ADA dua cara memainkan lagu dengan piano. Yang pertama dengan hapalan (memorizing), yang kedua dengan membaca langsung partitur (sight reading). Pianis-pianis yang bagus dalam hal sight reading belum tentu bisa menghapal dengan baik. Sebaliknya, mereka yang bisa menghapal dengan baik, belum tentu bisa menjadi sight readers yang baik pula.
Jika harus memilih, barangkali bermain dengan hapalan lah yang menjadi “tuntutan” bagi kebanyakan pianis. Bisa juga dikatakan bahwa salah satu daya tarik permainan piano adalah pada kemampuan pianis memainkan partitur yang jumlahnya bisa berlembar-lembar itu, dengan hapal di luar kepala. Akan tetapi, proses menghapal jauh lebih rumit dan sulit dibanding membaca.
David Salidino dari American Music Teacher Association dalam sebuah artikelnya mengatakan, dalam proses menghapal dibutuhkan kerja keras psikis dan fisik, mental dan stamina, serta kesabaran. “Berbeda dengan proses membaca, kegiatan menghapal mengharuskan otak bekerja lebih berat, karena merupakan sebuah proses penyimpanan yang bersifat permanen,” kata David.
Dari pengamatannya, pada kebanyakan siswa yang bisa bermain dengan hapalan, tidak terlalu sulit bila harus bermain dengan membaca. Sebaliknya, siswa yang terlalu bergantung pada membaca, akan sulit menghapal. “Problem itu muncul karena seseorang yang bagus dalam sight reading pada awalnya menemukan sedikit kebutuhan untuk menghapal dan sebaliknya dia lebih menikmati sight reading. Semakin banyak mereka membaca, semakin sedikit daya ingat yang dibutuhkan, dan dengan demikian, sedikit yang diingatnya,” kata David.
Tentu saja, lanjut David, ada juga mereka yang secara alamiah memiliki bakat kedua-duanya: bisa membaca dengan bagus, dan menghapal dengan baik. Tetapi, jumlahnya mungkin kecil. Salah satu kesulitan terbesar dalam proses penghapalan, kata David, secara prinsip muncul dari sebuah mental psikologikal.
“Mereka yang bisa menghapal dengan bagus, dapat mengalami problem cadangan, yakni mereka tidak bisa sight reading. Tetapi sebagian besar mereka yang bisa menghapal, menjadi seseorang yang bukan pembaca oleh karena mereka bermain begitu bagus dengan menghapal, atau melalui pendengaran, sehingga tidak pernah memiliki kesempatan untuk latihan dengan membaca,” katanya.
Bagaimanapun, ini bukan sebuah masalah simetris karena kebanyakan pianis-pianis berpengalaman tahu bagaimana cara menghapal. Mereka yang tidak terlalu bagus dalam menghapal, tentu saja secara teknik lebih rendah dibanding mereka yang bisa menghapal dengan bagus.
Penghapalan atau memorizing –seperti juga halnya dengan sight reading dan teknik-teknik bermain piano–tidak hanya membutuhkan pengetahuan bagaimana cara menghapal, tetapi juga memerlukan sebuah kesediaan yang mampu “memaksa” seseorang untuk latihan.
“Ini sangat penting agar Anda bisa menghapal, karena dengan begitu Anda tetap mampu bertahan sebagai seorang pianis tanpa kemampuan sight reading. Tetapi jika tidak, Anda tidak bisa menjadi seorang pianis handal tanpa punya kemampuan menghapal,” kata David.
Tidak Mudah
Menghapal tidaklah mudah bagi seorang pianis yang tidak terbiasa dan terlatih untuk menghapal. Mereka yang bisa melakukan sight reading tetapi tidak bisa menghapal, akan menemui masalah yang sulit.
Oleh karena itu, mereka yang tidak bisa menghapal dan berharap bisa memainkan sebuah repertori dengan hapal, harus memulainya dengan sebuah mental attitude atau kebiasaan yang akan berlangsung dalam sebuah proses yang panjang dengan sejumlah kendala dan kesulitan yang menghadang.
