GURU privat musik seringkali secara alami berkembang menjadi “orang tua kedua” atau mentor utama karena struktur pendidikan musik satu lawan satu yang unik, intim, konsisten, dan jangka panjang. Tidak seperti guru kelas yang berganti setiap tahun, seorang instruktur privat seringkali tetap bersama satu siswa selama satu dekade atau lebih, membimbing mereka dari masa kanak-kanak hingga dewasa muda. Bagi Maria Laurensia Fabiola Vivi Suliestyani, SE, mengajar musik sama halnya dengan mengajarkan kehidupan yang sangat penting dalam perkembangan anak. Berikut bincang-bincang dengan guru piano senior di Bali yang mengajar musik sejak
kelas 2 SMA ini.
Bagaimana masa kecil Anda dan bagaimana Anda terhubung dengan musik?
Saya lahir tahun 1968 di Semarang. Sejak kecil memang sudah menyukai piano. Waktu masih TK setiap kali berkunjung ke rumah sepupu yang memiliki piano, saya selalu tertarik untuk duduk dan menekan tutsnya. Melihat ketertarikan saya, orang tua saya kemudian membelikan sebuah piano mainan kecil yang menggunakan baterai. Saat itu saya belajar dengan penuh rasa ingin tahu dan senang sekali bisa memainkan nada-nada sederhana.
Bagaimana Anda kemudian belajar musik?
Kebetulan tetangga saya adalah seorang pemain band. Beliau sering mengajari saya memainkan melodi lagu-lagu anak, seperti Balonku, Cicak-cicak di Dinding, Helly, Kelinciku, dan lagu-lagu Chicha Koeswoyo yang saat itu menjadi favorit saya. Meskipun hanya memainkan melodinya, pengalaman itu menjadi awal tumbuhnya kecintaan saya terhadap musik. Ketika duduk di kelas 4 SD, orang tua saya membelikan saya sebuah Organ Yamaha. Saya kemudian mulai belajar secara formal di Purnomo Yamaha Music School selama sekitar satu tahun dalam kelas grup. Karena jarak dari rumah cukup jauh, saya melanjutkan pendidikan musik di YASMI yang lokasinya lebih dekat. Di sanalah saya belajar Organ secara privat, mulai dari kelas 5 SD hingga kelas 2 SMA. Masa-masa itu menjadi fondasi yang sangat penting dalam perjalanan saya di dunia musik.
Kapan Anda mulai mengajar musik?
Kecintaan saya pada musik akhirnya membawa saya memasuki dunia mengajar sejak masih duduk di kelas 2 SMA. Kesempatan pertama itu saya dapatkan di Sekolah Musik Gema Nada, yang saat itu berlokasi di Pertokoan Simpang Lima, Kota Semarang. Saya mengajar organ dengan menggunakan kurikulum JVC. Sekolah musik tersebut berada di bawah bimbingan maestro jazz Indonesia, Bubi Chen dari Surabaya. Beliau datang ke Semarang setiap bulan untuk memberikan pembinaan. Meskipun sudah mulai mengajar, saya sendiri masih terus belajar organ kepada beliau. Setiap bulan saya mengikuti pelajaran bersama beliau. Pengalaman belajar langsung dari seorang maestro sambil mengajar ini, memberi saya pelajaran yang sangat berharga, bahwa seorang guru pun harus terus belajar dan mengembangkan diri. Pengalaman mengajar di usia muda inilah yang menjadi awal perjalanan saya sebagai seorang pendidik musik.
Anda sekarang berkarier di Bali. Bagaimana ceritanya dari Semarang pindah ke Bali?
Saya pindah ke Bali setelah lulus SMA. Meskipun sebelumnya saya telah mengajar organ, saya merasa perlu memperdalam kemampuan bermain piano. Karena itu, saya memutuskan untuk belajar piano secara privat. Saya percaya bahwa seorang guru harus terus belajar agar dapat memberikan pengajaran yang terbaik kepada murid-muridnya. Bagi saya, pindah ke Bali membuka kesempatan untuk terus bertumbuh. Saya terus mengembangkan kemampuan bermain piano sekaligus memperkaya pengalaman mengajar. Dari waktu ke waktu, saya semakin yakin bahwa dunia pendidikan musik adalah panggilan hidup saya.
