Konser Kemerdekaan Online dari SOOS

488

Article Top Ad

Pandemi covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari 1 tahun tidak menyurutkan semangat para musisi muda untuk tetap berkarya meski berada di rumah saja.

Dalam rangka memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76, String Orchestra of Surabaya bersama lebih dari 90 musisi muda Surabaya dan konduktor kenamaan Indonesia Addie MS dengan bangga mempersembahkan “Virtual Orchestra Collaboration”.

Kolaborasi ini membawakan dua buah lagu nasional yaitu, Tanah Airku (ciptaan Ibu Sud) yang diarransemen oleh Addie MS untuk Sound of Indonesia, danditulis ulang oleh Finna Kurniawati untuk SOOS.

Article Inline Ad

Lagu kedua Hari Merdeka (ciptaan Husein Mutahar) yang  diadaptasi dari aransemen Singgih Sanjaya oleh Finna Kurniawati untuk SOOS. “Tahun ini adalah tahun kedua Kemerdekaan RI harus dirayakan di tengah pandemi. Namun kita harus tetap semangat sesuai dengan tema HUT RI ke-76 yaitu Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh,” kata Finna Kurniawati.

 

Finna juga berterima kasih sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Maestro Addie MS dari Twilite Orchestra, Kwartala Musik Production (Elgar Putrandhra dan Abita Wisnu), dan Shienny Kurniawati, serta seluruh musisi yang terlibat. “Dan tak lupa dukungan para orangtua peserta sehingga virtual orchestra collaboration ini dapat terselenggara dengan baik. Mengutip kalimat Bung Karno, bahwa Seribu orangtua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia, kita buktikan melalui konser ini. Terimakasih semuanya,” kata Finna.

Sementara itu Shienny Kurniawati menjelaskan, ide konser ini baru muncul akhir bulan Juli, dan  team langsung bergerak cepat menjalankan tugasnya masing-masing sampai 17 Agustus Bagi para musisi, mereka hanya punya waktu 10 hari. Karena partitur baru dibagikan pada tanggan 1 Agustus dan harus diserahkan paling lambat tanggal 10 Agustus. “Yang sangat menggembirakan, dari 90 lebih musisi yang terlibat semuanya mengirimkan on time,” kata Shienny.

Konser secara online, lanjut Shienny, tak kalah ribet dengan konser offline. “Tantangan  dalam konser online ini diantaranya, dari segi teknis. Yaitu data dari musisi yang berbeda-beda. Beda HP, beda alat perekam, beda spesifikasi alat, beda kualitas gambar, beda kualitas suara, beda ruangan. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah dengan menyamakan setting, tapi setting ini pun tidak menjamin karena tafsiran manusia bisa berbeda-beda,” kata Shienny.

Dia mencontohkan,  diharuskan berjarak 2 m dari kamera, namun 2 m ini pun tidak semuanya seragam. Tantangan berikutnya adalah masalah waktu. “Kita kejar-kerjaran dengan deadline, dimana video harus tayang pada tanggal 17 Agustus jam 10 pagi tepat. Namun buat kita, tantangan ini sangat seru sekali dan dilakukan dengan senang hati. Online tidak menghalangi team SOOS untuk berkarya,” lanjut Shienny tersenyum.

Kesulitan lain dibandingkan dengan konser offline adalah, karena ingin merangkul musisi dari aneka level, maka aransemen ini disesuaikan dengan kemampuan mereka agar dapat merangkul semua anak untuk dapat berpartisipasi. Namun jika offline, level ini dapat diolah dengan adanya gladi kotor dan gladi bersih.

“Jika offline, terjadi kesalahan akan berlalu begitu saja. Online ini mengharuskan seseorang bermain semaksimal mungkin, jika masih salah harus re-take berulang-ulang. Bermain dengan minus one sebagai guide juga merupakan kesulitan utama musisi. Biasanya dapat melihat tangan conductor, sekarang hanya dapat mendengarkan saja sekaligus harus bermain dan menjaga intonasi. Hal ini sangatlah sulit. Team SOOS sangat percaya dan optimis bahwa dalam setiap keadaan selalu ada jalan keluar. Dan kami tetap pada visi misi utama yaitu memajukan musik di negara kita tercinta Indonesia, ” kata Shienny. (eds)

Lihat konsernya di Youtube

Article Bottom Ad