Suka Musik

299

Article Top Ad

TERNAYATA tak ada satu orang pun yang tahu dengan persis, kok bisa ya musik memberi efek yang begitu besar bagi kita secara emosional. Meski demikian, aneka studi tetap dan terus menerus dilakukan untuk menguak pertanyaan tersebut. Mengapa kita suka musik? Sebetulnya ini sebuah pertanyaan yang memiliki aneka jawaban. Bergantung pada siapa yang ditanya. Tingkat pendidikan, pranata sosial, ragam budaya, gaya hidup, keseharian, sangat berpengaruh terhadap bentuk jawaban pertanyaan ini.

Umumnya, dapatlah dinyatakan bahwa kita suka musik karena musik memberi kita rasa nyaman. Kok bisa musik memberi kita rasa nyaman? Tahun 2021, Anne Blood dan Robert Zatorre di Universitas McGill Kanada, menyodorkan sebuah jawaban ilmiah. Dengan memakai MRI (Magneric Resonance Imaging), dapat dilihat bahwa seseorang yang sedang mendengarkan musik, mengaktivasi area otak yang dikenal sebagai limbic dan paralimbic. Aktivitas di area otak tersebut sangat berkaitan dengan respon kegembiraan eforia yang dialami seseorang.

Sama seperti bentuk Eforia ketika seseorang melakukan kegiatan sexual, menikmati makanan kesukaannya. Rangsang Eforia tersebut dipacu oleh zat yang dikenal sebagai Dopamine. Sebuah penghantar respon syaraf. Meskipun sudah mendapat jawaban secara ilmiah, masih banyak yang harus dikuak dan dikoyak. Seperti misalnya: Jika musik setara dengan eforia kegiatan seksual dan makanan kesukaan, berarti musik dapat membuat ketagihan. Alias mendorong kita untuk melakukannya lagi, lagi dan lagi. Dan yang lebih aneh lagi adalah begini: kegiatan seksual bentuknya adalah aktivitas fisik. Menikmati makanan kegemaran juga berwujud kegiatan fisik. Namun mendengarkan musik adalah sebuah kegiatan fisik yang pasif. Dengan kata lain, musik sebagai gelombang bunyi itulah yang mengaktifkan Dopamine. Bagaimana bisa?

Article Inline Ad

Sejujurnya, jawaban tersebut tak diketehui sampai sekarang. Namun, ada beberapa petunjuk yang tercecer, sehubungan dengan bagaimana musik memancing emosi. Terutama berkaitan dengan teori yang secara kognitif mempelajari bagaimana sesungguhnya tubuh kita merespon musik, terutama secara mental. Di tahun 1956, seorang filsuf dan komposer, Leonard Meyer, menyarankan konsep. Konsepnya begini: emosi saat kita mendengarkan musik dilandasi oleh apa yang kita harapkan. Meskipun tentu, kita bisa mendapatkannya, bisa juga tidak. Jika tidak dapat, orang akan frustrasi. Timbullah kemarahan. Jika mendapatkannya, orang akan terbuai. Sebagaimana halnya dengan rokok. Semuanya akan nampak indah dan manis.

Menurut Meyer, dalam argumentasinya, seperti itulah pengaruh musik dalam respon emosional kita. Musik merangkai pola pola bunyi yang alirannya membuat kita berkeliaran dalam rasa praduga dan tidak tahu pasti apa sebetulnya yang akan kita alami. Jika dugaan dan ekspektasi kita itu “benar” maka otak akan mengirim semacam “hadiah” dengan menstimulir Dopamine. Tarian hiruk pikuk antara ekspektasi kita dan aliran pola musik berlangsung terus menerus, dan Iinilah yang menjadi sebuah keasyikan tersendiri. Tubuh kita menjadi “bermain-main” dengan respon emosional. Yang aneh adalah, mengapa kita harus peduli, apakah ekspektasi kita terhadap pola bunyi musik, benar atau tidak?

Bukankah pola bunyi yang disodorkan musik, tak membuat hidup kita bergantung padanya.
Seorang Musikolog, David Huron dari Ohio State University, membuat prediksi tentang lingkungan kita – menafsirkan apa yang kita lihat dan dengar, berdasarkan hanya sebagian informasi saja yang dicerna otak. Meski hanya sepotong informasi, ada kalanya hal itu membuat pengaruh penting bagi kita. Satu contoh misalnya ketika menyeberang jalan. Melibatkan emosi dalam antisipasi tindakan saat menyeberang jalan ini bisa menjadi ide yang cerdas. Di savanah Afrika, nenek moyang kita tidak memiliki kemewahan untuk memikirkan apakah pekikan itu dibuat oleh monyet yang tidak berbahaya atau singa pemangsa.

Dengan melewati “otak logis” dan mengambil jalan pintas ke sirkuit limbik primitif yang mengontrol emosi kita, pemrosesan mental suara dapat memicu aliran adrenalin bahkan sampai pada reaksi usus kita. Semua respon tersebut mempersiapkan kita untuk keluar dari sana. Kini Kita semua tahu bahwa musik memiliki hubungan langsung dengan emosi. Sebetulnya, tidak hanya musik, seni mempengaruhi kita secara emosional. Contoh adalah saat kita menonton film. Air mata kita mengalir dalam film sentimental. Bahkan ketika otak logis memprotes bahwa ini hanyalah manipulasi sinis semata. Kita tidak bisa mematikan naluri antisipatif ini, atau hubungannya dengan emosi, bahkan ketika kita tahu bahwa tidak ada yang mengancam jiwa dalam, misalnya, musik cinta dari Chopin.

