Menjaga Semangat Latihan Saat Liburan

2

Article Top Ad

Dear Dr. Hendry,
Perkenalkan, nama saya Emily dari Surabaya. Saya seorang guru piano yang ingin meminta saran mengenai satu masalah yang hampir selalu saya hadapi setiap tahun, yaitu ketika musim liburan sekolah tiba.

Yang membuat saya bingung, banyak murid dan orang tua justru memilih untuk menghentikan les piano sementara selama liburan. Padahal menurut saya, masa liburan adalah saat yang ideal bagi anak-anak untuk memiliki waktu lebih banyak untuk berlatih. Mereka tidak lagi disibukkan dengan tugas sekolah, ujian, atau kegiatan akademik lainnya.
Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Setelah liburan panjang berakhir, banyak murid kembali dengan kemampuan yang menurun. Ada yang mainnya jadi tidak lancar, ada yang lupa bagian-bagian yang sebelumnya sudah dikuasai, bahkan ada yang harus mengulang materi yang sama selama beberapa minggu.

Sebagai guru, saya sering merasa sedih dan kecewa melihat kemajuan yang sudah dibangun dengan susah payah selama berbulan-bulan menjadi berkurang hanya karena berhenti berlatih dalam waktu beberapa minggu.

Article Inline Ad

Saya paham bahwa liburan adalah waktu untuk istirahat dan berkumpul bersama keluarga. Namun saya juga percaya bahwa menjaga rutinitas piano, meskipun dalam porsi yang lebih ringan, akan sangat membantu perkembangan anak dalam jangka panjang. Bahkan saya sering berpikir bahwa beberapa murid justru bisa membuat kemajuan yang lebih besar selama liburan jika mereka tetap mengikuti pelajaran dan memiliki waktu latihan yang lebih teratur.

Karena itu saya ingin bertanya kepada Dr. Hendry. Apakah ada strategi yang efektif untuk menjaga semangat murid berlatih piano selama masa liburan? Adakah ide-ide kreatif yang bisa dilakukan guru agar anak-anak tetap termotivasi meskipun sedang tidak bersekolah?
Selain itu, bagaimana cara yang baik untuk menjelaskan kepada orang tua bahwa liburan tidak harus berarti berhenti belajar piano? Apakah ada pendekatan yang dapat membantu mereka melihat bahwa melanjutkan les, atau bahkan menambah frekuensi pelajaran selama liburan, sebenarnya bisa menjadi investasi yang sangat bermanfaat bagi perkembangan musikal anak mereka?

Terima kasih atas waktu dan perhatian Dr. Hendry. Saya yakin banyak guru musik lain yang juga menghadapi tantangan yang sama dan akan mendapatkan manfaat dari nasihat yang diberikan.

Hormat saya,

Emily Indriani

Surabaya

Dear Miss Emily,
TERIMA kasih atas kiriman pertanyaannya. Saya yakin apa yang Anda alami juga dirasakan oleh banyak guru musik di mana-mana. Setiap tahun, menjelang liburan sekolah, kita sering melihat pola yang sama. Jadwal pelajaran dihentikan sementara, waktu latihan berkurang drastis, dan ketika semester baru dimulai, sebagian murid kembali dengan kemampuan yang tidak lagi berada pada titik terakhir sebelum liburan.
Perasaan sedih dan kecewa yang Anda rasakan adalah hal yang wajar. Sebagai guru, kita menghabiskan banyak waktu, energi, dan kesabaran untuk membantu murid membangun keterampilan sedikit demi sedikit. Karena itu, melihat kemajuan tersebut berkurang selama beberapa minggu memang sangat mengecewakan.

Namun, saya kira langkah pertama yang perlu kita lakukan di sini adalah mengubah cara pandang kita terhadap masa liburan. Bagi sebagian besar keluarga, liburan itu bukanlah sekadar waktu luang. Liburan adalah waktu untuk beristirahat dari rutinitas yang padat, bepergian, mengunjungi keluarga, atau sekadar menikmati kegiatan yang berbeda dari biasanya. Jika kita memandang liburan hanya sebagai kesempatan untuk menambah jam latihan, kita mungkin akan mengalami kesulitan dalam memahami sudut pandang dari orang tua dan murid.

Yang lebih realistis adalah menjadikan liburan sebagai masa pemeliharaan keterampilan, bukan masa pencapaian target besar. Dengan kata lain, tujuan utama selama liburan itu bukanlah kemajuan yang spektakuler, melainkan memastikan bahwa kemampuan yang sudah diperoleh itu tidak hilang.

Target Latihan
Salah satu strategi yang cukup efektif adalah memberikan target latihan yang lebih ringan dan menyenangkan. Daripada meminta murid untuk mempertahankan jadwal latihan seperti biasanya, guru dapat memberikan target yang lebih sederhana, misalnya berlatih selama 15 hingga 20 menit per hari. Durasi yang singkat sering kali terasa jauh lebih mudah diterima oleh anak maupun orang tua.

