Dr. Irene Margarete Setiawan

20

Article Top Ad

‘Tetaplah Rendah Hati’

Bermain piano tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga membantu anak-anak membangun disiplin dan rasa percaya diri. Dr. Irene Margarete Setiawan percaya bahwa latihan dengan komitmen dan kerja keras merupakan elemen penting, tidak hanya untuk bermain piano tetapi untuk hal apa pun dalam hidup. Setelah 14 tahun di luar negeri, kelahiran Surabaya ini kembali ke Indonesia dan bertekad memberi kontribusi bagi perkembangan musik klasik di tanah airnya. Berikut bincang singkatnya.

Bagaimana masa kecil Anda dan bagaimana Anda terhubung dengan musik?
Saya anak tunggal dalam keluarga saya, yang sama sekali tidak memiliki latar belakang musik, kecuali sekedar penikmat musik saja. Saya memulai belajar musik pada usia empat setengah tahun dengan mengikuti grup kelas musik di Rhapsody Music Surabaya selama satu tahun setengah, lalu meneruskan ke Yayasan Musik Indonesia (YMI) setelah melihat pentas musik terbuka di sebuah plasa di Surabaya, dan langsung ambil privat piano. Saya lupa dengan siapa saja pertama kali belajarnya waktu itu. Yang saya ingat, saya cukup lama dibimbing ibu Barbara Sitindjak. Beliau orangnya sangat disiplin dan sabar. Beliau juga yang menanamkan rasa suka saya kepada piano, sehingga setiap saya latihan pun tanpa dipaksa orangtua. Cukup lama saya belajar dengan ibu Barbara, sampai suatu saat beliau merekomendasikan saya untuk belajar dengan ibu So Kim Wie.

Article Inline Ad

Guru piano senior dari Malang itu ya?
Betul. Saya akhirnya belajar dengan ibu So Kim Wie, dan tampil di beberapa pertunjukan diantaranya Junior Original Concert. Di kelas JOC ini guru saya cukup banyak waktu itu. Ada bu Agustina, cece Wina, pak Jusak Nugraha, juga cik Linda. Waktu itu JOC dipimpin Mr.Watanabe. Seru banget. Beberapa waktu kemudian, temannya papa mengenalkan saya ke bu Sieny Debora dan saya pun belajar dengan bu Sieny Debora yang sangat passionate dengan piano dan membuat saya juga tertular menjadi lebih passionate dengan piano. Walaupun sebelumnya saya sudah kepingin jadi pianis, tapi di bawah bimbingan bu Sieny saya tambah kepingin jadi pianis hahaha… Cukup lama saya belajar dengan bu Sienny, mungkin 13 atau 14 tahun dan terus terang beliau yang banyak menginspirasi saya di piano

Itu jugakah yang akhirnya membuat Anda memutuskan untuk memperdalam piano?
Jujur saja sebenarnya saya sempat galau juga sih untuk memutuskan memilih piano karena waktu itu nilai pelajaran sekolah saya juga sangat bagus dan memungkinkan untuk mengambil bidang lain. Jadi saya menimang-nimang untuk mengambil jurusan lain. Tapi orangtua saya rupanya melihat, saya sepertinya lebih senang ke musik. Walaupun orang tua saya tidak memaksa saya harus ke piano, tetapi menurut observasi mereka, saya lebih condong ke musik meski nilai sekolah saya juga berpeluang untuk saya mengambil jurusan lain. Saya sempat merenung agak lama sebelum akhirnya memutuskan memilih piano

Hasil perenungan seperti apa yang menguatkan Anda akhirnya memilih musik?
Dari hati yang paling dalam saya harus mengakui bahwa saya merasa ada panggilan untuk menekuni musik. Saya merasa ada passion yang kuat di musik. Di sisi lain, saya juga suka bidang lain, tapi sepertinya totalitas saya di piano. Minat saya di bidang lain itu nggak sampai sedalam di musik. Memang, di bidang apapun pasti selalu ada hambatan dan tantanganya. Hanya saja, kalau di musik, apapun tantangan dan hambatannya, saya merasa lebih siap bersedia untuk berjuang sekuat tenaga dibanding bidang-bidang lain.

