Membangun Kemampuan ’Mendengar’

243

Article Top Ad

SEBUAH tugas sulit yang banyak dihadapi para pianis dan guru piano adalah bagaimana membangun kemampuan mendengar. “Mendengar” yang tidak sekadar mendengar. Dalam setiap kali pelajaran, kalimat “mendengar” barangkali sering diucapkan para guru paling sedikit lima kali. “Mendengar” atau “dengarkan!” juga salah satu kalimat yang seringkali ditulis para kritikus, juri, atau penonton pada setiap kompetisi. “Mendengar”, memang pada akhirnya bukan hanya sebuah kalimat saja, tetapi sesuatu aktifitas atau proses yang sangat vital dan tidak mudah dalam kaitannya dengan bermain musik.

Bagaimana membangun kemampuan “mendengar” sebagai bagian integral pada seorang musisi (pianis) maupun seorang guru? Bagaimana membuat relasi antara mendengar dengan telinga dan mendengar dengan jari-jari? “Inilah persoalan klasik yang tidak pernah ada habisnya. Sebenarnya banyak yang menyadari hal ini, tapi kebanyakan tak menganggap penting sesuatu yang justru sangat penting ini. Mungkin karena sulit untuk melakukannya,” kata Scott Price, dari School of Music University of South Carolina, Columbia.

Mendengar adalah sebuah perasaan yang tidak dapat ditolak atau dihindari. Tangan dapat saja menolak untuk menekan tuts, mata dapat menutup, mulut dapat menolak untuk makan atau mengunyah, dan paru-paru tidak harus menerima udara melalui hidung, tapi bisa juga dari mulut. “Mendengar” dalam hal ini adalah kemampuan menerima dan menolak detail-detail yang muncul dari hiruk pikuk latar belakang suara. Bila detail-detail ini terjadi pada kerumitan sebuah notasi musik, seorang siswa diajar untuk memperhatikan dan mendengarkan detail-detail ini. Ia benar-benar harus mampu memperjelas detail-detail itu melalui suara yang dihasilkan dari keyboardnya.

Article Inline Ad

Proses belajar musik sebagian besar menekankan pada bagaimana siswa dapat mempelajari, menginterpretasikan dan memainkan komposisi pada piano. “Kita sering lupa mengingatkan siswa untuk mendengar. Secara psikologis, siswa-siswa harus mendengar, begitu juga guru. Telinga tidak mampu mendengar hanya apabila cacat atau cedera. Itu artinya, mendengar adalah sesuatu seringkali siswa tidak dapat mendengar dengan yang tidak dapat dihindari. Masalahnya adalah mengapa seringkali siswa tidak dapat mendengar dengan baik atau membuat sebuah hubungan dengannya. Jawaban menarik yang biasa terdengar adalah, karena siswa benar-benar tidak mendengar!” kata Scott Price.

Menurut Assistant Professor of Piano, Piano Pedagogy, dan Coordinator of Group Piano di University of South Carolina ini, setiap siswa pada dasarnya bisa mendengar, tetapi “mendengar dengan baik dan benar” memerlukan sebuah keterampilan tersendiri.
Siswa mendatangi guru dengan sebuah kecintaan pada suara alat musik, semangat yang membara, keinginan yang tinggi, dan motivasi yang besar terhadap karya-karya musik, misalnya piano. Setiap orang yang menghasilkan karya-karya musik menjadi inspirasi, penambah semangat dan merupakan contoh ideal yang bisa atau tidak, ditemukan dengan cara apapun dan biaya berapapun.

Para pianis mendengar not-not jelek dan tidak konsisten serta latihan berjam-jam untuk membakar ketidakcakapan yang memalukan. Mereka dengan memilukan berusaha keras dan berjuang dalam setiap latihan dan pelajaran untuk mengikuti harapan-harapan gurunya, kadang-kadang dengan pencerahan dan optimisme menyala-nyala, kadang-kadang juga dengan rasa frustasi dan air mata. Siswa memiliki kemampuan untuk mendengarkan not-not, musik dan intruksinya. Tetapi mereka sering tidak mengembangkan kesadaran bahwa “enerji telinga” harus melewati medium lainnya sebelum sampai pada bahasa dari sebuah suara”.

