Peran Musik di Masa Sulit

450

Article Top Ad

MUSIK merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Hal ini dapat dibuktikan dari kenyataan bahwa musik dijumpai sejak jaman dahulu kala di berbagai budaya dan di segala usia. Para ahli telah membuktikan bahwa semua manusia memiliki kecenderungan terhadap musik, khususnya mendengarkan dan menikmati musik (mengingat tidak semua orang dapat menggubah musik dan memainkan alat musik).

Peran musik bagi kehidupan manusia tidak hanya terbatas untuk entertainment, namun musik juga merupakan perwujudan dari kreativitas, berfungsi menyembuhkan (dijumpai dalam music therapy dan music medicine). Pentingnya musik akan sangat terasa ketika kita membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa musik : tidak ada lagu yang dinyanyikan, pertemuan sosial tanpa iringan musik, film tanpa musik, tarian tanpa musik. Betapa gersangnya kehidupan tanpa musik.

Olehkarena itu tidak heran apabila musik selalu dijumpai di berbagai budaya, tempat, dan usia. Melalui musik, dunia menjadi lebih indah untuk dihuni. Musik meningkatkan kualitas hidup kita. Musik berperan besar dalam memperkaya ekspresi dan perasaan kita.
Artikel kali ini akan membahas mengenai peranan penting dari musik bagi resiliensi seseorang. Hal ini antara lain dikemukakan oleh Donald A. Hodges, seorang Profesor Emeritus dari University of North California di Greensboro yang juga menjabat sebagai Director of Music Education and Director of the Music Research Institute (MRI).

Article Inline Ad

Dia menyatakan pentingnya peran musik sebagai agen resiliensi. Apa itu resiliensi? Pada intinya istilah resiliensi merujuk pada kemampuan untuk bangkit dan pulih ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan. Resiliensi juga merujuk pada kemampuan bertahan menghadapi situasi sulit, krisis, atau stres, untuk bertumbuh dari pengalaman yang kurang positif dan tetap berusaha mencapai tujuan.

Menjadi seorang yang resilien tidak berarti orang tersebut bebas dari stres, pergolakan emosi, ataupun penderitaan. Namun orang yang resilien itu memiliki kekuatan yang dibutuhkan berproses mengatasi kesulitan hidup. Jika seorang kurang resilien maka orang itu akan mudah kewalahan dan mudah menggunakan cara-cara yang tidak sehat ketika berusaha mengatasi masalahnya. Sebaliknya, seorang yang resilien akan menggunakan kekuatannya dan support system yang tersedia untuk mengatasi tantangan dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.

Saat ini, peranan musik terhadap resiliensi menjadi relevan mengingat situasi pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama 2 tahun terakhir ini. Musik dapat berperan penting dalam memicu, membangun, dan membina resiliensi dalam menghadapi situasi yang tidak mudah. Tidak sedikit diantara kita yang mengalami kehilangan, seperti kehilangan yang orang yang dikasihi karena kematian mendadak, kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, kehilangan moment bahagia berkumpul dan beraktivitas bersama dengan kerabat dan kawan-kawan sebagai konsekuensi dari social distancing, kehilangan harapan atau mimpi mengenai masa depan, kehilangan situasi hidup yang normal, dan banyak lagi.

Sementara itu berbagai upaya terobosan yang dilakukan oleh berbagai pihak sebagai bentuk adaptasi terhadap situasi yang baru ini (atau yang dikenal istilah New Normal) masih belum juga berhasil memberikan solusi yang memuaskan. Kita masih dihadapkan pada situasi yang tidak pasti (uncertainty). Di dalam benak kita terus berkecamuk berbagai pertanyaan yang belum pasti jawabannya, seperti: Apa yang akan terjadi di hari esok, apakah upaya yang dilakukan saat ini pasti berhasil, bagaimana menyusun strategi untuk masa depan, dan lain-lain. Sementara itu, sumberdaya yang dimiliki semakin tergerus karena digunakan untuk bertahan hidup. Ini semua dapat menimbulkan kegelisahan dalam diri kita.

