DR. Hendry Wijaya: Tentang Mengajarkan Dinamika

315

Article Top Ad

Dr. Hendry yang baik,
Saya sangat senang sekali membaca jawaban-jawaban yang diberikan Dr. Hendry kepada para pembaca STACCATO. Terus terang hal itu sangat membantu saya sebagai seseorang yang baru memulai karier sebagai pengajar musik.
Saya baru setengah tahun ini mencoba mengajar piano. Saya pernah lulus Grade 8 Royal dan baru saja mendapat Diploma Royal. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan kepada Dr. Hendry.
Begini, setiap saya mengajar ‘dynamic’ (dinamika), saya selalu mengatakan kepada murid-murid saya bahwa dinamika adalah sesuatu hal yang sangat individual. Setiap tanda dinamika, akan dimainkan berbeda oleh setiap siswa, tergantung seberapa keras dan lembut mereka memainkannya dan bagaimana itu terdengar musically.
Yang ingin saya tanyakan kepada Dr. Hendry adalah, apakah hal itu benar? Apakah memang tidak ada, atau ada, standar untuk ke kerasan dan kepelanan (kelembutan)? Ini saya tanyakan karena saya merasa sangsi dengan keyakinan saya sendiri akan hal itu. Atau mungkin karena saya baru mulai mengajar ya mas? Sekian dulu pertanyaan saya. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih.

Paulus
Solo – Jawa Tengah

Bapak Paulus yang baik,
‘Dinamika’ (atau ‘Dynamic’ dalam bahasa Inggris) adalah hal yang sangat relatif dalam bidang musik. Seringkali kita mendengar seorang guru meminta muridnya untuk memainkan alat musiknya dengan lebih keras atau lembut. Tetapi seberapa keras atau lembut yang dimaksudkan itu kurang jelas, kecuali kalau didemonstrasikan oleh sang guru.
Walaupun kekerasan atau kelembutan sebuah nada sebetulnya dapat diukur dengan sebuah alat pengukur, hal ini tidak akan banyak membantu para musisi yang bermain pada alat musik akustik.

Article Inline Ad

Dinamika itu tergantung oleh banyak hal, antara lain seperti kemampuan alat musik Anda dalam menghasilkan suara, akustik dari lingkungan di mana kita berada, atau bahkan emosi atau perasaan dari para pendengar pada saat itu. Tanda-tanda petunjuk dinamika yang paling sering dipakai pada notasi musik adalah ‘p’ (piano), yang berarti lembut, dan ‘f’ (forte), yang berarti keras. Tanda petunjuk dinamika yang kelihatannya sangat sederhana ini menjadi rumit ketika berbagai variasi dari tanda-tanda yang tersebut di atas ini ditambah atau dikaitkan dengan huruf-huruf lainnya untuk memperjelas dinamika yang dimaksudkan oleh sang komponis.

Berbagai variasi dari tanda-tanda dinamika yang paling umum ini dapat diuraikan secara berurutan seperti yang tertera di bawah ini (dari yang paling lembut sampai yang paling keras):

ppp (pianississimo) = berarti amat sangat lembut
pp (pianissimo) = berarti sangat lembut
p (piano) = berarti lembut
mp (mezzo piano) = berarti lembut sedang (tidak terlalu lembut)
mf (mezzo forte) = berarti keras sedang (tidak terlalu keras)
f (forte) = berarti keras
ff (fortissimo) = berarti sangat keras
fff (fortississimo) = berarti amat sangat keras

Secara wajar, kita hanya memerlukan tanda dinamika antara pp (sangat lembut) dan ff (sangat keras), karena ini sudah mencakup kedua ekstrim yang bunyinya dapat dihasilkan dengan baik oleh alat musik akustik pada umumnya. Untuk memainkan ff, seorang musisi mengeluarkan tenaganya sebanyak-banyaknya untuk menghasilkan suara yang sangat keras.

