Apakah Bermain Piano Dapat Menyebabkan Gangguan Pendengaran?

48

Article Top Ad

Halo Dr. Hendry,
Nama saya Tishia. Saya mengajar piano di sebuah sekolah musik di Jakarta dan sudah berpengalaman mengajar selama kurang lebih dua puluh tahun.
Baru-baru ini ada satu orangtua murid yang bertanya kepada saya mengenai apakah bermain piano itu bisa menyebabkan gangguan pendengaran, terutama kalau berlatih pada piano ukuran besar seperti grand piano yang suaranya cenderung lebih keras.
Terus terang saya baru pertama kali mendengar hal ini dan pertanyaan ini cukup membuat saya khawatir dan saya mulai berpikir jangan-jangan memang betul bahwa suara piano yang keras akan memiliki dampak pada pendengaran kita.
Saya setiap hari mengajar piano di sebuah ruangan kecil dengan piano yang cukup besar dan keras suaranya. Apabila memang betul kekhawatiran yang disampaikan orangtua murid saya itu, dan apakah ada hal-hal yang bisa saya lakukan untuk dapat mengatasi atau setidak-tidaknya mengurangi risiko seperti ini?
Terima kasih sudah memperkenankan saya untuk mengirimkan pertanyaan ini.

Salam sehat selalu,

Tishia W.
Jakarta

Article Inline Ad

Ibu Tishia yang budiman,
Terima kasih atas pertanyaannya yang menarik. Bermain piano itu belum tentu akan menyebabkan gangguan pendengaran. Ini tergantung pada beberapa faktor. Seperti kita ketahui, ada beberapa jenis musik yang menghasilkan suara yang jauh lebih keras dari piano, misalnya musik “rock and roll” yang suaranya dihasilkan melalui loud speaker. Jadi tidak heran apabila banyak musisi “rock and roll” yang mengalami kerusakan pada pendengaran mereka.

Demikian pula dengan para pemain di sebuah orkestra yang bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan orang banyaknya. Bayangkan begitu banyak alat musik orkestra yang berbunyi secara serentak, apalagi kalau pemain tertentu bertempat duduk pas di depan para pemain trompet atau timpani.Lantas, apakah ini berarti bermain piano adalah pilihan yang paling tepat dan aman bagi pendengaran kita? Belum tentu juga. Bermain piano adalah kegiatan yang melibatkan pendengaran dan keterampilan motorik tangan yang rumit. Pianis sering kali terpapar oleh suara yang kuat dari instrumen mereka secara terus menerus.

Piano adalah salah satu instrumen musik yang memanfaatkan mekanisme pukulan palu yang mengenai senar untuk menghasilkan suara. Kekuatan pukulan palu ini dapat bervariasi, tergantung pada seberapa keras tuts piano ditekan. Piano yang dimainkan dengan keras dapat menghasilkan suara yang cukup keras, terutama ketika beberapa tuts ditekan bersamaan. Namun, tidak semua suara yang dihasilkan oleh piano berpotensi merusak pendengaran.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pendengaran kita, antara lain adalah cara kita memainkan piano, jenis lagu yang kita bawakan, jenis dan ukuran piano yang kita mainkan, besar ruangan, jenis lantai yang digunakan, dan lamanya telinga kita terpapar oleh suara yang keras secara terus menerus.

Penting sekali bagi kita untuk memilih ukuran piano yang sesuai dengan besarnya ruangan. Misalnya, grand piano dengan ukuran yang paling besar akan lebih cocok apabila ditempatkan di ruangan yang besar dengan langit-langit yang lebih tinggi. Ini tidak berarti bahwa grand piano ukuran besar tidak dapat kita tempatkan di ruangan yang lebih kecil.
Apabila lantai di ruangan yang lebih kecil itu dialasi oleh karpet dan dilengkapi oleh sofa, tirai yang tebal, dan bahan-bahan lainnya yang menyerap suara, maka suara piano juga akan menjadi lebih kecil dengan gema suara yang terbatas.

Sebaliknya, ruangan dengan langit-langit yang rendah, dinding beton, dan lantai tanpa karpet, akan membuat piano yang ukurannya paling kecil sekalipun terdengar keras sekali.
Memainkan lagu-lagu yang lebih keras tentunya akan memiliki dampak yang kurang baik bagi pendengaran kita. Saya seringkali melihat para pianis yang melatih bagian-bagian tertentu dari sebuah lagu secara berulang kali dengan dinamika yang sangat keras, seolah-olah membanting secara terus-menerus.

Ini merupakan kebiasaan yang kurang baik. Memainkan sebuah bagian lagu berulang kali dengan keras belum tentu akan membuat kita menguasai bagian itu dengan lebih cepat. Sebaliknya, latihan sebuah bagian lagu pada dinamika yang lembut secara berulang kali dengan penuh kesadaran dan konsentrasi yang baik justru akan membuat kita belajar lebih cepat.

Apabila ibu Tishia khawatir apakah suara piano di ruangan mengajar Anda itu berbahaya bagi pendengaran, Anda dapat mengukurnya dengan alat pengukur suara. Saya dengar bahwa sekarang ini sudah ada aplikasi pengukur suara yang dapat kita unduh dengan mudah untuk ponsel pintar kita.

Untuk mengukur tingkat kekerasan suara yang aman, kita dapat menggunakan satuan desibel (dB). Pada umumnya, tingkat kekerasan suara yang tergolong aman untuk jangka waktu yang lama adalah di bawah 85 dB. Pada umumnya, piano yang kita mainkan dengan keras dapat menghasilkan tingkat kekerasan suara antara 60 hingga 70 dB apabila kita dengar dari jarak yang aman.

