KONSER KEBERANGKATAN JONATHAN REYNARD

24

Article Top Ad

MUSISI muda berbakat, Jonathan Reynard Kristono, melepas keberangkatannya ke Australia dengan menggelar konser bertajuk “Symphony of Dreams” di Janaloka Ballroom Whiz Luxe Hotel, Spazio Tower Surabaya, Minggu (9/6).

Tampil dengan tata panggung megah dan artsitik, ditunjang tata lampu dan efek suara serta video yang menawan, penampilan Jonathan di konser tunggalnya yang juga melibatkan sang kakak, Alexander Ravel Kristono, bukan hanya memperlihatkan penguasaan yang baik oleh Reynard pada piano dan electone, tetapi juga pada kepiawaiannya meramu musik dimana dia membuat sendiri aransemen lagu yang ditampilkan di konsernya itu.

Putra kedua dari pianis dan guru piano, Frank Kristono ini, melibatkan penyanyi dan musisi lain seperti string quartet, band, dan penari untuk memperkuat tema musik yang digarapnya. Sebanyak 11 pemusik terlibat dalam pagelaran musik garapan Reynard yang menghadirkan komposisi lintas genre, dari klasik, pop, hingga crossover.

Article Inline Ad

Limabelas lagu tampil enerjik dan megah, beberapa diantaranya adalah Nostradamus (Tonci Hujic), Harry Potter (John Williams), New World Concerto (Dvorak), Howl’s Moving Castle ( Joe Hisaishi), Bohemian Rhapsody (Queen), Jazz Fantasy Mozart (Mozart), All I Ask of You (Andrew Lloyd Weber), Game of Throne (Ramin Djawadi), dan Nutcracker Fantasy (Tchaikovsky).

Reynard yang juga peraih berbagai penghargaan nasional dan internasional di bidang piano dan electone, mengaku puas dengan konser tunggalnya. “Sudah lama saya memimpikan membuat konser lintas genre yang melibatkan musisi lain dan berkolaborasi dengan alat musik lain dan bahkan penari. Hari ini saya bahagia karena bisa terselenggara dengan baik,” kata Reynard.

Menurut Reynard, melalui konser ini dirinya memiliki kebebasan untuk mengekspresikan jiwa musiknya tanpa batas, yang memberi ruang kebebasan berkreasi dan berimprovisasi tanpa harus tersekat pada satu jenis musik tertentu. “Sebagai anak muda yang sedang tumbuh, musik adalah ruang eksplorasi diri yang sangat indah dan menantang. Musik memberi kebebasan kreativitas saya mengalir dan menemukan cara untuk mengekspresikan diri saya kita secara otentik,” kata Reynard tersenyum.

Seusai konser tunggalnya yang sukses itu, Reynard akan terbang ke Australia untuk melanjutkan studinya di bidang computer science selama 3 tahun. Bagaimana dengan musiknya? “Tetap jalan, justru computer science itu nanti akan melengkapi music science saya hahaha…,” ujar Reynald tertawa bahagia. (eds)

JONATHAN REYNARD, ANTARA MUSIK DAN KOMPUTER

SETELAH sukses menggelar konser tunggalnya yang spektakuler, Jonathan Reynard Kristono segera meninggalkan Surabaya menuju Australia untuk melanjutkan belajarnya dengan kuliah di sebuah perguruan tinggi, mengambil jurusan Computer Science. Lho? Bukan meneruskan music science-nya?

Gimana ceritanya kamu bisa bikin konser yang sangat bagus itu? Siapa yang punya ide?
Idenya dari aku sendiri sih. Ceritanya, sebelum berangkat ke Australia untuk meneruskan sekolahku, aku memang ingin bikin konser tunggal yang semua idenya dari aku sendiri. Ketika hal itu aku konsultasikan ke orangtuaku, mereka tak keberatan. Ide dasarnya adalah aku ingin menampilkan musik yang bisa mewakili imajinasi dan ide-ide musikalku, dimana aku memiliki kebebasan untuk berimprovisasi dan mengeksplorasi musical imagination-ku seluas-luasnya

Karena itukah konsermu penuh dengan beragam genre musik dan format penampilannya?
Betul. Karena menurutku, musik itu berarti kebebasan yang berfungsi sebagai media ekspresi diri, sebagai cara untuk menyampaikan emosi dan pengalaman individu. Nah…konser ini juga menggambarkan ketertarikanku pada semua seni, alat musik, dan format penampilan. Makanya dalam konserku, aku tidak hanya main piano, tapi juga elecctone. Juga ada alat musik lain seperti violin, cello, gitar, bass, dan drum. Juga ada seni tarinya, ada seni suaranya, ada format ensemble dan band-nya. Semua itu mewakili ketertarikanku pada musik. Aku memang tidak mau tersekat oleh satu jenis musik dan satu jenis penampilan saja. Makanya kubuat judul konserku Symphony of Dreams, karena konser itu menggambarkan impianku dalam bermusik

