MEMBANGUN karier sebagai pianis profesional adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak bisa diakselerasi secara instan. Musik, khususnya instrumen piano, membutuhkan
kematangan yang melibatkan kombinasi antara keterampilan motorik halus, kedalaman
emosional, dan ketahanan mental. Terburu-buru dalam proses ini justru sering kali memicu kegagalan. Mengapa? Berikut bincang-bincang dengan Boaz Sharon, pianis, artis rekaman, dan profesor piano di Boston University, serta Direktur Studi Piano di Boston University Tanglewood Institute. Ia sering tampil di Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Republik Ceko, dan berbagai negara lainnya.
Seperti apa masa kecil Anda, dan bagaimana Anda mulai tertarik pada musik, khususnya piano?
Musik hadir dalam hidup saya sejak usia sangat dini di Tel Aviv, dan pada usia tiga belas tahun, piano telah menjadi pusat dunia saya. Pada usia itu, saya mulai bepergian ke Brussels untuk berguru kepada Stefan Askenase, seorang penafsir karya Mozart dan Chopin yang legendaris. Bahkan di usia tujuh puluh tahun, ia masih menggelar sekitar seratus konser setiap tahunnya. Melalui ibunya, yang pernah berguru kepada Karol Mikuli, murid Chopin, ia juga memiliki keterkaitan yang luar biasa dengan tradisi musik Chopin. Pengalaman belajar bersamanya sungguh berbeda dari apa pun yang bisa dibayangkan orang saat ini. Setiap kali ia berada di Brussels, saya akan mendatangi Hotel Astoria yang megah dan bersejarah, tempat berkumpulnya para seniman, pelukis, musisi, dan politisi, tempat ia memiliki apartemen yang dipenuhi buku serta dua buah grand piano. Saya tiba pukul sebelas pagi, tepat saat jamuan makan siang ala Prancis dengan lima hidangan, lengkap dengan anggur dan espresso sedang disajikan. Setelah makan siang, Askenase akan tidur siang sejenak sementara saya berlatih. Sesi pelajaran kemudian berlanjut hingga pukul lima atau enam sore, dan setelahnya kami sering berjalan-jalan bersama. Ia tidak pernah memungut bayaran sepeser pun dari saya. Istrinya sering berseloroh bahwa ia sebaiknya memasang papan tanda di depan apartemennya yang bertuliskan: “Stefan Askenase, Pianis Konser dan Profesor. Pelajaran Gratis dan Termasuk Makan”. Tentu saja itu terdengar jenaka, namun hal tersebut juga mencerminkan sesuatu yang penting tentang dirinya. Musik tidak dipandang sebagai komoditas atau sekadar transaksi. Musik adalah jalan hidup yang utuh, yang terdiri dari proses belajar, percakapan, santapan, persahabatan, rasa ingin tahu, dan kemurahan hati. Suasana itulah yang membentuk diri saya, sama besarnya dengan pelajaran musik itu sendiri. Hal itu mengajarkan saya bahwa menjadi seorang musisi bukan sekadar belajar memainkan instrumen, melainkan sebuah cara untuk belajar bagaimana mendengar, berpikir, dan menjalani hidup.
Menurut Anda, apa yang membuat musik piano begitu memikat?
Piano adalah sebuah kontradiksi yang luar biasa. Instrumen ini mampu menghadirkan nuansa orkestra utuh, namun sekaligus dapat berbicara dengan keintiman layaknya suara manusia. Seorang pianis dapat menciptakan berbagai lapisan suara secara bersamaan: melodi, harmoni, ritme, warna suara, dan kontrapung. Dalam artian itu, kami bukan sekadar penampil. Kami juga berperan sebagai konduktor, penyanyi, dan terkadang ilusionis. Hal yang membuat instrumen ini begitu memikat adalah kenyataan bahwa suaranya mulai menghilang tepat saat nada itu dihasilkan. Kami tidak bisa menahan bunyi nada sebagaimana yang dilakukan pemain biola atau penyanyi. Kami harus menciptakan kesan bahwa nada harus terus “bernapas” melalui pengaturan waktu, keseimbangan, penggunaan pedal, dan imajinasi. Keterbatasan itulah yang justru menjadi sisi puitis dari piano. Instrumen ini menuntut kami membuat nada tetap “bernyanyi” bahkan saat suaranya perlahan memudar.
Menurut pandangan Anda, apa yang dibutuhkan kaum muda saat mereka belajar dan membangun karier di dunia piano, baik sebagai pengajar maupun penampil?
