AISHA SUDIARSO PLETSCHER

835

Article Top Ad

’JANGAN CEPAT PUTUS ASA’

Lahir di keluarga pemusik, Aisha Sudiarso Pletscher tidak lantas menerima privilege sebagai anak dari sang “empu piano Indonesia”, Iravati Sudiarso. Sosok murah senyum ini bahkan sempat berontak dari ketatnya disiplin musik klasik yang dirasa mengekang kebebasannya berekspresi, sebelum kesadaran muncul bahwa dia tak bisa lepas dari musik yang telah membesarkan namanya itu. Berikut bincang singkatnya di Steinway Family Story

Sejak kapan dan bagaimana Anda berkenalan dengan piano?
Sebenarnya saya mengenal piano tidak di rumah saya, tapi justru di rumah nenek. Sejak kecil saya sering dititipkan ke nenek saya, Hestia Mangunkusumo di jalan Cik Di Tiro kalau mama dan papa kerja. Jadi mama kan waktu itu kerja di Taman Ismail Marzuki. Jadi dekat sekali rumah nenek saya sama tempat kerja mama. Saya mengenal piano di rumah nenek dan saya juga nggak tahu bagaimana mulanya, tiba-tiba saja saya diajari nenek main piano. Waktu itu kata mama sih usia saya 3 tahun. Mama bahkan tidak tahu kalau nenek mengajari saya piano. Makanya mama kaget juga sih melihat saya bisa main piano. Pada usia 4 tahun saya diterima belajar di Sekolah Musik YPM di bawah bimbingan Jeanne Juwono, Etty Iskandar, dan Rudy Laban. Setelah belajar 2 tahun dengan pak Rudy Laban saya masuk ke tingkat persiapan konservartorium dibawah bimbingan mama saya sendiri selama 4 tahun sebelum saya berangkat ke Amerika untuk meneruskan SMA saya di sana

Article Inline Ad

Bagaimana rasanya diajar orangtua sendiri? Apakah mendapat keistimewaan dibanding dengan murid lain?
Enggak juga sih. Mama itu profesional. Beliau bisa memilah bagaimana memperlakukan saya sebagai murid, dan memperlakukan saya sebagai anak. Saya merasa beliau tidak membedakan saya dengan murid lainnya, mentang-mentang saya anak mama lalu mendapat perlakuan khusus, oh tidak. Tidak ada itu. Beliau memperlakukan saya sama seperti murid-murid lain. Keras banget. Kalau soal musik, mama sangat keras, dalam arti positif ya, bahwa memang disiplin dalam bermusik, disiplin dalam pekerjaan saya sehari-hari, itu harus betul-betul high standart. Harus dengan standar tinggi karena memang bagi mama musik itu di atas segalanya, dan kami harus menghormati itu. Saya boleh berbahagia dan bangga bisa menjadi murid mama. Itu spesial sekali. Bukan hanya sebagai anak, juga sebagai muridnya mama.

Sejak mengenal musik apakah sudah muncul dalam diri Anda keinginan untuk menjadi musisi?
Belum. Sejujurnya saya sejak kecil justru pingin jadi dokter. Itu cita-cita saya sejak kecil. Makanya dulu itu kalau ada film tentang dokter di TVRI, pasti saya nonton. Mulai kepikir pingin jadi musisi kira-kira waktu saya di bangku SMP, padahal saat itu saya lagi jenuh-jenuhnya dengan musik klasik, dan saya banyak main band. Namanya juga anak muda. Hampir semua studio band di Jakarta saya jelajahi. Tapi lama-lama kok saya merasa ada yang kosong. Ada satu kekosongan yang tidak bisa diisi oleh jenis musik lain, selain klasik. Nah dari situ saya akhirnya minta sama orangtua saya apakah saya bisa melanjutkan ke musik. Selama satu tahun saya berdebat dengan orangtua saya. Saya ingin melanjutkan sekolah saya ke musik, tetapi orangtua saya kurang merespon. Apalagi mama saya, karena waktu itu beliau melihat saya lagi jenuh nih. Dua tahun mondar-mandir, lika-liku, kesana-kemari. Memang nggak pernah stop sih belajar klasiknya tapi susah sekali bagi saya untuk melakukan disiplin-disiplin yang dituntut pada saat itu, karena saya sedang asyik banget nge-band. Jadi ada keraguan di orangtua saya dengan niat saya untuk melanjutkan ke musik

