Pemilihan Lagu untuk Kompetisi

5

Article Top Ad

Salam hangat, Dr. Stephanie,
Putra saya belakangan ini sangat semangat untuk belajar piano dan benar-benar menikmati proses bermusik. Kami merasa bahwa piano mungkin merupakan jalannya, dan ada kemungkinan ia akan menekuninya dengan lebih serius di masa depan.
Karena itu, ia mengikuti cukup banyak kompetisi, baik di Indonesia maupun di luar negeri, untuk menambah pengalaman sekaligus menjaga motivasinya dalam belajar.

Sebagai keluarga, kami juga ikut terlibat dan mendukung perjalanannya. Kami sering menghadiri berbagai kompetisi dan berkesempatan menyaksikan banyak penampilan pianis muda lainnya. Dari pengamatan kami, kemampuan bermain piano tentu merupakan faktor yang sangat penting dalam sebuah kompetisi. Namun, kami juga merasa bahwa pemilihan lagu-lagu yang tepat juga adalah hal yang sama pentingnya.

Sayangnya, saya belum begitu memahami repertoar seperti apa yang biasanya dianggap efektif dalam kompetisi, maupun pilihan-pilihan yang sebaiknya dihindari.
Berdasarkan pengalaman Dr. Stephanie sebagai pianis yang pernah mengikuti berbagai kompetisi serta sebagai juri, apakah Anda berkenan berbagi pandangan atau saran mengenai pemilihan lagu-lagu untuk kompetisi piano?

Article Inline Ad

Terima kasih banyak atas waktu dan artikelnya yang selalu memberikan inspirasi.

Salam hangat,

Maggie
m2w******@gmail.com

 

Salam hangat Maggie,

Terima kasih atas pertanyaannya yang sangat baik. Saya senang mendengar bahwa putra Anda memiliki antusiasme yang begitu besar terhadap piano dan menikmati proses belajarnya. Kecintaan terhadap musik adalah fondasi yang paling penting dalam perjalanan seorang musisi, dan dukungan keluarga yang Anda berikan tentu merupakan anugerah yang sangat berharga baginya.

Selama bertahun-tahun, baik sebagai peserta kompetisi, pianis konser, maupun juri dalam berbagai kompetisi piano, saya semakin menyadari bahwa banyak orang beranggapan hasil kompetisi hanya ditentukan oleh seberapa baik seorang pianis memainkan not-not yang tertulis di dalam partitur. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Kemampuan bermain piano memang sangat penting, tetapi pemilihan repertoar seringkali memiliki pengaruh yang sama besarnya terhadap hasil akhir sebuah kompetisi.

Hal pertama yang selalu saya tekankan adalah bahwa repertoar harus sesuai dengan pianis yang memainkannya. Setiap anak memiliki karakter musikal, tingkat kematangan, kepribadian, dan kekuatan yang berbeda-beda. Ada anak yang memiliki teknik luar biasa dan sangat nyaman memainkan karya-karya virtuoso yang penuh energi. Ada pula yang memiliki kepekaan musikal yang mendalam, mampu menghasilkan warna suara yang indah, dan sangat menyentuh ketika memainkan karya-karya yang lebih liris dan ekspresif.

Karena itu, repertoar yang ideal bukanlah selalu repertoar yang paling sulit, melainkan repertoar yang paling mampu menampilkan kualitas terbaik dari pianis tersebut. Salah satu kesalahan yang paling sering saya lihat dalam kompetisi adalah ketika seorang siswa memilih karya yang sebenarnya masih berada di luar jangkauan kemampuannya. Banyak yang berpikir bahwa semakin sulit sebuah karya, semakin besar peluang untuk memenangkan kompetisi. Namun dari sudut pandang seorang juri, hal tersebut tidak selalu benar.

Juri yang berpengalaman tidak akan memberikan nilai tinggi hanya karena seorang peserta memainkan karya yang sangat sulit. Sebaliknya, kami lebih menghargai penampilan yang matang, meyakinkan, dan musikal. Sebuah Sonata Mozart yang dimainkan dengan gaya yang tepat, artikulasi yang jelas, dan musikalitas yang indah sering kali meninggalkan kesan yang jauh lebih kuat dibandingkan sebuah karya virtuoso yang penuh kesalahan atau dimainkan tanpa pemahaman musikal yang mendalam.

Dalam kompetisi, yang dinilai bukan hanya tingkat kesulitan karya, tetapi juga kualitas interpretasi, kontrol teknik, keindahan bunyi, pemahaman gaya musik, kemampuan membangun frasa, serta kemampuan berkomunikasi dengan para penonton melalui musik.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah keunikan atau identitas artistik seorang pianis. Dalam kompetisi besar, juri dapat mendengarkan puluhan bahkan ratusan peserta dalam waktu yang relatif singkat. Tidak jarang karya yang sama dimainkan berulang-ulang sepanjang hari.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan memilih karya yang populer, tetapi seorang pianis yang mampu menghadirkan sesuatu yang segar dan memiliki kepribadian yang tersendiri sering kali lebih mudah diingat para dewan juri. Yang saya maksudkan di sini bukanlah memilih karya yang aneh-aneh atau jarang dimainkan hanya demi untuk tampil dengan berbeda.

