Ketika Harus ‘Memecat’ Siswa

159

Article Top Ad

CEPAT atau lambat, setiap guru berhadapan dengan keharusan (atau keterpaksaan) untuk “memecat” atau memberhentikan siswa. Tentu ada banyak alasan mengapa harus melakukannya. Dan jika memang harus memecat siswa, lakukan dengan bijak, jangan emosional dan tempatkan hal itu sebagai salah satu sikap dalam berbisnis. Hal ini akan memperkecil trauma untuk siapa saja.

Memecat siswa barangkali terdengar berlebihan. Akan tetapi, hal itu tidak bisa dihindari dalam proses belajar musik, ketika guru tiba pada situasi dan kondisi yang memang mengharuskan dia memberhentikan siswa. Tentu setiap guru memiliki kriteria dan alasan mengapa ia melakukan hal itu. “Satu hal yang harus dipegang oleh guru dalam hal ini adalah, bertindaklah sebijak mungkin,” kata Martha Beth Lewis, Ph.D., pedagog yang juga konsultan sekolah musik di Amerika.

Bijak itu sendiri, lanjut Martha, memang sebuah pengertian yang tidak bisa didefinisikan secara pasti. “Bijak itu lebih mudah diartikan melalui tindakan kita daripada mencoba mencari definisi yang tepat,” katanya.

Article Inline Ad

Hal pertama yang sebaiknya dilakukan guru ketika ia harus memberhentikan siswanya adalah, jelaskan kepada siswa kenapa ia harus diberhentikan. “Jika Anda harus memberikan komentar, berikan komentar yang berhubungan dengan pelajaran, misalnya output-nya selama belajar dengan Anda selama ini. Ingat, jangan sekali-kali memberi komentar terhadap integritasnya, etika kerjanya, dan kepribadiannya,” kata Martha.

Hal lain yang juga penting adalah, memberikan jalan keluar kepada siswa. “Harus dihindari adanya vested interest Anda, atau faktor-faktor like and dislike dalam hal ini. Memberhentikan siswa, bukan karena Anda tidak menyukai dia, melainkan sebagai jalan keluar dari problem yang dihadapi Anda dengan siswa,” katanya.

Misalnya, tidak adanya perkembangan yang berarti dalam proses belajar. Atau, siswa yang terlalu letih dan tidak kuat dengan kurikulum Anda. Atau tidak cocok dengan kepribadian Anda maupun pendekatan mengajar Anda. “Ini problem yang banyak dialami guru dan siswa,” kata Martha.

Jika seperti itu kondisinya, Martha menyarankan agar memanggil orangtua siswa, dan jelaskan dengan jujur bagaimana situasi dan kondisinya. “Sekali lagi, guru harus bijak. Anda bisa mengatakan kepada siswa bahwa mungkin dia kurang pas belajar piano, dan barangkali siswa lebih cocok untuk belajar instrument lainnya. Atau mungkin Anda perlu merekomendasikan guru lain untuk dia,” kata Martha.

Bagaimana jika siswa atau orangtua siswa tetap ingin belajar dengan Anda? Haruskah Anda menutup pintu begitu saja? Jika menghadapi situasi seperti itu, kata Martha, sebaiknya guru jangan langsung menolak. Apalagi bila yang dihadapi adalah anak-anak.
“Berikan kesempatan kepada dia, katakanlah satu bulan untuk percobaan. Barangkali ada kemajuan. Atau kalaupun ternyata tidak, dan Anda tetap pada keputusan Anda, paling tidak Anda memiliki alasan yang baik untuk memberhentikan dia,” kata Martha.

Pada saat guru memberikan kepada siswa kesempatan untuk mencoba lagi, katakan kepada siswa dan orangtua siswa apa yang dimaksud dengan masa percobaan itu, apa yang harus dilakukan, dan mengapa ini dilakukan, serta apa konsekuensinya, dan rencana apa yang akan Anda lakukan dalam masa percobaan itu.

“Adalah sangat bijak bila guru juga memberikan saran kepada orangtua siswa untuk membantu anaknya di masa percobaan itu, misalnya dengan membantu anaknya belajar di rumah. Katakan hal-hal yang sangat spesifik dalam kaitan itu, baik kepada siswa maupun orangtuanya, kata Martha.

Selama masa percobaan, bersikaplah professional. Sekalipun guru merasa tak punya pilihan lain kecuali memberhentikan siswa sebagai jalan terbaik, tetaplah bersikap sebagaimana mestinya. “Yang ingin saya katakan dalam hal ini adalah, cobalah untuk berpikir positif,” ujar Martha.

Menurut dia, kadang-kadang siswa memperlihatkan antusiasme baru dan kemajuan signifikan setelah Anda “mengancam” akan mengeluarkan dia. Jika memang demikian, guru mungkin perlu menambah masa percobaan itu, sebelum tiba pada kesimpulan yang tepat, apakah siswa tetap harus diberhentikan, atau layak meneruskan belajar dengan Anda.

