Psikologi dalam Pengajaran Piano

202

Article Top Ad

ILMU psikologi memainkan peranan penting pada hampir semua aspek kehidupan manusia. Termasuk diantaranya dalam proses belajar bermain musik. Guru-guru musik modern melengkapi dirinya dengan pengetahuan tentang psikologi, karena menyadari bahwa yang mereka hadapi bukanlah sebuah robot, tetapi manusia dengan semua aspek psikologis dan kompleksitas masalahnya.

Pendekatan pengajaran modern yang tidak lagi menempatkan guru sebagai “master of the art” memaksa para guru untuk lebih banyak memahami hal-hal yang dibutuhkan siswa. Salah satunya adalah dengan pendekatan ilmu psikologi. Bagaimana dengan Anda?
Ada sejumlah langkah-langkah dari ilmu psikologi yang dapat diambil manfaatnya untuk menambah pemahaman guru, sehingga guru dapat mendiskusikan berbagai metode pendekatan pengajaran yang bermacam-macam saat ini.

Dr. Hao Huang, pengajar piano di Amerika mengatakan, sangat penting bagi guru untuk sedikitnya mengerti tentang psikologi. Hal ini karena tidak semua permasalahan yang dihadapi guru maupun siswa dalam proses belajar musik, ditimbulkan semata-mata karena persoalan musik. Dengan memahami aspek-aspek psikologi, seorang guru dapat segera mempersiapan tindakan tepat terhadap persoalan-persoalan psikologi yang tersembunyi dalam sebuah proses belajar piano maupun instrument musik lainnya.
Sudut pandang psikologi sangat diperlukan ketika seorang guru menemukan hambatan yang tidak segera dapat ditemukan jalan keluarnya ketika menghadapi siswa yang sedang belajar musik. “Dalam situasi seperti itu, guru dituntut untuk memberikan semacam diagnosa, apakah ini merupakan gejala anak ‘kurang memiliki bakat’ atau sekadar
‘menghadapi ketegangan’ misalnya, ketika ia tampil buruk dalam performance”, kata Dr. Hao Huang.

Article Inline Ad

Peran psikologi dalam belajar musik, dalam pandangan dia, juga diperlukan dalam kasus lainnya. Contoh, munculnya fenomena penggunaan nama besar seorang musisi yang juga kebetulan mengajar musik. Menurut dia, nama besar seorang musisi bukan jaminan bahwa ia akan mampu melahirkan generasi penerus seperti dirinya.

Namun hal ini tidak banyak disadari oleh banyak orang, terutama para orangtua. Padahal keberhasilan seorang anak tidak ditentukan oleh nama besar gurunya, melainkan lebih banyak dipengaruhi sejauh mana kemampuan sang guru dalam mengajar. “Mengapa? Karena pendekatan yang diterapkan oleh sang guru tidak relevan bila digunakan oleh siswanya yang tengah dalam proses belajar. Ia mengajarkan cara bermain musik sebagaimana menghadapi orang-orang selevel dirinya. Pendekatan yang ia pergunakan adalah cermin dirinya ketika bergelut dengan komposisi musik. Ini tidak masuk akal,” kata Dr. Hao Huang.

Para komposer musik tidak memerlukan proses berbelit-belit ketika berkreasi dalam musik. Tanpa bekal apa-apa pun, dalam benaknya ia dapat menciptakan sebuah karya, karena memang tidak ada formula khusus dalam berkreasi dengan musik. Mereka tidak membutuhkan psikologi dalam bermain musik untuk dipahaminya secara lebih mendalam.

Cara mereka menguasai teknik pun sama, melalui imajinasi musikal dalam dirinya dan kemudian memainkan jari jemarinya pada alat musik. Secara naluri mereka dapat menemukan notasi dan melodi yang dibutuhkan untuk menyempurnakan ide-idenya.
“Itu adalah sebuah jalan singkat yang luar biasa untuk menghasilkan sebuah karya. Tetapi tidak semua anak memiliki kelebihan semacam itu. Apalagi bila langkah seperti itu diterapkan pada mereka dengan harapan segera dapat menguasai teknik yang mereka butuhkan. Disinilah peran psikologi dalam belajar musik diperlukan oleh guru, bahwa saat ini terdapat pendekatan yang lebih baik untuk belajar musik. Oleh karena itu, sebuah analisa pendekatan yang digunakan dalam ilmu psikologi menjadi komponen yang sangat penting dalam pendidikan belajar musik. Termasuk piano,” kata Hao Huang.

Kesulitan
Membicarakan psikologi hampir pasti tidak dapat dipisahkan dengan ilmu pengetahuan dan ini jelas menimbulkan kesulitan untuk menarik tegas kedua disiplin ilmu tersebut. Dalam banyak kasus, ilmu pengetahuanlah yang menetapkan bagaimana kita menerapkan pendekatan psikologi pada sebuah subyek.