Namun demikian, grand piano dengan ukuran yang paling besar apabila dimainkan dengan keras dapat menghasilkan tingkat kekerasan suara yang mungkin mencapai 90 dB atau lebih. Apabila kita terpapar oleh tingkat suara yang begitu keras secara berkepanjangan, tentunya akan berisiko bagi pendengaran kita.

Salah satu tanda-tanda bahwa kita sudah terpapar oleh tingkat suara yang berbahaya secara berkepanjangan yaitu apabila kita mulai mendengar suara mengiang-ngiang atau mendenging di telinga kita. Apabila hal ini terjadi, kita harus segera mengundurkan diri dari paparan suara yang keras itu selama beberapa hari, karena apabila kita biarkan saja dengan terus-menerus, ini dapat mengakibatkan masalah pendengaran yang serius seperti suara mendenging yang permanen di telinga kita.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai seorang pianis untuk melindungi pendengaran kita, seperti:
-) Penggunaan pelindung telinga. Kita dapat membatasi suara yang masuk ke dalam telinga kita dengan menggunakan alat pelindung seperti earplugs/penyumbat telinga atau headphones.
-) Menjaga jarak antara kita dan piano, terutama pada saat kita memainkan piano dengan tenaga yang kuat. Memainkan piano dengan suara keras dari jarak yang terlalu dekat dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran. Pastikan untuk menjaga jarak yang aman.
-) Menghindari permainan piano yang keras secara terus menerus pada jangka waktu yang lama. Usahakanlah untuk beristirahat sejenak di antara latihan untuk memulihkan kembali pendengaran kita. Memainkan piano dengan keras secara terus-menerus akan menyebabkan kelelahan pada pendengaran kita.
-) Memilih lagu-lagu yang kita mainkan dengan bijaksana. Pilihlah lagu-lagu atau musik yang tidak terlalu keras atau bombastis untuk menjaga kesehatan pada pendengaran kita.
-) Menggunakan grand piano dalam posisi tertutup. Secara estetis, tentunya grand piano terlihat lebih indah dan megah dalam posisi sayapnya yang terbuka. Orang-orang biasanya lebih suka latihan pada grand piano dengan sayapnya yang terbuka, karena suara yang dihasilkan itu jauh lebih memuaskan. Namun, tergantung dari jenis ruangan yang kita gunakan, mungkin sekali penggunaan grand piano dengan posisi sayap terbuka akan menimbulkan suara yang terlalu keras dan berbahaya bagi pendengaran kita.Apabila suara piano terasa terlalu keras, tutuplah sayap dari grand piano yang Anda mainkan. Anda juga dapat melepaskan rak buku yang biasanya terletak di dalam grand piano dan menempatkannya di atas piano yang tertutup. Dengan demikian, Anda dapat meredam suara yang dihasilkan.
-) Melakukan “voicing” pada piano Anda. Voicing adalah sebuah teknik penanganan palu pemukul senar piano (piano hammer) yang dilakukan oleh para teknisi piano untuk membuat suara piano menjadi lebih bulat dan lembut, terutama pada piano-piano yang sudah tua atau banyak dimainkan sehingga suara piano cenderung menjadi terlalu garing atau melengking, yang tentunya akan terdengar lebih keras.

Demikianlah ulasan dari saya. Semoga membantu ibu Tishia dalam mengambil keputusan yang lebih bijaksana demi kesehatan pendengaran Anda dan murid-murid Anda. Seperti yang saya sampaikan di atas, memainkan piano sendiri itu tidak seharusnya menyebabkan gangguan pendengaran jika dilakukan dengan baik dan bijaksana.

Namun demikian, penting sekali bagi para pianis untuk menyadari risiko yang dapat disebabkan oleh tingkat suara yang keras dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan untuk melindungi pendengaran mereka. Dengan langkah-langkah yang tepat, pianis dapat menikmati musik mereka sebagaimana mestinya sambil menjaga kesehatan pendengaran mereka.

Salam,

Dr. Hendry Wijaya

Doktor Hendry Wijaya menarik perhatian dunia pada tahun 1996 ketika menerima penghargaan “Young Artist Piano Award” sebagai pemenang kompetisi Artist International di Amerika Serikat. Melalui penghargaan ini, ia diberikan kesempatan untuk mengadakan resital perdananya di gedung terkemuka Carnegie Hall, New York, diikuti oleh Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan memperoleh sambutan luar biasa dari para pakar musik dunia. Ia dianugerahkan gelar Doctor of Musical Arts (DMA) dari Manhattan School of Musik sebagai penerima beasiswa penuh Presidential Merit Scholarship. Kini ia menjabat sebagai Head of Piano Department di Westminster Conservatory of Musik di Princeton dan pimpinan dari Elly Lim Musik Studio di Jakarta. DR. Hendry sering diundang untuk menjadi juri di berbagai kompetisi piano internasional, seperti Golden Key Festival, Alberti International Piano Competition, Chopin International Piano Competition di Hartford, World Pianist Invitational International Competition dan sebagainya. Di sela-sela kesibukannya, ia meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pembaca STACCATO berkaitan dengan piano, edukasi dan performing. Kirim pertanyaan Anda langsung ke e-mail DR. Hendry Wijaya: [email protected] atau STACCATO: [email protected].

Article Bottom Ad