Tentu saja mereka membutuhkan disiplin, namun disiplin semata tidaklah cukup. Mereka juga memerlukan rasa ingin tahu, kesabaran, imajinasi, dan keberanian untuk mempertahankan jati diri yang unik. Seorang musisi muda harus menguasai repertoar, memahami gaya dan sejarah, serta mengembangkan teknik yang andal. Namun mereka juga perlu membaca, bepergian, mengunjungi museum, mendengarkan instrumen lain, serta menaruh minat pada dunia di luar ruang latihan. Baik bagi pengajar maupun penampil, komunikasi adalah hal yang krusial. Seorang penampil harus tahu cara menjangkau audiens, sementara seorang pengajar harus belajar cara menjangkau muridnya secara personal, satu demi satu. Karier masa kini juga menuntut ketangguhan dan kecerdasan praktis. Akan ada kekecewaan, perubahan situasi, dan tidak ada satu jalan tunggal menuju keberhasilan. Hal terpenting adalah membangun kehidupan bermusik yang cukup kokoh untuk bertahan menghadapi baik kesuksesan maupun kegagalan.
Seberapa pentingkah karakter permainan individual seorang pianis saat menafsirkan karya komponis besar? Bisakah Anda memberikan contoh pianis yang karakter khasnya sangat memengaruhi pemikiran Anda sendiri?
Karakter individual itu sangatlah penting. Jika sebuah pertunjukan hanya menyajikan nada-nada yang tepat dan mengikuti tradisi yang lazim, pertunjukan itu mungkin layak dihargai, namun jarang akan meninggalkan kesan mendalam. Partitur musik membutuhkan sosok manusia yang hidup di baliknya. Pada saat yang sama, individualitas harus tumbuh dari pemahaman mendalam tentang musik tersebut, bukan dari sikap eksentrik yang dibuat-buat demi efek semata. Stefan Askenase memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran saya. Permainannya memiliki keanggunan, kesederhanaan, dan cita rasa gaya yang alami, terutama saat membawakan karya Mozart dan Chopin. Ia tidak pernah terkesan memaksakan musik atau menonjolkan dirinya sendiri di atas musik tersebut, namun kepribadiannya tetap terasa sangat khas. Itulah sebuah paradoks yang indah: semakin tulus seorang seniman besar mengabdi pada karya sang komponis, semakin jelas pula kita dapat merasakan kehadiran sang seniman itu sendiri
Saat seorang pianis memainkan karya komponis, haruskah ia mengadopsi karakter sang komponis? Bolehkah ia menafsirkan karya tersebut sesuai dengan visinya sendiri? Jika ya, sejauh mana batasannya?
Menurut saya, kita tidak bisa. Atau tidak seharusnya mencoba menjadi sang komponis. Kita tidak mungkin menjadi Beethoven, Debussy, atau Chopin, dan berpura-pura menjadi mereka akan terasa dibuat-buat. Tanggung jawab kita adalah menyelami dunia musik sang komponis sedalam mungkin: memahami bahasa, struktur, gaya, notasi, serta latar belakang sejarahnya, lalu menghidupkan karya tersebut melalui imajinasi kita sendiri. Ada kebebasan yang luas dalam tanggung jawab tersebut, namun kebebasan bukanlah tindakan semena-mena. Batasan-batasannya ditentukan oleh partitur, gaya musik, logika internal karya itu sendiri, serta selera artistik yang baik. Tafsiran yang meyakinkan harus terasa personal sekaligus terasa sebagai satu-satunya pilihan yang tepat. Pendengar harus bisa merasakan bahwa sang pianis telah membuat pilihan- pilihan nyata, namun pilihan-pilihan tersebut juga terasa menyatu secara alami dengan musiknya.
Setiap pianis hebat tampaknya memiliki ciri khas suara, kepribadian, dan identitas artistik tersendiri. Seberapa pentingkah individualitas dalam membangun karier yang sukses sebagai pianis? Apakah keunggulan teknis semata mampu membawa seorang pianis mencapai tingkat tertinggi?
Keunggulan teknis memang diperlukan untuk mencapai tingkat tertinggi, namun hal itu saja tidaklah cukup. Saat ini, kita mendengar banyak pianis muda yang mampu memainkan hampir semua karya dengan tingkat akurasi yang mencengangkan. Itu adalah pencapaian yang luar biasa, namun teknik semata tidak menjelaskan mengapa kita harus mendengarkan seorang pianis tertentu dibandingkan pianis lainnya. Individualitaslah yang mengubah kemampuan menjadi seni. Hal ini dapat terdengar melalui kualitas suara, pengaturan waktu, penataan frasa, pemilihan repertoar, serta visi imajinatif yang mendasari sebuah penampilan. Ini bukan berarti seorang pianis muda harus merekayasa kepribadian atau berupaya tampil beda dengan segala cara. Identitas artistik yang sejati berkembang secara bertahap melalui pengetahuan, pengalaman, dan introspeksi yang jujur. Dalam perjalanan karier yang langgeng, penonton tidak hanya terkesan oleh kemampuan teknis sang pianis, tetapi juga tertarik pada pesan atau gagasan yang ingin ia sampaikan.
