Yohanes Siem ‘Langkah Anak-anak Muda Perlu Didukung’

0

Article Top Ad

GURU piano sebaiknya bergabung dengan asosiasi guru piano untuk memperluas jaringan profesional, mengikuti perkembangan metode pengajaran terkini, serta memberikan kredibilitas yang lebih tinggi bagi karier mereka. Dalam pandangan Yohanes Siem, yang juga pimpinan Asosiasi Guru Piano Bandung, guru-guru piano juga perlu mendapatkan dukungan profesional, untuk memperluas jejaring, dan meningkatkan kualitas pengajaran secara berkelanjutan. Berikut bincang singkatnya di Steinway Family Strory edisi kali ini.

Bagaimaana masa kecil Anda dan bagaimana Anda terhubung dengan musik?
Saya lahir di Bandung pada tahun 1983. Sejak kecil saya tumbuh dan menghabiskan masa kanak-kanak hingga remaja di kota Bandung. Saya belajar piano pertama kali bersama guru pertamanya saya, Stephen Michael Sulungan. Saya juga belajar dengan Iswargia R. Sudarno. Saya mengembangkan kecintaann saya pada musik dengan memperdalam electone, dan pernah saya menjadi salah satu pemenang beasiswa internasional Yamaha Music Scholarship Award in Asia dari Yamaha Music Foundation Japan tahun 2009 bersama empat musisi muda lainnya waktu itu. Salah satunya Isyana Sarasvati. Saya juga pernah terpilih untuk tampil pada Gala Concert di ajang Internationale Klavierakademie Murrhardt pada tahun 2011 di Jerman, dan berkesempatan mendapat bimbingan langsung dari pianis legendaris dunia Dmitri Alexeev dari asal Rusia. Dengan beasiswa senilai 1 juta yen dari Yamaha Music Foundation itu, saya mengambil master di Prins Claus Conservatorium, Groningen, Belanda di bawah bimbingan dosen utama saya, Paul Komen. Saya kembali ke Indonesia sekitar tahun 2015.

Apa saja kegiatan Anda sepulang dari Belanda?
Yang jelas saya aktif di profesi saya sebagai pianis, pengiring, instruktur musik, dan pemusik kamar. Saya berkolaborasi dalam berbagai konser klasik internasional di Bandung, seperti bersama Bandung Philharmonic, resital duet biola dan piano “Now and Forever” bersama pemain biola Shuxiang Yang. Saya juga banyak menjadi juri kompetisi piano tingkat nasional, dan saya juga pengajar di Universitas Katolik Parahyangan, serta pendiri Asosiasi Guru Piano Bandung (AGPB).

Article Inline Ad

Tentang Asosiasi Guru Piano Bandung, kapan asosiasi itu dibentuk dan apa alasan yang mendorong Anda untuk mendirikannya?
AGPB didirikan pada 26 Januari 2018. Ide membentuk AGPB waktu itu karena kita melihat adanya fakta di lapangan bahwa para guru musik di Bandung, khususnya guru piano, belum memiliki wadah resmi yang menaungi mereka. Para guru piano di Bandung cenderung berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya komunikasi dan koordinasi yang terarah. Nah berangkat dari kondisi tersebut, saya bersama beberapa rekan guru piano berinisiatif mendirikan AGPB sebagai organisasi non-profit dengan tujuan untuk menyediakan wadah resmi, menyatukan para pengajar piano di Bandung agar bisa saling terhubung untuk bersama-sama meningkatkan profesionalisme, memfasilitasi pengembangan kemampuan mengajar dan musikalitas guru lewat program edukasi, seminar, dan diskusi bersama. Juga kolaborasi dan sinergi dengan membuka ruang bagi para guru untuk mengadakan kegiatan bersama, seperti tea party, penampilan internal dalam berbagai format, hingga festival piano berskala lebih besar.

Bagaimana respon guru-guru piano di Bandung?
Puji Tuhan, banyak teman-teman yang mendukung dan bergabung. Mereka melihat ini sesuatu yang sangat positif karena menjawab kebutuhan para pendidik piano yang sebelumnya cenderung berjalan sendiri-sendiri. AGPB menjadi solusi atas minimnya wadah pemersatu profesi pendidik musik dan piano di Bandung dimana mereka bisa saling mendukung, berbagi ilmu pedagogi, dan meningkatkan standar profesionalisme pengajaran piano. Banyak guru piano di Bandung dan sekitarnya secara konsisten mendaftarkan diri serta memperbarui keanggotaan mereka setiap tahunnya.

