NichoIas Patrick Wiranata

242

Article Top Ad

Muda Nan Cemerlang

BAGI sebagian orang, musik hanya hiburan semata. Bagi sebagian yang lain, musik adalah seni yang harus diapresiasi. Banyak pula yang menganggap bahwa musik adalah sarana mencurahkan perasaan apapun itu. Tak kurang banyaknya yang menganggap bahwa musik adalah asupan batin. Melengkapi rona pendapat tersebut, sejatinya musik juga bersifat keilmuan. Musik adalah sains. Dan dengan demikian, musik sejatinya memiliki tatanan akademik yang setara dengan ilmu-ilmu yang lain termasuk ekonomi, hukum, dan kedokteran.

Dalam ranah keilmuan musik itulah, seorang Nicholas Patrick Wiranata, putra pertama dari pasangan Wiranata Kemala dan Evie Lukman, baru-baru ini berhasil dengan gemilang menyelesaikan Program dan mendapat gelar Diploma dari ABRSM (Associated of The Royal School of Music), satu lembaga serifikasi Internasional dalam bidang musik yang paling bergengsi dan berkedudukan di UK Inggris.

Article Inline Ad

Nick memperoleh gelar Diplomanya dengan predikat Distinction dalam usia di bawah 15 tahun, dan merupakan salah satu dari sedikit anak muda yang bisa meraih Diploma ABRSM di usia tersebut. Nick berhak diberi tituler ARSM (Asscociated of The Royal School of Music), gelar Diploma yang merupakan update dari gelar Dip ABRSM. Pencapaian ini mengukuhkan seorang Nicholas Patrick Wiranata menjadi orang muda nan cemerlang.

Sebelumnya, Juni tahun lalu Nick kembali tampil di ajang Festival Musim Panas Chopin Avenue di Polandia, 21 Juni – 3 Juli 2023 yang dihadiri pianis-pianis muda berbakat dari seluruh dunia. Beberapa pengamat musik menganggap bahwa Chopin Avenue adalah semacam Babak Penyisihan untuk Kompetisi Piano Chopin Internasional yang sangat bergengsi yang diadakan setiap lima tahun sekali.

Nick tiga kali menerima Penghargaan Consul General Award pada kompetisi Piano Internasional Chopin Avenue Spring 2022, Autumn 2022, dan Spring 2023. Penghargaan Konsul Jenderal Polandia diberikan kepada para peserta sebagai pengakuan atas keterampilan dan semangat kompetitif mereka.

Selama di Polandia Nick mengunjungi situs budaya dan sejarah, seperti Zelazowa Wola, tempat kelahiran Chopin dan rumahnya tempat ia dibesarkan, Museum Chopin di Warsawa, dan Taman Lazienki tempat Konser Udara Terbuka Chopin diadakan pada hari Minggu di musim panas. Nicholas juga tampil di Kastil Pszczyna di Warsawa membawakan Chopin’s Fantaisie-Impromptu dan Katowice.

Selain konser, Nick juga meningkatkan kemampuan performance-nya dengan Masterclass bersama Prof. Dr. Hyunkyung Kate Lee, Prof. Mariola Cieniawa-Puchała, Prof. Beata Bilińska, dan Janusz Olej Niczak, pianis di film “The Pianist”. Semua penampilannya mendapat sambutan hangat dan apresiasi yang baik dari penonton. Dengan debut internasionalnya itu, Nicholas Patrick Wiranata telah memberikan kebanggaan bagi Indonesia.

Awalnya Tak Tertarik Piano

Nick lahir di Jakarta. Menurut mamanya, sejak kecil Nick tidak tertarik dengan musik. Dia lebih menyukai sport. “Meskipun di rumah ada piano, Nick sama sekali tidak tertarik. Kebetulan saya dan papanya bisa main piano walaupun tidak ahli. Mainnya ya gitu-gitu saja, sebagai hoby, dan otodidak. Jadi saya tidak berani ngajari Nick. Sampai suatu ketika, saya nawari Nick untuk belajar piano dengan Ibu Jelia, atas masukan dari dr. Dario Turk Sp.OG, yang membantu persalinan saya,” kata Evie.

Dibawah bimbingan Jelia, bakat musik Nick berkembang pesat. Setelah tiga bulan belajar, mulai kelihatan ketertarikannya dengan piano. Dan setelah 6 bulan belajar piano, dia sudah ikut dalam konser siswa. Pada usia 11 tahun Nick menyelesaikan ujian Classical Piano grade 8 dengan gemilang dan selalu mendapatkan predikat super distinction. Bahkan nyaris sempurna dengan nilai 99 dan menerima empat Rockstar Awards untuk piano grade 5, 6, 7, dan 8 karena mendapatkan nilai tertinggi di seluruh Indonesia (high scorer) dan berhasil meraih Juara ke-1 Kompetisi Musik e-Rockfest 2021 yang diadakan RSL Awards Asia. Nicholas juga telah menggelar resital tunggal pada November 2022 di Balai Erlangga, Jakarta, yang menandai awal debutnya sebagai musisi muda yang memiliki kemampuan profesional.

“Nick itu anak Asia yang mengenyam pendidikan di sekolah umum. Performanya untuk anak dengan keadaan begitu sudah cukup baik. Dia musikal. Dia memiliki rasa. Memiliki gesture. Punya postur yang baik. Dexterity-nya cukup baik. Meskipun merupakan anak Asia di sekolah umum, jadi kalau dalam hal analisa dan interpretasi harus diberi emphasis extra,” kata sang gurunya, Jelia Megawati Heru.

Dalam pandangan Jelia, Nick ini sosok penurut, anak yang baik, sopan dan humble. “Tidak seperti remaja millennial yang belagu dan sok pintar yang berlindung seolah olah mereka kritis. Kekuatan Nick, adalah dia mau melakukan semua instruksi gurunya tanpa reserve,” kata Jelia.

Menurut Jelia, sejak awal Nick tidak di-build untuk menjadi pianis. Bagi Nick, awalnya piano adalah self enrichment. Dalam perkembangannya ternyata dia mendapat bonus pretasi. Menang ini itu dan gelar diploma ARSM dalam usia sangat muda. “Saya selalu menekankan pada Nick, bahwa musik itu bukan akrobat beruang sirkus. Tidak ada gunanya main musik sempurna secara teknis namun tidak memberi asupan batin apapun,” kata Jelia.

Mengenai harapannya sebagai guru melihat prestasi dan pencapaian Nick, Jelia dengan jujur mengatakan tidak mengharapkan Nick untuk masuk ke jalur pianis professional ke depannya. “ Jujur saja, Asia itu sulit. Persaingan di dunia Musik Klasik, khususnya piano sangat ketat. Sebut saja Yuya Wang, Lang Lang, Bruce Liu adalah mereka yang mengorbankan hidupnya untuk musik. Saya tidak ingin Nick begitu. Ya cukup dia terus berpiano, makin banyak mengerti tentang musik, dan bisa menjadi inspirasi agar hidupnya bisa bermakna buat diri sendiri dan orang lain,” kata Jelia Megawati Heru. (eds)

Article Bottom Ad