EUNICE TONG

62

Article Top Ad

EUNICE TONG : ‘Energi Musik Klasik di Indonesia’

DALAM lintasan gemilangnya di panggung musik klasik Indonesia, Eunice Tong tak hanya seorang konduktor ternama, tetapi juga sosok yang membawa perubahan signifikan dalam pengembangan musik klasik di tanah air. Aula Simfonia Jakarta telah menjadi ikon penting dalam memperkenalkan musik klasik ke masyarakat Indonesia. Melalui konser-konser megahnya yang di berbagai landmark di Indonesia seperti Konser Akbar Monas misalnya, Eunice berhasil mengangkat keindahan musik klasik kepada khalayak luas.

Sebagai Artistic Director di Aula Simfonia Jakarta, perannya tidak hanya terbatas pada memimpin orkestra, tetapi juga dalam menciptakan ruang bagi musisi dan seniman untuk berkembang. Konser Akbar Monas pada 15 Oktober 2023 yang lalu misalnya, adalah aktualisasi Eunice dalam berkesenian yang tidak bisa dipandang ringan. Dimeriahkan 60 pemusik dan 100 penyanyi di paduan suara, Konser Akbar Monas adalah helatan orkes musik klasik yang dipentaskan para pemusik dari Jakarta Simfonia Orchestra dan Jakarta Oratorio Society.

Article Inline Ad

Tahun ini, ada 60 pemusik dan 100 penyanyi yang tergabung di paduan suara untuk membawakan musik-musik klasik seperti dari Mozart, Beethoven, dan Tchaikovsky. Selain itu, Konser Akbar Monas 2023 juga membawakan lagu-lagu kebangsaan Indonesia yang dikonduktori Stephen Tong, yang juga merupakan pendiri Aula Simfonia Jakarta.

Konser Akbar Monas bukan sekadar upacara musik biasa. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkenalkan musik klasik kepada masyarakat umum. Monas yang merupakan landmark Jakarta, dengan sejarahnya yang kaya dan tempatnya yang mudah diakses, menjadi pilihan yang tepat untuk merayakan keindahan musik klasik. Berikut bincang singkatnya dengan sosok yang murah senyum ini

Siapa yang menginisiasi konser di Monas dan dengan format full orchestra ini dan apa tujuannya?
Yang menginisiasi konser ini pak Solomon Tong. Beliau sebagai penggagas konser yang memang mau mengadakan konser untuk mengenalkan nggak cuma musisi Indonesia tetapi juga mengenalkan musik klasik. Jadi dari sana makanya kita pernah ngadain Grand Concert Tour ke kota-kota di Indonesia dan juga di luar negeri. Karena memang tujuannya untuk mengenalkan musik Indonesia, dan pemusik Indonesia. Nah, kenapa kalau diadakan di Monas? Karena Karena itu satu landmark Jakarta. Orang kalau ke Jakarta pasti carinya Monas. Kayak orang kalau ke Indonesia maunya Bali. Dan kita memang bangga dengan berdirinya Monas, dengan penuh sejarah. Dan memang tempatnya juga sangat baik untuk semua orang menjangkau dari segala pelosok. Dan juga tempatnya yang luas untuk tempat satu yang publik begitu.

Konser di Monas ini sudah bgerapa kali diadakan?
Ini yang ke- 3 kalinya. Pertama diadakan tahun 2019, lalu kita istirahat karena ada wabah Covid, dan kita mulai lagi di 2022 dan 2023.

Apakah konser seperti itu diadakan setahun sekali atau bagaimana?
Ada kemungkinan diadakan setahun sekali, tapi kita tidak mau cuma stop disana, karena kalau dengan adanya hal yang sama berarti kita tidak bisa ada hal yang baru. Jadi mungkin ada hal yang lain yang lebih menarik. Karena kita dulu juga ada grand concert tour itu sampai 3 tahun berturut-turut. Tahun 2017, 2018, 2019. Bahkan di 2019 itu kita adakan sampai 2 kali. Apakah ada grand concert tour lagi, kita belum tahu. Apakah ada Monas lagi? Kita juga belum tahu. Semua masih dalam perencanaan sih. Tapi siapa tau kita bisa mengadakan yang lebih besar.