Setelah memilih musik, lalu apa langkah Anda?
Waktu itu saya sempat ke Jerman melihat-lihat sekolah musik di sana. Ibu Sieny juga bantu saya kasih pandangan mau sekolah dimana. Kebetulan juga waktu itu ada pianis dan guru dari Jerman, Mr. Hansjorg Koch, yang sering kasih master kelas dan juga konser di Surabaya, dan saya kenal baik dengan beliau. Guru saya, ibu So Kim Wie juga lulusan Jerman, jadi keinginan untuk belajar di Jerman cukup besar sih waktu itu, apalagi Jerman kan salah satu negara dengan pendidikan musik terbaik di Eropa. Bahkan saya sempat belajar bahasa Jerman satu setengah tahun. Dan seiring berjalannya waktu, mendekati kelas 2 dan 3 SMA, orangtua saya malah galau hahaha… Saya kan anak tunggal nih, wah… gimana ini? Anak satu-satunya, cewek lagi, sendirian di negara orang. Nggak ada saudara, nggak ada kenalan sama sekali. Nggak jelas. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana? Waduh bagaimana ini? Jadi ada kekhawatiran dari orang tua saya

Lalu apa yang Anda lakukan
Orangtua saya bilang, coba deh cari sekolah lain yang dekat-dekat saja, seperti Amerika, atau Australia. Lalu saya ngecek info lagi di beberapa negara, eh taunya mendaratnya di Singapura hahaha…Waktu itu coba yang dekat-dekat saja dulu deh dan kebetulan dapat beasiswa penuh dari Yong Siew Toh Conservatory of Music yang merupakan bagian dari National University of Singapore dan guru-gurunya juga dari Amerika. Pianonya juga Steinway yang Hamburg series. Fasilitasnya juga luar biasa. Jadi saya putuskan untuk apply di sana tahun 2005. Saya lulus tahun 2009 dan sempat kerja 9 bulan di Singapura sebelum saya berangkat ke Kanada untuk ambil S2 di UBC atau University of British Columbia tahun 2010 dan lulus Master di 2012, lalu melanjutkan program doktor dan lulus tahun 2019. Tahun 2020 sempat ngajar di UBC, dan terhenti karena pandemi Covid 19, dan setelah pandemi usai, saya kembali ke Indonesia

Tidak tertarik untuk tinggal di Kanada? Bukankah prospeknya lebih bagus disana?
Sebenarnya bisa saja saya stay di Kanada. Saya sudah mengajar dan tetap ada kesempatan untuk perform, khususnya di format chamber music. Pertimbangan saya yang utama kembali ke Indonesia adalah karena saya anak tunggal. Kasihan mama dan papa kalau saya di sana terus. Bagaimana nanti dengan mereka? Memang kalau untuk performance, mungkin masih kurang di Indonesia, tetapi kalau untuk mengajar setidaknya masih terbuka kesempatannya. Lagian memang saya tidak berencana tinggal lama di luar negeri sih

Lalu apa kegiatan Anda di Indonesia?
Sekarang kebanyakan sih saya memberi masterclass, jadi juri, dan sempat juga mengatur konser untuk anak-anak, karena ini juga passion saya. Maksudnya, kan banyak nih pianis yang sudah belajar di luar negeri, yang kalau balik ke Indonesia jadinya seratus persen ngajar karena market untuk audiennya masih kurang. Berbeda dengan teman-teman saya yang di Jepang, Cina, Taiwan, Thailand dan Singapura, mereka balik ke negaranya masih bisa konser karena ada orang yang mau nonton, terlepas mereka suka musik atau tidak. Jadi saya berpikir, mengapa tidak membangun komunitas penonton dari yang paling bawah, yaitu anak-anak, dengan membangun apresiasi dan ketertarikan musik kepada mereka. Saya juga berencana konser kolaborasi yang melibatkan pemusik lain karena saya juga pianis kolaborasi. Saya pikir ini penting untuk memperluas jangkauan penonton. Jika kita berkolaborasi dengan alat musik lain, penonton yang hadir tidak hanya menyaksikan satu instrumen saja.