Instrumen apa saja yang Anda pelajari selain Organ, Keyboard, dan Piano?
Selain Organ, Keyboard dan Piano, saya juga pernah mempelajari beberapa instrumen lain karena ingin memperluas wawasan musik. Saat duduk di kelas 3 SMP, saya belajar gitar klasik di YASMI. Namun, karena jari-jari saya relatif pendek, saya mengalami kesulitan memainkan beberapa akor, terutama akor F penuh. Setelah berusaha cukup lama, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan pelajaran gitar dan tetap melanjutkan belajar organ. Ketika kuliah, saya juga mengambil pelajaran drum. Alasan saya sederhana, yaitu ingin memahami cara membaca notasi drum agar pengetahuan musik saya lebih lengkap. Meskipun akhirnya saya lebih menekuni Organ, Keyboard dan Piano. Pengalaman mempelajari berbagai instrumen tersebut memberi saya pemahaman yang lebih luas dalam mengajar musik.
Pada akhirnya Anda memilih mengjarkan piano. Kenapa?
Saya memilih pendidikan piano karena saya percaya piano adalah alat musik yang sangat lengkap. Melalui piano, seseorang belajar teknik, membaca notasi, melatih pendengaran, koordinasi tangan, disiplin, dan kemampuan mengekspresikan perasaan melalui musik. Piano juga instrumen ideal untuk mengajarkan musik karena sifatnya yang visual dan serbaguna. Penataan tuts secara linear membuat konsep teori musik dasar, seperti tangga nada dan interval, lebih mudah dipahami. Selain itu, piano mampu menghasilkan melodi, harmoni, dan ritme secara bersamaan, menjadikannya fondasi yang sempurna untuk mempelajari instrumen lain. Saya merasa bahagia ketika dapat membagikan ilmu yang saya pelajari kepada murid-murid dan melihat mereka berkembang.
Kelihatannya sejak kecil Anda sudah bergelut dengan musik ya?
Ya. Sejak kelas 5 SD hingga kelas 3 SMA, saya aktif mengiringi berbagai kegiatan musik di sekolah dan gereja. Saat SD saya memainkan organ untuk upacara sekolah, kemudian pada jenjang SMP dan SMA saya menggunakan keyboard. Di Gereja Kebon Dalem, saya juga melayani sebagai organis selama bertahun-tahun. Selain itu, ketika SMP saya dipercaya menjadi pianis pengiring lomba paduan suara sekolah. Semasa SMP dan SMA, saya juga aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler band di sekolah sebagai pemain drum.
Manfaat apa yang Anda peroleh dengan mempelajari beragam alat musik?
Yang pasti pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya semakin mencintai dunia musik sekaligus melatih rasa tanggung jawab, kepekaan dalam mengiringi, dan kepercayaan diri saat tampil di depan umum. Saya tidak pernah membayangkan bahwa kesempatan-kesempatan kecil yang saya terima sejak masa sekolah ternyata menjadi fondasi yang mengantarkan saya menekuni dunia pendidikan musik hingga hari ini. Semua pengalaman itu memperluas wawasan musik saya, terutama dalam memahami ritme, tempo, dan kerja sama dalam sebuah kelompok musik. Meskipun pada akhirnya saya memilih menekuni piano dan mengajar musik, pengalaman bermain drum memberikan sudut pandang yang lebih luas dalam memahami musik secara keseluruhan.
Setelah pindah ke Bali, apa saja kegiatan Anda?
Selama menempuh pendidikan formal di Bali, saya tidak hanya fokus kuliah, tetapi juga tetap aktif mengajar. Dari tahun 1987 hingga 1994, saya mengajar privat electone dan piano. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa mengajar musik bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup. Saya menikmati proses mendampingi setiap murid berkembang, dari mengenal nada-nada pertama hingga mampu memainkan instrumen musiknya. Setelah menikah pada tahun 1995, saya sempat mengurangi aktivitas mengajar karena ingin fokus pada keluarga. Saat mengandung anak pertama dan kedua, saya memilih vakum sementara dari dunia mengajar agar dapat mendampingi tumbuh kembang anak-anak dengan baik.
Sejak kapan mulai mengajar lagi?
