Mengawal Anak Belajar Musik

623

Article Top Ad

BAGAIMANAPUN hebat dan efektifnya cara guru mengajar, serta betapapun hebatnya bakat siswa, belajar musik tetap saja sebuah kegiatan yang hanya berlangsung setengah jam dalam seminggu!

Ini artinya, sebagian besar waktu belajar lebih banyak tersedia di rumah. Disinilah orangtua berperan penting dalam dua hal, yaitu, membuat anak lebih tertarik pada musik atau membiarkan anak sendirian dan merasa kesepian. Peran orangtua dalam proses belajar anak-anaknya, sangat penting, khususnya pada saat anak-anak mereka belum memiliki kemandirian.

Menurut Philip Johnston, seorang pianis dan juga pengajar piano yang tinggal di Australia, ada beberapa tipe orangtua dalam hal ini, diantaranya, tipe orang tua yang apatis. “Mereka cenderung tidak tertarik dengan musik, tidak mau tahu, tidak berusaha melibatkan diri dalam proses yang dihadapi anaknya, dan tidak menunjukkan semangat untuk membantunya dalam belajar, tetapi tetap menuntut hasil maksimal dari anak. Cukup mengherankan bahwa dengan sikap seperti ini mereka merasa memiliki alasan untuk memberikan anak-anaknya kesempatan belajar musik,” kata Johnston.

Article Inline Ad

Tipe kedua adalah orang tua aktif: “Mereka menyadari bahwa peran mereka sangat penting. Mereka dengan sangat sabar mengikuti dan mengawasi setiap tahap dalam proses belajar anaknya, khususnya ketika di rumah. Ciri-ciri tipe orang tua aktif biasanya juga kreatif, memiliki ketertarikan pada musik, dan mau belajar serta merasa bahwa merekapun harus belajar,” lanjut Johnston.

Tipe ketiga adalah orangtua yang hiperaktif. Orang tua tipe ketiga ini, meskipun tergolong amat sangat aktif mendorong anaknya bermain musik, namun keterlibatan mereka yang terlalu berlebihan justru lebih berbahaya dari tipe yang pertama. Mereka biasanya tidak segan-segan memanfaatkan anak untuk memenuhi ambisi-ambisi pribadinya. Menjadikan anak-anak mereka sekadar sarana bagi misi dan keinginan mereka sendiri.

Mereka biasanya sangat aktif dan menunjukkan keterlibatan yang sangat dalam, tetapi cenderung hiperaktif dan menempatkan anaknya sebagai subordinate dirinya. “Orang tua tipe ketiga ini biasanya selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah dikerjakan dan hasil yang telah diperjuangkan si anak. Termasuk dengan apa yang telah diajarkan gurunya. Mereka cenderung menuntut terlalu banyak tanpa melihat realitas yang ada. la cenderung menekan anak untuk mengikuti apa saja kemauannya, bukan memahami apa yang sedang dihadapi anak apalagi membantu memecahkan persoalan yang dihadapi anak, atau berusaha mengerti apa yang diinginkan anak,” papar Johnston.

Johnston mengamati bahwa, pada dasarnya sebagian besar orang tua sebenarnya sangat tertarik dan dengan senang hati mau membantu guru dan anaknya dalam belajar musik, dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Tetapi banyak fakta di lapangan memperlihatkan para orang tua tidak memiliki petunjuk mengenai hal itu. Khususnya orang tua yang memang tidak memiliki keterampilan bermusik atau pengalaman belajar musik. “Dalam ketidakpunyaan tersebut, mereka berusaha memusatkan pada satu hal yang harus dapat mereka lakukan, yakni, bahwa mereka tidak perlu harus belajar musik untuk membuat sebuah perbedaan besar terhadap proses belajar musik buah hatinya,” tegasnya.
Ada beberapa hal yang sebaiknya diketahui dan dilakukan para orang tua yang mendorong anak-anaknya belajar musik. Beberapa hal penting tersebut misalnya, mengetahui dengan jelas, berapa lama latihan yang harus dilakukan anak. Dengan mengetahui hal ini, orangtua akan mencari cara bagaimana memotivasi anaknya, mengikuti dan memantau setiap kemajuan yang diperolehnya dan dari usaha kesemuanya itu, hasilnya adalah sebuah proses belajar sukses.

“Orangtua yang bisa berperan seperti ini biasanya memiliki sikap tegas, disiplin, tetapi tidak menekan. Mereka memperkenalkan budaya baru kepada anak-anak: bahwa setiap detik adalah sesuatu yang sangat berharga. Mereka mengajak anak-anaknya untuk bertanggung jawab dan mengerti akan tugasnya. Mungkin orang tua akan mengatakan, ‘Ayo berhenti bermain, latihan,” kata Johnston.

Orangtua tipe ini tidak matikan komputermu. Ini Sa perlu memiliki ketrampilan dalam bermain musik untuk dapat mendampingi anak-anaknya belajar musik. Yang diperlukan adalah dedikasi yang sungguh-sungguh untuk terus mengikuti dan mengawasi setiap proses, dari waktu ke waktu, sampai anak memiliki kesadaran dan kemandirian sendiri.

Miliki Ketertarikan
Sebagian besar anak-anak sangat senang bila mereka menjadi pusat perhatian orangtuanya, dan akan cenderung menyukai kegiatan-kegiatan yang membuat mereka diperhatikan orang tuanya. Satu hal yang sangat penting dilakukan orangtua dalam hal ini adalah memiliki ketertarikan pada apa yang dilakukan anak-anak. Dalam belajar musik, misalnya, orangtua harus mempunyai ketertarikan yang kuat dengan musik dan pada setiap proses belajar musik anaknya, agar mereka dapat memberikan support.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan ketertarikan orangtua terhadap proses belajar anak-anaknya. Misalnya, dengan mengetahui apa yang terjadi dengan pelajaran yang baru saja diberikan sang guru, dan apa rencana berikutnya untuk menyiapkan pelajaran pertemuan selanjutnya.