Setelah sembilanbelas tahun di luar negeri, bagaimana Anda melihat musik klasik di Indonesia saat ini?
Saya baru beberapa bulan kembali ke Indonesia, terus terang saya belum begitu banyak tahu perkembangannya ya. Tapi saya optimistis perkembangan musik klasik di negara kita ke depan akan lebih maju lagi. Memang Covid 19 sangat mengguncang dunia pengajaran musik, tapi sekarang saja sudah mulai banyak kompetisi. Juga kegiatan lain seperti konser, masterclass, sudah mulai banyak. Saya dengar juga pianis-pianis Indonesia yang belajar di luar negeri, sudah banyak yang kembali ke Indonesia. Jadi stok pianis dan guru piano lulusan luar negeri sepertinya tambah banyak saat ini dibanding waktu saya masih kecil dulu. Semoga ke depannya musik klasik di negara kita lebih bergairah lagi

Apa harapan pribadi Anda terkait dengan profesi Anda sebagai guru piano dan juga pianis?
Approach saya sih kalau bisa musik itu untuk semua orang. Semakin banyak anak yang belajar musik, terlepas dari anaknya suka atau tidak suka, orangtuanya mendukung atau tidak, ambisius atau tidak, anak sebaiknya diperkenalkan dengan musik sejak dini. Karena saya pianis dan juga guru piano, tentunya saya berharap ke depannya akan semakin banyak anak-anak yang belajar dan bermain piano. Bukan bermaksud mengecilkan instrument lain lho ya, tetapi dengan belajar piano, anak-anak belajar banyak hal yang barangkali tidak di dapatkan di bidang lain, dan ini sangat bermanfaat dalam membentuk karakter mereka.

Misalnya?
Kan banyak tuh penelitian yang menyebut bahwa anak yang belajar musik, piano khususnya, mendapat banyak keuntungan yang berhubungan dengan kemampuan kognitif dan kecerdasan. Misalnya, memperkuat memori, menanamkan disiplin, kemampuan mengelola stress, mengelola waktu, meningkatkan social skills, konsentrasi, kreatifitas, memperkuat rasa percaya diri, koordinasi dan yang lebih penting juga, bermain piano memberikan dampak positif terhadap kemampuan berbahasa, khususnya bagi anak-anak. Jadi bagi saya, semakin banyak anak belajar musik, apapun instrumennya, akan sangat bagus bagi perkembangan mereka.

Selama belajar di luar negeri, pengalaman seperti apa yang Anda dapatkan?
Salah satu yang saya rasakan adalah saya belajar menghargai kenyataan bahwa saya berada dalam kelompok orang yang jauh lebih besar dan hebat dibanding hanya dengan orang-orang di negara sendiri. Tentu saja, ini menjadi motivasi dan tantangan yang mengasyikan karena membuka pintu bagi saya untuk belajar musik lebih dekat dengan sumbernya, dan berada di tengah masyarakat yang memandang dan menghargai musik sebagai salah satu menu utama dalam kehidupan mereka, dan menempatkan musik sejajar dengan bidang lain seperti matematika, fisika, kimia, teknologi dan sebagainya. Penghargaan dan apresiasi masyarakat terhadap seni, sangat tinggi. Efek samping lainnya dari belajar di luar negeri adalah saya harus belajar merasa nyaman dalam situasi yang tidak nyaman hahaha… Ini merupakan pengalaman luar biasa karena saya dipaksa untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan budaya dan masyarakat yang berbeda. Suka atau tidak suka. Belajar musik di luar negeri memberi saya perspektif baru mengenai piano yang saya pelajari, misalnya gaya bermain yang benar-benar baru yang dapat berdiri sendiri atau diintegrasikan ke dalam genre lain.

Apa saran Anda untuk anak-anak muda kita yang saat ini sedang belajar dan berkarier di musik?
Giat belajar dan carilah pengalaman sebanyak-banyaknya. Kembangkan kemampuan diri semaksimal mungkin. Jangan menutup diri, tapi harus banyak mencari teman, dan buatlah jaringan seluas mungkin. Suatu saat hal itu sangat membantu dalam berkarier. Yang juga penting, jangan sombong, dan tetaplah rendah diri. Jangan puas dengan hasil yang didapat hari ini karena apa pun jalur yang dipilih, kita tetap harus berlatih keras dan mengembangkan keterampilannya. Pianis profesional biasanya mulai belajar piano sejak dini dan kemudian fokus pada gaya tertentu. Cari dan bangunlah gaya permainanmu yang kelak akan menjadi ciri khasmu dan yang akan membedakan dirimu dengan orang lain.

Baik. Apa pendapat Anda tentang Steinway Piano?
Steinway Piano adalah piano yang tidak diragukan lagi kualitasnya, baik kekayaan warna suaranya maupun daya tahan kontruksinya yang memberikan jaminan piano ini tetap stabil dalam menghasilkan suara, resonansi dan nada-nada yang jernih. Steinway piano mampu memenuhi apapun warna suara yang dibutuhkan pianis. (*)

Article Bottom Ad