Memasuki tahun 2001saya kembali aktif mengajar. Saya mengajar electone, keyboard, dan piano secara privat dengan mendatangi rumah murid. Bahkan saat mengandung anak ketiga, saya tetap mengajar dengan menyesuaikan kondisi kesehatan. Kecintaan saya pada dunia musik dan mengajar membuat saya terus bersemangat untuk berbagi ilmu kepada para murid.
Sembari mengajar, proses belajar Anda sendiri terus berlangsung ya? Apa alasannya?
Pertama, bahwa ilmu itu tidak kenal berhenti. Ia selalu berkembang. Sebagai pengajar saya juga harus mengikuti perkembangan, dengan tetap belajar. Kedua, sebagau guru musik saya harus terus belajar untuk mempertahankan empati terhadap perjuangan pemula, mencontohkan pembelajaran seumur hidup yang mereka harapkan dari siswa, dan tetap tajam dalam metodologi pengajaran yang terus berkembang dan genre musik baru.
Dengan kata lain, Anda harus ter-up date terusdengan bidang yang Anda ajarkan?
Ya. Betul. Pembelajaran berkelanjutan menjaga pengajaran tetap segar, mencegah kelelahan, dan memperluas pengetahuan teknis. Guru harus menjadil model pembelajaran seumur hidup. Ketika guru mempraktikkan apa yang mereka ajarkan, hal itu menginspirasi siswa. Dengan belajar secara aktif, kita mengalami rasa frustrasi dan kemenangan yang sama dengan yang dihadapi siswa, yang membuat metode pengajaran kita tetap membumi, berempati, dan dapat diterima. Studi berkelanjutan memperkenalkan saya pada teknik pengajaran inovatif, teknologi musik, dan penelitian ilmu kognitif. Hal ini memungkinkan untuk menyesuaikan pendekatan mereka untuk siswa dengan mereka yang memiliki gaya belajar berbeda. Menjelajahi genre baru, penulisan lagu kontemporer, dan musik dunia, memastikan bahwa pelajaran tetap menarik, relevan, dan menarik bagi siswa modern.
Bagaimana ibu menyeimbangkan antara latihan teknis dengan repertoar pembelajaran kepada siswa?
Dalam dunia pedagogi piano, filosofi pengajaran yang ideal memandang latihan teknis dan repertoar sebagai dua elemen yang tidak terpisahkan. teknik adalah “alat” atau kosakata fisik, sedangkan repertoar adalah “bahasa” atau sarana ekspresi musikal. Latihan teknis, seperti tangga nada, arpeggio, dan staccato misalnya, tidak diajarkan secara mekanis atau kaku. Guru mengajarkan teknik sebagai fondasi fisik yang diperlukan untuk mengekspresikan emosi, warna nada, dan frasa dalam sebuah lagu. Banyak guru modern mengintegrasikan latihan teknis langsung ke dalam tantangan yang ada pada repertoar. Bagian-bagian sulit dari sebuah lagu dipilah menjadi latihan mikro untuk dikuasai, sebelum dimainkan kembali secara utuh. Dalam pengajaran, biasanya terdapat pembagian waktu spesifik. Sekitar 15-20 menit pertama untuk pemanasan dan latihan spesifik pola-pola teknik, lalu 40 menit sisanya difokuskan pada eksplorasi dan interpretasi repertoar.
Tapi setiap anak kan berbeda. Bagaimana pendekatan yang Anda lakukan?
Tugas saya sebagai guru adalah menemukan cara terbaik agar setiap murid dapat berkembang sesuai kemampuannya. Saya percaya proses lebih penting daripada hasil. Saya selalu mengajarkan teknik sebagai dasar, kemudian langsung diterapkan dalam lagu yang sedang dipelajari. Dengan begitu murid memahami manfaat latihan teknik dalam permainan mereka. Untuk siswa anak-anak, saya menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan penuh motivasi. Untuk remaja dan dewasa, saya lebih banyak berdiskusi mengenai interpretasi musik dan target belajar. Saya mengajarkan teori musik bersamaan dengan praktik piano, sehingga murid tidak hanya bisa memainkan lagu tetapi juga memahami musik yang dimainkan.
Metode atau kurikulum apa yang paling nyaman ibu ajarkan? Mengapa?
