AKHIR Mei 2007. Pagi itu saya diterima ibu Latifah Kodijat-Marzoeki, di kediamannya di Jl. Kesehatan, Jakarta Pusat, untuk sebuah wawancara yang sudah diagendakan sebulan sebelumnya.
Sambil menunggu kedatangan muridnya, ibu Latifah menerima saya ditemani teh hangat. Kami berbicara panjang lebar tentang pengalaman beliau sebagai pianis, pengajar, dan penulis buku. Sesekali kami tertawa dengan joke-joke ibu Latifah dari pengalaman panjangnya sebagai pianis, pendidik, dan penulis buku.
Tanggal 12 Nopember 2021 siang, kawan-kawan di Jakarta mengabari saya bahwa ibu Latifah telah meninggal pada Kamis malam 11 Nopember 2021, tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke- 93 pada 12 Nopember. Innalillahi wainnaillaihi rojiun. Dunia musik klasik Indonesia kehilangan sosok penting. Ibu Latifah meninggalkan tiga anak yang semuanya sudah berkeluarga: Naindra Erica Kodijat, Ardito Marzoeki Kodijat dan Bianti Witiara Kodijat.
Menurut Naindra, di usia senjanya ibu Latifah tidak pernah berhenti aktifitas rutin dan berusaha untuk bisa melakukan segalanya sendiri walaupun harus duduk di kursi roda dikarenakan kekeroposan tulang punggung. Setiap bangun pagi, ibu Latifah selalu mendengarkan musik klasik melalui CD di sisi tempat tidurnya. Setelah mandi, sarapan, minum vitamin, beliau duduk di ruang kerja beliau yang disebut “Kamar Piano”. Menjelang siang duduk di teras rumah sambil minum kopi dan membaca koran Jakarta Post, majalah Time, atau majalah National Geography.
Setelah makan siang, ibu Latifah kembali ke “Kamar Piano” melanjutkan kegiatan membereskan dokumen atau bermain piano, walaupun dengan kondisi mata dan pendengaran yang sudah menurun, dan juga kekakuan di ruas ruas jari-jarinya beliau tetap bermain piano, karena bagi beliau bermain piano adalah bagian dari terapi mengisi kekosongan harinya dan ketenangan hatinya.
“Di tahun 2021 ini ibu Latifah masih mengkaji ulang dan mengoreksi buku Tangganada dan Trinada dan pada bulan September 2021 beliau menerbitkan Tangganada dan Trinada edisi ke-21,” ujar Naindra. Sampai dengan sebelum beliau terkena penyumbatan di otak kirinya pada tanggal 3 November, Ibu Latifah masih terus menelepon dengan anak-anak, kolega musik, dan juga rekannya yang dulu adalah muridnya.
Bagaikan Oase
Di dunia pendidikan musik di Indonesia, khususnya piano, Latifah Kodijat-Marzoeki, ibarat oase yang mengalirkan air jernih dan menyegarkan. Tempat nyaman dan teduh bagi siapa saja yang ingin beristirahat dalam perjalanan panjang. Tempat dimana setiap orang bisa dengan leluasa bersandar, bertanya, berkeluh kesah, dan menumpahkan segenap perasaan, keletihan, kegundahan, dan keresahan.
Latifah Kodijat juga seperti sumur tanpa dasar, dimana setiap orang bisa “mengambil air” dari kedalaman ilmunya. Dengan senyum khas-nya, ia selalu membuka tangan bagi siapa saja yang ingin mengambil manfaat dari ilmu yang dimilikinya. Sebab, hanya itulah yang bisa ia wariskan: sebuah ilmu yang bermanfaat.
Ia menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi siapa saja yang bergerak di dunia pendidikan musik. Tak mengherankan bila setiap hari, di rumahnya yang tenang di kawasan Jl. Kesehatan, Jakarta Pusat, silih berganti berdatangan murid-muridnya yang sebagian besar adalah guru untuk memperoleh percikan ilmu, nasihat dan keteladanannya.