Bagaimana seorang pianis mengembangkan karakter permainannya? Faktor apa saja yang memengaruhi dan membentuknya?
Karakter seorang pianis berkembang dari berbagai sumber: temperamen alami, guru, repertoar, budaya, bahasa, kegiatan mendengarkan, dan pengalaman hidup. Bahkan cara seseorang mendengar keheningan atau merasakan waktu menjadi bagian dari permainannya. Guru dapat membimbing proses ini, namun mereka tidak seharusnya menciptakan tiruan diri mereka sendiri. Pengajaran terbaik adalah yang membantu siswa mengenali dan menyempurnakan kualitas-kualitas yang sudah mulai muncul. Repertoar juga sama pentingnya. Mozart mengajarkan kejernihan dan proporsi. Beethoven menuntut struktur dan kekuatan moral. Chopin mengajarkan seni bernyanyi melalui piano. Debussy membuka pendengaran terhadap warna, suasana, dan nuansa sugestif. Seiring waktu, perjumpaan-perjumpaan ini menjadi bagian dari perbendaharaan batin sang pianis. Proses ini tidak bisa dipaksakan. Karakter permainan bukanlah kostum yang bisa dikenakan begitu saja, melainkan hasil musikal dari upaya menjadi diri sendiri sepenuhnya.
Saat mulai mempelajari karya baru, apa yang sebaiknya dipelajari dan didengarkan oleh seorang pianis agar dapat menghasilkan interpretasi yang meyakinkan? Bagaimana Anda sendiri mendekati sebuah karya saat pertama kali mulai mempelajarinya?
Saya memulainya dengan membaca partitur dan berusaha memahami arsitekturnya sebelum larut dalam detail. Ke mana arah musik ini? Apa saja pergerakan harmonik utamanya? Suara mana yang membawa gagasan utama, dan di mana letak titik-titik ketegangan serta pelepasannya? Saya sering mempelajarinya tanpa piano karena hal itu mencegah jari-jari mengambil keputusan sebelum pikiran dan pendengaran turut terlibat. Kemudian, saya mendengarkan dengan saksama kualitas suara, artikulasi, keseimbangan, dan karakter setiap frasa. Saya mencermati tanda-tanda dari komposer, membandingkan berbagai edisi jika perlu, serta mempelajari konteks sejarah dan artistik karya tersebut. Rekaman bisa sangat bermanfaat, namun tidak boleh menggantikan proses penelusuran mandiri. Saya lebih suka membangun hubungan dengan partitur terlebih dahulu, baru kemudian mendengarkan secara selektif, seolah-olah sedang terlibat percakapan dengan penafsir lain, bukan sekadar meminta jawaban dari mereka. Pada akhirnya, interpretasi yang meyakinkan akan muncul ketika analisis dan intuisi tidak lagi terasa sebagai dua hal yang terpisah.
Menurut pandangan Anda, faktor apa yang membuat penampilan seorang pianis benar-benar memikat?
Penampilan yang memikat menciptakan kesan bahwa sesuatu yang esensial sedang terjadi pada saat itu juga. Pianis tersebut memahami strukturnya, namun musiknya tidak terdengar seperti hasil perhitungan semata. Ada persiapan, namun juga spontanitas. Ada kendali, namun juga keberanian mengambil risiko. Kualitas suara sangatlah penting, begitu pula ritme, ketepatan waktu, keseimbangan, dan kemampuan untuk mempertahankan alur musik yang panjang.Yang terpenting, seorang penampil haruslah menyimak. Penonton dapat merasakan perbedaan antara seseorang yang sekadar menyajikan hasil yang telah dipersiapkan sebelumnya dan seseorang yang benar-benar merespons suara yang sedang mengalir saat itu juga. Ketika seorang pianis mendengarkan dengan perhatian penuh, penonton pun mulai mendengarkan dengan cara yang sama. Konsentrasi bersama semacam itu merupakan salah satu pengalaman paling kuat yang dapat tercipta dalam pertunjukan langsung.