Jadi tahun 2023 ini memang sudah di planning ya? Atau karena setelah covid selesai lalu diselenggarakan konser dengan format yang besar ini?
Tentang konser besar itu memang kita selalu mau menjangkaunya, tetapi untuk yang Covid kita hanya berhenti 3 bulan karena kita sadar bahwa musisi Indonesia itu begitu cintanya dengan musik tetapi juga tidak bisa jalan, khususnya karena covid. Waktu itu banyak orang yang, seperti sekarang deh contohnya pemusik Indonesia yang ada main bersama kita, mereka bukan full time untuk main di orkestra. Karena orkestra untuk Indonesia masih belum memadai. Tidak bisa menghidupi perorangan untuk memberikan full time sampai konsernya berkali-kali dalam sebulan itu tidak bisa. Jadi Jadi mereka harus mencari mata pencaharian yang lain. Nah waktu Covid itu ada yang sampai harus cari kerjaan lain, sama sekali gak ada hubungan sama musik, hanya untuk menyambung hidup.

Saya dengar banyak yang sampai jual instrumennya ya?
Iya. Mereka yang jual instrumen itu yang bikin kita sampai nangis. Itu kan maksudnya mereka bukan cuma hobi, mereka sangat baik dalam memainkannya, kalau sampai menjual belahan jiwanya itu, nah kita sadar dengan keperluan mereka sehingga setelah 3 bulan memang kita tidak bisa ngapa-ngapain.

Berarti Maret 2020 sampai kira-kira Juni 2020 ya?
Kita waktu itu memang sudah menjual, tetapi juga akhirnya pemerintah mendesain untuk tidak boleh lagi ada kegiatan publik. Jadi itu pas tanggal 21 Maret. Jadi memang udah jualan dan itu dalam satu minggu banyak perubahan yang terjadi. Tentang Covid lah apa segala. Akhirnya kita decide untuk menutup. Tetapi tetap ada streaming. Jadi Maret 2020 itu konser terakhir, lalu kita vakum April, Mei, Juni. Mulai bulan Juli akhir kita mulai memanggil musisi. Dan kita mulai latihan dan itu mulai streaming.

Waktu itu posisinya bagaimana?
Kita sadar bahwa kita punya internet di Indonesia tuh tidak bagus. Jadi untuk live streaming itu apalagi musik gak enak kalau ada jedanya. Jadi kita memikirkannya dengan cara kita rekaman, dan kita stream buka di Youtube secara gratis. Karena juga ini untuk membangkitkan semangatnya musisi, tetapi juga sambil mengenalkan orang dan mengingatkan orang, there is life. Besides politics, besides economics, bahwa ada musik yang kita tidak bisa kita pungkiri. Jadi mulai Juli kita rekaman, mulai Agustus kita mulai streaming. Dan gak cuma itu, di jaman Covid sebenarnya saya terinspirasi dengan, namanya kita kalau terdesak itu jadinya ada ide baru. Betul. Nah itu keluarnya Chamber Music Society. Karena waktu itu saya memikirkan kita tidak lagi bisa mengakomodir 60 musisi di dalam stage.

Berarti Chamber Music Society ini justru hadir setelah Covid atau sudah ada sebelumnya?
Sebelum Covid belum ada. Justru sebelum Covid tidak ada dan yang saya tadi bilang, kita tidak bisa mengakomodir 60 musisi di dalam satu stage karena waktu itu harus social distancing dan kita juga tidak ada pendapatan sehingga untuk mengeluarkan dana, untuk menggelar konser, untuk streaming yang gratis itu sangat berat. Dan kita sebenarnya juga memberikan musisi dalam 3 bulan itu, Pak Stephen Tong sendiri memberikan musisi beberapa, 100 musisi tunjangan hidup selama 3 bulan. Tanpa mereka harus memberikan apapun ke kita, tapi itu sekedar appreciation.

Itu untuk yang musisi-musisi tetap ya?
Kita punya musisi tetap beneran cuma 50 orang, tetapi ada musisi yang kita pilih untuk yang memang paling sering main dengan kita. Karena kita kalau mau sampai semua musisi juga kepengen, cuma namanya juga tidak sanggup. Jadi selama 3 bulan itu memang mereka at least diberikan meskipun sangat minim, tetapi ada membantu. Terus mulailah yang Jakarta Symphony Orchestra, konser, rekaman, lalu streaming. Dibuka selama satu minggu. Terus saya mulai juga yang Chamber Music Society itu. Karena dengan Chamber Music Society, kita harus mengenalkan musisi-musisi Indonesia yang benar-benar sangat handal, tetapi banyak orang yang tidak mengakui atau belum mengakui. Dan dari sana juga mereka bisa kreatif cari sesuatu yang baru, bukan cuma lagu-lagu yang simfonik. Karena dengan simfonik harus dari ada semua alat musik luar 50-an, kalau chamber music kan tidak bisa, cuma satu, misalnya piano recital atau cuma dua. Terus nanti ada quintet lah, ada kuartet begitu.