Bisa digambarkan apa saja kegiatan AGPB?
Kita mengadakan berbagai program rutin seperti seminar pedagogi, masterclass, workshop, hingga members gathering yang diselenggarakan oleh asosiasi. Di sisi lain, kita juga menyediakan wadah evaluasi untuk murid melalui berbagai ajang kegiatan seperti AGPB Piano Festival dan Evaluasi Piano Performance untuk memberikan pengalaman panggung serta penilaian yang objektif bagi murid-murid mereka.

Menyatukan atau mengumpulkan guru piano dalam suatu wadah tidak selalu mudah, bagaimana Anda melihat realitas itu?
Betul sekali, karena profesi ini memiliki tingkat fragmentasi latar belakang yang sangat tinggi, perbedaan kurikulum pengajaran, serta adanya kompetensi bisnis yang individualistis. Tidak seperti guru sekolah formal yang terikat oleh satu kurikulum nasional, ekosistem pengajaran piano jauh lebih cair dan kompleks.

Bisa dijelaskan mengapa demikian?
Dari metode pengajaran saja, guru piano terbagi ke dalam berbagai mazhab musik. Ada kelompok klasik murni yang sangat mementingkan pembacaan notbalok dan teknik rigid, kelompok pop ataupun jazz yang lebih fokus pada improvisasi dan akor, hingga penggunaan metode global spesifik seperti Suzuki, Yamaha, atau ABRSM. Perbedaan visi tentang “bagaimana cara mendidik yang benar” sering kali memicu perdebatan metodologis yang sulit disatukan. Belum lagi soal standar kompetensi dan sertifikasi yang bervariasi.

Apa maksud standar kompetensi dan sertifikasi yang bervariasi?
Jujur saja, kita di Indonesia, belum ada standar baku dan tunggal yang bisa digunakan untuk mengukur kelayakan seorang guru piano. Ada guru lulusan konservatori atau universitas musik luar negeri. Ada guru lulusan sekolah musik lokal, ada guru otodidak atau pianis pertunjukan yang membuka les privat berbekal pengalaman panggung, dan sebagainya. Menciptakan satu payung hukum yang bisa merangkul semua tingkatan ini tanpa memunculkan rasa diskriminasi kasta akademik sangatlah menantang hahaha…..

Belum lagi konflik kepentingan bisnis dan kompetisi ya?
Ya betul sekali. Banyak guru piano berperan ganda sebagai pengajar sekaligus pemilik atau pengelola sekolah musik mandiri. Dalam dunia les privat, guru-guru secara tidak langsung berada dalam ranah kompetisi yang ketat untuk memperebutkan murid. Menyatukan mereka dalam satu asosiasi menuntut keterbukaan dan transparansi. Misal, tarif standar atau pembagian wilayah mengajar. Ini sulit dan dilematis karena sering kali berbenturan dengan kepentingan dapur bisnis masing-masing. Belum lagi sifat kerja guru-guru piano yang freelance. Ini menjadi kesulitan tersendiri.

Mengapa menjadi kesulitan tersendiri?
Kita mengetahui bahwa sebagian besar guru piano bekerja secara independen, datang ke rumah murid secara privat atau mengajar dari studio pribadi di rumah. Karena terbiasa bekerja sendiri tanpa keterikatan struktural seperti guru sekolah konvensional, urgensi untuk bergabung dan meluangkan waktu demi mengurus organisasi atau asosiasi sering kali dianggap kurang membawa keuntungan langsung bagi operasional harian mereka. Ya kan? Belum lagi beban profesi guru musik yang juga dipengaruhi oleh kultur masyarakat yang belum sepenuhnya mengapresiasi pendidikan musik sebagai ilmu profesional. Akibatnya, guru sering kali disibukkan oleh urusan mengedukasi orang tua murid yang menuntut hasil instan, atau menghadapi permintaan “harga pelayanan”, harga”pertemanan”, dan sebagainya. Ketimpangan apresiasi ini membuat para guru lebih berfokus pada kelangsungan studio musiknya sendiri dibanding meluangkan energi untuk urusan kolektif.