Banyak pianis muda memiliki kemampuan teknis yang luar biasa, namun hanya sedikit yang berhasil membangun karier internasional yang signifikan. Berdasarkan pengalaman Anda, apa yang membedakan mereka yang sukses dengan mereka yang tidak?
Tidak ada satu rumus tunggal untuk itu. Keunikan artistik memang krusial, namun ketangguhan, kemampuan mengambil keputusan, konsistensi, keandalan profesional, serta kemampuan untuk terus berkembang setelah meraih kesuksesan awal juga sama pentingnya. Faktor waktu dan kesempatan pun turut berperan, dan kita harus jujur mengakui hal itu. Karier tidak pernah menjadi tolok ukur bakat yang sempurna. Kompetisi tetap menjadi bagian penting dalam dunia ini, sama halnya seperti dalam bidang olahraga. Dalam kondisi terbaiknya, kompetisi dapat memberikan fokus, visibilitas, dan peluang nyata. Saat berusia delapan belas tahun, saya memenangkan Kompetisi Piano Internasional Jaén di Spanyol. Hadiah uangnya memungkinkan saya membiayai studi piano lanjutan di Amerika Serikat, sesuatu yang mungkin tidak akan bisa saya lakukan tanpa kemenangan tersebut. Saya mengenang hal itu dengan penuh rasa syukur hingga hari ini. Kompetisi itu sendiri tidak menciptakan sosok musisi dalam diri saya, namun kompetisi tersebut membuka pintu kesempatan pada saat yang sangat tepat. Hal yang lebih penting setelahnya adalah bagaimana seorang seniman muda melangkah melewati pintu-pintu kesempatan tersebut. Pianis yang berhasil membangun karier bermakna biasanya adalah mereka yang memadukan keunggulan teknis dengan tujuan yang jelas. Mereka terus belajar, mengembangkan identitas artistik yang khas, memilih repertoar secara cerdas, serta menjalin hubungan yang tulus dengan penonton maupun rekan sesama musisi.
Apa peran guru, repertoar, pengalaman hidup, kegiatan mendengarkan, dan pengalaman tampil dalam proses tersebut?
Semuanya sangat penting dan saling berinteraksi secara terus-menerus. Guru yang hebat dapat menghindarkan siswa dari kebingungan selama bertahun-tahun, namun juga harus tahu kapan saatnya memberi ruang bagi siswa untuk mandiri. Repertoar memberikan pembelajaran yang sesungguhnya karena setiap karya besar menghadirkan tantangan musikal dan teknis yang berbeda. Kegiatan mendengarkan mengasah kepekaan pendengaran, tidak hanya melalui rekaman piano, tetapi juga melalui suara penyanyi, orkestra, musisi musik kamar, dan bunyi-bunyian dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman hidup memberikan kedalaman emosional pada gagasan-gagasan yang mungkin awalnya hanya dipahami secara intelektual. Pengalaman tampil kemudian menguji segalanya. Di atas panggung, seseorang dapat mengetahui apakah sebuah interpretasi memiliki “napas” yang hidup, apakah tempo mampu menjangkau seluruh ruangan, dan apakah konsentrasi tetap terjaga di bawah tekanan. Panggung adalah guru yang menuntut, namun sangat jujur.
Sebagai seorang pianis dan profesor piano, nasihat apa yang ingin Anda sampaikan kepada kaum muda yang sedang menempuh studi piano tingkat lanjut?
Jangan terlalu terburu-buru. Bangunlah teknik Anda dengan cermat, namun selalu hubungkan teknik tersebut dengan kualitas suara dan makna musikal. Berlatihlah dengan penuh perhatian dan kesadaran, bukan sekadar mengejar durasi latihan yang lama. Belajarlah untuk mengidentifikasi masalah, dengarkan permainan Anda sendiri secara jujur, serta jagalah kesehatan tubuh dan pikiran Anda. Perluas wawasan di luar piano. Bacalah karya sastra dan puisi, pelajari seni lukis dan arsitektur, dengarkan opera dan musik kamar, serta tumbuhkan minat terhadap sesama manusia. Tampil dan bermainlah di depan umum kapan pun Anda bisa, termasuk dalam suasana kecil dan informal, karena kemampuan berkomunikasi dipelajari melalui komunikasi itu sendiri. Terakhir, jangan mengukur kemajuan Anda semata-mata dengan membandingkan diri dengan pianis lain. Ambisi bisa bermanfaat, namun membandingkan diri dengan orang lain justru bisa dengan mudah menjadi gangguan. Kompetisi yang paling penting adalah dengan diri Anda sendiri sebagai musisi pada hari kemarin.