Selain itu, liburan juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan aktivitas yang berbeda dari pelajaran rutin. Murid dapat diajak memainkan lagu-lagu favorit mereka, musik dari film-film, lagu-lagu rohani, musik populer yang sesuai dengan usia mereka, atau repertoar duet bersama anggota keluarga. Variasi seperti ini sering kali membuat piano terasa lebih sebagai kegiatan rekreasi daripada sebuah kewajiban.

Ada guru-guru yang juga berhasil mempertahankan motivasi murid dengan cara memberikan sebuah tantangan selama liburan. Misalnya, murid diminta untuk mengumpulkan sejumlah hari latihan tertentu selama masa liburan, merekam satu penampilan video pendek, atau mempelajari satu karya pilihan mereka sendiri. Tantangan yang bersifat fleksibel biasanya lebih menarik dibandingkan daftar tugas yang panjang.
Mengenai komunikasi dengan orang tua, saya menyarankan agar pendekatannya berfokus pada manfaat jangka panjang, bukan pada rasa takut kehilangan kemampuan. Orang tua umumnya lebih mudah menerima pesan yang bersifat positif daripada peringatan yang bernada negatif.

Sebagai contoh, Anda dapat menjelaskan bahwa keterampilan bermain piano itu sebetulnya mirip dengan olahraga. Seorang atlet tidak harus berlatih dengan intensitas penuh selama masa istirahat, tetapi tetap perlu menjaga kondisi agar tidak kehilangan kebugaran yang telah dibangun. Demikian pula dengan piano. Sedikit latihan yang konsisten selama liburan sering kali jauh lebih bermanfaat daripada berhenti total selama beberapa minggu.

Anda juga dapat menunjukkan bahwa pelajaran selama liburan itu tidak harus sama dengan pelajaran pada masa sekolah. Banyak guru menawarkan format yang lebih santai, jadwal yang lebih fleksibel, atau fokus pada proyek-proyek khusus yang sulit dilakukan ketika murid sedang sibuk dengan kegiatan sekolah.

Dengan demikian, orang tua tidak merasa bahwa mereka hanya “melanjutkan rutinitas biasa”, melainkan memanfaatkan waktu luang anak secara produktif dan menyenangkan.
Menariknya, saya juga pernah melihat beberapa murid yang ternyata bisa mencapai kemajuan yang luar biasa selama liburan. Tanpa tekanan tugas sekolah dan ujian, mereka memiliki energi mental yang lebih besar untuk mendalami musik. Namun hal ini biasanya terjadi bukan karena mereka dipaksa berlatih lebih banyak, melainkan karena mereka menemukan kembali kesenangan dalam bermain piano.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa kunci keberhasilan bukanlah membuat murid untuk berlatih lebih keras selama liburan, melainkan membantu mereka untuk tetap memiliki hubungan yang positif dengan musik. Jika seorang anak masih duduk di depan piano beberapa kali seminggu, masih menikmati permainan mereka, dan masih merasa bahwa musik adalah bagian dari kehidupannya, maka liburan tersebut sesungguhnya sudah berhasil.

Semoga beberapa gagasan ini dapat membantu Anda dan rekan-rekan guru lainnya untuk menghadapi berbagai masa liburan dengan lebih optimis. Mudah-mudahan semakin banyak orang tua yang menyadari bahwa menjaga kesinambungan belajar musik, meskipun dalam porsi yang lebih ringan, merupakan investasi yang akan memberikan manfaat yang jauh melampaui masa liburan itu sendiri.

Salam,

Dr. Hendry Wijaya

DOKTOR Hendry Wijaya menarik perhatian dunia pada tahun 1996 ketika menerima penghargaan “Young Artist Piano Award” sebagai pemenang kompetisi Artist International di Amerika Serikat. Melalui penghargaan ini, ia diberikan kesempatan untuk mengadakan resital perdananya di gedung terkemuka Carnegie Hall, New York, diikuti oleh Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memperoleh sambutan luar biasa dari para pakar musik dunia. Ia dianugerahkan gelar Doctor of Musical Arts (DMA) dari Manhattan School of Musik sebagai penerima beasiswa penuh Presidential Merit Scholarship. Kini ia menjabat sebagai Head of Piano Department di Westminster Conservatory of Musik di Princeton dan pimpinan dari Elly Lim Musik Studio di Jakarta. DR. Hendry sering diundang untuk menjadi juri di berbagai kompetisi piano internasional, seperti Golden Key Festival, Alberti International Piano Competition, Chopin International Piano Competition di Hartford, World Pianist Invitational International Competition dan sebagainya. Di sela-sela kesibukannya, ia meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pembaca STACCATO berkaitan dengan piano, edukasi dan performing. Kirim pertanyaan Anda langsung ke e-mail DR. Hendry Wijaya: HWHW123@aol.com atau STACCATO: mjlstaccato@yahoo.com.

 

Article Bottom Ad