Lima Elemen ‘Cooperative Learning’

431

Article Top Ad

Setidaknya ada lima elemen penting yang disyaratkan dalam pendekatan belajar secara bekerjasama. Spencer Kagan, pakar pendidikan dari Universitas California, menjabarkan kelima elemen penting itu, antara lain,

1 . Ketergantungan Positif

Pada dasarnya, setiap orang tergantung pada satu dengan yang lain. Keberhasilan bekerja dalam sebuah kelompok, mensyaratkan ketergantungan antara anggota dalam kelompok tersebut. Rasa ketergantungan inilah yang mendorong terbentuknya kerjasama dalam kelompok. Ini sangat bertentangan dengan sikap tidak mau bekerjasama yang mengarah pada timbulnya persaingan.

Article Inline Ad

Dalam hal ini, “ketergantungan positif” dapat dibenarkan, agar siswa terkondisikan membutuhkan teman-temannya untuk menyelesaikan tugas kelompok. Atau, membuat penugasan yang hanya dapat diselesaikan dengan melibatkan peran serta seluruh anggota kelompok. Slogan yang sering dipergunakan untuk menggambarkan ketergantungan yang positif ini adalah: “Berenang atau tenggelam bersama-sama.”

Ada lima elemen penting sebagai pondasi cara untuk menciptakan ketergantungan yang positif, antara lain:

  1. Tetapkan tujuan bersama
    • Dalam hal ini ada baiknya guru memperlajari lebih jauh dan meyakinkan terlebih dahulu agar seluruh anggota kelompok dapat terlibat dalam kekegiatan tersebut.
  2. Penghargaan yang Sama
    • Berilah penilaian yang sama pada sebuah kelompok ketika memberikan poin dalam kegiatan itu.
  3. Berbagi Pengetahuan
    • Misalnya dengan memberikan penugasan yang terdiri dari beberapa bagian materi yang melibatkan seluruh anggota kelmpok sehingga setiap anak mendapat bagian tugasnya masing-masing.
  4. Pembagian Tugas Anggota
    • Yakni dengan membentuk susunan penugasan para anggotanya. Misalnya, siapa yang bertindak sebagai ketua, anggota atau yang membuat kesimpulan, dan lain-lainnya.
  5. Interaksi tatap muka
    • Agar kegiatan kerjasama berlangsung sukses, guru harus dapat memberikan kesempatan pada tiap siswa untuk terlibat dalam diskusi dengan mendengarkan, menyetujui, menolak dan saling bantu membantu dengan teman-temannya secara individu maupun mandiri. Dalam kegiatan ini, untuk sementara waktu guru harus bersedia meninggalkan otoritasnya sebagai pengajar.

Sebaliknya, lebih berperan menjadi fasilitator atau moderator dalam menjaga kelancaran interaksi siswanya. Efektivitas interaksi tatap muka atau face to face ini didasarkan pada pemikiran bahwa cara terbaik untuk belajar sesuatu adalah melalui pengajaran langsung atau memperlihatkannya pada orang lain.

 

  1. Individu Bertanggungjawab

Yang dimaksud dengan individu yang bertanggung jawab adalah menghindari adanya kemungkinan anggota kelompok yang curang, pasif, atau tidak mau bekerja sama. Selain itu juga harus diperhitungkan kemungkinan adanya anggota yang terlalu aktif sehingga terlalu mendominasi dalam kelompoknya. Ini juga harus dihindari.

Untuk mengatasinya, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya memberikan penilaian rutin tiap siswa secara individu dan membagikan hasil penilaian pada kelompok atau anggotanya. Berusaha membuat setiap anggota kelompoknya bertanggun jawab terhadap kontribusinya untuk kepentingan kelompok. Meminta tiap-tiap kelompok menyerahkan file laporannya secara periodik dengan menyebutkan garis besar peran masing-masing anggotanya.

  1. Kerjasama antar anggota

Agar kerja kelompok dapat berlangsung dengan baik,  guru harus memperhatikan kemampuannya dalam menggali potensi yang dimiliki siswa. Siswa harus tetap belajar dan didorong kemampuannya dalam berinteraksi sosial untuk memperoleh hasil maksimal.

