”MORE REPERTOIRE, PLEASE!”

193

Article Top Ad

PERNAHKAH Anda menemui kasus siswa yang hanya mempelajari tiga lagu, dan berlatih tangga nada, arpeggio yang sama setiap hari dan setiap tahun? Terdengar familiar?
Pendekatan ini terkait erat dengan siklus ujian musik internasional, dimana pembelajaran selalu diawali dengan tiga lagu ujian dan tiga lagu ini akan diulang terus menerus hingga ujian dilaksanakan sembilan hingga dua belas bulan kemudian. Sehingga, kelas pianonya seperti berputar-putar dan menemui jalan buntu. Murid stress dan gurunya pun sejujurnya juga mumeeet… Apakah baik pendekatan seperti ini? Apakah ada gunanya? Apakah Anda sebagai orang tua, harus khawatir?

Mengulang tiga lagu yang sama dalam setahun ibarat anak hanya diberi tiga buku untuk dibaca tanpa membaca buku lainnya. Anak harus membaca ketiga buku ini dengan sempurna pada akhir tahun ajaran. Bagaimana dampaknya terhadap anak setelah satu tahun membaca buku yang sama? Apakah kemampuan membaca dan kosakata mereka meningkat?

Jika murid Anda hanya mempelajari tiga lagu saja selama setahun untuk ujian piano, berarti Anda dalam masalah, pendekatan belajar Anda mungkin tidak efektif, dan tiga lagu itu mungkin masih terlalu sulit untuk level murid Anda.
Konsekuensinya siswa akan bosan, membenci piano dan berhenti. Apa yang menarik dari memainkan set dan latihan yang sama setiap hari, dan pendekatan ini dari tahun ke tahun dengan set berikutnya? Apakah dengan sebuah sertifikat, anak berarti mampu menguasai piano dengan baik? Tampaknya banyak orang tua yang tidak peduli selama anaknya bisa achieve.

Article Inline Ad

Belajar piano seharusnya tidak melulu belajar lagu untuk ujian saja. Tetapi karena tuntutan dan ego orangtua yang tinggi untuk mencapai kesuksesan anaknya, banyak guru yang didikte oleh orangtua dan dengan sangat terpaksa mengubah agendanya, supaya anak bisa achieve dan membanggakan orangtuanya.

Tidak semua anak merupakan kandidat ujian dan beruang sirkus. Setiap anak adalah unik dan mempunyai tujuan personal belajar musik yang berbeda. Jika anak dipaksa, ada kemungkinan hasilnya bisa menjadi bumerang bagi anak.

Seharusnya murid mempunyai alternatif repertoar lain yang lebih luas yang bisa menginspirasi bagi tumbuh kembang murid dalam proses belajar memainkan instrumennya. Think out of the box! Berimprovisasilah, dengarkanlah banyak musik piano lainnya, bereksplorasilah dengan genre musik lain, kenalilah murid Anda lebih baik, dan nikmati proses belajarnya!

What’s Next?
Bermain piano adalah sebuah seni dan keterampilan. Sama seperti bidang ilmu yang lain, Anda harus mempelajari dasar-dasarnya – bagaimana cara membaca partitur, mengetahui apa arti simbol dan istilah musik, menafsirkan apa maksud asli komposer untuk karya ini, memahami fingering, merasakan kalimat musik, menghargai karya itu sendiri, dan masih banyak lagi. Intinya, bermain piano adalah seni yang perlu dibudayakan, dan tidak bisa “dicapai” hanya melalui hafalan saja.

Hanya beberapa potong repertoire setiap tahun tidak akan membuka dunia musik untuk siswa. Ada begitu banyak sonata, waltz, concerto, simfoni, dan bahkan musik kontemporer yang indah dan indah; yang dapat kita tunjukkan kepada siswa yang akan membuatnya mungkin tertarik. Ajarkan siswa untuk memiliki hasrat terhadap instrumen itu sendiri, untuk haus akan pengetahuan, dan haus akan manfaat musik; dan biarkan musik itu sendiri yang akan menjadi inspirasi, motivasi diri dan penghargaan sesungguhnya bagi siswa.