Jadi, ketika ada guru-guru yang dengan rela bergabung di sebuah asosiasi guru piano semacam AGPB ini misalnya, Anda melihatnya seperti apa?
Menurut saya, hal ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif yang tinggi terhadap pertumbuhan profesional, kualitas pengajaran, dan penguatan ekosistem musik. Mereka tidak hanya ingin sekadar mengajar, tetapi ingin memastikan metode pengajaran mereka tetap relevan. Di dalam asosiasi, mereka dapat memperdalam pedagogi piano, mempelajari kurikulum baru, serta menyelaraskan standar ujian atau sertifikasi agar murid-murid mereka mendapatkan pendidikan musik yang diakui secara luas. Terimakasih untuk teman-teman guru yang telah bergabung di AGPB.

Tak sedikit guru piano enggan bergabung dalam asosiasi. Mereka lebih enjoy mengajar sendiri. Menurut Anda bagaimana?
Saya tidak tahu, karena itu pertimbangan personal. Tetapi menurut saya, justru karena profesi guru piano privat sering kali terasa “terisolasi” karena mereka biasanya mengajar sendirian di studio atau rumah murid, kesediaan untuk bergabung sebenarnya sangat positif. Itu menunjukkan pergeseran pola pikir dari kompetitif menjadi kolaboratif. Mereka melihat sesama guru sebagai rekan sejawat untuk saling berbagi ilmu, bertukar pikiran tentang cara menghadapi murid yang sulit, hingga berbagi modul atau materi ajar. Wawasan menjadi lebih luas.

Di tengah dinia pendidikan musik yang terus berkembang, sejauhmana urgensi sebuah asosiasi guru piano?
Kita melihat bahwa tidak semua guru piano berada dalam strata yang sama, baik secara ekonomi maupun pengetahuan. Sementara di sisi lain, kemajuan jaman selalu pararael dengan tuntutan yang lebih tingi dan berkualitas. Dunia musik dan pendidikan musik pun terus berkembang, mulai dari metode pendekatan psikologi anak, teknik piano kolaboratif, hingga integrasi teknologi dalam pembelajaran musik. Guru yang bergabung secara sukarela dalam sebuah asosiasi memiliki motivasi internal yang kuat untuk terus meningkatkan kompetensi diri demi memberikan yang terbaik bagi siswanya. Itu yang kita inginkan.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada guru-guru piano piano?
Sebagai sesama guru piano, mari seimbangkan antara disiplin teknik klasik dan kebebasan berekspresi yang relevan dengan perkembangan zaman. Pendekatan mengajar piano perlu berevolusi agar musik tetap menjadi hal yang menyenangkan, bukan beban. Jadikan sesama rekan guru sebagai mitra bertumbuh, bukan sebagai kompetitor. Dunia edukasi musik akan berkembang jauh lebih sehat jika kita membangun ekosistem yang saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.

Sebagai pianis, bagaimana Anda melihat banyaknya anak-anak muda kita yang saat ini belajar di luar negeri
Ini sebuah fenomena yang sangat positif, membanggakan, sekaligus menjadi momentum penting bagi perkembangan dunia musik klasik maupun industri musik tanah air secara keseluruhan. Secara keseluruhan, langkah anak-anak muda ini harus didukung penuh. Mereka adalah duta bangsa yang sedang mengharumkan nama Indonesia dan membawa pulang bekal ilmu berharga demi kemajuan masa depan musik Indonesia.

Apa yang bisa Anda pesankan untuk anak-anak muda kita belajar di luar negeri ?
Pesan saya, manfaatkan kesempatan belajar di luar negeri untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya, jaga integritas diri, dan ingatlah untuk kembali membangun bangsa. Negara kita masih membutuhkan banyak anak-anak muda berpendidikan musik tinggi untuk kemajuan dan kejayaan musik di Indonesia.

Sebagai pianis, bagaimana Anda melihat Steinway Piano?
Steinway Piano memiliki produksi suara yang sangat indah, dengan action tuts yang sangat presisi, yang memberikan kontrol penuh bagi pianis untuk mengekspresikan beragam dinamika yang diinginkan, dari yang paling senyap hingga yang paling megah. Steinway tetap piano yang terbaik di dunia. (*)

Article Bottom Ad