Misalnya, bagaimana memanfaatkan giliran untuk mengemukakan pendapat, bagaimana mengungkapkan ketidaksetujuan dengan tidak frontal, belajar melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang yang berbeda, belajar menyelesaikan permasalahan melalui kebersamaan, belajar menerima kritik dengan lapang dada, dan belajar menggunakan waktu secara efisien.

Pada awalnya, mendorong anak terlibat dalam berbagai macam interaksi sosial semacam itu akan terasa sulit. Namun apabila ia siswa dilatih sering terlibat secara langsung dalam kerja kelompok maka lambat laun semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya.

  1. Proses Kerjasama

Tujuan akhir dari pendekatan  belajar kerjasama yang merupakan elemen sangat penting, yaitu berupa penyelesaian tugas akhir, yakni bagaimana anggota kelompok mengerjakan tugasnya masing-masing. Dan, apakah semuanya terlaksana sesuai dengan fungsinya.

Siswa secara periodik sebaiknya dinilai keberhasilannya mengerjakan tugas, kemampuannya dalam pencapaian tujuan, serta sejauh mana ia memanfaakan hubungan kerjasama dalam kelompok. Kesadaran ini dapat menumbuhkan komitmen dalam dirinya untuk selalu maju, baik ia sebagai individu maupun sebagai kelompok.

Beberapa elemen datas dihampir semuanya dapat dihadirkan dalam pengajaran musik melalui beberapa tahap dan berbagai format sebagaimana model aktivitas musik lainnya. Sebagai contoh, ketergantungan yang positif dan individu yang bertanggung jawab dapat diterapkan dalam sebuah kelas piano, biola, band, paduan suara atau bentuk lainnya.

Keberhasilan ensemble ini sangat ditentukan pada kerja keras, effort dan kerjasama anggota untuk mencapai tujuan yang sama sebuah kelompok. Ini berarti adanya ketergantungan yang positif. Setiap individu dituntut pertanggungjawabannya  pada aturan main yang ditetapkan dalam grup demi keberhasilan bersama, demi melatih anak menjadi individu yang bertanggung jawab.

Sejauh ini, dari keseluruhan elemen tersebut, elemen kelima yaitu proses kerjasamalah yang umum diterapkan dalam pengajaran musik. Kelompok diberikan kesempatan menganalisa dalam mencari permasalahan mereka dan modus operandinya yang sesempurna mereka inginkan.

Analisa kerja kelompok ini membutuhkan dukungan semangat, karena diperlukan waktu pembahasan yang panjang dan kekompakan kerjasama kelompok. Semuanya dapat dikerjakan oleh masing-masing kelompok atau tiap individu, sendirian atau di depan umum.

Kerjasama kelompok dapat diterapkan pada berbagai intensitas. Dari mulai yang sendiri-sendiri, sub grup berkala, hingga pengajaran seluruh kelas jangka panjang atau kelompok tetap. Kelompok berkala bisa disebut dengan kelompok informal, juga bisa dibentuk secara mendadak. Kelompok ini bisaanya kecil dan keanggotaannya berubah-ubah. Dibentuk untuk membahas permasalahan spesifik dan tugas-tugas yang membutuhkan penyelesaian segera.

Kelompok formal adalah kelompok yang dibentuk untuk waktu jangka panjang, dengan materi lebih luas dan kompleks. Biasanya keanggotaan mereka diatur dan ditetapkan oleh guru. Kelompok ini pada umunya dapat diterapkan di kelas salah satu alat musik. Sangat efektif diterapkan pada proyek jangka panjang, seperti kelompok improvisasi atau arranging, mempersiakan sebuah ensemble, menetapkan repertori untuk sebuah pertunjukkan.

Yang ketiga adalah tipe kelompok yang lebih kompleks, dasar dari sebuah group. Yaitu sebuah kelompok yang sengaja dibentuk dan memiliki kekompakan solid karena mereka telah menjalin kerjasama dalam waktu yang relatif panjang,  misalnya selama semester atau kuartal.

Kelompok ini dibentuk dengan menggabungkan personality yang mereka miliki dan mereka dapat bekerja sama dengan efisien. Group ini memiliki kepercayaan tinggi dalam bekerjasama dan interaksi mereka sudah sangat natural dan spontan. Namun kelompok yang terakhir ini sulit dibentuk dan terbentuk hanya dalam kondisi tertentu. (eds)

Article Bottom Ad