Imajinasi

6

Article Top Ad

Pembaca budiman,
SETIAP lagu pada dasarnya adalah pengalaman batin seseorang, tentang perasaan dan imajinasi dalam pikirannya, yang kemudian diaktualisasikan dalam dunia nyata melalui notasi, nada, syair, dan alat musik. Komposer besar dari Amerika Serikat, Aaron Copland, pernah mengatakan bahwa, “Imajinasi dalam bermusik, sama pentingnya dengan teknik bermain musik,”.

Aarond Copland dan Rubinstein dikenal memiliki daya jelajah imajinasi yang luar biasa. Charles Eliot Norton menulis bahwa Copland memiliki kemampuan “freely imaginative mind in composing, performing, and listening to music”. Imajinasi secara umum, adalah kekuatan atau proses menghasilkan citra atau gambaran mental dan ide. Istilah ini secara teknis dipakai dalam psikologi sebagai proses membangun kembali persepsi dari suatu benda yang terlebih dahulu diberi persepsi pengertian.

Namun dalam banyak hal, “meng-imajinasi-kan sesuatu” seringkali bias dengan berbagai pengertian yang seolah sama tetapi sebenarnya berbeda. Imajinasi sering diposisikan serupa dengan ilusi, khayalan, dan fantasi. Salah persepsi ini berakibat pada masih kurang dipertimbangkannya imajinasi sebagai sumber pengetahuan yang sahih. Jika imajinasi sama pentingnya dengan teknik bermain musik, mestinya menjadi materi pelajaran penting yang harus diajarkan ke siswa, bahkan sejak awal. Pertanyaannya adalah, sudahkah imajinasi menjadi sesuatu yang penting diajarkan kepada siswa? Jawaban dari pertanyaan ini tak mudah, karena setiap orang bisa berbeda pemahamannya tentang apa yang dimaksud imajinasi. Apalagi cara mengajarkannya.

Article Inline Ad

Yang barangkali sering dilakukan adalah, menganalogikan imajinasi dengan proses membayangkan. “Membayangkan” mungkin lebih mudah dilakukan karena berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Sedangkan “mengimajinasikan” merambah wilayah yang lebih luas sehingga tidak dapat direduksi sebagai sekedar membayangkan. Imajinasi lebih tepat diartikan sebagai kekuatan potensial yang telah memberikan kontribusi berharga bagi lahirnya pengetahuan.

Dalam pembelajaran musik, seringkali yang dipakai adalah istilah “membayangkan”. Bukan “mengimajinasikan”. Murid sering diminta membayangkan tentang isi, maksud, dan cerita lagu yang sedang dimainkan, agar dapat menginterpretasikan dan menjiwai lagu. Murid juga diminta membaca biografi komposer, sejarah dan jaman ketika lagu itu diciptakan, dan membayangkan bagaimana kira-kira suasana batin sang komposer saat itu.

Cara seperti itu mungkin benar. Tapi di sisi lain sungguh absurd, karena dengan begitu hanya menghasilkan seorang penterjemah. Imajinasi berada jauh di dalam subyektifitas seseorang. Namun, ia bisa ditumbuhkembangkan sejak dini melalui musik, sebagai sebuah kemampuan dan kekuatan tersendiri. Disadari atau tidak, peran imajinasi begitu besar dalam melahirkan teori-teori agung di bidang ilmu pengetahuan.

Ketika para ilmuwan sudah kehabisan ide untuk memecahkan suatu permasalahan karena logika telah menunjukkan keterbatasan-keterbatasannya, terkadang imajinasi liar mereka justru yang mempunyai peran besar dalam memecahan problem-problem keilmuan. Jika tidak demikian, Einstein-yang juga jago main biola itu, tak akan mengatakan, “imajinasi lebih penting daripada pengetahuan”

Salam Musik
Eddy F. Sutanto (Pemimpin Redaksi STACCATO)

Article Bottom Ad