Dalam hal ini musik dapat berperan untuk membantu kita agar tetap kuat, tidak kehilangan semangat, optimis, tetap termotivasi mengupayakan yang terbaik, tidak kehilangan harapan, tetap produktif, berguna bagi manusia lain dan kehidupan. Dengan kata lain: tetap resilien. Satu hal penting yang perlu kita ingat juga adalah bahwa kesulitan hidup tidak selalu berkonotasi buruk, namun justru bisa bermakna positif bagi pertumbuhan diri.

Horace (65–8 SM), seorang penyair terkenal yang hidup di jaman kekaisaran Romawi, pernah mengatakan,”Adversity has the effect of eliciting talents, which, in prosperous circumstances would have lain dormant”. Dengan perkataan lain,“Kesulitan dapat memunculkan bakat yang tertidur ketika berada dalam kondisi makmur”.

Donald A. Hodges menyebutkan terdapat tiga dimensi yang dapat dipertimbangkan ketika seseorang berhasil beradaptasi dalam menghadapi tekanan hidup, yaitu; Recovery, Sustainability, serta Growth. Recovery merujuk pada kemampuan untuk bangkit atau melenting kembali dari situasi stres, kapasitas untuk secara cepat mencapai keseimbangan dan kembali ke kondisi sehat seperti di awal sebelum terjadi stres. Sustainability merujuk pada kapasitas untuk maju dalam hidup, tetap terlibat dengan tujuan yang jelas dalam aktivitas di sekolah, tempat kerja, keluarga, dan kehidupan sosial, tanpa terganggu oleh stresor.

Growth merujuk pada kemungkinan-kemungkinan bahwa orang, organisasi, dan/atau komunitas terkait berhasil meningkatkan kapasitas beradaptasi setelah melalui proses mempelajari hal-hal baru yang sebelumnya tidak diketahui, sehingga lebih mampu menanggapi secara sehat terhadap pengalaman yang menimbulkan stres.

Peran musik dalam menghadapi situasi sulit, antara lain dinyatakan secara lantang oleh seorang music director dari Royal Philharmonic Orchestra , Vasily Patrenko, yang dikutip dari artikel “Orchestral Music Boosts Mental Health and Wellbeing During Era of Home Isolation”, 2020, News and Press, Royal Philharmonic Orchestra.

Terkait situasi pandemi, dia mengatakan, “Dalam situasi yang paling sulit sepanjang sejarah kemanusiaan, bersamaan dengan peristiwa-peristiwa yang paling dramatis, peperangan dan epidemi yang paling merusak, ternyata seni dan khususnya musik telah berhasil membangkitkan dan menumbukan spirit. Musik menjadi simbol dari resiliensi, heroisme, dan akhirnya keyakinan terhadap diri kita sendiri,”.

Patrenko melanjutkan, “Kini, di masa dimana kita dihadapkan pada risiko dan kecemasan yang tidak pernah terjadi sebelumnya, musik orchestra telah berhasil membantu orang-orang dan para musisi untuk bersusah payah dan bersatu-padu membangun kembali masyarakat ini. Musik orchestra juga telah membantu orang-orang berupaya memperbaiki kondisi kesehatan mentalnya, untuk membakar spirit, untuk memberi rasa nyaman ketika berada dalam situasi yang paling sunyi dan sepi sepanjang sejarah dalam kehidupan modern ini,”.

Donald A. Douglas menyatakan, musik dapat menumbuhkan sikap resilien, yang ditempuh melalui kegiatan menggubah musik (composing), bermain musik (music performing), dan mendengarkan musik (music listening). Berikut ini beberapa fakta yang memperlihatkan peranan musik terhadap resiliensi seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup.

