Tips Berlatih Hanon

122

Article Top Ad

HANON adalah serangkaian enam puluh latihan yang terdiri dari latihan jari independen. Senam jari ini diformulasikan untuk meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, kecepatan, ketangkasan, ketepatan, kelincahan jari dan melatih kelenturan pergelangan tangan seorang pianis virtuoso yang ditulis oleh Charles-Louis Hanon, seorang guru piano dan komposer asal Perancis pada tahun 1873 di Boulogne, Perancis.

Buku yang diberi judul “The Virtuoso Pianist” ini menargetkan kemandirian dan kejelasan jari atau kelompok jari tertentu secara spesifik dalam bermain piano. Banyak terdapat latihan dengan pola nada berulang yang sama pada treble clef dan bass clef. Biasanya polanya naik turun dan dimulai dan diakhiri dengan nada C, seperti latihan tangga nada. Siswa tingkat lanjut dapat memindahkannya ke 11 kunci yang lain atau dengan menggunakanan dinamika (keras/lembut) dan artikulasi yang berbeda (legato/staccato).
Pianis Virtuoso dibagi menjadi tiga bagian, berdasarkan tingkat kesulitannya, yaitu:

Latihan 1-20 (“latihan persiapan”)
Latihan 21-43 (“latihan lebih lanjut untuk pengembangan teknik virtuoso”)
Latihan 44-60 (“latihan virtuoso untuk menguasai kesulitan teknis terbesar”)

Article Inline Ad

Salah satu penggemar karya Hanon adalah Sergei Rachmaninoff. Dia mengklaim bahwa latihan teknis ini adalah alasan mengapa konservatori Rusia menghasilkan ledakan virtuosi piano pada masa Rachmaninoff. Rachmaninoff menggunakan Hanon sepanjang kehidupan profesionalnya sebagai seorang solois, sebuah rezim yang ia adopsi sebagai mahasiswa di Konservatori Moskow. Hal serupa pun diterapkan oleh Franz Liszt, yang latihan teknisnya malah lebih ekstrem dari Hanon.

Hal ini mematahkan ideologi bahwa seorang pianis profesional tidak perlu melakukan latihan teknis pemula. Ibarat mengatakan bahwa seorang olahragawan profesional sudah tidak perlu berlatih lagi.

Apakah Efektif?
Apakah Hanon itu boring dan hanya membuang-buang waktu? Hmm… tergantung. Sejak pertama kali Hanon diterbitkan, latihan ini memang selalu menuai kontroversi dan mendapatkan banyak reaksi negatif atas keamanan latihan tersebut. Rasanya tak ada yang lebih provokatif selain menyebut nama Hanon di hadapan sekelompok pianis dan guru di sebuah forum media sosial.

Pembahasan mengenai penggunaan latihan dalam The Virtuoso Pianist seringkali diwarnai bias dan polemik dan berakhir seperti perdebatan agama, dimana tidak ada pihak yang keluar sebagai pemenang. Yang jelas pengajaran piano modern telah beralih dari penekanan pada latihan mekanis tanpa makna musikal, dan menjauh dari gagasan mengangkat dan mengisolasi jari-jari dari bagian tangan dan lengan lainnya seperti Hanon.

Dengan menghabiskan berjam-jam senam jari, kita tidak hanya mengambil risiko membuang-buang waktu latihan yang mungkin lebih baik digunakan untuk musik dan berpotensi menciptakan cidera jika dilakukan dengan salah dan berlebihan. Selain itu latihan teknis senam jari dikhawatirkan juga dapat membuat permainan seperti robot, alias tidak musikal dan kaku.

Namun jika latihan ini dilakukan dengan setia dan benar dengan akal sehat sesuai dengan rambu-rambunya, maka alhasil dapat membawa kemajuan besar pada teknik bermain piano Anda. Ada alasan mengapa mereka populer dan digunakan lebih dari 150 tahun: mereka berfungsi! Dengan catatan: syarat dan ketentuan berlaku.

Apakah Hanon bagus untuk pemula? Jika Anda adalah seorang pemula, disarankan agar Anda memiliki setidaknya satu tahun pengajaran piano profesional sebelum memulai latihan Hanon. Anak kecil atau siswa pemula harus fokus pada musikalitas mereka dan belajar membaca nada sebelum mereka berlatih Hanon.

Tips Berlatih Hanon
Apa yang harus Anda lakukan ketika Anda duduk untuk mempelajari latihan Hanon? Tips berlatih Hanon sebetulnya juga digunakan dalam berlatih bagian yang sulit pada sebuah lagu pada umumnya. Intinya, disiplin.