Saya menyesuaikan metode dengan kebutuhan murid. Saya menggunakan pengalaman dari pendidikan formal, kurikulum JVC yang saya pelajari dari Mr. Bubi Chen, serta berbagai buku pembelajaran piano klasik maupun modern. Saya membagi bagian sulit menjadi langkah-langkah kecil, memperbaiki teknik secara bertahap, dan memberi target yang sesuai kemampuan murid.
Strategi apa yang ibu gunakan untuk memotivasi siswa yang terus-menerus gagal berlatih atau malas?
Saya memberikan target yang realistis, sering memberi apresiasi atas kemajuan mereka, dan sesekali mengajak mereka mengikuti konser atau kompetisi agar memiliki tujuan belajar.
Bagaimana ibu mengidentifikasi gaya belajar unik siswa dan menyesuaikan metode pengajaran ibu?
Saya mengamati karakter setiap murid. Ada yang cepat belajar melalui pendengaran, ada yang lebih visual, dan ada yang perlu praktik berulang. Saya menyesuaikan cara mengajar sesuai kebutuhan
mereka.
Bagaimana perasaan ibu tentang mempersiapkan siswa untuk ujian, festival, dan pertunjukan atau konser?
Bagi saya, mempersiapkan siswa untuk ujian, festival, kompetisi, maupun konser merupakan tanggung jawab sekaligus kebahagiaan sebagai seorang guru. Setiap kegiatan memiliki tujuan yang berbeda. Ujian membantu mengukur perkembangan belajar, festival dan konser memberi kesempatan kepada siswa untuk tampil dan menambah pengalaman panggung, sedangkan kompetisi melatih mereka untuk memberikan penampilan terbaik dengan tetap menjunjung sportivitas. Saya selalu mendorong siswa untuk memiliki pengalaman tampil di konser sebelum mengikuti kompetisi. Karena itu, saya mengajak mereka mengikuti konser internal Farabi maupun Track Talent Showcase yang terbuka untuk umum. Melalui pengalaman tampil, mereka belajar mengatasi rasa gugup, membangun kepercayaan diri, dan beradaptasi dengan suasana panggung. Ketika akhirnya mengikuti kompetisi, mereka biasanya lebih siap, baik secara teknik maupun mental. Bagi saya, hasil yang terpenting bukan hanya meraih juara, tetapi melihat siswa bertumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, disiplin, mencintai musik, dan menikmati setiap proses belajar.
Apa yang paling membahagiakan ibu sebagai guru piano?
Yang paling membahagiakan bagi saya adalah melihat perkembangan setiap murid, baik dalam kemampuan bermain piano maupun dalam karakter mereka. Saya merasa bersyukur ketika melihat murid yang awalnya ragu-ragu akhirnya menjadi percaya diri, menikmati proses belajar, dan mampu tampil dengan baik di konser maupun kompetisi. Kebahagiaan yang lain adalah ketika melihat kecintaan mereka terhadap musik terus bertumbuh. Bagi saya, menjadi guru piano bukan hanya mengajarkan teknik bermain, tetapi juga menanamkan disiplin, kesabaran, kepercayaan diri, dan semangat untuk terus belajar. Melihat senyum dan keberhasilan murid-murid bagi saya adalah kebahagiaan dan penghargaan terbesar dalam perjalanan saya sebagai guru piano.
Apa harapan ibu kepada murid-murid?
Harapan saya, murid-murid tidak hanya mampu bermain piano dengan baik, tetapi juga belajar mencintai musik sebagai bagian dari kehidupan mereka. Saya berharap mereka bertumbuh menjadi pribadi yang disiplin, sabar, percaya diri, serta memiliki semangat untuk terus belajar dan berkembang. Bagi saya, setiap anak memiliki potensi yang unik. Karena itu, saya ingin membantu mereka menemukan dan mengembangkan kemampuan terbaiknya. Jika suatu hari mereka dapat bermain musik dengan sukacita, tampil dengan percaya diri, dan membawa hal-hal positif melalui musik, itulah kebahagiaan dan kebanggaan terbesar bagi saya sebagai seorang guru piano. (eds)













