Pianis yang juga guru piano, Ingrid M. Cahya merasa kehilangan atas wafatnya ibu Latifah. “Beliau memperjuangkan kemerdekaan setiap insan bangsa kita agar dapat bermusik dengan baik. Bermusik adalah hak bagi semua orang, demikian semboyannya,” kata Ingrid.
Menurut Ingrid, dengan latar belakang yang dimiliki, ibu Latifah berusaha membuat metode pengajaran piano dengan pendekatan yang sangat Indonesia. Terlihat dari pemilihan gambar tokoh pada buku metode piano yang dihasilkan, keberadaan lagu anak-anak Indonesia di dalamnya, hingga pendekatan pengajaran bagi pemula. Ibu Latifah membuat suatu terobosan besar. Sebuah pemikiran yang sangat orisinil mengenai pengajaran piano dengan cara Indonesia.
Selain itu, Ibu Latifah juga sangat banyak memberikan support bagi pianis dari berbagai generasi. Termasuk hadir dalam berbagai konser, masterclass, seminar, dan juga mengajak guru-guru muda untuk berdiskusi dalam menyiasati perkembangan pendidikan piano masa kini.
Sementara itu Direktur Konservatorium Musik Jakarta yang juga pianis, guru piano dan konduktor, Iswargia R.Sudarno mengaku mengenal Ibu Latifah Kodijat lebih dari separuh usianya. “Sejak pertama kali bertemu, saya melihat beliau sebagai sosok yang mempunyai perhatian sangat besar terhadap perkembangan musik di tanah air, khususnya musik klasik. Sebagai seorang pedagog, hal ini tentunya sangatlah wajar. Seorang pedagog pastinya akan mencurahkan energinya kepada dunia pendidikan di tempatnya berkegiatan. Perkembangan pendidikan musik di Indonesia sewajarnya akan memberi kontribusi yang amat sangat besar terhadap kegiatan dan kemajuan seni musik itu sendiri,” kata Iswargia.
Saat masih sering menjadi juri kompetisi dan ujian di berbagai kota di Indonesia, kata Iswargia, Ibu Latifah selalu membuat catatan pribadi mengenai siswa-siswi dan pianis-pianis muda yang diujinya. Oleh karena itu, beliau selalu ingat pianis-pianis muda mana saja yang berprestasi dan bagaimana perkembangan masing-masing pianis. Bahkan setelah tidak aktif lagi menguji, beliau selalu menyempatkan diri untuk datang ke berbagai konser-konser, dan masih selalu mengingat dan memperhatikan pianis-pianis muda mana saja yang berpotensi. Setiap kali bertemu, beliau selalu bertanya, “Murid kamu yang ini sekarang di mana, bagaimana, sedang main apa…”. Ini menunjukkan perhatian beliau yang begitu besar terhadap perkembangan musik di sini.
Satu hal yang membuat terharu, lanjut Iswargia, adalah saat suatu hari beliau di usianya yang sudah sepuh menyempatkan diri datang ke Konservatorium Musik Jakarta, untuk memberikan buku-buku musik dan partitur yang sudah tidak digunakannya lagi, dan beberapa dokumen lainnya. “Lendi, saya juga mau kasih kamu ini. Saya tidak tahu harus taruh di mana, dan mungkin sebentar lagi saya juga tidak memerlukannya lagi”, demikian ujarnya. Beliau memberikan saya sebuah map plastik, yang ternyata berisi lembaran program dan ulasan konser-konser saya di surat kabar/majalah sejak tahun 1990-an lalu. Saya tak menyangka begitu besarnya perhatian beliau yang sangat tulus terhadap saya,” kata Iswargia yang merasa sangat kehilangan sosok yang menjadi panutannya selama ini.
