayah sedang main piano. Saya ingat, kalau saya pas lagi rewel, ayah selalu menenangkan saya dengan memainkan piano. Jadi, pelajaran piano pertama saya dari ayah adalah, piano ternyata bisa menenangkan perasaan hahaha….Setiap hari rumah kami tak pernah sepi dari musik. Ayah dan ibu saya juga pendengar musik yang baik. Jadi sejak kecil sudah terpapar oleh musik.
Kapan mulai belajar musik?
Waktu ayah ditugaskan ke Moskow. Di Moskow itu saya masuk sekolah Indonesia. Kepala sekolahnya mewajibkan setiap murid dari SD sampai SMA harus belajar musik. Nah dari situ saya mulai mengenal musik dengan belajar piano. Tiap acara kenaikan kelas, saya tampil untuk menunjukan hasil belajarnya. Ayah memberi saya guru privat untuk mengajar saya di rumah. Dari situ saya makin bersemangat. Saya juga sering ditugaskan mengiringi lagu-lagu nasional kalau ada upacara di kedutaan. Pengalaman itu sangat membanggakan dan membuat saya percaya diri. Waktu di Moskow saya bersama mbak Adelaide Simbolon dan mas Chandra Darusman. Kami sering tampil kalau ada acara di kedutaan.
Diplomat sering pindah tugas, bagaiman dengan kegiatan belajar Anda?
Ya betul. Diplomat itu paling lama 3 tahun bertugas di sebuah negara. Untuk belajar sekolah umum sih nggak masalah karena di tiap negara ada sekolah Indonesia. Nah untuk piano ini saya belajar dengan guru privat. Waktu ayah pindah ke Jerman, saya ikut kursus piano klasik di sebuah institut seni yang membuka kelas khusus untuk orang luar. Saya juga belajar privat dengan dua guru piano lainnya yang memberikan lagu-lagu di luar yang diajarkan karena saya selalu tertarik dengan lagu-lagu lain. Selama tingal di luar negeri, saya lebih banyak belajar piano secara privat karena ayah sering pindah tugas ke negara lain. Setelah lulus SMA, saya masuk ke institusi pendidikan permanen
Kapan dan dimana itu?
Kira-kira tahun1982, saya kembali ke Jakarta dan belajar di Institut Kesenian Jakarta atau IKJ. Dosen piano saya ibu Marusia Nainggolan dan ibu Awuy, tapi nggak sempat selesai karena keburu mendapat banyak tawaran bekerja di televisi.
Anda penulis lagu, penata musik, dan aktif di pertunjukan musik. Sejak kapan proses kreatif itu dimulai?
Sejak saya kelas 5 SD saya sudah bisa membuat lagu untuk kalangan sendiri, membuat aransemen untuk vocal grup atau paduan suara. Baru benar-benar serius di pembuatan lagu, aransemen, penata musik untuk film, dan pertunjukan lainnya setelah 1986. Sebelumnya saya juga sempat mengajar di beberapa sekolah musik selama sekitar 4 tahun sebelum mengundurkan diri karena pekerjaan makin banyak.
Apa yang mendorong Anda terjun di bidang musik dengan begitu banyak aktifitasnya?
Yang jelas karena motivasi diri saya sendiri. Saya merasa bahwa passion saya di musik, dan saya ingin total di situ. Sejak kecil saya sudah belajar piano. Lalu waktu SMP dan SMA di Jerman saya banyak terlibat dalam pembuatan dan aransemen lagu, nah setelah lulus SMA saya kembali ke Indonesia dan kuliah IKJ jurusan musik, jadi dunia saya memang di musik.
Bagaimana proses kreatif Anda berkembang?
Tempat kuliah saya adalah tempat yang pas untuk eksplorasi yang lebih luas. Orang-orang di sekeliling saya adalah sosok-sosok yang kreatif dan inspiratif. Bu Marusia banyak terlibat dalam pembuatan aransemen musik. Saya sering diajak melihat bagaimana proses beliau dalam mengaransemen dan menata musik. Beliau adalah sosok inspirasi saya.
Sepanjang kerier Anda momen apa yang paling berkesan?
Setiap momen berkesan, karena menjadi kekuatan bagi saya untuk tetap bertahan hingga saat ini. Tapi jika ada yang paling mengesankan barangkali ketika saya mendapat penghargaan sebagai Penata Musik Sinetron Terbaik 1997 dalam Sinetron “Sepanjang Jalan Kenangan” pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1997. Juga ketika mendapat penghargaan sebagai Penata Musik dan Produser Album Anak-anak Terbaik Anugerah Musik Indonesia tahun 2003, dan Penata Musik Film terbaik pada film Love Is Cinta.
Melihat begitu banyak karya dan pencapaian dalam karier Anda, bagaimana hal itu bisa terjadi?