“Dengan berpikir positif, akan menghindarkan Anda dari tindakan-tindakan emosional, termasuk jika Anda memang merasa bahwa siswa tidak bisa diteruskan belajar dengan Anda,” kata Martha.

Interview Sebelum Keluar
Jika guru sampai pada keputusan untuk memberhentikan siswa, ada baiknya guru memberikan kesempatan untuk wawancara dengan siswa dan orangtua siswa. Gunakan hasil pelajaran terakhir dan evaluasi selama masa percobaan sebagai bahan wawancara itu.
Jelaskan bagaimana hasilnya, dan bila guru sampai pada keputusan untuk memberhentikan siswa, katakana dengan bijak bahwa Anda “tidak dapat melanjutkan untuk mengajar putra atau putri ibu”. Jangan sekali-kali mengatakan bahwa Anda “tidak ingin mengajar putra atau putri ibu”. Ini akan sangat menyinggung perasaan siswa dan orangtua siswa. “Berikan orangtua siswa hasil evaluasi Anda dalam bentuk catatan-catatan, sebagai bukti otentik,” kata Martha.

Adakalanya guru menghindar untuk bertatap muka dengan siswa dan orangtua siswa manakala dia bermaksud memberhentikan siswa, semata-mata untuk menghindari konfrontasi. Jika demikian, saran Martha, tulislah surat. Buatlah sesingkat dan sejelas mungkin, serta seramah mungkin. Jangan bertele-tele, apalagi terlalu banyak mengungkap alasan dan menyalahkan siswa.

Sebaliknya, bersikaplah tenang, ramah dan menyenangkan, misalnya dengan mengucapkan terimakasih karena selama ini orangtua siswa telah banyak mensuport anaknya. “Pendekatan yang tenang, kalem, dan professional, akan membantu mengurangi kemarahan orangtua siswa yang mungkin timbul,” kata Martha.

Memberhentikan siswa, menurut Martha, bisa dipandang dari sisi lain sebagai sebuah keterpaksaan. “Sebagai guru saya bisa merasakan betapa berat ketika saya sampai pada keputusan harus memberhentikan siswa. Dengan kata lain, pada dasarnya saya ingin selalu melihat murid-murid saya berhasil, tetapi ketika itu tidak memungkinkan, maka memberhentikan murid dan memberi mereka jalan keluar, jauh lebih baik daripada membiarkan murid dan juga guru sendiri berada dalam dilema, selama murid belajar dan selama guru mengajar. Ini seperti dokter yang harus mengamputasi pasien yang menderita diabetes, jika memang tidak ada pilihan lain dan demi kebaikan pasien,” katanya.

Karakter Pemecatan
Bukan hal aneh jika “pemecatan” atau “pemberhentian” lebih berkonotasi negatip. Ada nuansa tidak enak, terutama bagi yang dipecat atau yang diberhentikan. “Disinilah, saya katakan sejak awal, perlu kehati-hatian, kebijaksanaan dan profesionalisme dari guru. Saya ingin mengatakan bahwa, hindari emosi dan dendam. Artinya, berhentikanlah siswa tanpa perasaan dendam, dan lakukan itu tanpa perasaan bersalah. Bagaimanapun waktu Anda sangatlah berharga. Gunakan itu untuk siswa-siswa yang memang sungguh-sungguh ingin belajar dan ingin maju,” kata Martha.

Martha menambahkan bahwa memberhentikan seorang siswa sebaiknya dilakukan dengan manusiawi. Kuncinya adalah: selamatkan muka siswa dan orangtuanya. “Meskipun Anda tahu kejelekan, kelemahan siswa dan orang tua siswanya, dan mungkin merasa lebih baik mengatakannya terus terang, alangkah baiknya bila itu dihindari. Tidak ada orang yang merasa nyaman bila kelemahannya dibeberkan, sekalipun itu bertujuan baik,” kata Martha.
Memberhentikan siswa tanpa perasaan dendam, memiliki manfaat yang lain. Paling tidak, sekalipun mungkin orangtua siswa dan siswa kecewa, Anda boleh berharap bahwa mereka masih memiliki respek dan rasa hormat yang baik terhadap Anda. “Anda bisa mengatakan bahwa sekalipun Anda sekarang tidak mengajar, Anda masih rindu untuk bisa bertemu kembali,” kata Martha.

Bagaimanapun, lanjut Martha, memecat atau memberhentikan siswa bagi seorang guru, bukanlah sesuatu yang mudah, dan seringkali menjadi sebuah pengalaman yang menyakitkan bagi siswa, keluarganya, dan juga guru sendiri. “Akan tetapi, di atas semua itu, ada hal yang harus menjadi pertimbangan guru. Yakni, bahwa memberhentikan siswa bisa dilakukan bila Anda menghargai diri Anda, waktu Anda, kerja
keras Anda, dan apa yang harus Anda berikan kepada siswa-siswa Anda. Buatlah ruang belajar siswa Anda untuk siswa-siswa yang berdedikasi, dengan memberhentikan siswa-siswa yang tidak sesuai dengan standard Anda,” kata Martha. (Dien W. Rini)

Article Bottom Ad