Ibu Latifah berpulang di usia yang sangat lanjut, 93 tahun. Beliau memiliki kesadaran dan inteligensi yang sangat prima hingga akhir hayatnya, yang telah dipenuhi dengan berbagai kegiatan yang sangat bermanfaat bagi dunia musik klasik, khususnya musik piano di Indonesia. Buku-bukanya tentunya masih akan memberikan manfaat bagi kita semua. “Beliau telah meninggalkan kita semua, namun tetap memberikan kerinduan dan kehilangan di hati saya, terutama bila mengingat semangat dan energi yang selalu dipancarkannya saat membicarakan musik kepada kami para penerusnya. Beristirahatlah dengan damai Bu Latifah, semangat Ibu tidak akan pernah pudar bersama kami dan para penerus kami!” kata Iswargia.
Pianis yang kini menetap di Singapura, Marie Alamrie terkejut dan sedih mendengar ibu Latifah berpulang. Saat masih tinggal di Indonesia, Marie hampir setiap saat mendampingi ibu Latifah. “Beliau sudah sepreti orangtua saya sendiri. Beliau sosok pendidik sejati, sangat peduli terhadap kemajuan setiap murid. Beliau juga sangat berdedikasi penuh dan memiliki disiplin diri yang tinggi, semangat beliau tidak pernah pudar walaupun di usia renta. Beliau adalah sumber insiprasi bagi saya dan setiap guru musik, utamanya piano. Semangat dan kepedulian beliau akan selalu hidup di dalam setiap kami anak-anak didiknya,” katanya.
Jejak yang Tetap Hidup
Dilahirkan di Indragiri, Sumatera-Riau tahun 1928. Latifah mula-mula mendapat pendidikan pianonya dari Hennie Geist, seorang guru piano berkebangsaan Belanda di Sukabumi. Latifah kemudian belajar ke Tine Droop, yang juga guru piano dan salah satu pendiri sekolah musik “Yayasan Pendidikan Musik” di Jakarta.
Pada tahun 1949 ia berangkat ke Eropa, khususnya negeri Belanda, untuk meneruskan pendidikan music pianonya di bawah bimbingan guru-guru piano terkenal seperti Jaap Spaanderman, yang juga seorang guru besar piano/ensemble-playing and conducting, disamping mantan dirigen Orkes Symphonie Arnhem (AOV).
Tahun 1952 ia lulus ujian “Degree Superieur” dari College Musical Belge di Antwerprn dengan predikat “Grand Distinction”. Pada tahun 1954 ia mendapat ijasah Konservatorium dari Muziek Lyceum Amsterdam. Pada tahun yang sama ia kembali ke Indonesia. Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1954, Latifah mengajar piano dan piano-pedagogy di Bandung, sebelum kemudian pindah ke Jakarta tahun 1964 dan menjadi pengajar privat serta pengajar tetap di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM) sampai tahun 1978 dan mulai tahun 1988 ia masih aktif di Yayasan Musik Jakarta.
Selain mengajar dan memberikan seminar, ibu Latifah juga menjadi panitia ujian piano dan anggota juri pada berbagai festival dan kompetisi piano di berbagai kota besar di Indonesia. Di panggung-panggung pertunjukan, Latifah Kodijat berpasangan dengan pianis Charlotte Panggabean, melakukan banyak konser untuk memperkenalkan musik piano untuk empat tangan dan musik piano duo piano.
Di tengah kesibukannya mengajar, memberi seminar, menjadi juri dan penguji, serta menyaksikan konser-konser piano, ia masih sempat menulis buku tentang musik dan khususnya tentang musik piano. Ia mulai menulis buku sejak tahun 1961 dan sampai sekarang telah menghasilkan banyak buku, dan satu set kartu kilat musik. Semua bukunya telah mengalami cetak ulang beberapa kali, yang menunjukkan bahwa tulisan-tulisannya memang sesuatu yang sangat dibutuhkan di dunia pendidikan musik Indonesia.
Sang oase itu telah berpulang, tetapi jejaknya tetap hidup. Menyuburkan dunia pendidikan musik di Indonesia. Selamat jalan, Ibu Latifah Kodijat. (Eddy F. Sutanto)









