Bagaimana pandangan Anda mengenai kondisi pendidikan piano di Indonesia saat ini?
Ini adalah kunjungan ketiga saya ke Indonesia, negara yang luar biasa! Berdasarkan pengamatan saya, pendidikan piano di Indonesia memiliki energi yang sangat besar. Terdapat guru-guru yang berdedikasi, siswa yang sangat termotivasi, keluarga yang suportif, serta minat yang terus tumbuh terhadap pertukaran budaya internasional. Langkah selanjutnya adalah terus memperluas akses terhadap instrumen berkualitas tinggi, pelatihan guru tingkat lanjut, kegiatan musik kamar, dan kesempatan tampil secara rutin, sehingga para siswa dapat mengintegrasikan latihan teknis dengan kehidupan bermusik yang luas dan kaya. Dalam kunjungan baru-baru ini ke Medan, saya bertemu dengan pianis sekaligus pengajar Julinda Alinaga, yang pernah mengajar mahasiswa doktoral saya saat ini, Wendelin Kwok. Saya sangat terkejut sekaligus senang saat ia bercerita bahwa ia pernah menyaksikan guru saya sendiri, Stefan Askenase, tampil di Berlin sekitar lima puluh tahun yang lalu. Hal itu menjadi pengingat yang indah bahwa pendidikan musik dibangun melalui hubungan antarmanusia yang melintasi berbagai generasi dan benua. Indonesia merupakan bagian tak terpisahkan dari percakapan musik internasional tersebut.
Menurut Anda, kekuatan apa yang dimiliki siswa Indonesia dalam studi piano?
Siswa-siswa Indonesia yang pernah saya temui menunjukkan keseriusan, kehangatan, sikap hormat, dan kemauan belajar yang kuat. Banyak di antara mereka yang sangat terbuka dan tanggap. Mereka menyimak dengan saksama, bekerja keras, dan merespons dengan cepat ketika suatu gagasan memikat imajinasi mereka. Saya juga terkesan dengan keterbukaan emosional mereka. Hal ini bisa menjadi kekuatan besar dalam pertunjukan jika didukung oleh pemahaman akan struktur dan gaya musik.Tentu saja, kelompok siswa mana pun tidak bisa sekadar digambarkan dengan satu ciri umum saja. Setiap musisi adalah individu yang unik. Namun, saya merasakan antusiasme yang nyata di kalangan siswa Indonesia serta keinginan untuk terhubung dengan dunia musik yang lebih luas sembari mengembangkan jati diri mereka sendiri. Perpaduan antara keterbukaan dan identitas tersebut sangat menjanjikan.
Dari sudut pandang seorang profesor piano dan penampil profesional, bagaimana penilaian Anda terhadap piano Steinway? Apa pendapat Anda mengenai penggunaannya di gedung konser, dan apakah Anda menganggap Steinway sebagai pilihan terbaik untuk pertunjukan konser profesional?
Menurut saya, kualitas piano Steinway tidak tertandingi. Bagi seorang pianis, keunggulan utamanya terletak pada beragam kemungkinan yang ditawarkannya: perpaduan antara kehangatan dan kecemerlangan suara, kekuatan dan keintiman, kejernihan dalam tekstur musik yang rumit, serta spektrum warna suara yang sangat luas. Piano Steinway yang berkualitas prima mampu merespons perbedaan sentuhan yang sangat halus, sehingga memungkinkan pianis membentuk suara dengan presisi tinggi, bukan sekadar memilih antara suara keras atau lembut. Kita juga tidak boleh melupakan suara bas Steinway yang luar biasa dan penuh resonansi, yang memberikan fondasi sekaligus kesan megah pada instrumen tersebut. Di gedung konser, proyeksi suara bukan sekadar masalah volume. Suara harus mampu menjangkau seluruh ruangan tanpa kehilangan karakter dan kejelasan, dan piano Steinway yang disiapkan dengan baik mampu melakukan hal ini dengan sangat luar biasa. Instrumen ini mampu mengimbangi suara orkestra saat memainkan konserto, namun di saat yang sama juga bisa menciptakan nuansa bisikan yang terdengar hingga ke bagian belakang gedung konser. Selama bertahun-tahun, saya telah tampil menggunakan piano Steinway di berbagai tempat, termasuk memainkan instrumen istimewa dan langka di Kansas yang pernah dimainkan oleh Liszt, serta instrumen-instrumen luar biasa saat tur di Siberia dalam kondisi suhu yang sangat dingin. (*)










