Berapa lama dan bagaimana kamu menyiapkan konsermu?
Aku mempersiapkan konser ini selama dua bulan, pas lagi sibuk-sibuknya menjelang ujian SMA-ku hahaha….Jadi awalnya aku punya gagasan, aku ingin membuat sesuatu yang berkesan di ujung SMA-ku dan sekaligus semacam kenang-kenangan sebelum aku kuliah ke luar negeri. Lalu aku konsultasikan ide itu ke orangtua, dan mereka tak keberatan. Papaku, yang juga pianis dan guru musik, mempertajam konsep dan ide konserku. Aku tentukan lagu-lagu yang akan ditampilkan, bikin format penampilannya, aransemennya, tentukan alat musiknya, dan mencari para pemain pendampingnya. Aku juga bekerjasama dengan penata panggung, penata lampu, dan penata suara

Bagaimana kamu bekerjasama dengan pemain lain dan juga alat musik lain, sementara selama ini kamu lebih banyak main solo dengan piano dan electone? Tentuyang pertama adalah bagaimana arensemennya, dimana di dalamnya ada pembagian masing-masing section-nya. Kita berlatih yang menjadi section masing-masing, lalu bertemu dan latihan bersama. Saya bersyukur karena yang mendukung saya adalah sososk-sosok yang professional di bidangnya. Bahkan mereka juga memberi masukan-masukan bagaimana agar penampilannya lebih bagus. Saya senang sekali bekerjasama dengan mereka yang kebanyakan adalah senior-senior di bidangnya. Selain itu saya juga berkonsultasi dengan penata panggung, koreografer, penata lampu, penata video dan penata sound, agar fungsi dan peran mereka benar-benar memenuhi ekspektasi saya. Jadi banyak tahu juga tentang hal-hal lain di luar main musik hahaha…

Apa kesulitan yang kamu temui selama mempersiapkan konsermu?
Kalau dari sisi penguasaan alat musik, dan kerjasama dalam bermusik, saya kira tidak ada masalah. Seperti saya bilang tadi, mereka adalah senior-senior saya dan professional di bidangnya. Hanya soal manajemen waktu saja saya kira. Wajarlah karena mereka ada juga yang jadi pengajar, dan pemain musik yang sudah terjadwal mainnya. Jadi latihannya harus mensinkronkan dengan jadwal mereka. Saya senang karena para professional itu memliki komintmen yang sama dengan saya, Jadi kita tetap bisa latihan.

Mengapa kamu memilih lagu-lagu di luar basic-mu? Di luar musik klasik?
Sebenarnya selama ini saya tidak mengkhususkan diri di musik klasik sih. Saya main electone misalnya, itu sama sekali di luar musik klasik. Benar bahwa saya belajar musik itu basic-nya adalah klasik, tapi dalam perkembangannya saya main musik apa saja yang saya sukai. Di konser tunggal saya itu saya main klasik, tapi juga pop, ada rock, ada jazz. Klasik juga ada, dengan format permainan yang diperluas, misalnya ketika saya main Nutcracker Fantasy dari Tchaikovsky, saya perluas dengan string quartet dan ballet. Jadi ada sentuhan baru, ada citarasa baru

Apa yang kamu harapkan dari konser tunggalmu itu?
Yang pertama, konser ini menjadi realitas dari gagasan dan ide-idi musikalku, bentuk eksplorasi musikalku, dan penghargaanku kepada musik, sebuah anugerah Tuhan yang luar biasa. Yang kedua, memberikan hiburan dan kegembiraan kepada orang lain, karena saya percaya semua orang memiliki citarasa musik dalam dirinya, seberapapun kecilnya. Nah dengan konserku ini, semoga bisa memberikan pengalaman bathin yang indah. Musik itu sungguh indah hahaha…

Ngomong-omong, setelah ini berangkat ke Australia untuk kuliah komputer? Kenapa bukan musik?
Banyak yang bertanya seperti itu. Terus bagaimana musiku? Begitu kan, hahaha…Sebenarnya saya tetap bermusik dan tetap belajar musik. Kan tidak harus ke universitas belajarnya. Saya tidak akan pernah meninggalkan musik. Tapi saya juga harus memiliki pengetahuan lain, dan kebetulan saya senang komputer dan pingin lebih dalam lagi untuk mengetahui dunia komputer. Siapa tahu kelak dengan ilmu komputer ini bisa melengkapi pengetahuan musiku juga. Misalnya membuat program-program yang membantu orang belajar musik atau mengajar musik. Dan tentu saja, dengan ilmu komputer, kelak aku punya dua kompetensi. Dua-duanya bisa jalan sih

Dengan kata lain, musikmu tetap jalan senyampang belajar komputer. Apakah ada rencana bagaimana kamu meng-enrichment musikmu di Australia?
Ya. Musik tetap jalan, tapi memang belum ada planing sih. Mengalir saja. Saya konsentrasi ke bidang baru ini dulu. Nanti ada waktunya untuk saya buat membagi waktu dengan musik. Yang jelas, tidak mungkinlah saya meninggalkan musik. Itu dunia yang telah membesarkan saya dan saya sangat menyukai. Saya maunya musik dan komputer, dua-duanya jalan

Oke. Selamat deh kalau begitu. Ada saran buat anak-anak muda kita yang saat ini sedang belajar musik?
Saran saya, kita harus banyak mendengarkan semua jenis musik dan juga memainkannya. Bermain dan bertemanlah dengan musisi lain, karena kita bisa banyak bekajar dari mereka. Keluar dari ruang latihan dan mainkan musikmu. Jangan merasa sendirian.

Oke. Selamat dan sukses buat Reynard
Terimakasih STACCATO. Salam buat yang sedang belajar musik. Sukses selalu. (eds)

 

Article Bottom Ad