Nathan Thomas

105

Article Top Ad

Pernahkah membayangkan seorang pianis tapi dia juga seorang akuntan, pengacara pajak, promotor musik, wirausaha dagang dan manufaktur, bahkan juga seorang master hukum?
Nathan Thomas, pianis yang juga mahasiswa Seni Musik Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga semestar 8 jurusan Piano Performance ini, merengkuh semua itu. Berikut bincang singkat dengan pianis kelahiran Jakarta ini seusai tampil dalam konser “Sound in Silence” di Concert Hall Universitas Satya Wacana, Salatiga, 7 Desember 2023

Bagaimana masa kecil Anda dan bagaimana Anda terhubung dengan musik?
Heheeee…jadi cerita masa kecil, ada yang suka ada yang duka nya nih. Jadi papa kandung saya adalah seorang akuntan, dan mama kandung saya adalah seorang aktris, pekerja seni dunia peran nasional. Saya tidak berkesempatan bersama mama kandung saya karena pada saat usia 3 tahun, mama kandung saya meninggal dunia dan kemudian saya hidup bersama papa kandung. Pada usia 6 tahun, papa kandung saya yang saat itu secara perekonomian sedang tidak baik, memutuskan untuk saya diasuh oleh adik nya, yaitu bu Nana yang seorang pianis lulusan Akademi Musik Indonesia, yang kemudian menjadi perguruan tinggi ISI Yogyakarta. Bu Nana memiliki seorang suami yang berprofesi sebagai dosen biola di ISI Yogyakarta. Dari beliaulah saya terhubung dengan musik.

Article Inline Ad

Kelihatannya bakat musik Anda bertumbuh subur di lingkungan yang memang menyukai musik ya? Bagaimana lingkungan tersebut memberikan pengaruh bagi pertumbuhan kecintaan Anda kepada musik?
Hampir setiap hari saya mendengar musik klasik melalui kaset dan piringan hitam. Pada jaman dulu masih belum ada CD dan saya juga selalu mendengar permainan murid-murid yang les di sekolah musik “Kythara” milik papa dan mama angkat saya, yaitu pak Sam dan bu Nana, sehingga pembelajaran musik klasik ini benar-benar melekat hampir setiap detik di lingkungan saya. Belum lagi bertemu dengan para musisi musik klasik yang menjadi kolega pak Sam dan ibu Nana, orang tua angkat saya. Ketemu tiap hari membuat saya menjadi sangat cinta dengan musik klasik.

Apa latar belakang pendidikan Anda di bidang musik, dan bagaimana hal itu mempersiapkan Anda untuk menjadi seorang pianis?
Setelah lulus SMA, sebetulnya saya ingin berkuliah di bidang musik, hanya saja saat itu orang tua angkat saya, bu Nana, menyarakan untuk berkuliah sesuai bakat saya. Dan bakat saya menurut psikotest adalah menjadi akuntan, hahahahaa…mungkin karena DNA dari papa kandung saya yang seorang akuntan. Sehingga saya memutuskan kuliah S1 Akuntansi saat setelah lulus SMA. Di awal 2020 kita dihadapkan situasi pandemi karena covid-19, saya memutuskan untuk kuliah di S1 Seni Musik di UKSW. Namun sebelum berkuliah di S1 Seni Musik, saya sudah menggenggam pendidikan S2 Akuntansi juga, dan pada 2021 saya juga berkesempatan menggenggam perkuliahan S2 Hukum, lalu 2023 awal saya mengambil S2 Komunikasi.

Anda banyak berguru kepada pianis dan musisi lain? Apa yang mendorong Anda belajar ke banyak guru?
Saya belajar piano pertama dari mama angkat saya yang juga mama saya di akta kelahiran saya, bu Nana. Lalu pada awal 2021 sempat delapan kali belajar ke bu Midya Wirawan, seorang guru piano terbaik di Indonesia yang pernah saya kenal. Pada 2021, saya juga belajar ke Richard Wirawan, seorang pianis muda terbaik dengan kualitas tone color yang yang sangat luar biasa. Di awal 2022, saya belajar ke bu Ary Sutedja, pianis yang memiliki pendidikan S1 dan S2 Piano Performance. Di awal 2023 saya belajar ke pak Levi Gunardi, yang juga seorang pianis lulusan S1 dan S2 Piano Performance. Yang mendorong saya belajar ke banyak guru piano karena mereka memiliki kelebihan masing- masing. Misal bu Midya, beliau benar-benar memperhatikan tone color dan pengkalimatan, sama seperti Richard Wirawan. Bu Ary Sutedja sangat peduli pada penggunaan otot dan gesture saat kita memainkan piano selain mengajarkan filosofi seni dalam menikmati seni itu sendiri saat kita perform. Dengan pak Levi, saya memiliki keberanian dalam menginterpretasikan musik karena pengajaran beliau yang sangat luar biasa dalam seorang pianis di atas panggung. Artinya semua guru-guru saya menyempurnakan performance saya di atas panggung.