Apabila tanda fff (amat sangat keras) digunakan, itu biasanya hanya adalah semata-mata untuk menunjukkan emosi dari seorang komponis yang ingin menunjukkan bahwa ia memang ‘betul-betul’ menginginkan seluruh tenaga dicurahkan oleh sang pemain pada bagian tertentu sebagai tanda tercapainya klimaks dari musik yang dikarangnya.
Jadi, janganlah Anda sungguh-sungguh mencoba untuk memainkan suatu musik dengan lebih keras dari ff, karena Anda mungkin akan memutuskan senar pada alat musik Anda.

Tanda fff dalam kasus ini lebih berfungsi secara psikologis bagi sang pemain untuk merasakan puncaknya suatu lagu (efek khusus). Jangan terkejut kalau suatu hari Anda menemukan tanda-tanda ffff, fffff, atau ffffff. Demikian pula halnya dengan tanda-tanda ppp, pppp, dan sebagainya. Tanda-tanda yang sangat ekstrim ini biasanya dapat ditemukan pada musik-musik yang dikarang pada akhir dan sesudah abad ke-19.

Karya Orkestra berjudul Symphony No. 6 (Pathetique), karangan Tchaikovsky, menggunakan tanda dinamika pppppp pada akhir movement pertamanya. Apakah itu mungkin? Tentunya tidak! (kecuali kalau suara yang begitu lembutnya itu dihasilkan oleh mesin atau alat musik digital dengan ‘volume control’ yang sangat sensitif.) Untuk mempermudah Anda dalam memutuskan pemakaian jumlah tenaga berdasarkan tanda dinamika yang diberikan, cobalah untuk memainkan alat musik Anda dengan sekuat tenaga dan anggaplah itu ff. Lalu, mainkan alat musik Anda dengan selembut mungkin dan anggaplah itu pp.

Dengan mengenali ff dan pp dengan baik, itu akan membantu Anda dalam memutuskan kekuatan tenaga yang diperlukan dalam memainkan suatu lagu dalam dinamika lainnya yang terletak di antara dinamika ff dan pp. Jalan yang baru saya sebutkan ini adalah cara yang paling dasar dan mudah untuk banyak orang dalam pengenalan dinamika. Untuk murid tahap pemula, saya rasa cukup bagi mereka untuk mengetahui perbedaan antara keras atau lembut berdasarkan kontras dari suara yang mereka hasilkan yang dapat terdengar dengan jelas perbedaannya.

Setelah memahami pengetahuan dasar dari dinamika ini, para musisi atau murid pada tingkatan yang lebih tinggi dapat senantiasa belajar dalam mengasah kemampuan mereka untuk lebih sensitif terhadap nuansa-nuansa lainnya yang seringkali berkaitan dengan ruangan atau lingkungan di mana mereka berada.

Misalnya, cara memainkan pp dalam ruangan yang kecil akan berbeda bila dibandingkan dengan ruangan gedung konser yang besar. Pada dua ruangan yang akustiknya berbeda, sentuhan dengan tenaga yang sama persis akan menghasilkan warna suara atau dinamika yang berbeda.

Dinamika yang ‘ukurannya’ relatif ini menyebabkan permainan alat musik akustik menjadi lebih menarik karena ini merupakan sebuah “challenge” atau tantangan bagi seorang musisi untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan warna suara yang tidak terbatas banyaknya berdasarkan sentuhan jari-jemari dan kepekaan telinga mereka terhadap ruangan atau gedung konser di mana mereka berada.

Pada alat musik digital, tentunya dinamika dapat dikontrol melalui ‘volume control’ yang ada. Apabila alat musik ini dihubungkan pada sebuah ‘loud speaker’, kemampuan alat musik ini untuk menghasilkan suara yang sekeras-kerasnya akan tergantung pada kemampuan ‘loud-speaker’ yang dipakai.