Terkadang menjauh dari lagu ujian dan mempelajari lagu baru yang lebih pendek dan menyenangkan setiap minggunya bisa menjadi hal yang efektif dalam proses belajar. Sebetulnya proses belajar yang menyenangkan adalah justru ketika murid tidak sadar bahwa mereka sebetulnya sedang belajar. Waktu terasa singkat dan seperti sedang bermain dan dilakukan seolah tanpa beban.

Secara psikologis murid juga merasakan progres belajar yang lebih cepat, sesuatu yang berukuran mini tapi dapat dicapai oleh murid. Perasaan puas bisa memainkan banyak lagu dapat memotivasi murid untuk mencapai hal yang lebih besar lagi. Murid serasa mendapatkan energi yang baru untuk menyelesaikan proyek yang lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama dalam prosesnya. A confidence & motivation booster! PR seorang guru adalah untuk menggali dan menemukan apa yang dibutuhkan murid sebagai langkah pembelajaran mereka selanjutnya.

Kecil-kecil Cabe Rawit
Ada pilihan lain selain pendekatan tiga buah ujian piano setahun. Untuk menginspirasi Anda, berikut adalah beberapa ide yang mungkin patut dicoba.

1. PROYEK MINI
Pieces, begitu mereka menyebut “lagu” dalam Musik Klasik, tidak selalu harus panjang kali lebar dan tinggi. Selain tiga “lagu” ujian yang sulit, panjang, dan membutuhkan waktu yang lama, secara psikologis Anda perlu menyeimbangkan menu repertoire Anda dengan pieces yang pendek, lebih mudah, menyenangkan, berukuran mini, dan sangat dapat dicapai oleh siswa. Sehingga siswa dapat berkembang secara bertahap setiap minggunya dan menikmati manfaat bermain musik dalam waktu yang singkat. Smaller, faster, often, better.

Hal ini membantu siswa agar tetap termotivasi karena mereka dapat melihat kemajuan mereka week-per-week. Mereka tidak “terjebak” dan dengan bagian yang sama terlalu lama secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama hingga mencapai batas mutlak mereka dan batas kesabaran guru yang perfeksionis.

2. SECONDARY LITERATURE
Pada mulanya secondary literature berfungsi sebagai buku pendamping sebuah metode piano, berisi materi tambahan, referensi, maupun lampiran; yang sifatnya melengkapi materi utama dalam mempelajari piano. Misalnya: performance book, flash cards, sejarah musik, analisa musik, pengetahuan dasar instrumen musik, dan metode mengajar piano (music pedagogy).

Namun dalam perkembangannya, secondary literature mengalami arus modernisasi yang sangat besar di abad ke-21, terutama pada bidang musik pendidikan. Sehingga secondary literature mempunyai literatur yang sangat luas dan menjadi alternatif materi belajar piano yang menyenangkan – khususnya bagi murid yang ingin memainkan musik piano diluar genre Musik Klasik dan event khusus (special occassion). Misalnya: Christmas, Halloween, Thanksgiving, sacred music/hymn, ragtime, favorite tunes all the time, folksongs, nursery songs, love songs – mulai dari genre Jazz, Pop, hingga Rock.

3. PERSONAL REPERTOIRE CHALLENGE
Dunia piano memiliki repertoire* yang paling banyak, luas, dan kompleks dibandingkan dengan repertoire pada instrumen musik lainnya. Karya-karya tsb mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi dalam segi teknik dan musikalitas, yang dianggap sebagai standard kecakapan seorang pianis bertaraf advanced dan mumpuni.

Seorang anak tidak perlu harus selalu memainkan piece yang sulit dan panjang dan menjadi Lang Lang dan Ling Ling. Namun disamping tiga exam pieces, adalah penting untuk membuat keterampilan membaca siswa tetap aktif, menambahkan variasi, serta menggugah minat anak dalam berlatih sesuai dengan personal goalnya. Misalnya: Happy Birthday, Yiruma’s River Flows in You, soundtrack movie, atau bahkan lagu favorit opanya. Tentunya dengan catatan anak tetap tekun melatih semua materi yang diberikan oleh gurunya.