Selain piano, Anda juga belajar ke guru cello. Apa yang mendorong Anda belajar instrument lain?
Untuk belajar komposisi sebetulnya, dengan cara belajar instrumen tersebut.

Anda mengajar musik, tetapi lebih ke talent management. Bisa dijelaskan apa itu talent manajemen?
Seperti penjelasan saya tentang guru-guru piano saya yang menyempurnakan performance, saya ingin murid-murid saya, saya lebih suka menyebutnya dengan talent, mendapatkan banyak pembelajaran dari guru-guru piano yang ada sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena kecocokan dan kebutuhkan talent terhadap guru piano harus benar-benar disesuaikan. Saya tidak ingin posesif kepada talent saya karena saya ingin talent murid saya benar-benar mendapatkan pendidikan musik terbaik, yang pastinya tidak bisa didapat hanya dari saya yang memiliki keterbatasan.

Mengapa talent management Anda pandang sesuatu yang penting?
Sangat penting, artist ataupun para pekerja seni lainnya, sehebat apapun mereka tidak akan dikenal dan tidak akan berhasil tanpa sentuhan manajemen. Jadi talent management benar-benar berfungsi untuk keberhasilan dari sisi teknis musisi, dan juga pemasaran serta manajemen keuangan.

Problem apa saja yang banyak anda hadapi sebagai pengajar talent management?
Jika talent masih di bawah 17 tahun yang masih ada perwalian dari orang tua, pastinya perlu pemahaman yang sama dengan orang tua, yang mana ini adalah hal tersulit. Talent Manager juga memiliki kesulitan lain dalam hal pencarian sponsor, karena sehebat apapun pekerja seni tersebut, jika tidak dilandasi keuangan yang kuat atau sponsor, maka akan tidak maksimal. Proses meyakinkan sponsor ini adalah yang tersulit hehehee…

Bagaimana Anda melihat peran orangtua dalam pengajaran musik anak-anaknya? Seberapa penting peran mereka? Dan bagaiman seharusnya orangtua menempatkan diri dalam proses belajar musik?
99% keberhasilan pembejalaran musik ada di orang tua, sehingga orang tua harus benar-benar memposisikan sebagai mentor meskipun tidak memahami musik dan juga sahabat untuk memotivasi anak-anak nya.

Menurut Anda, pianis yang baik itu seperti apa?
Pianis yang baik adalah pianis yang rendah hati, memiliki teknik yang bagus, bisa menghibur penonton dan juga bisa memberi apresiasi yang sangat baik ke sesama pekerja seni.

Menurut Anda guru musik yang ideal itu seperti apa?
Guru Piano yang ideal adalah guru piano yang membiarkan kreatifitas siswa siswi pianonya tetapi dengan membagikan pengetahuan musik piano yang sudah dimiliki ke siswa san siswi piano tersebut agar pengetahuan musik piano tersebut akhirnya bisa menjadi landasan murid-muridnya dalam berkarya.

Bagaimana Anda melihat perkembangan pengajaran musik klasik di Indonesia umumnya?
Sangat baik, ditandai dengan lahirnya banyak pianis hebat yang ada saat ini, termasuk yang kembali ke Indonesia dari studi mereka di luar Indonesia. Dan juga perkembangan konsern musik klasik yang sangat bertumbuh.

Jaman telah berubah dan kemajuan teknologi tak bisa dihindari dengan beragam impact-nya. Dalam pandangan Anda, bagaimana seharusnya dunia pengajaran musik mengatisipasinya?
Mengikuti teknologi pastinya, tetapi tidak boleh menghilangkan keindahan seni itu sendiri.

Bagaimana Anda memberi semangat dan dorongan kepada siswa yang kurang bersemangat dalam belajar musik piano?
Banyak berdiskusi dan berdialog dengan mereka tentang pentingnya pembelajaran piano musik untuk masa depan mereka nantinya.

Apakah anda merasa bahwa menjadi pianis dan pengajar adalah panggilan jiwa? Bagaimana Anda mengaplikasikannya dalam prakteknya?
Panggilan jiwa sih pastinya. Prakteknya, saya akan secara konsisten membuat konser musik klasik agar banyak orang-orang, khususnya anak-anak dan remaja, yang terinspirasi agar menjadi musisi musik klasik yang hebat nantinya.