Apa yang Anda lakukan?
Saya harus meyakinkan orangtua saya bahwa ini yang saya mau dan saya impikan. Saya bilang ke mama, bahwa saya mau belajar dengan guru-guru mama, saya pingin ke sekolahnya mama dulu. Itu kita diskusinya berminggu-minggu karena mereka harus yakin bahwa ini pilihan saya. Karena merasa lama banget tidak ada kepastian, saya sempat protes dengan nggak masuk sekolah berhari-hari, satu hari masuk, dua minggu bolos hahaha….Orangtua saya marah. Aduh…saya bandel banget hahaha…Akhirnya mereka berdua berhasil saya yakinkan, bahwa inilah yang saya mau. Ini yang saya impikan untuk kehidupan saya. Dan karena waktu itu saya sudah mengajar, saya punya uang untuk beli tiket sendiri, saya les bahasa Inggris, ujian bahasa Inggris, semuanya saya bayar sendiri. Dari situ orangtua saya luluh juga melihat keseriusan saya. Saya juga cari-cari sendiri info beasiswa, dan kebetulan waktu itu ada semacam program pencarian bakat di Amerika yang menyediakan beasiswa untuk sekolah setingkat SMA dan muridnya diasramakan. Saya ikut program itu dan diterima karena nilai matematika saya tinggi. Akhirnya orangtua saya luluh, dan saya pun berangkat ke Amerika untuk sekolah di SMA St. Timothy’s School, Maryland, Amerika Serikat. Selama di sekolah ini saya memperoleh The Bigelow Ingram Piano Scholarship dan berguru pada pianis Mary Stanton. Saya juga mendapat bimbingan artistik dari Prof. Walter Hautzig di New York, Amerika Serikat. Sejak tahun 1989, saya dibimbing oleh pianis Reynaldo Reyes. Setelah lulus dari St. Timothy’s School tahun 1990, saya diterima di Manhattan School of Music hingga meraih gelar Master of Music di bawah bimbingan Solomon Mikowsky dan Donn Alexander Feder.

Bagaimana selama Anda di Manhattan School of Music?
Semester pertama kesandung juga hahaha….bahkan saya nyaris putus di tengah jalan. Rasanya mau berhenti sajalah. Nggak kuat

Kenapa?
Jadi, semester pertama saya disitu tentunya gap saya banyak banget karena saya pernah, dalam tanda kutip, berhenti main klasik, karena saya jenuh. Jadi saya merasa bahwa kemampuan saya tidak setinggi teman-teman lainnya yang sudah masuk ke sana. Jadi saya berniat berhenti sajalah. Jam dua pagi saya telpon mama bahwa saya sudah daftar di Columbia University di kedokteran, mengacu pada keinginan saya waktu masih kecil. Saya bilang bahwa saya tidak sanggup melakukan semua tuntutan yang dihadapkan ke saya. Kebayangkan? Sudah berantem selama satu tahun sama orangtua sebelum saya berangkat, tiba-tiba saya sekarang mau berhenti. Wah mama ngomel banget deh. Cuma satu pertanyaan mama ke saya waktu itu yang bikin saya sadar. Mama cuma bilang gini, ”Ya terserah kamu sih, kamu pikir kedokteran lebih gampang? Kamu tanya ke diri sendiri deh, siapa sih sebenarnya yang mau nih nerusin musik? Ini kemauan siapa? Bukan kemauan saya, bukan kemauan papa lho. Ini kemauan siapa? Dan kalau sekarang kamu putus di tengah jalan, tanggungjawab kamu mana? Kamu belum buktikan bahwa kamu berhasil,, .”. Apa yang dikatakan mama itu membuka kembali kesadaran saya bahwa yang menginginkan semua ini adalah saya. Apakah segini saja saya harus mundur? Inilah yang kemudian membuat semangat saya kembali bangkit. Apapun yang terjadi harus saya hadapi. Saya tidak boleh putus asa. Apapun yang dikatakan guru saya, saya anggap sebagai lecutan yang memberi semangat buat saya. Alhamdulillah…akhirnya saya sampai ke S2. Ada sih dorongan agar saya lanjut ke S 3, tapi saya bilang cukuplah, saya mengabdi dahulu, siapa tahu di masa depan ada rejeki untuk kembali belajar

Apa yang membuat Anda yakin dengan keputusan Anda memilih musik klasik di tengah kemungkinan lain yang bisa saja Anda raih?
Nah ini…jauh dalam hati kecil saya mengakui, dan tidak bisa mengelak bahwa saya sebenarnya jatuh cinta dengan musik ini. Saya merasa tidak bisa hidup tanpa musik klasik. Jadi ada satu kekosongan dalam batin, bukan hanya hati, tapi batin saya yang terus mencari dan tidak bisa lepas dari musik klasik. Mungkin itu hikmah dari jalan-jalan ke musik lainnya kali ya, yang akhirnya bukan hanya respek dan menghargai saja, tetapi benar-benar jatuh cinta dengan musik klasik. Semua elemen yang ada dalam musik klasik, apakah itu sejarahnya, musiknya, saya merasa batin saya disitu. Tentu saja orangtua saya tidak percaya waktu itu, lha mereka tahu saya bagaimana pada awalnya hahaha…Sekarang setelah saya berkeluarga dan punya anak, saya jadi mengerti sekali mengapa orangtua saya bereaksi seperti itu dulu. Jadi yang membuat saya yakin dengan pilihan saya, karena jiwa saya ada di musik klasik

Sekembali dari Amerika, apa yang Anda lakukan?
Membangun karier dari dalam negeri dan mengembangkan pendidikan musik dari Jakarta. Ini memang komitmen saya setelah selesai belajar di luar negeri, bahwa saya akan mencoba membantu perkembangan musik klasik di Indonesia, demi untuk kemajuan dunia musik klasik di Indonesia. Untuk yang pertama, saya telah banyak melakukan pertunjukan di dalam maupun di dalam negeri, baik sebagai solois maupun bermain duo piano dengan mama saya. Untuk bidang pendidikan, saat ini saya adalah Direktur Bidang Akademis di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik. Saya juga pernah menjadi anaggota Komite Musik di Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012 dan 2012-2015, dan di luar itu saya membantu dan melakukan apa yang menurut saya penting bagi Indonesia.