Sekalipun, alat musik digital mampu untuk mengukur keras atau lembutnya nada dengan sangat akurat malalui ‘volume control’, dinamika tetap memiliki arti yang relatif. Ini berhubung karena volume yang sangat keras pada sebuah ruangan kecil akan menjadi lebih lembut pada ruangan yang lebih besar.

Ini merupakan tugas seorang artis/ musisi dengan telinga yang peka untuk memutuskan banyaknya tenaga atau volume yang digunakan berdasarkan ruangan di mana mereka berada agar dinamika yang dihasilkan, baik itu keras atau lembut, dapat terdengar seperti yang diinginkan pada telinga para penonton atau pendengar (yang mungkin duduk jauh dari Anda), bukan semata-mata pada telinga musisi itu sendiri.

Pada alat musik akustik, dinamika juga tergantung pada ukuran dari alat musik Anda. Piano yang kecil akan memiliki dinamika yang sangat terbatas karena panjang senarnya yang sangat pendek. Sebaliknya, Grand Piano dengan ukuran yang terbesar akan dapat menghasilkan kontras dinamika yang jauh lebih baik.

Oleh karena itu, murid-murid pemula yang beruntung memiliki Grand Piano berukuran besar sejak tahap dini akan memiliki telinga yang jauh lebih peka dan sentuhan yang lebih sensitif karena perbedaan sentuhan yang sangat sedikit akan menghasilkan perbedaan warna suara yang jelas.

Murid-murid yang memiliki piano berukuran lebih kecil seringkali menjadi frustrasi di rumah karena berbagai macam sentuhan yang mereka coba tidak menghasilkan perbedaan suara yang memuaskan seperti yang mereka dengar pada piano milik guru mereka yang mungkin berukuran lebih besar.

Dinamika ff pada piano berukuran kecil (upright) akan menghasilkan suara yang lebih kecil dan tipis dibandingkan dengan ff pada sebuah Grand Piano. Oleh sebab itu, berat sentuhan kita juga perlu disesuaikan berdasarkan keterbatasan dinamika dari ukuran piano yang kita digunakan.

Dari beberapa contoh di atas, kita dapat melihat bahwa dinamika dalam musik itu dipengaruhi oleh banyak hal. Masih banyak lagi faktor-faktor lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu-persatu di sini yang dapat mempengaruhi relatifitas dari dinamika.
Mudah-mudahan beberapa contoh yang saya berikan di atas ini akan memberikan gambaran yang cukup jelas bagi Anda dan para pembaca Staccato lainnya. Selamat dalam menjalankan karier Anda sebagai guru piano.

Salam,

Dr. Hendry Wijaya

 

Doktor Hendry Wijaya menarik perhatian dunia pada tahun 1996 ketika menerima penghargaan “Young Artist Piano Award” sebagai pemenang kompetisi Artist International di Amerika Serikat. Melalui penghargaan ini, ia diberikan kesempatan untuk mengadakan resital perdananya di gedung terkemuka Carnegie Hall, New York, diikuti oleh Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memperoleh sambutan luar biasa dari para pakar musik dunia. Ia dianugerahkan gelar Doctor of Musical Arts (DMA) dari Manhattan School of Musik sebagai penerima beasiswa penuh Presidential Merit Scholarship. Kini ia menjabat sebagai Head of Piano Department di Westminster Conservatory of Musik di Princeton dan pimpinan dari Elly Lim Musik Studio di Jakarta. DR. Hendry sering diundang untuk menjadi juri di berbagai kompetisi piano internasional, seperti Golden Key Festival, Alberti International Piano Competition, Chopin International Piano Competition di Hartford, World Pianist Invitational International Competition dan sebagainya. Di sela-sela kesibukannya, ia meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pembaca STACCATO berkaitan dengan piano, edukasi dan performing. Kirim pertanyaan Anda langsung ke e-mail DR. Hendry Wijaya: [email protected] atau STACCATO: [email protected].

Article Bottom Ad