Problem paling sulit yang dihadapi pada sight reader, menurut David, adalah problem psikologikal yang menyangkut motivasi. Bagi mereka yang lebih suka bermain dengan membaca, menghapal hanya membuang waktu. Karena, mereka toh bisa memainkan repertori dengan membaca. Jadi, buat apa menghapal.
Mereka mungkin bahkan bisa memainkan bagian-bagian yang sulit dengan hapalan tangan (hand memory), dan jika mereka menemui sebuah kesulitan, mereka selalu bisa kembali memulainya dari awal. Karena itu mereka bisa mengaturnya tanpa harus perlu menghapal. Setelah beberapa tahun latihan piano dengan cara seperti itu, akan menjadi lebih sulit untuk belajar bagaimana menghapal karena otak menjadi sangat tergantung pada partitur.
Karya-karya sulit sangat tidak mungkin bisa dimainkan di bawah system seperti ini. Oleh karenanya, kebanyakan diantara mereka yang lebih suka berlatih dengan sight reading, lebih suka memainkan lagu-lagu yang lebih mudah. “Saya berpendapat, sekalipun seseorang lebih suka bermain dengan membaca, tetapi jika ia juga memiliki kemampuan menghapal, maka akan lebih lengkap,” kata David.
Metode Tersendiri
Berbeda dengan sight reading yang lebih bisa disamakan dengan proses membaca buku, proses menghapal memerlukan metode tersendiri. Terdapat banyak metoda dalam cara penghapalan, yang dipraktikan para guru.
Secara umum, kata David, terdapat teknik standar yang banyak dilakukan guru maupun siswa dalam belajar menghapal. Yakni selalu memulainya dengan menghapal beberapa lagu pendek lebih dulu. Sebaiknya itu lagu-lagu baru yang belum pernah dilatih sebelumnya. Sekali Anda berhasil menghapal sebagian kecil lagu tanpa susah payah, Anda bisa memulai membangun rasa percaya diri dan mengembangkan keterampilan untuk menghapal. “Ketika skill tersebut berkembang dengan cukup, Anda bahkan mungkin berpikir untuk menghapal lagu-lagu lama yang sudah pernah dipelajari dengan cara membaca,” kata David.
Sebuah lagu pendek, artinya lagu yang terdiri dari 2 sampai 4 halaman. Lagu seperti itu bisa dimulai dari depan, dilakukan bagian per bagian, sampai bagian terakhir. Mulailah dengan menganalisa struktur lagu. Pembaca yang baik memiliki sebuah tantangan disini, sebab mereka kenal dengan baik mengenai frasa dan serangkaian not yang muncul bersama berulangkali dan karena itu sangat baik untuk menganalisa bagian atau strukutr yang lebih kecil.
Hapalkan frasa demi frasa. Setelah setiap frasa hapal, mainkan frasa itu hanya dengan hapalan. Segera setalah Anda hapal satu frasa, usahakan jangan lagi memainkan frasa itu dengan membaca. Kecuali dalam keadaan memaksa, Anda boleh melihat frasa itu. Boleh jadi Anda akan merasa tidak nyaman dalam hal ini, tetapi itulah yang harus Anda hadapi dalam proses belajar menghapal.
Mungkin juga Anda kurang lancar dalam bermain, tetapi segera setelah Anda mampu menghapal, Anda akan mendapatkan sebuah pengalaman yang berbeda dibanding jika Anda harus memainkannya dengan membaca. Hapalkan semua bagian lagu dengan memainkannya menggunakan tangan terpisah, sebelum Anda berpikir untuk memainkannya dengan dua tangan bersamaan. Setiap kali Anda menemui kebingungan tatkala bermain dengan dua tangan bersamaan, segeralah kembali menggunakan tangan terpisah atau satu tangan. “Jangan memaksakan diri untuk bermain dengan dua tangan sekaligus, jika Anda merasa belum hapal. Jika memang berminat memainkannya dengan tangan bersamaan, mulailah dengan pelan,” kata David.