Mengetahui nama pedal piano kiri, not tertinggi apa yang bisa dimainkan anak, bagaimana kecepatan anak mempelajari lagu-lagu baru, sejauh mana ketertarikan anak terhadap keikutsertaannya dalam konser, apa yang membuat mereka menyukai lagu favoritnya dan mengapa ia sering kali memainkannya, bagaimana dengan tangga nadanya, apakah ada nada yang paling tidak disukainya dan mengapa, siapa komposer yang disukainya, dan faktor-faktor apa saja yang sering kali mengacaukannya dalam belajar, dan masih banyak lagi lainnya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu dibahas ketika anak sedang berada di depan piano. Tetapi bisa saja diungkapkan ketika sedang dalam perjalanan mobil saat mengantarkan mereka les. Bisa juga saat santai, ketika di meja makan atau ketika anak tengah mempersiapkan peralatan sekolah sebelum berangkat atau ketika keluar dari supermarket.

Intinya, bisa dibicarakan dimana saja dan kapan saja. Tetapi yang perlu diperhatikan bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti itu jangan hanya “berhenti sampai di situ, atau sekedar basa-basi “bentuk perhatian belajar, tetapi harus benar-benar menunjukkan bahwa orang tua sangat tertarik dengan semua kemajuan yang diperoleh sang anak. Perlu diingat sekali lagi bahwa anak akan lebih senang bila mereka menjadi pusat perhatian orang tuanya dan merasa diperhatikan.

Anak-anak biasanya cenderung akan melakukan aktivitas yang membuat orang tuanya lebih memperhatikannya dan bangga terhadap dirinya. Bila belajar musik telah dapat menjadi sesuatu yang menarik perhatian anak, sebagian kecil perjuangan orangtua dalam mendapingi buah hatinya belajar musik, telah dimenangkan.

Dorongan
Meskipun pada dasarnya seorang anak senang diperhatikan, namun orang tua tidak perlu memberikan pujian yang terlalu berlebihan. Ketika misalnya anak dapat memainkan not seperempat dengan benar. Tetapi pertimbangkan pula bahwa setiap umpan balik positif dari orangtua adalah sebuah cara yang bagus dalam memperkuat sikap dan perilaku.
Logikanya adalah bila orangtua menangkap atau mendengar anak memainkan dengan benar dan kemudian memberikan pujian, maka anak kemungkinan besar terdorong ingin mengulangi hal tersebut di kesempatan berikutnya. Tentu bila ia dapat memainkannya dengan benar, dan mereka terdorong pula untuk melakukannya dengan benar.

Ini bahkan akan lebih efektif bila orangtua mengetahui dengan baik hal-hal apa saja yang dicoba sang guru untuk dikembangkan, sesuai dengan target yang dituju. Jadi seandainya persoalan bulan lalu adalah karena anak memainkan lagu tersebut terlalu cepat misalnya, dan dalam kesempatan berikutnya ketika orangtua mendengarlagu itu, ia dapat menyarankan pada anak agar tidak terlalu tergesa-gesa memainkannya ketika memainkannya di rumah.

Orangtua dapat terus memantau. Bahkan ketika anak merasa begitu frustasi dengan tugas-tugas mereka. Dengan demikian mereka merasa bahwa ia tidak sendirian. Pada situasi tertentu orangtua dapat membangkitkan dan memberikan dorongan semangat anak dengan cara yang menyejukkan untuk mencoba memainkan bagian tertentu lagu tersebut beberapa kali, atau mencobanya dengan cara lain, atau bahkan memintanya istirahat sebentar dan untuk dilanjutkan kemudian.

Poin penting dari semua itu adalah ketika anak berjuang dan berlatih, mereka melakukannya dengan dukungan dan dorongan penuh orangtua. Kunci latihan yang berhasil adalah perlunya anak memahami dengan benar apa yang mereka raih dengan baik seminggu kemudian, sebelum mereka memulai sesi latihan pertama kali. Ini berarti instruksi atau perintah-perintah yang diminta guru dan umpan balik selama pelajaran berlangsung merupakan hal yang sangat penting.

Orangtua dapat memastikan bahwa komunikasi antara apa yang ada dengan apa yang ada di rumah mampu melengkapi sekolah musik dengan membuat siswa dapat menjabarkan kembali informasi-inforamsi penting untuk seminggu ke depan. Siswa sebaiknya dapat menyebutkan dengan benar apa saja tugas mereka, termasuk dengan latihan-latihan tekniknya yang direkomendasikan sebagai pelengkapnya.

Mereka sebaiknya juga mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang muncul pada pelajaran sebelumnya, bersama dengan detail-detail batas waktu yang akan datang.Pertanyaan yang diajukan orang tua dibuat untuk membantu siswa mempererat pemahaman tentang apa yang diperlukan dan sebaiknya diajukkan sesegera mungkin setelah pelajaran berakhir.

Misalnya saat dalam perjalanan pulang setelah belajar musik. Sangat bermanfaat bila dapat memasukkan sesi-sesi latihan dalam suasana yang tidak formal dan memungkinkan anak memiliki kesempatan untuk menggambarkan kembali tujuan atau sasaran apa saja yang akan dicapai untuk seminggu kemudian. Bila latihan telah menjadi aktifitas yang biasa, anak-anak akan lebih mudah mengingatnya, tanpa perlu ditanya. (dini)

Article Bottom Ad