Tugas sulit setiap hari yang harus dihadapi para pianis adalah bagaimana menempatkan dengan tepat “enerji telinga” (yakni kemampuan atau dorongan untuk mendengar) dan kemudian membuat sebuah hubungan baik antara jari-jari dan keyboard piano yang akan menjalankan dan merealisasikannya dengan baik dan benar. “Pada tataran yang paling mendasar, para pianis harus mengembangkan sebuah hubungan yang menyenangkan dalam hal sensitivitas touch atau kerjasama yang baik antara tangan dan tuts-tuts hitam maupun putih. Ini mengharuskan para pianis untuk benar-benar mampu merasakan atau menyentuh musik dengan enerji telinga”, kata Scott.

Jari Menjadi Telinga
Walaupun pikiran, hati, dan semangat perseorangan adalah hal yang sangat penting dalam mengkomunikasikan pengalaman musikal, dalam beberapa hal gagasan-gagasan tetap harus melewati jari-jari dan kedalam kunci-kunci piano bila pengalaman musikal di praktikan di hadapan pendengar.

Jari-jari pada akhirnya benar-benar menjadi sebuah telinga dan mendengar dengan sebuah cara yang nyata untuk menghasilkan ekspresi musikal melalui keyboard. Hampir sebagian besar siswa begitu mempesona (dan juga dapat dibenarkan) menurut suara literature, dan romantisme permainan alat musiknya. Mereka kadang-kadang tidak memerlukan banyak waktu untuk menterjemahkan apa yang mereka dengar dan pikirkan ke dalam apa yang mereka lakukan pada permainan piano. “Jadi, dengan satu definisi, mendengar berarti menghasilkan atau membuat musik dengan jari-jari melalui beberapa cara yang menghubungkannya dengan keyboard piano,” kata Scott.

Tapi, kebanyakan siswa tidak “merasakan” keyboard ketika mereka bermain. Karenanya, hal yang menjadi paling mendasar adalah membuat sebuah pentahapan atau kerangka kerja yang memberikan mereka kemungkinan untuk mengukur hal-hal paling kecil pada setiap saat mereka berhubungan dengan alat musiknya. Misalnya, bila seorang siswa mengetahui tidak hanya dimana jari-jari seharusnya berada dalam hubungannya dengan kunci (key) tetapi juga kapan jari-jari seharusnya berada dalam hubungannya dengan kunci (key), maka dasar-dasar untuk sebuah hubungan yang kuat dengan keyboard sangat tidak dapat dipungkiri.

Bagaimana seorang pianis atau siswa mulai mengembangkan sebuah kontak atau rasa kedekatan dengan keyboard? Bila seorang pianis atau siswa mulai memainkan atau membuat musik, dia harus menekan atau beraksi dengan kunci. Cara dan gaya aksi ini menentukan kualitas suara. Variasi-variasi dalam menerapkan hukum-hukum fisik tubuh dapat menghasilkan dinamika dan aksen yang berbeda. Ketika menerapkannya dalam kombinasi, mereka dapat menghasilkan konstruksi dinamika yang kompleks, seperti misalnya Crescendi dan Diminuendi. Kecepatan dan tekanan dalam permainan juga mempengaruhi kualitas tone. Pedal, ketika dikombinasikan dengan kualitas tone, dapat digunakan untuk membuat apa yang sering disebut “warna” suara.

Beberapa siswa dan pianis memperoleh tingkat penguasaan yang tinggi melalui konsep cara bermain dalam menghasilkan dan membuat ide-ide musikal. Tetapi, kadang-kadang permainannya kelihatan tergesa-gesa. Detail-detailnya banyak yang hilang dalam perjuangannya membuat gerakan atau permainan berikutnya.