Peran Menggubah Musik
Dalam sejarah musik klasik Barat, terdapat sejumlah komposer yang menggubah karya musiknya dalam situasi yang berat, dimana aktivitas tersebut terbukti telah menyelamatkan hidup serta menumbuhkan spritualitas dan karir mereka. Beberapa contohnya adalah:

1. Beethoven
Di musim panas tahun 1802, Ludwig van Beethoven yang sedang berusaha mengatasi penderitaannya karena pendengaran yang tuli, menulis Heiligenstadt Testament. Tulisan ini menggambarkan perasaan putusasa (despair) karena pendengarannya semakin berkurang, yang mendorongnya untuk menarik diri dari pergaulan sosial, sampai pada titik dimana Beethoven ingin bunuh diri.

Meskipun demikian, Beethoven tetap berusaha mengatasi penyakit fisik dan emosionalnya dengan cara terus menciptakan karya musiknya. Beethoven mendeskripsikan serangkaian pengalaman yang memalukan selama enam tahun karena ketidakmampuannya mendengar (sebagaimana dikutip dari www.popularbeethoven.com/) : “ But what a humiliation for me when someone standing next to me heard a flute in the distance and I heard nothing, or someone heard a shepherd singing and again I heard nothing. Such incidents drove me almost to despair; a little more of that and I would have ended my life—it was only my art that held me back. Ah, it seemed to me impossible to leave the world until I had brought forth all that I felt was within me”.

“Betapa malu rasanya ketika orang yang berdiri di sampingku mendengar bunyi lantunan flute dari kejauhan namun aku tidak dapat mendengarnya sedikitpun, atau ketika seseorang mendengar gembala bernyanyi dan lagi-lagi aku sama sekali tidak mendengarnya. Peristiwa demi peristiwa hampir membuatku jatuh dalam kondisi putus asa, kehilangan harapan; sedikit lebih parah, aku akan mengakhiri hidupku. Hanya seni-ku lah yang masih mampu mencegahku untuk tidak bunuh diri. Oh, sepertinya tidak mungkin bagiku untuk meninggalkan dunia ini sebelum aku bisa mengeluarkan semua yang aku rasakan ada dalam diriku”.

Penuturan Beethoven ini memperlihatkan bahwa dorongannya untuk menggubah karya musik telah menyelamatkan dirinya dari keinginan untuk bunuhdiri. Dalam aktivitas menciptakan karya-karya musiknya, Beethoven bangkit dari situasi despair, berusaha bertahan hidup dan beradaptasi dengan kondisi fisik dan emosinya yang sakit.

2. Piano Concerto for the Left Hand ( Maurice Ravel)
Karya ini diciptakan oleh Maurice Ravel yang mengalami amputasi di tangan kanan karena cedera selama Perang Dunia 1. Merupakan sesuatu yang luarbiasa karena karya tersebut diciptakan dalam kondisi yang sangat terbatas yakni: tidak memiliki tangan kanan.
Maurice Ravel berhasil melakukan transformasi dari kelemahan dan keterbatasannya menjadi sebuah penemuan hasil karya musik. Karya ini mungkin juga dapat mengilhami kita yang selama dua tahun terakhir ini berada dalam situasi pandemi yang serba terbatas dan mungkin gelap, untuk tidak terus terpuruk dan bisa bangkit melangkah ke situasi hidup yang lebih baik.

3. Gloria Estefan
Seorang penyanyi dan penulis lagu yang berhasil meraih penghargaan berulangkali, pernah mengatakan sebagai berikut,”Ketika ayahku sakit, musik adalah tempat pelarianku,”.
Estefan mengungkapkan pengalamannya ini ketika ia diwawancari oleh Washington Post. Menurut Estefan, ketika ia masih seorang gadis kecil yang kewalahan dengan beban yang dirasakannya dalam hidupnya di dunia ini, ia akan menyendiri di kamarnya lalu menyanyi, tidak menangis.

Ketika masih balita, Estefan dibawa oleh orangtuanya mengungsi ke Amerika Serikat karena Revolusi Cuba. Ayahnya adalah anggota Band pengungsi Cuba yang gagal dalam aksi untuk menggulingkan Fidel Castro. Ketika mengungsi ke AS, ayahnya bergabung dengan Angkatan Darat AS dan dikirim untuk turut dalam perang Vietnam selama 2 tahun, kemudian kembali dan didiagnosis menderita multiple sclerosis. Estefan merawat ayahnya dalam kemiskinan.