Dalam hal ini, perlu diperhatikan soal kecepatan. Jika tetap sulit untuk memainkannya dengan tangan bersama, kembali dengan tangan terpisah. Jangan berjuang keras bermain dengan tangan bersamaan, bila memang belum mampu. Anda akan menemukan bahwa bermain dengan tangan terpisah dengan cepat, sangat meyenangkan, dan sangat baik untuk pengembangan teknik, disamping membantu daya ingat Anda. “Apabila Anda masih menemui kesulitan untuk memainkan semua bagian lagu dengan hapal, jangan dipaksakan. Mulailah semuanya dengan menghapal bagian per bagian lagi,” kata David.
Menjaga Hapalan
Problem yang banyak menghadang siswa yang belajar menghapal adalah bagaimana memelihara atau menjaga agar apa yang telah dihapal itu, tidak hilang. Artinya, bisa bersifat permanen, yang jika dipanggil kapan saja, bisa dimainkan dengan cepat dan mudah. “Dalam hal menjaga hapalan agar permanen, ada beberapa metoda. Diantara metode yang sering dilakukan adalah, memainkan lagu di pikiran Anda, jauh dari piano,” kata David.
Metoda ini paling efektif tetapi memerlukan kemampuan siswa untuk berimajinasi dan membayangkan, seolah-olah mereka sedang bermain. Segera setelah seseorang mulai mempelajari sebuah lagu, buatlah sebuah kebiasaan untuk bermain di benak Anda kapanpun dan dimanapun Anda memungkinkan untuk melakukannya.
Misalnya, di tempat tidur sebelum tidur, ketika bangun tidur, di dalam mobil dalam sebuah perjalanan, di ruang tunggu ketika menunggu seseorang, dan sebagainya. “Teknik ini bisa menjadi test case apakah Anda benar-benar hapal, atau tidak. Terutama dalam hal hapalan tangan,” kata David.
Apa yang penting bagi mereka yang memiliki kemampuan mengingat sangat bagus adalah bahwa Anda tidak seharusnya meninggalkan bermain di benak/pikiran setelah Anda hapal sebuah lagu. Anda hanya perlu melakukannya sesekali saja untuk menjaga agar selalu ingat. Sebuah test yang bagus untuk menguji daya ingat atau hapalan Anda adalah dengan memainkan sebuah lagu yang sudah hapal, di tempat atau bagian lagu yang berbeda-beda, misalnya dari frasa bagian tengah. Kebanyakan siswa menghindari cara ini karena menimbulkan kebingungan. Tetapi mereka harus didorong untuk mencobanya, karena ini akan memperkuat daya ingat.
Yang perlu diperhatikan juga, usahakan agar tetap ingat lagu-lagu lama yang telah hapal. “Mengapa? Karena ada kecenderungan untuk melupakanlagu-lagu lama. Menurut saya, meskipun hapal lagu baru, lagu lama tetap harus hapal dan bisa dipanggil kembali manakala diperlukan. Ini sebuah test bagus daya ingat Anda cukup bagus,” kata David.
Menurut David, pemahaman untuk “memelihara hapalan” kadang- kadang membuat seseorang frustasi. Tetapi tanpa pengetahuan dan pemahaman tersebut, seseorang akan ragu dengan daya ingatnya apabila setelah menghapal lagu baru, tiba-tiba lupa dengan lagu-lagu lama yang telah dihapal sebelumnya.
“Tetapi tidak perlu khawatir karena itu hanya terjadi sesaat, dan itu fenomena umum dalam proses memelihara hapalan. Yang penting adalah, jika Anda belajar menghapal dan kemudian mampu menjaganya untuk menjadi permanent, maka Anda menjadi seseorang yang mampu menghapal dengan baik,” kata David. (eds)








