Sebaliknya, pilihlah karya yang benar-benar sesuai dengan karakter anak yang bersangkutan dan memungkinkan kepribadiannya muncul secara alami melalui penampilannya. Ketika seorang pianis memiliki hubungan emosional yang kuat dengan musik yang dimainkan, hal itu biasanya dapat dirasakan oleh para penonton maupun juri.

Saya juga percaya bahwa program kompetisi yang baik harus menunjukkan keseimbangan yang baik pula. Jika persyaratan kompetisi mengizinkan para peserta untuk membawakan beberapa karya, alangkah baiknya apabila repertoar tersebut mampu memperlihatkan berbagai aspek dari kemampuan seorang pianis.

Misalnya, karya periode Klasik dapat menunjukkan kejernihan teknik dan pemahaman gaya. Karya Romantik dapat memperlihatkan kedalaman ekspresi dan warna suara. Sementara karya abad ke-20 atau karya virtuoso dapat menunjukkan kemampuan teknis dan fleksibilitas musikal. Dengan demikian, para juri akan memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kemampuan dan potensi dari seorang peserta.

Namun demikian, saya selalu mengingatkan murid-murid agar tidak memilih repertoar hanya berdasarkan apa yang mereka kira akan disukai juri. Pada akhirnya, penampilan yang paling berhasil biasanya datang dari karya yang benar-benar dicintai oleh pemainnya.

Meningkat
Ketika seorang anak menikmati musik yang dimainkan, proses latihannya menjadi lebih bermakna, kepercayaan dirinya meningkat, dan komunikasi musikalnya menjadi lebih alami.

Sebagai juri, saya juga mempertimbangkan apakah sebuah karya sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan seorang pianis. Ada karya-karya besar yang membutuhkan pengalaman hidup dan kematangan musikal tertentu agar dapat disampaikan secara meyakinkan. Ini tidak berarti bahwa seorang pianis muda tidak boleh memainkannya, tetapi terkadang ada karya lain yang lebih sesuai dan justru mampu menghasilkan penampilan yang lebih kuat.

Tujuan utama dalam memilih repertoar bukanlah menemukan karya yang paling terkenal atau paling sulit, melainkan menemukan karya yang memungkinkan seorang pianis untuk tampil pada kemampuan terbaiknya saat ini. Banyak orang tua juga bertanya apakah lebih baik bagi anak mereka untuk terus mempelajari repertoar yang baru atau mempertahankan karya yang sudah pernah berhasil dibawakan. Menurut saya, kedua-duanya memiliki manfaat masing-masing.

Repertoar yang baru akan membantu dalam perluasan wawasan musikal dan pengembangan keterampilan baru. Sementara itu, kembali mendalami karya yang sudah dikenal sering kali membawa seorang pianis pada pemahaman yang lebih matang dan interpretasi yang lebih mendalam.

Pada akhirnya, saya selalu mengingatkan murid-murid dan para orang tua bahwa kompetisi hanyalah salah satu bagian dari perjalanan panjang seseorang untuk menjadi seorang musisi. Penghargaan dan kemenangan tentu adalah hal yang menyenangkan, tetapi yang jauh lebih penting adalah proses pertumbuhan yang terjadi selama persiapan menuju kompetisi tersebut.

Melalui proses itu, seorang anak akan belajar tentang disiplin, ketekunan, kesabaran, keberanian tampil di depan publik, serta kemampuan untuk bangkit setelah menghadapi tantangan atau kekecewaan. Nilai-nilai inilah yang akan tetap bermanfaat sepanjang hidupnya, bahkan jauh melampaui dunia kompetisi.

Jika saya harus merangkum semuanya dalam satu kalimat, maka saya akan mengatakan bahwa repertoar terbaik untuk kompetisi adalah repertoar yang memungkinkan seorang pianis untuk menunjukkan kemampuan teknisnya, mengekspresikan kepribadiannya, dan berkomunikasi secara tulus melalui musik.

Ketika ketiga hal tersebut saling bertemuan dalam sebuah penampilan, hasil kompetisi sering kali menjadi konsekuensi yang datang dengan sendirinya.

Salam hangat,

Dr. Stephanie Neeman

Doktor Stephanie Neeman telah memenangkan berbagai kompetisi terkemuka di Indonesia, termasuk juara pertama Kompetisi Piano Yamaha tingkat nasional. Stephanie juga memenangkan juara pertama kompetisi piano internasional diantaranya Empire State International Piano Competition, Lillian Fuchs Chamber Musik Competition, NJMTA Piano Competition, dan Liszt-Garrisson International Piano Competition ditambah dengan penghargaan “The Best Interpretation and Outstanding Performance of Franz Liszt” di Amerika Serikat. DR. Stephanie Neeman meraih gelar Bachelor of Musik dan Master of Musik dari Manhattan School of Musik di New York City dan Doctor of Musical Arts dari College-Conservatory of Musik di University of Cincinnati dengan beasiswa penuh sebagai murid dari pianis legendaris Prof. James Tocco. DR. Stephanie Neeman kini adalah CEO/Artistic Director dari Musik for Canberra di Australia dan menjabat sebagai pimpinan bagian conservatory dari Elly Lim Musik Studio/E.L.M.S. Conservatory di Jakarta. Untuk info lebih lanjut: http://www.neemanpianoduo.com atau stephaniepianist@yahoo.com. Selamat mengikuti!

Article Bottom Ad