Estefan melepaskan emosinya dalam musik. Ia memulai karirnya sebagai penyanyi utama bersama Miami Sound Machine, dan berlanjut menjadi penyanyi solo terkemuka. Ketika suatu hari Estefan mengalami kecelakaan sepulang dari perjalanannya menemui Presiden H. W. Bush dalam rangka kampanye anti narkoba, ia mengalami kecelakaan patah tulang belakang sehingga harus menjalani operasi dan dipasangi dua titanium untuk membetulkan tulang belakang yang cedera.

Ia melewati rasa sakit fisik selama sekitar satu tahun sebelum akhirnya tampil kembali dan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, Coming Out of the Dark untuk pertamakalinya di the American Musical Awards 1991 dimana ia memperoleh tepukan tangan meriah dari audiens. Gadis kecil pengungsi dari keluarga miskin telah berubah menjadi Gloria Estefan seperti yang kita kenal sekarang.

Peran Music Performing
Music performing ternyata juga terbukti telah berhasil membantu orang untuk bertahan hidup (survive).

1. Alice Herz-Sommer
Di bulan November 2010 (berusia107 tahun), Alice Herz-Sommer – seorang Holocaust survivor tertua sekaligus seorang yang keranjingan bermain piano, masih rajin berlatih piano tiga jam per hari. Katanya,”Musik telah menyelamatkan saya dari kematian selama berada di camp concentration bersama putera saya seorang pemain cello terkenal. Ketika puteranya meninggal secara mendadak sembilan tahun sebelumnya, musik-lah yang sekali lagi menyelamatkan saya dari duka-cita mendalam.

2. Vedran Smajlovic
Dikenal sebagai pemain cello dari Sarajevo, memainkan cello setiap hari di tumpukan puing-puing di bawah pengawasan para penembak jitu selama 22 hari berturut-turut, untuk memperingati 22 orang yang tewas oleh bom ketika mereka sedang menunggu antrian roti selama pengepungan Sarajevo. Karya yang dimainkannya setiap hari sama: Adagio in G minor karya Tomasso Albinoni.

Sementara dia bermain, terdapat snipper (penembak jitu) dimana dia bisa terbunuh kapan saja, namun dia tetap bermain. Selama dua tahun berikutnya, ia bermain di tempat yang berbeda di kota, diantara reruntuhan bangunan dengan mengenakan kemeja putih dan mantel hitam, seolah sedang bermain di atas panggung.

Smajlovic kemudian menjadi simbol keberanian bagi Sarajevo dan bagi seluruh dunia. Banyak orang menyebut dia gila, namun dia menjawab bahwa yang gila itu perang. Tindakan Smajlovic ini selanjutnya menginspirasi musik klasik, penulisan buku-buku, serta mendorong para seniman dan musisi lain untuk datang ke Sarajevo. Terdapat lebih dari 20 buku, film, drama, dan lagu yang diciptakan, termasuk video game. Semuanya terinspirasi oleh Smajlovic. Komitmennya terhadap perdamaian dan martabat manusia yang tidak memikirkan diri sendiri ini (selfless) telah menginspirasi orang-orang di berbagai penjuru dunia.

3.Nathniel Ayers
Nathaniel adalah seorang pemain cello berbakat yang belajar di Julliard. Suatu hari Ayers menderita schizophrenia sehingga harus drop-out dan hidup menggelandang di jalanan. Kisahnya ditulis dalam buku yang berjudul “The Soloist A Lost Dream an Unlikely Friendship, and the Redemptive Power of Music.” Bagi Ayers, performing merupakan hal yang penting dan berdampak secara berarti bagi hidup Ayers. Meskipun berrmain cello tidak menyembuhkan Ayers dari schizophrenia, ternyata bermain cello telah menyelamatkan dirinya dari keterdamparan hidup menggelandang di jalanan dan menolong Ayers untuk mampu menjalani kehidupan yang lebih stabil. Bermain musik agaknya merupakan cara terbaik bagi Ayers untuk berekspresi dan memberinya alasan untuk hidup.

