Kriteria Menentukan Biaya Kursus

265

Article Top Ad

TIDAK mudah bagi seorang guru untuk menentukan biaya kursus, terutama bagi guru-guru pemula. Berapa sebenarnya biaya yang pantas? Sebelum menetapkan biaya, ada beberapa kriteria yang harus diketahui.

Salah satu cara paling mudah untuk menetapkan berapa biaya kursus yang akan dikenakan adalah dengan melihat dan membandingkan tarif-tarif guru disekitar Anda, dan yang sesuai dengan level Anda. Dalam hal ini, beberapa kolega Anda mungkin akan memberi petunjuk, tetapi jangan sekali-kali mau didikte oleh mereka.

“Dengan kata lain, Anda hanya melihat dan membandingkan saja, dan jangan menuruti apa yang dikatakan orang lain. Bila Anda merasa memiliki nilai lebih dari mereka, tentukan tarif yang lebih dari mereka. Betapapun, Andalah yang berhak menentukan dan paling tahu berapa Anda layak dibayar,” kata Martha Berth Lewis Ph.D, pedagog di California, Amerika Serikat, yang juga konsultan sekolah musik.

Article Inline Ad

Jika guru tergabung dalam sebuah kelompok atau asosiasi, akan sangat mudah menentukan tarif. Tetapi bagamanapun, kata Martha, kebanyakan guru akan tutup mulut bila ditanya berapa tarifnya. Kalau sudah begitu, Anda bisa mencari informasi dengan melakukan survey kecil-kecilan berapa sebenarnya “kemampuan” masyarakat disekitar Anda untuk membayar kursus-kursus di luar biaya sekolah umum.

Tak ada salahnya bila Anda, misalnya, mencari informasi berapa biaya kursus ballet, atau bahasa Inggris disekitar Anda. Jangan lupa, bahwa kemampuan masyarakat di setiap wilayah atau kota, tentu akan berbeda. Itulah mengapa, dua guru dengan kualitas dan pengalaman yang sama misalnya, bisa memiliki tarif berbeda, semata-mata karena mereka tinggal di kota berbeda.

Kriteria penting lainnya adalah, Anda harus tahu pemahaman antara “berapa Anda ingin dibayar” dan “berapa Anda perlu dibayar”. “Anda harus bisa membedakan dua hal ini. Karena dengan memahami perbedaannya, akan mengamankan Anda dari stress, keletihan, dan friksi keluarga. Saran saya, jangan tergesa-gesa menentukan tarif. Duduklah dengan tenang, dan bayangkanlah jawabannya. Ini satu hal yang mendasar dan penting, karena apapun tujuan Anda mengajar, hal itu tidak bisa dilepaskan dari gambaran kebutuhan keuangan keluarga,” kata Martha.

Dalam pengamatan Martha, beberapa guru mengenakan tarif berbeda pada siswa dalam level yang sama, misalnya kondisi dan tantangan yang dihadapi guru berbeda, karena antara satu siswa dengan siswa lainnya. “Meskipun sah-sah saja, tapi saya percaya bahwa ini bukan sebuah ide yang baik. Saran saya, kenakan tarif yang sama kepada setiap siswa di level yang sama. Jika tidak, Anda mungkin akan mendengar suara-suara tidak mengenakan apabila hal itu sampai diketahui siswa maupun orangtua siswanya. Kalaupun Anda ingin mengenakan tarif yang berbeda, mungkin terhadap siswa pada level tertentu,” kata Martha.

Dilema lain yang mungkin muncul dalam hal ini adalah, apa yang Anda lakukan kepada siswa yang memiliki hubungan keluarga dengan Anda? Apakah Anda akan mengenakan tarif yang sama? Atau berbeda? Apakah Anda akan memberikan perhatian yang lebih dibanding siswa yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan Anda? Atau memperlakukan mereka sama seperti siswa lainnya?

“Meskipun kadang sulit, saya menemukan beberapa guru yang tegas kepada siswa dari anggota keluarga mereka dan memperlakukan mereka sama dengan siswa lain yang tak ada hubungan keluarga dengan guru. Mereka jauh lebih “aman’,” kata Martha.

Menurut dia, bukan hal yang aneh bahwa hubungan kekeluargaan, seringkali menjadi perintang pada pekerjaan professional. Tetapi jika guru mementingkan profesionalisme, mereka akan mengedepankan kepentingan yang lebih besar. Ini hanya soal perasaan saja.
“Sekali orang mengetahui bahwa guru ternyata lebih memberi perhatian dan berbagai keistimewaan kepada siswa-siswa yang diketahui memiliki hubungan keluarga dengannya, daripada siswa lainnya yang tidak memiliki hubungan keluarga, maka penilaian orang kepada guru tersebut, akan berbeda. Bagi masa depan guru, hal ini membahayakan,” kata Martha.

Kemungkinan lain yang banyak dihadapi guru adalah permintaan diskon dari siswa atau orangtua siswa apabila mereka membayar tunai. “Ini kelihatannya sepele, tetapi bagi seorang profesinal, permintaan seperti itu seperti sebuah penghinaan terhadap integritas Anda,” kata Martha.

Ia menyarankan, apabila guru menghadapi hal seperti itu, maka harus bersikap tegas untuk tidak memberi diskon. Sebab, kata Martha, permintaan potongan harga itu bisa jadi sebuah test case yang sengaja dilakukan siswa atau orangtua siswa untuk menguji sejauh mana konsistensi guru dan apakah guru bisa ditawar. “Jadi hati-hatilah, kadang-kadang permintaan diskon itu bukan benar-benar permintaan, tapi hanya untuk menguji konsistensi Anda, dan sebaiknya Anda tidak perlu selalu percaya pada apa yang dikatakan orang, sekalipun mereka memberi kontribusi kepada Anda,” kata Martha

Ketika Biaya Dipertanyakan
Salah satu alasan yang membuat guru sering ragu-ragu adalah ketika tarifnya dipertanyakan. “Kok mahal sekali?”, misalnya. Pernahkah Anda mengalami hal ini? Apa yang Anda lakukan? Jawaban apa yang Anda berikan?