Selain pianis, Anda juga akuntan, pengacara pajak, promotor musik dan wirausaha dagang dan manufaktur. Bahkan Anda juga master hukum. Dimana dan bagaimana Anda belajar bidang-bidang itu?
Saya setelah lulus SMA, saya menjalani perkuliahan program S1 Akuntansi di Universitas Slamet Riyadi Surakarta (UNISRI), salah satu PTS di kota Surakarta, lalu saya menjalani karir di beberapa perusahaan nasional. Pada tahun 2017 saya berkesempatan mengambil program S2 Akuntansi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga, setelah lulus saya berkesempatan mengambil program S2 Hukum di Universitas yang sama dengan S1 Akuntansi saya yaitu Universitas Slamet Riyadi Surakarta (UNISRI) dan saat saya mengambil program tersebut yang mana konsentrasi saya di Hukum Pidana Pajak pada saat pandemi. Saya memanfaatkan waktu pandemik semaksimal mungkin dengan hal-hal positif. Lalu diawal tahun 2020, saya mengambil program S1 Seni Musik di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan pada awal tahun 2023 saya mengambil program S2 Komunikasi tentunya setelah selesai S2 Hukum dan program S2 Komunikasi diambil di Universitas Sahid Jakarta. Dan saat ini saya semester 7 di Strata1 Seni Musik Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Ketika saya mengambil studi-studi selalu mempertimbangkan aspek waktu, sehingga pekerjaan-perkerjaan saya tidak terbengkalai karena saya selalu sudah membentuk tim kerja saya dengan sangat baik sebelum-sebelumnya. Saya lebih mengutamakan super team dari pada super man, apalagi kalau saya seorang super man yang mempunyai super team yang artinya tim kerja saya yang mensupport pekerjaan-pekerjaan saya ketika saya menjalani studi-studi yang saya jalani. Tetapi pengawasan dan supervisi pekerjaan tetap di saya. Dan saya memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dengan saya beristirahat jam 20.00 dan jam 02.00 pagi sudah bangun untuk mengecek pekerjaan dan mensupervisi beberapa hal.

Anda memiliki minat pada banyak hal disamping musik. Dalam hal ini Anda menempatkan musik dimana? Sekedar leasure? Atau juga profesi?
Justru karena saya dari kecil berada di lingkungan seni, khususnya seni musik. Papa saya adalah dosen biola di ISI Yogyakarta, mama saya adalah guru piano di kota domisili saya di Solo. Saya melihat bahwa musik ini perlu mendapatkan banyak dukungan dari disiplin ilmu lain, itu kenapa saya memperlengkapi diri saya dengan pengetahuan keuangan dalam bentuk S1&S2 Akuntansi, pengetahuan hukum dalam bentuk S1&S2 Hukum, mungkin nanti di tahun 2025 saya akan mengambil S3 Hukum. Dan juga musik ini membutuhkan aspek komunikasi dan saya mengambil konsetrasi Komunikasi Pemasaran, artinya justru saya menempatkan musik adalah sebagai hal utama yang saya lakukan dan bidang-bidang yang saya jalankan adalah bidang-bidang untuk mendukung aktivitas bermusik saya. Jadi utamanya justru bermusik. Jika ditanya profesi saya yaitu perkerja seni dibidang musik. Karena saya dibidang konsultan pajak, klien-klien saya justru mendukung konser-konser musik klasik yang saya selengarakan dalam bentuk sponsorship dan hal lainnya yang dilakukan dibidang-bidang lain sejenisnya.

Apakah Anda telah puas dengan pencapaian Anda sekarang? Mohon penjelasannya?
Sebagai seorang yang memiliki karakter koleris sanguin kata puas itu tidak pernah mungkin muncul di dalam seseorang seperti saya yang memiliki karakter koleris sanguine, hehehe…. Tetapi saya tetap mensyukuri apa yang sudah menjadi pencapaian saya sampai dengan detik ini. Mensyukuri tetap, kalau puas jelas tidak, karena saya masih ingin mencetak ratusan pianis yang memiliki kehebatan seperti salah satu pianis yang sudah bisa saya manage yaitu Devon Matthew Christopher yang saat ini masih berusia 16 tahun tetapi memiliki kemampuan di level dunia.

Apa filosofi hidup Anda?
Hahahaha….jelas berat ini, karena sebagai seorang yang lebih pendakatan nya praktis, filosofi mungkin kadang-kadang jadi bingung kalau ditanya. Tetapi saya akan mengutip dari salah satu difilm yang paling saya sukai yaitu “Imposible we do! Miracle we try”

Apa harapan dan resolusi Anda di tahun 2024?
Kalau resolusi saya secara pribadi adalah saya ingin membuat konser tunggal, saya sendiri diakhir tahun 2024 dimana saya sudah dua kali semi konser tunggal sebelum akhir tahun 2024. Karena tahun 2024 adalah tahun politik di Indonesia, harapannya siapapun presiden terpilih melalui jajaran kementriannya akan lebih memperhatikan musisi-musisi Indonesia, khusus nya musisi musik klasik. (eds)

Article Bottom Ad