Karena itu, penting bagi guru mengetahui psikologi, karena sekadar berdasarkan pengetahuan saja tidaklah cukup. Paling tidak, guru perlu untuk mulai mengubah pendekatan kejiwaan atau mental agar lebih mudah memahami dan menyempurnakan obyeknya. “Barangkali salah tahu hal yang paling penting adalah bagaimana sudut pandang kita melihat belajar musik. Atau arah, sikap dan gambaran umum kita terhadap proses belajar memainkan instrument musik itu sendiri,” kata Hao Huang.

Menurut dia, beberapa metode pengajaran yang ada saat ini sangat bertentangan dengan sebagian besar metode lama yang sudah ada sebelumnya. Sebagai contoh, ketika seorang anak gagal dalam belajar musik, menurut teori lama, hal itu disebabkan bakat yang dimilikinya kurang kuat. Sehingga kegagalan itu dinilai sebagai kegagalan si anak.
Sedangkan menurut pandangan sekarang, ketika seorang anak mengalami kegagalan maka itu adalah kesalahan guru. Karena tugas guru adalah mengerahkan segala macam cara melalui berbagai informasi yang diperlukan untuk membuat si anak sukses.

‘Kesepakatan’ baru tentang melihat sebuah kegagalan ini memungkinkan hanya jika terdapat sejumlah informasi yang memadai sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara kompeten pada anak untuk keberhasilannya. Dengan catatan, dalam kasus ini semua materi yang diperlukan tersedia.

Menurut pandangan teori lama, guru adalah master of the art, sedangkan siswa diwajibkan mematuhi seluruh peraturan yang ditetapkan oleh sang guru. Sedangkan dalam sistem baru, siswa adalah ‘majikan’ dan master dalam proses belajar musik, dan gurulah yang harus memberikan apa yang menjadi kebutuhan siswanya.

Atau dengan kata lain, guru harus berusaha menyediakan segala informasi yang diperlukan dan siswa merancang dan menatanya melalui latihan-latihan rutin dengan memanfaatkan informasi tadi. Baru setelah itu, tanggung jawab tentang bagaimana memahami proses belajar musik, sepenuhnya berada ditangan siswa, bergantung dari bagaimana cara mereka menilai proses belajar musik itu. Apakah mereka akan menyisihkan waktu selama satu jam tiap hari untuk belajar musik untuk menjadi seorang virtuoso, atau dengan cara lainnya.

Namun pada kenyataannya, menurut Dr. Hao Huang, tidak banyak siswa yang dapat mengerjakannya sendiri dengan sungguh-sungguh, dan itu adalah tanggung jawab guru untuk menjelaskan masing-masing metode sehingga siswa dapat memahaminya.
Pada tahapan ini keluasan wawasan guru terhadap segala bentuk ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, terutama science sangat diperlukan. Sebab, tidak menutup kemungkinan dalam suatu kesempatan guru dituntut untuk menguasai sejarah, ketika penjelasannya tentang seni tidak dapat dilihat dari sudut ilmu pasti.

Bagaimanapun juga, psikologi belajar musik memiliki peluang yang besar dalam hal memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh kedua belah pihak, siswa dan guru.Pada intinya, menurut sudut pandang metode lama, sebuahsistem peraturan lebih ditekankan pada aspek yang berhubungandengan sejarah. Sedangkan menurut versi yang baru, sebuah sistem ditetapkan berdasarkan pada ilmu pengetahuan.

Bagi siswa, khususnya dalam hal latihan, jika sebelumnya menurut system versi lama harus dilakukan sesuai peraturan, maka pada metode baru mengalami transisi menjadi “sangat mudah” untuk menghindari kebingungan. Sebagian besar siswa dengan cepat menikmati kewenangan barunya dan merasakan kebebasan sepanjang minggu, menikmati manfaat penuh dari metode-metode tersebut. Berbeda dengan sebagian lainnya, siswa ini tipe yang tidak terlalu tergesa-gesa menyadari ketiadaan peraturan dan masih terus mencari ‘peraturan’ baru untuk diikuti.

Siswa tipe ini biasanya dibenaknya dipenuhi banyak pertanyaan, seperti: Kapan saya harus melakukan latihan putaran satu tangan, apakah 10 kali sudah cukup ataukah saya perlu melakukannya hingga 10.000 kali? Apakah pergerakan jari jari saya terlalu cepat ataukah terlalu lambat, dan apakah yang saya kerjakan kecepatannya sudah tepat? Apakah latihan dengan cara tangan terpisah itu diperlukan, meskipun sebenarnya saya dapat bermain cara tangan bersamaan? Untuk memainkan jenis musik yang sederhana, latihan tan gan terpisah sebenarnya dapat menyebabkan kebosanan, tapi mengapa saya perlu mengerjakannya?

Sebagian besar pertanyaan-pertanyaan itu mengungkapkan tingkat kebutuhan siswa dalam mengadaptasikan psikologi belajar musik. Jika tidak segera ditangani, maka kegagalan yang akan dihadapinya. Metode lama yang telah berjalan selama puluhan tahun dan ternyata banyak perilaku yang tidak berjalan’ sebagaimana mestinya’ akan tetap terus berlangsung dalam jangka waktu yang tidak terbatas, apabila tanpa melakukan usaha modifikasi.