Untuk Chamber Music Society pemilihan repertornya sendiri didasarkan pada apa? Periodenya atau gimana? Karena kaitannya sama covid tadi, supaya bisa tetap perform dengan social distance.
Jadi waktu kita dengan adanya streaming, itu memang kita try to move away, kalau saya personally try to move away dari Covid, karena kita tidak mau ada tema Covid. Itu karena nggak usah di kasih tahu, orang sudah ngadepin sehari-hari. Jadi waktu ada pemilihan lagu, ada pemilihan untuk simfonik, maupun di Jakarta Spindle Festival, maupun di CMS, itu memang kita sebisa mungkin yang bisa menarik orang untuk mendengarkannya. Karena waktu dengerin di concert hall dan dengerin di Youtube streaming itu pasti beda, beda distorsinya. Dan kalau mau tiba-tiba keluarin Stravinsky yang gak pernah didengerin orang, itu pasti orang lebih nggak pengen denger. Again, kita tuh balik bukan untuk mencari dana tetapi kita membangkitkan semangatnya musisi. Dan cintanya orang, kenalin orang, klasikal musik ke orang Indonesia.

Sekalipun itu di era Covid saat itu ya?
Betul, ya. Jadi, again, kita move on dari Covid. Kita tidak lagi mengingatin mereka. Jadi kita memang membuat musik sebisa mungkin. Dan waktu bagaimana cara pemilihan lagunya untuk CMS, saya serahin kepada para musisi yang saya rasa mereka handal untuk memilih. Karena lagu CMS itu, lagunya Chamber Music itu sangat banyak, sangat kaya, tetapi memang belum digarap di Indonesia. Sedangkan simfoni aja kan baru digarap belakangan ini kan? Sedangkan sebenarnya mulainya dari chamber, bukan dari simfoni. Nah mereka mulailah, mereka sendiri pernah belajar, musisi-musisi ini pernah belajar. Mereka belajar, pernah main trio lah, quintet lah waktu mereka sekolah. Dan mereka mulai menggarap ini. Dan dengan begitu banyak orang terekspos, mereka sendiri juga terekspos. Karena waktu cari ide pasti mereka cari, pasti mereka juga masih dengerin kanan-kiri. Dan saat itu sosmed jalannya gila-gilaan bisa diliat dari luar sosmed ini sosmed itu orkestra ini, grup ini grup itu mereka misalnya dari recording lah dari zoom kanan kiri, main bersama itu mereka akhirnya dapat terinspirasi dari sana. Sedangkan kita mau menunjukkan bahwa it’s still possible untuk memberikan musik, mengalunkan musik meskipun di zaman yang orang pikir tidak memungkinkan, tapi sebenarnya bisa. Apalagi kalau chamber musik itu kan orangnya dikit, stage-nya bisa tersebar. Dan itu chamber music yang sangat nyata.

Kalau di pekerjaan formal, itu kan ada requirement untuk pendidikan, misalnya harus S1 atau D3. Kalau untuk pemilihan musisi musik kamar ini itu apakah ada kekhususan?
Jadi memang waktu saya menawarkan beberapa program, ini selalu kita yang curate. Saya menawarkan pada beberapa prinsip dulu, karena menurut saya mereka yang mengerti, mereka punya repertoire, mereka punya alat musik dan mereka memang karena ada pengalaman, jadi saya tawarin ke mereka tetapi dari saya selalu minta, karena untuk seseorang yang misalnya pemain cello misalnya, ya menurut dia ini bagus karena technically it’s very cool, very demanding, tetapi untuk pendengar kan belum tentu keren. Jadi saya selalu minta give me the suggestion, give me a list nanti saya akan yes or no. Jadi memang mereka yang memilih semua lagu, nanti misalnya saya ada input saya kasih ke mereka.

Setelah covid ini apakah chamber music ini tetap berjalan? Atau bagaimana?
Kita masih jalanin kok chamber music-nya. Jadi memang kita maunya kalau jaman dulu itu satu tahun sekitar 5-6 kali, jadi kita masih ada dua-duanya. Tadi kan di awal-awal kan ada, masih virtual di awal-awal covid

Mulai ada tata muka atau penonton datang langsung itu pada saat tahun 2021 atau berapa?
Christmas 2021, setelah kita mendapatkan izin dari pemerintah, karena memang mereka udah bolak-balik gitu, mereka sendiri juga gak sadar kita exist. Mereka gak sadar kita ada, oh begitu mereka dateng oh.. ternyata ada ya. Selalu kita minta ijin untuk mengadakan konser. Jadi kita semuanya legal, waktu mereka datang kita undang mereka juga dan itu pertama kali bersyukurnya diadakan Christmas 2021. Dan kita konser pertama yang buka.