Siswa kelihatan dilupakan untuk mendengar permainan atau perintah. la berkosentrasi hanya pada apa yang dia akan kerjakan pada keyboard, tidak pada apa yang sudah dikerjakan. Kesempurnaan gerakan atau permainan hanya separuh dari formula yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan menjaga hubungan yang sukses dengan keyboard dalam merealisasikan ide-ide musikal.

Separuh lainnya adalah konsep bagaimana kunci-kunci dilepaskan. Pelepasan ini tergantung durasi suara. Seorang siswa atau pianis yang sadar akan fungsi melepaskan kunci dalam merealisasikan ide-ide musikal, memahami bagaimana melakukan variasi-variasi staccato dan legato. “Siswa atau pianis seperti itu juga menyiapkan diri untuk melakukan konstruksi-konstruksi durasi yang sangat kompleks seperti rubato, tempo, dan perbedaan halus dalam penghentian suara,” ujar Scott Price.

Memiliki Kesadaran
Beberapa pianis dan siswa cukup baik memiliki kesadaran terhadap panjang pendeknya not-not yang diberikan dan suara permainan mereka seringkali tidak jelas atau kehilangan warna, karena kurang memperhatikan kehalusan gerakannya. Mereka hanya mendengarkan apa yang telah dilakukan pada keyboardnya dan tidak pada apa yang akan dilakukan pada not-not yang akan hadir berikutnya.

Konsep dasar pergerakan dan pelepasan membutuhkan sebuah cara-cara tertentu atau taktik hubungan dengan keyboard piano. Siswa menyadari nada-nada musikal pada permulaan dan akhir, dengan cara membuka sebuah dimensi baru dalam mengaktualisasikan gagasan-gagasan telinga musikal. Dengan mengetahui panjang pendeknya sebuah not, seorang siswa dapat menunggu giliran not berikutnya dengan cara memberikan dirinya untuk merasakan kunci dan menikmati persiapan dan pelaksanaanya pada ide-ide musikal berikutnya.

“Waktu antara gerakan dan pelepasan adalah dimana kepuasan yang menakjubkan dari jari-jari ke piano dimulai. “Enerji telinga” telah mengubahnya ke dalam sebuah realisasi psikologikal. Siswa mendengarkan dengan jari-jarinya, juga dengan telinganya. Gagasan-gagasan musical menjadi sebuah hal yang nyata dan terbukti,” ujar Scott Price.
Pemahaman konsep gerakan dan pelepasan adalah, tidak dapat disangkal lagi, sebuah tujuan yang abstrak dan tak terbatas. Bahkan ketika seorang siswa berada dalam ekspresi musical tidak terbatas pada keyboardnya , beberapa rintangan hadir kembali diantara kenikmatan dalam seni komunikasi musikalnya.

Dalam arena penampilan dan pembelajaran. sebab persepsi cadangan atau analogi, kadang-kadang cara paling mudah untuk mengkomunikasikan sebuah prinsip-prinsip abstrak kepada seorang siswa dan mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk. Dalam proses perubahan “enerji telinga”ke dalam ekspresi musikal yang nyata, kita sering melupakan alat musiknya. Daripada memusatkan alat musik untuk melakukan tujuan kita, mungkin diperlukan sekali untuk membiarkan alat musik memerintah apa yang digmiana dengan cara seperti apa itu dilakukan.

“Kita berada pada sebuah proſesi yang berusaha keras untuk meraih kesempurnaan dalam mengekspresikan musik melalui keyboard. Setiap orang belajar piano dengan sejumlah perbedaan. Pada akhirnya semua gagasan harus lewat melalui jari-jari dan kemudian pada keyboard. Dan puncaknya adalah , telinga menjadi jari-jari, kemudian menjadi suara yang lewat melalui instrumen ke pendengar dalam pengalaman musikal yang mengesankan. Pianis mendengar dengan telinga, hati, dan dengan pengetahuan yang dapat dimengerti penonton melalui jari jari yang mempesona dan memuaskan pada instrumennya,” kata Scott Price. (M. Abshar)

Article Bottom Ad