Anda juga bisa melakukan personal repertoire challenge dengan target “A PIECE A WEEK”. Setiap anak berhasil mencapai personal targetnya setiap minggu, Anda bisa menempelkan stiker di chart/list personal repertoire challenge. Jika Anda mempunyai sebuah piano studio dengan 10 anak, Anda bisa membuat proyek yang lebih besar dan melibatkan seluruh murid untuk berkontribusi dalam menyelesaikan 100 pieces dalam dua bulan misalnya. Jika target tercapai, maka akan ada rewardnya.

Repertoire (baca: /ˈrɛpəˌtwɑr/ or /ˈrɛpəˌtwaː/) berasal dari bahasa Perancis “répertoire” atau bahasa Latin “repertorium”, yang berarti sebuah list, kumpulan, atau satu set karya, yang berupa: drama, opera, komposisi musik yang diperankan atau ditampilkan seseorang atau sebuah grup.

Karya yang ditampilkan ini mengusung konsep pertunjukkan yang umumnya sering ditampilkan dan diterima sebagai standarisasi baku dalam dunia seni pertunjukkan (teater, balet, dan musik). Piano repertoire merupakan kumpulan karya musik dari seseorang atau grup yang dimainkan pada instrumen piano.

Kapan Waktu yang Tepat Belajar Piece Baru?

1. MURID PEMULA
Bagi murid pemula yang berusia dini, disarankan untuk memainkan piece yang baru setiap minggunya, karena hal ini akan membuat keterampilan membacanya tetap aktif, anak lebih termotivasi untuk bermain piano, dan melatih kebiasaan berlatih yang baik di rumah.
Perkembangan di awal pembelajaran piano selama dua tahun pertama adalah stage yang paling krusial bagi fondasi dan teknik dasar bermain piano. Konsep yang baru diperkenalkan dan diperkuat setiap minggunya. Ibarat membangun fondasi rumah, anak juga sebaiknya mempunyai dasar yang baik sebelum anak belajar piece dan repertoire yang jauh lebih sulit. Bagi murid pemula semua hal ini dirangkum dalam sebuah METODE PIANO.

Metode piano merupakan materi fundamental dengan instruksi bermain piano step-by-step yang disusun secara sistematis bagi murid tingkat pemula. Fungsi dari sebuah metode piano adalah untuk mengembangkan KONSEP awal sebagai dasar bermusik, serta bermain piano yang baik dan benar bagi pemula.

Dengan adanya metode piano, maka proses awal bermain musik akan menjadi lebih SISTEMATIS dan terarah. Selain itu guru dapat menerapkan fondasi (BASIC) yang kuat untuk kelanjutan studi murid di masa yang akan datang, misalnya: teknik bermain yang benar (postur, posisi duduk, posisi tangan dan latihan jari seperti tangganada) dan membaca notasi balok (nama not, letak not, nilai not).
Suatu metode piano umumnya terdiri dari beberapa buku, misalnya: Lesson Book, Technique/Finger Exercise, dan Performance Book (secondary literature – tidak wajib dimainkan, fungsinya hanya sebagai pelengkap).

2. MURID TINGKAT LANJUT
Bagi siswa tingkat lanjut, waktu yang tepat untuk mendorong mereka memainkan piece yang baru adalah setelah mengikuti ujian atau awal sebelum mereka mempelajari tiga exam pieces yang baru. Mengapa? Karena setelah ujian, murid berada dalam kondisi rileks, sehingga terbuka ruang untuk mempelajari hal yang baru.