Saya punya prinsip bahwa ketika kita memilih, apapun itu, maka harus konsekuan dengan pilihan itu. Sejak kecil saya belajar piano klasik, lalu saat di perguruan tinggi saya berteman dengan banyak orang yang berkecimpung di dunia musik, dengan berbagai aliran musik. Termasuk musik-musik populer. Nah dalam hal ini kemampuan beradaptasi sangat penting.
Background Anda musik klasik, tapi sukses di musik populer. Bagaimana ceritanya?
Saya beruntung bisa belajar musik klasik karena musik klasik memberikan pondasi yang kuat untuk saya berkarya, misalnya dalam hal komposisi dan harmoni, dimana saya dapat mengaplikasikannya untuk menciptakan karya musik pop yang kompleks dan menarik bagi audiens yang lebih luas. Justru karena background saya klasik, saya menjadi mudah beradaptasi dengan jenis musik apapun. Dalam musik itu bukan segmentasi yang ditonjolkan, tapi kolaborasi. Di dunia ini tidak ada satu hal pun yang bisa berjalan sendiri. Semua terlibat dalam kerjasama.
Bagaimana Anda melihat perkembangan dunia pengajaran musik di Indonesia dewasa ini?
Saya salut ya perkembangan pengajaran musik di Indonesia saat ini luar biasa majunya. Jaman saya dulu hanya ada beberapa sekolah musik, dan tidak semua kota ada sekolah musik atau kursus musiknya. Tapi sekarang hebat. Hampir di setiap kota ada sekolah musik ataupun tempat kursus musiknya.
Apa harapan Anda dengan perkembangan pembelajaran musik di Indonesia dewasa ini?
Harapan saya, terciptanya generasi yang berbudaya, cinta tanah air, kreatif, disiplin, dan punya kecerdasan emosional yang baik, serta meningkatnya apresiasi terhadap seni. Di sisi lain, generasi muda dapat mengembangkan bakat, meningkatkan rasa percaya diri, dan tentu saja memiliki peluang karier di berbagai bidang musik.
Dewasa ini banyak anak-anak muda kita belajar musik ke luar negeri. Apa saran untuk mereka?
Manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, karena tidak semua anak memiliki kesempatan untuk belajar di luar negeri. Itu sebuah kemewahan, dan karenanya harus bisa memberikan dampak yang nyata. Anak-anak harus kreatif. Jangan jadikan belajar musik menjadi beban, apalagi siksaan. Oleh karena itu, para orangtua sangat penting dalam mengarahkan, mendorong, dan mendukung semangat belajar musik anak-anaknya. Gunakan kesempatan belajar di luar negeri untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, langsung dari sumbernya. Jika belajar musik klasik, Eropa adalah sumbernya. Jangan lupa juga untuk menjalin hubungan yang baik dengan semua orang. Suatu saat mereka akan sangat membantu.
Sebagai pianis bagaimana Anda melihat hubungan antara alat musik yang berkualitas dengan keberhasilan dalam proses belajar musik?
Jelas sangat penting. Alat musik yang berkualitas akan sangat mendukung keberhasilan belajar karena sejak awal murid sudah dibiasakan mendengar suara yang baik dan berkualitas, yang bisa menghadirkan nada-nada dengan sempurna. Di piano misalnya, jika sejak awal anak-anak dibiasakan mendengar suara yang berkualitas, dapat dipastikan mereka akan kritis dan sensitif dengan suara. Itu baik, karena dengan begitu mereka akan mampu menghasilkan suara yang indah dan permainan yang mengesankan
Ngomong-omong, apa kegiatan Anda belakangan ini?
Yang pasti sih sedang dalam proses menyelesaikan kuliah S 2 saya. Ini sudah cukup lama terbengkalai sih karena kesibukan saya. Disamping itu, mengisi seminar, diskusi, dan sesekali masih megerjakan proyek meski tidak sebanyak dulu. Kadang ke luar kota memenuhi undangan untuk pelatihan. Juga memberi kuliah singkat secara online untuk mereka yang pingin tau gimana cara aransemen, bikin musik latar, dan sebagainya. Ada saja sih kesibukanku. Lumayan daripada bengong hahaha….
Sebagai musisi, bagaimana Anda melihat piano Steinway?
Wah…Steinway sih nggak ada tandingannya deh. Waktu saya di Eropa,
sering main Steinway. Dan memang keren banget sih. Warna suaranya itu lho, sangat kaya dan indah banget sehingga pianis bisa membuat karakter dan warna apa saja yang dikehendaki. Semua pianis hebat mengakui Steinway adalah piano terbaik yang pernah dibuat. (*)










