Karena itu guru perlu mengadaptasi dan menerapkan prinsip-prinsip psikologi baru yaitu keterbukaan komunikasi serta belajar terus menerus. “Sebagian dari kita membutuhkan sebuah perangkat psikologi untuk mengatasi kekuatiran yang tidak berdasar dari ketidakmampuan dalam mengingat. Beberapa orang tidak kesulitan dalam menghapal, namun sebagian lainnya menghubungkan kemampuan mengingat sebagai sebagian kecil dari anugerah,” katanya.

Menurut dia, mereka setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa meningkatkan kemampuan memori dapat diperbesar dengan menghapal repertori-repertori lebih banyak secara rutin, ini hanya masalah tahapan. Alasan utama bagi kekuatiran semacam itu sebenarnya adalah dari pengalaman sebelumnya, dimana siswa pertama kali mengingat untuk bermain sebuah karya dengan baik. Kemudian mempelajarinya untuk dapat diingat untuk seterusnya. Ini adalah salah satu langkah yang sulit untuk mengingat. “Karena banyak anak-anak mengira bahwa ini adalah cara belajar yang tepat, sehingga mereka menemukan kesulitan, akhirnya muncul persepsi umum bahwa kemampuan memori sangat menyulitkan,” kata Hao Huang.

Sebaliknya, menurut dia, bagi siswa yang sejak awal telah belajar dengan metode yang tepat, memori bagikan sifat atau pembawaan kedua bagi dirinya. Itu merupakan bagian integral dari proses pembelajaran dalam setiap memainkan repertori baru. Bagi mereka ini memori tidak perlu dipelajari, karena sejak tahap awal mereka telah melibatkan memorinya dalam latihan-latihan rutin, serta untuk memahami konsep yang dipelajari dan diingat pada saat yang bersamaan. Langkah ini sebenarnya lebih cepat dan mudah daripada mempelajarinya secara terpisah. Konsep ini sering kali menjadi sebuah tantangan psikologi yang menyulitkan untuk dilalui.

Proses Mental
Kemampuan mengingat hanya salah satu contoh bagaimana kontribusi ilmu pengetahuan terhadap kesehatan psikologi seorang musisi. Ketegangan adalah bagian psikologi yang sulit untuk diatasi. Agar dapat menguasainya, Anda harus memahami bahwa ketegangan sebenarnya adalah sebuah proses mental.

Menerapkan sistem peraturan pada siswa belia untuk resital tanpa mempersiapkan bekal kejiwaannya, akan menyebabkan mereka mengalami ketegangan, lebih dari ketika mereka pertama kali mempelajari alat musik. Pengalaman menegangkan seorang siswa ketika bermain musik dapat memberi pengaruh negatif lainnya yang sebenarnya ia dapat kerjakan dengan mudah. Ketegangan adalah permasalahan sesungguhnya yang banyak dihadapi oleh sebagian besar orang.

Dengan merancang sebuah program yang tepat untuk mengatasi ketegangan, akan memberikan kontribusi bagi kesehatan jiwa berupa kebanggaan, kegembiraan, dan segala macam perasaan yang melengkapinya yang akan anda rasakan. Semua itu
bisa dilihat dan diatasi dari sisi psikologi apabila guru memang memahami aspek-aspek psikologi.

Tanpa pendekatan psikologi, proses pengajaran bukan hanya akan membosankan siswa, tetapi lebih-lebih menggiring guru pada kondisi “teacher’s burnout”, sebuah kondisi kejiwaan yang menjebak guru pada suasana putus asa, lelah, bosan, stress dan frustasi. Sebuah tugas yang semula menyenangkan, tiba-tiba menjadi begitu membosankan dan meletihkan, membuatnya putus asa, stress, dan frustasi. Semua itu tidak akan terjadi bila guru memahami psikologi.

“Banyak persoalan yang muncul dalam proses belajar musik yang tidak semata-mata ditimbulkan dari musik. Ini jelas membutuhkan penyelesaian dan pemecahan yang juga tidak bisa semata-mata dari sudut pandang musik. Sejauh mana gurubisa melihat semua itu, sangat tergantung pada seberapa cara mereka terhadap aspek-aspek di luar musik yang ikut melingkupi proses tersebut,” kata Hao Huang.

Teacher’s Burnout adalah gejala psikologis yang banyak menghinggapi guru dan profesional lainnya yang tersiksa oleh karier mereka sendiri, akibat terlalu banyak beban yang harus dihadapi. Karier yang dulunya menyenangkan tiba-tiba menjadi sesuatu yang mengesalkan. “Dalam pengajaran musik, kondisi ini sesungguhnya bisa juga dirasakan siswa. Disinilah perlunya terapi psikologis, karena sesuatu yang bersifat kejiwaan hanya bisa diselesaikan melalui pendekatan kejiwaan,” kata Hao Huang.

Sekolah-sekolah musik modern, melengkapi dirinya dengan ruang konseling, yang bertugas memberi konsultasi mengenai masalah-masalah yang mungkin dihadapi guru, siswa dan orangtua siswa. (Dien A. Basri)

Article Bottom Ad