Oke, saya memperhatikan dari awal tadi, itu kan misinya adalah tidak mencari untung tapi berbagi berkat kepada para musisi-musisi. Ini apakah bentuk dari dana CSR dari sebuah perusahaan atau bagaimana?
Kita tidak ada dukungan dari siapapun. Semua tiket penjualan itu yang menghidupi. Memang kalau dilihat di programnya kita juga tidak pernah ada dukungan, sponsor itu tidak ada. Karena juga kita percaya secara musik, kita yang paling mencintai dari kita sendiri, bukan orang simfoni lain. Dan kita memengenalkan, kita nggak mau dikontrol juga dengan sponsor.

Dengan adanya sponsor, nanti mereka minta macam-macam yang belum tentu bisa diakomodir. Betul?
Bisa diakomodir sih bisa, orang kan bilang sama doang pasti bisa diakomodir. Tetapi belum tentu mereka mengerti ada yang lebih indah. Ntar orang taunya misalnya Beethoven Symphony No. 9, mereka gak tau ada Brahms Requiem, mereka gak tau ada Bach Matthew Passion, karena yang kenalnya cuma Beethoven 9. Jadi memang kita kadang-kadang setengah kesel juga karena misalnya penjualan tiketnya kurang kenceng lah, atau apa. Tapi ya kita try our best.

Terima kasih waktunya Bu Eunice Tong. Juga selamat menjadi kondukter di Istana Negara ya. Dan juga G20 kalau gak salah. Ini kalau di kami ketik kondukter Indonesia sekarang yang nama yang paling trending Bu Eunice Tong. Karena mungkin dua event ini sangat luar biasa Bu Eunice Tong, dan dapat pujian dari banyak negara.
Terimakasih atas semua atensinya. (Nathan)

 

SOSOK YANG MELAMPAUI BATAS-BATAS SENI

DALAM momen penting HUT ke-78 Republik Indonesia, Eunice Tong juga memberikan kontribusi luar biasa dengan memimpin orkestra dalam upacara peringatan. Kehadirannya di panggung nasional memperkuat hubungan musik klasik dengan semangat kebangsaan. Konduktor yang karismatik ini membawa keharuan dan kebanggaan bagi para penonton, menyatukan mereka dalam satu kesatuan melalui kekuatan musik.

Tidak hanya menguasai panggung nasional, kehadiran Eunice Tong dalam G20 Orchestra yang dihadiri negara-negara G20 membawa kemegahan musik klasik Indonesia untuk bersatu dalam harmoni Internasional. Eunice Tong tidak hanya menjadi simbol yang menginspirasi, tetapi juga pemimpin yang membawa musik klasik Indonesia ke panggung internasional dan nasional dengan kebesaran dan keanggunan.

Eunice telah menorehkan jejak megah dalam sejarah musik Indonesia melalui perannya sebagai konduktor yang mengangkat dan memperkenalkan keindahan musik klasik Indonesia di tingkat global dan nasional. Kehadirannya dalam pertunjukan musik klasik tidak hanya menjadi penanda prestasi pribadi, tetapi juga memberikan inspirasi bagi generasi masa depan dalam mempertahankan kejayaan musik klasik Indonesia di mata dunia.

Menariknya, Aula Simfonia Jakarta menekankan kemandirian mereka dalam menyelenggarakan konser-konser. Mereka tidak mengandalkan dukungan dari sponsor atau perusahaan. Pendanaan konser berasal dari hasil penjualan tiket, yang menunjukkan komitmen mereka untuk tidak terikat dengan kepentingan sponsor dan tetap mempertahankan kebebasan artistik. Dalam menghadapi tantangan pandemi, Eunice Tong dan Aula Simfonia Jakarta telah menunjukkan tidak hanya keunggulan artistik, tetapi juga keberanian dalam bertindak dan peduli terhadap kesejahteraan para musisi.

Eunice Tong tidak hanya merupakan konduktor yang berbakat, tetapi juga seorang pemimpin dengan hati yang besar, yang memberikan inspirasi bagi industri musik klasik di Indonesia dan melampaui batas-batas seni. (nathan)

Article Bottom Ad