PATTERN. Kenali pola dan intervalnya.
LEFT HAND FIRST. Latih tangan yang lebih lemah terlebih dahulu. Biasanya dengan tangan kiri, bagi yang tidak kidal.
SLOW TEMPO. Lakukan dengan tempo sangat lambat. Kecepatan adalah musuh Anda saat mempelajari sesuatu yang baru dengan piano! Anda sebaiknya hanya bermain secepat yang Anda bisa, tanpa membuat kesalahan. Prioritaskan kesempurnaan daripada kecepatan.
METRONOM. Gunakan metronom. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kepekaan Anda terhadap waktu, tetapi juga mencegah Anda melambat dan mempercepat. Jika Anda seorang pemula, atur metronom ke 50-60 bpm dan mainkan not-notnya sebagai not seperempat. Tingkatkan kecepatan secara perlahan. Setelah Anda yakin memainkan pola tersebut secara akurat dengan kedua tangan, Anda dapat menaikkan temponya.
ONE BY ONE. Mainkan setiap nada dengan jelas. Jangan menyatukan nada-nadanya dimana jari tidak terangkat sepenuhnya (lazy fingers) atau memainkannya secara tidak rata dengan aksen.
CHRONOLOGICAL ORDER. Lakukan latihan secara berurutan, karena masing-masing latihan mengistirahatkan jari dari latihan sebelumnya, sambil terus melatih kekuatan dan fleksibilitas.

Menghindari Cedera
WARMING UP. Lakukan pemanasan terlebih dahulu. Otot yang dingin dan kaku akan membuat Anda rentan terhadap cedera. Memulai sesi latihan dengan tangga nada, akor, dan arpeggio selama lima hingga sepuluh menit adalah cara lembut untuk menghangatkan otot dan mempersiapkannya untuk berlatih.
• TEMPO, TEMPO, TEMPO! Latih tangan secara terpisah dengan tempo lambat. Hal ini tidak hanya akan membantu Anda mempelajari pola dan penggunaan jari yang benar dengan lebih cepat, tetapi juga mencegah kelelahan dan mengurangi kemungkinan cidera.
SMALL PORTION. Hanya berlatih satu hingga dua nomor latihan dalam satu waktu. Seperti halnya olahraga apa pun, dibutuhkan waktu untuk membentuk otot. Mulailah belajar dalam porsi kecil, dan tambahkan lebih banyak latihan saat Anda merasa siap.
PAINLESS. Segera hentikan jika Anda merasa tidak nyaman atau sakit. Penting untuk tetap selaras dengan tubuh Anda; jangan memaksakan diri terlalu keras.
TAKE A BREAK. Jika Anda merasa sakit, ambillah waktu istirahat. Istirahat adalah cara terbaik untuk membantu penyembuhan tubuh Anda, jadi hindari bermain Hanon sampai Anda kembali normal. Peregangan dan pijatan bermanfaat untuk membuat otot dan tendon menjadi rileks. Jika Anda merasa terluka, pergilah ke dokter atau fisioterapis untuk memeriksakan diri.

Bukan Teknik Utama
Latihan Hanon tentu saja bukanlah teknik utama yang harus dilakukan. Tentu saja latihan ini menawarkan beberapa manfaat yang membantu jari menjadi lebih “pintar”. Apakah Hanon bagus atau tidak, harus atau perlu, itu tergantung dari apa tujuan/niat kita dan bagaimana cara kita melakukannya.

Yang jelas, adalah suatu kesalahan apabila memainkan Hanon dengan menekannya secara keras-keras, kaku, mengangkat jari tinggi-tinggi, menekannya dengan berat secara terus-menerus seperti palu/mesin. Apalagi kalau sampai sakit atau cidera. Gerakan jari yang melengkung tinggi, gerakan yang berlebihan secara repetitif dan terus menerus adalah penyebab utama cidera pada pianis yang harus dihindari.

Selama Anda mendapatkan manfaat dari suatu latihan, baik sebagai pemanasan, peregangan, meningkatkan kemandirian jari, koordinasi jari, menguatkan otot, stamina, dan menyuarakan keterampilan lainnya, mengapa tidak? Repetisi adalah bagian dari latihan, namun pilihlah latihan dengan bijak dan berorientasi pada kebutuhan siswa dan tujuan dari latihan tersebut. Apakah murid zaman now bisa bertahan dengan latihan jari yang monoton seperti Hanon?

Hanon itu bukanlah formula dan obat mujarab universal bagi semua permasalahan teknik para pianis. Alangkah lebih baik dan bermanfaat, jika Anda bisa menghabiskan waktu untuk berlatih berbagai latihan pendek dengan pola tertentu yang mudah diingat, tidak berbahaya yang memiliki tujuan musik yang jelas lebih dari sekedar memperkuat jari dan lebih relevan sesuai dengan repertoar yang sedang dipelajari. Jangan sampai Anda berputar-putar terjebak dalam lingkaran dalam waktu yang sangat lama tanpa arah yang jelas.

Seseorang juga harus menilai kekuatan dan kelemahannya sendiri, yaitu apakah jari-jari Anda kuat secara alami, apakah latihan Hanon memperbaiki kelemahan tsb? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah Hanon berhasil atau tidak. Ada banyak latihan dan etude lain yang bisa digunakan, terutama pada abad ke-21 ini ada banyak alternatif yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan anak milenial zaman now.
Terkadang cara terbaik untuk mempelajari teknik adalah melalui repertoar. Ketika seorang siswa jatuh cinta pada sebuah karya, dia akan bekerja keras untuk menyempurnakannya. Motivasi untuk menaklukkan musik mengarah pada landasan teknis yang jauh lebih menyeluruh dibandingkan latihan yang berdiri sendiri. (*)

Penulis: Jelia Megawati Heru (Master of Musik Education from Fachhochschule Osnabrück Konservatorium, Institut für Musikpädagogik,Germany). 

Article Bottom Ad