Disarankan untuk mendorong siswa untuk memainkan pieces sebanyak yang ia bisa. Berapa banyak? Tergantung kondisi siswa. Guru harus melihat apa yang dibutuhkan siswanya? Antara 5-10 pieces paling tidak sebelum memulai exam pieces grade berikutnya. Tergantung tingkat kesulitannya. Semakin mudah, semakin banyak piece yang dikuasai.
Idealnya murid belajar pieces sekitar 30-40 buah dalam setahun dengan tingkat kesulitan yang bervariasi. Tidak semua repertoire harus dipersiapkan untuk tingkat resital atau kompetisi. Tidak semua repertoire harus sulit – Anda bisa membuat prosentase 50% sulit, 40% sedang, 30% mudah misalnya. Mampu bermain piano dengan sangat baik juga merupakan motivator yang hebat.

Tentunya tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengetahui, bahwa siswa harus berinisiatif lebih aktif dan banyak belajar sendiri secara mandiri. Penting bagi murid untuk menguasai repertoire yang lebih mudah dari level mereka, sehingga mereka memiliki rasa pencapaian untuk mempelajari potongan-potongan baru secara mandiri, menjaga mereka tetap bermain piano, dan membangun kepercayaan dirinya.

PILIH PIECE YANG MANA?
Pilihan repertoire itu sangat banyak, malah terlalu banyak. Namun setiap murid adalah individu yang unik, sehingga pemilihan repertoire juga harus disesuaikan dengan kebutuhan murid. Kecakapan seorang guru lah yang akan membantu pengambilan keputusan, mana kah piano pieces yang terbaik yang sesuai dengan gaya belajar murid. Hal ini relatif dan tidak dapat digeneralisasi. Tergantung dari kondisi murid dan guru.

Beberapa karakteristik ‘fun’ repertoire yang bisa menjadi alternatif dan mendorong siswa untuk belajar pieces yang baru, a.l. melodi yang terkenal/populer, tidak terlalu sulit/mengancam, memuaskan secara musikal – baik untuk dimainkan, maupun untuk didengarkan, dan terakhir repertoire yang menjadi bucket list/pilihan dari murid. Namun ada standard repertoire yang berlaku sesuai levelnya – beginner, intermediate, advanced. Kenalilah standarisasi tsb! Misalnya: Up-Grade – Pam Wedgwood, Pauline Hall Jazz atau Piano Time, dan lain-lain.

Repertoire yang Cocok untuk Murid
Sebuah kelas piano yang terstruktur akan memiliki satu set menu piano repertoire yang lengkap – mulai dari latihan teknik, etude, performance repertoire, dan secondary literature. Ibarat menu makanan – mulai dari hidangan pembuka, menu utama, hingga makanan penutup.

Tentunya dengan kapasitas umur dan kebutuhan murid yang bersangkutan. Apapun piano repertoire Anda, pastikan Anda tidak terjebak hanya pada satu lagu saja selama beberapa periode (stagnant). Usahakan agar menu piano repertoire Anda cukup bervariasi, terstruktur, dan menghasilkan kemajuan yang signifikan bagi diri Anda.
Setiap siswa berbeda, dan guru harus berinovasi sesuai kebutuhan siswanya. Ketika siswa menyukai anime, dia mungkin bisa bicara tentang anime ini dengan panjang lebar. Beberapa bagian yang secara teknis sangat menantang pun tidak menghentikannya sama sekali. Ada kekuatan yang mendorong dirinya untuk terus maju ke level berikutnya yang lebih tinggi.

Memiliki sertifikat mungkin bukan hal yang buruk dan berguna dalam melamar masuk ke sekolah, universitas, pekerjaan, atau keperluan lain yang membutuhkan sertifikat. Namun hal itu mungkin bukan segala-galanya dan bukan representasi dari tingkat keahliannya. Dalam sejatinya, pendidikan musik itu seharusnya menumbuhkan minat dan hasrat anak melalui musik, khususnya piano untuk menjadi manusia seutuhnya. Hal inilah yang akan bertahan sepanjang hidupnya. (*)

Penulis: Jelia Megawati Heru (Master of Musik Education from Fachhochschule Osnabrück Konservatorium, Institut für Musikpädagogik, Germany).

Article Bottom Ad