Menurut Martha, sama seperti permintaan diskon, mempertanyakan tarif atau biaya, kadang-kadang lebih bersifat “menguji” guru daripada “mempertanyakan kebenarannya”. Bila kurang tegas, guru akan mudah ragu-ragu dan kemudian terjebak pada perasaan kurang percaya diri. Jawaban yang diberikan guru, akan memperlihatkan siapa sebenarnya dan bagaimana kualitas guru tersebut.

Bagi orangtua yang kritis, mereka bisa “melihat” guru dari jawaban- jawaban yang diberikan atas pertanyaan-pertanyaan yang bersifat “menguji” itu. “Bila Anda menghadapi pertanyaan yang mempertanyaan tariff jangan memperlihatkan kegusaran dan emosi Anda. Tetapi, tersenyumlah dengan manis dan katakan saja, ‘Saya mengerti, tetapi itulah tarif saya. Meskipun setelah itu mereka tak jadi belajar dengan Anda setidaknya Anda tidak terlalu banyak kehilangan,” kata Martha.

Kriteria lain yang bisa menbantu guru dalam menentukan tarif adalah lamanya mengajar. Kebanyakan guru menetapkan tarif untuk pengajaran 30 menit. Tentu saja tarif ini akan berbeda apabila mereka mengajar dengan 45 menit atau 60 menit. Ini kelihatannya seperti hitung-hitungan matematika. Tetapi kata Martha, guru memang harus memiliki hitung-hitungan seperti itu jika memang tidak ingin kehilangan banyak waktu percuma.

Ketegasan pada kriteria waktu mengajar dan tarif yang diberlakukan, penting dilakukan, sebab bila tidak, guru akan kerepotan sendiri. Dalam pandangan Martha, ada dua kecenderungan berbeda dalam persoalan waktu mengajar. Pertama, bagi guru-guru yang mengajar di sekolah musik, biasanya tidak terlalu menjadi persoalan karena mereka bekerja berdasarkan pada time table yang telah ditentukan.

Tetapi bagi guru-guru privat, dimana kedekatan secara personal dengan siswa biasanya sangat personal, kadang-kadang tidak menjadi perhitungan lagi. Tidak mengapa jika Anda mengajar lebih dari waktu sebenarnya, tetapi perlu diperhitungkan bahwa jika hal itu sudah menjadi “kebiasaan” dan “kewajaran”, maka sesungguhnya tarif yang Anda kenakan pada siswa, tidak bermakna lagi. Pada kondisi itu, Anda tak punya lagi posisi tawar,” kata Martha.

Menjadi guru musik, harus memiliki dua hal yang kelihatan kontradiksi: tegas tapi juga luwes. “Tegas adalah sesuatu yang menyangkut integritas guru dan integritas lembaga. Luwes adalah operasionalnya. Mengolah dua hal yang kelihatannya berlawanan ini, adalah sebuah seni tersendiri,” kata Martha.

Bagaimana sebaiknya langkah “tegas tapi luwes” dalam menentukan dan menerapkan tarif? Martha mengatakan, bahwa biaya atau tarif kursus harus dilihat sebagai “biaya kuliah, biaya sekolah, atau biaya kursus”. Bukan semata-mata biaya guru. “Guru harus menmpatkan bahwa biaya dikenakan kepada siswa adalah biaya kuliah, bukan biaya guru. Sekalipun misalnya guru privat. Salah dalam memahami konteks ini, akan merepotkan guru sendiri,” kata Martha.

Dengan menempatkan fee atau tarif sebagai “biaya kuliah” atau “biaya sekolah”, maka sesungguhnya tidak perlu lagi muncul pertanyaan “kok terlalu mahal sih?”. Mengapa? Karena, biaya itu sebenarnya menyangkut banyak hal,bukan sekadar pengajaran yang diberikan guru, tetapi juga servis atau pelayanan yang menyertainya. Karena itu, kriteria lain yang bisa membantu guru menentukan tarif adalah, fasilitas atau pelayanan apa saja yang akan diperoleh siswa diluar proses belajar face to face dengan guru.

Jika guru menyediakan perpustakaan, program computer, sarana latihan, home konser, resital dan berbagai aktifitas lainnya, harga mahal yang dikenakan, reasonable. “Jadi titik dari berapa sebenarnya harga pantas yang harus dibayar ke saya sebagai guru, harus kembali pada pertanyaan pada seberapa banyak akan saya berikan kepada siswa,” kata Martha.

Itulah yang dimaksud Martha dengan pernyataan di atas bahwa guru harus mengetahui perbedaan antara “berapa saya ingin dibayar” dan “berapa saya perlu dibayar”. “Jadi, persoalannya, saya kira, harus dikembalikan pada kita; apa saja yang akan diberikan kepada siswa,” katanya.

Bila ini yang menjadi pegangan, lanjut Martha, maka seorang guru tidak perlu ragu-ragu mengatakan dengan tegas tentang tarifnya. Dan dengan tersenyum, ia dapat mengatakan, “Memang begitulah tarif saya. Bila Anda setuju, mari kita bekerjasama. Bila Anda keberatan, saya senang bahwa Anda telah memberi kesempatan kepada saya untuk memperkenalkan apa yang ingin saya berikan kepada putra-putri Anda!”. (Abshar )

Article Bottom Ad