Bagaimana Anda melihat perkembangan pengajaran musik klasik di Indonesia saat ini?
Kalau saya melihat antusiasme masyarakat terhadap musik klasik saat ini, gila banget hahaha…Beda beribu kali lipat dari jaman saya dulu. Bahkan dalam pandangan saya, musik klasik saat ini sudah jadi prioritas dalam kehidupan banyak anak-anak dan orangtua Indonesia. Mereka bukan hanya belajar musik untuk hiburan, tetapi nilai-nilai dalam pengajaran musik klasik seperti disiplin yang keras, konsistensi, semangat bekerja keras dan pantang menyerah, serta tanggungjawab, tertanam dalam diri mereka yang belajar musik klasik, yang merupakan nilai-nilai penting untuk membentuk mentalitas dan kepribadian manusia yang unggul. Melihat banyaknya anak-anak muda yang belajar musik klasik di dalam maupun di luar negeri, saya optimistis musik klasik di Indonesia akan terus berkembang ke depannya menyamai negara lain seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan dan Cina

Bagaimana menurut Anda tantangan anak-anak yang belajar musik dewasa ini?
Kalau dari kinerjanya sih dari dulu sama, hanya tantangannya saja, sekarang ini ya ampun…berat banget. Kalau jaman saya dulu untuk bisa nonton musik klasik channelnya cuma satu, TVRI, tapi sekarang ini tidak terbatas.Yang namanya internet, wow..itu luar biasa sekali. Malah sekarang ini sebagai orangtua, kita harus membiasakan anak-anak untuk melihat yang benar. Itupun sulit sekali. Pengaruh negatif internet dari kiri, kanan, depan, dan belakang, sudah muncul. Ini tantangan berat bagi guru, orangtua, dan murid sendiri karena perhatian dan fokus sekarang ini jadi terbagi seribu. Waktu untuk latihan mungkin bisa dibikin, tapi efisiensi dari latihan itu sendiri apakah bisa diandalkan seperti jaman kita dulu? Tapi sisi positifnya, hal-hal yang dulu kita harus ke luar negeri untuk nonton konser, ballet, sekarang bisa melalui internet. Akses untuk mendapatkan informasi, sekarang jauh lebih mudah dan melimpah

Apa yang Anda sarankan untuk menghadapi tantangan itu?
Saya kira yang paling penting sih manajemen waktu, karena sehari itu hanya ada 24 jam. Jika les seminggu cuma satu jam, setahun kira-kira 52 jam, atau dua setengah hari. Bayangkan. Kalau belajar hanya terpusat di tempat les saja, tentu tidak maksimal. Inilah pentingnya orangtua menjadi partner guru yang bisa berperan pada saat anak-anak latihan di rumah. Dan memang, waktu untuk melakukan apapun sekarang ini harus dibikin, karena kalau tidak dibikin atau dialokasikan, ya habis saja. Anak dan orangtua harus bekerjasama mengatur waktu sehingga semua ada quality time-nya. Waktu latihan mungkin tidak perlu terlalu lama, tapi efektif. Latihan terlalu lama juga bisa bikin jenuh. Apalagi anak-anak sekarang fokusnya tidak bisa lama karena tantangan internet dan gadget.

Belajar musik adalah proses panjang. Apa yang penting dalam proses itu?
Jangan cepat putus asa! Itu yang nomor satu. Puas boleh, bangga juga boleh, tapi selalu harus berusaha untuk lebih, karena musik itu selalu berkembang dan diri kita sebagai manusia juga selalu berkembang. Dengan tantangan teknologi internet, kehidupan serba digital, dan segalanya serba instan, kebanyakan anak-anak kita maunya serba cepat. Itu yang bikin mereka cepat kecil hati, kesal, kok gak jadi-jadi sih. Padahal proses itu kan sangat penting dalam seni. Jadi jangan cepat putus asa. Peluklah proses untuk berkembang itu dengan erat, karena disitulah pentingnya perjalanan kita di bidang apapun yang kita lalui, termasuk dalam musik.

Sebagai pianis dan guru piano, bagaimana Anda melihat piano Steinway?
Steinway itu sudah yang paling luar biasa untuk instrumen piano. Steinway itu bisa mengerti kita sebagai seniman. Dia memberikan kanvas, memberikan kita warna, dan memberikan kita kesempatan untuk berekspresi sejujur-jujurnya dari hati melalui instrumenya. Dia piano yang mengerti dan memahami kebutuhan kita sebagai seniman dalam berekspresi tanpa batas. Steinway is the best lah. (*)

Article Bottom Ad