Peran Music Listening
Terdapat banyak hasil penelitian yang memperlihatkan bagaimana music listening dapat berdampak positif bagi kehidupan kita, termasuk ketika sedang menghadapi situasi sulit.
Salah satu contohnya adalah hasil penelitian Uma Gupta dan Vipin Kumar Singh (2020) yang memperlihatkan efek dari music listening terhadap peningkatan resiliensi, self-efficacy (kepercayaan individu akan kemampuannya untuk sukses dalam melakukan sesuatu), optimisme, makna hidup, serta berkembang secara lebih optimal.

Dalam artikelnya yang berjudul “How Music Heals and Inspires Us in Challanging Times” yang dimuat di Psychology Today (19 Juli 2021), John Manuel-Andriote antara lain menyatakan bahwa music listening, terutama apabila dinikmati bersama orang lain, dapat membantu kita untuk terus bergerak maju. Menurutnya, musik membantu kita untuk lebih resilien karena menggiring kita untuk melakukan re-interpretasi terhadap situasi yang dihadapi sehingga tidak dirasa terlalu mengancam.

Dikemukakan juga di artikel tersebut bahwa mendengarkan musik dapat menurunkan tingkat stres dan ansietas bahkan pada pasien yang mengalami sakit kritis di rumahsakit. Sebuah studi juga menemukan bahwa diantara para perawat front line (sebuah profesi dengan tingkat stres tinggi, dan lebih tinggi lagi di masa pandemi ini), ternyata mendengarkan musik di waktu istirahat selama 30 menit dapat meredakan stres, dibandingkan dengan kelompok yang hanya duduk diam selama 30 menit tanpa mendengarkan musik.

Hasil riset baru-baru ini juga memperlihatkan bahwa menambahkan musik sebagai alat terapi standard ternyata dapat memberikan dampak yang lebih efektif dalam penanganan pasien depresi dan ansietas, dibandingkan pasien dengan diagnosis serupa tanpa memperoleh terapi musik dimana music listening merupakan salah satu metodenya.

Kekuatan Mengubah
Paparan diatas memperlihatkan bahwa musik memiliki kekuatan untuk mengubah seseorang. Bahkan dalam situasi yang paling gelap sekalipun, musik mampu memberikan kekuatan untuk mengubah dari keterbatasan dan kelemahan menjadi sesuatu yang berarti. Musik dapat memberi kekuatan kepada kita untuk bertahan hidup, beradaptasi, bertumbuh, bahkan berinovasi.

Dalam konteks menghadapi situasi hidup yang sulit, musik dapat memainkan peranan yang sangat penting bagi kita semua agar mampu bertahan, beradaptasi, dan terus mengupayakan kemajuan. Mengutip kata-kata Donald A. Hodges,”Sound of music (composing, performing, listening) seolah-olah merupakan mitra penting bagi kita dalam mendorong kita untuk mengatasi trauma, beradaptasi dan membangun kehidupan baru yang lebih sehat positif, serta melestarikannya dari waktu ke waktu.”

Mengutip pernyataan Vasily Patrenco,“Kebudayaan dan Seni memberikan makna bagi kehidupan kita dan turut membentuk diri kita sesuai hakekat kita sebagai manusia. Musik memberikan struktur dan pemahaman mengenai masyarakat yang kita bangun. Musik juga memberikan nilai-nilai yang sejati yang dapat membantu kita dalam mewujudkan eksistensi kita secara mental maupun emosional,”.

Bagaimana dengan kita? Sanggupkah mewujudkan musik sebagai agen resilien bagi diri kita sendiri maupun orang lain? Musik yang menumbuhkan harapan, menginspirasi, memberikan semangat, menghidupkan, mendorong breakthrough dari kesulitan menjadi pertumbuhan untuk kualitas insani dan kualitas hidup yang lebih baik? (*)

Penulis: Benedictine Widyasinta (Pianis dan Psikolog)

Article Bottom Ad