Itupun sebagian dari kita tetap terhanyut dan mengharu biru.“Kecenderungan alam untuk bereaksi berlebihan memberikan peluang emas bagi para musisi”, kata Huron. “Para komposer dapat membuat bagian-bagian yang berhasil memprovokasi emosi yang sangat kuat menggunakan rangsangan yang bisa dibayangkan”. Gagasan bahwa emosi musik muncul dari sedikit “gangguan” dan manipulasi harapan kita, nampaknya merupakan teori yang paling menjanjikan, namun masih sangat sulit untuk diuji. Salah satu alasannya adalah bahwa musik hanya menawarkan begitu banyak kesempatan untuk menciptakan dan melanggar harapan sehingga tidak jelas apa yang harus kita ukur dan bandingkan.

Kadang bisa saja kita berharap pada melodi yang meningkat dan akan terus meningkat – tetapi mungkin tidak selamanya, karena para komposer tidak pernah melakukannya.
Para komposer mengharapkan harmoni yang menyenangkan daripada disonansi yang menggelegar. Tetapi anehnya, apa yang terdengar menyenangkan saat ini, bisa saja itu adalah disonan dua ratus tahun yang lalu. Kita sering berharap bahwa ritme menjadi teratur. Tentu kita akan terkaget kaget ketika sinkopasi Rock’n’Roll yang gelisah tiba-tiba beralih ke waktu yang sentimentil. Ekspektasi terhadap aliran pola gelombang bunyi yang disodorkan musik adalah interaksi yang rumit dan selalu berubah.

Hal tersebut berkaitan dengan respon kita tentang bagaimana karya yang kita dengar sejauh ini, bagaimana membandingkannya dengan potongan dan gaya yang serupa, dan bagaimana membandingkannya dengan semua yang pernah kita dengar di waktu lampau.
Semua keterangan dan contoh tersebut sebetulnya adalah penerapan dari Teori Leonard Meyer. Jadi salah satu akibat wajar dari teori Meyer adalah bahwa emosi dalam musik akan sangat spesifik secara budaya. Untuk memiliki harapan tentang kemana musik akan mengalir, kita perlu mengetahui aturannya. Dan tentu, aturan ini bervariasi dari satu budaya ke budaya lain.

Orang Eropa Barat menganggap ritme sederhana seperti waktu waltz adalah “alami”, tetapi orang Eropa Timur menari dengan gembira hingga metrum yang terdengar sangat rumit bagi orang lain. Kita semua mengembangkan indra bawah sadar yang kuat yang mencatat suara “benar”, baik secara berurutan dalam melodi, atau terdengar bersama dalam harmoni. Tetapi karena budaya yang berbeda, misal pada penggunaan tangga nada dan laras yang berbeda, sebut saja tangga nada India dan Jawa. Jika anda berpijak pada konteks budaya tersebut, tentu akan sangat sulit untuk menghargai laras piano. Karena laras Piano dibuat berdasarkan sistem tala musik budaya barat.

Sesungguhnya, tidak ada yang universal tentang ekspektasi ini. Sebuah karya musik Indonesia yang periang dapat diartikan sebagai “sedih” oleh orang Barat hanya karena kedengarannya mendekati skala minor yang “sedih” secara tradisional. Gambaran ini juga menyiratkan bahwa musik bukan hanya tentang getaran yang baik. Musik juga dapat memancing perasaan lain, seperti kecemasan, kebosanan, dan bahkan kemarahan. Komposer dan pemain seperti berjalan di atas titian tali yang sulit.

Para komposer dan pemain perlu mengubah ekspektasi pendengar ke tingkat yang tepat. Jika itu tidak berhasil, maka musiknya akan menjadi cukup mudah ditebak, seperti lagu anak-anak bagi orang dewasa. Terlalu banyak aspek dan itulah sebabnya banyak orang bergumul dengan musik atonal modernis, dalam rangka “bermain-main” agar musiknya tidak terdengar aneh, namun tetap dapat mengaduk aduk emosi dan menimbulkan rasa suka.

Kesemuanya itu, dapat merasionalkan banyak hal tentang mengapa kita merasakan emosi dari frasa dari sebuah pertunjukan musik tertentu. Gagasan Meyer telah menerima dukungan lebih lanjut baru-baru ini dari studi pemindaian otak oleh Zatorre dan rekan, yang menunjukkan bahwa daya apresiasi yang dirangsang oleh musik dan yang didengar untuk pertama kalinya sangat bergantung pada komunikasi antara sirkuit “emosi” dan “logika” di otak.

Sebetulnya, semua itu belum merupakan keseluruhan cerita. Respons emosional kita terhadap musik mungkin juga dikondisikan oleh banyak faktor lain. Jika kita mendengarkan musik secara sendirian atau di keramaian, misalnya, atau jika kita mengasosiasikan karya tertentu dengan pengalaman masa lalu, baik atau buruk. Di balik semua ide ini adalah fakta bahwa kita bahkan tidak yakin jenis emosi apa yang sedang kita bicarakan. Kita bisa mengenali musik sedih tanpa merasa sedih. Dan bahkan jika kita merasa sedih, itu bukan seperti kesedihan karena kehilangan. Dalam musik, kesedihan itu bisa menyenangkan bahkan jika itu memancing air mata.Tetap bisa menimbulkan rasa suka.

Beberapa musik, seperti beberapa musik Bach, dapat menciptakan emosi yang kuat meskipun kita tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata apa emosi itu. Jadi kita pasti tidak akan pernah mengerti mengapa musik merangsang emosi setidaknya sampai kita memiliki gambaran yang lebih baik tentang seperti apa dunia emosional kita sebenarnya. (*)

Penulis: Michael Gunadi Widjaja (Pemerhati Musik)

Michael Gunadi Widjaja

Article Bottom Ad