GIG

123

Article Top Ad

SEORANG Gitaris perempuan yang hebat, namanya Ana Vidovic, asal Croatia, bilang bahwa jika ingin meniti karir sebagai Gitaris, syarat mutlaknya adalah memiliki cinta yang luar biasa pada Gitar dan dunianya.

Pendapat ini tak hanya berlaku bagi Gitar, namun berlaku juga bagi setiap pemusik apapun instrumen musiknya, termasuk penyanyi. Kenapa harus ada rasa cinta yang luar biasa pada alat musik dan dunianya? Ya karena kehidupan sebagai pemusik itu sangat berat. Latihan berjam-jam tiap hari, manggungnya belum tentu setahun sekali.

Manggung inilah yang sebetulnya menjadi inti pokok kehidupan seorang pemusik. Perform. As a Performance. Untuk apa? Ya tentu untuk cari nafkah. Dalam menjalani kehidupannya, seorang pemusik, yang hidup murni dari musik memiliki 2 jenis lahan penghasilan. Konser dan/atau Resital serta GIG.

Article Inline Ad

Gig ini sebetulnya ya performance. Tampil. Manggung. Lalu apa bedanya dengan Konser dan/atau Resital? Begini. Konser itu penampilnya banyak. Resital penampilnya fokus satu atau dua saja. Baik Konser maupun Resital, mengusung idealisme pemusiknya. Jadi Konser/Resital biasanya akan disponsori sambil Jual Tiket. Dalam event semacam itu, Pemusik bebas main musik apapun yang dia suka dan dia hayati. Yang hadir ya mau tidak mau suka atau tidak suka “menikmati” sajian yang sudah dirancang si Pemusik bersama Team kreatifnya.

Lain halnya dengan Gig. Gig itu Pemusik atau bisa juga Group Musik, dipesan oleh orang yang punya satu atau beberapa hajat untuk main. Banyak orang mengira bahwa Gig ini hanya ada di ranah musik Popular. Padahal, pemusik Klasik, seperti sajian Biolin Piano, Ensemble kecil, kerap juga melakukan Gig. Hanya memang di Indonesia, yang Klasik seperti itu kalah pamor dengan yang Cuma 1 Piano 1 Penyanyi, atau satu Keyboard, beberapa penyanyi.

Kenapa bisa kalah pamor? Ya faktornya banyak. Tapi intinya, Gig itu berbeda dengan Konser/Resital karena saat Gig, idealisme si Pemusik tidak ada lagi. Dia 100% harus menurut kehendak orang yang menyewa dia. Dari mulai pilihan lagu, sampai gaya busana pun sesuai dengan permintaan si empunya hajat.

Menjadi menarik untuk menelisik sedikit lebih dalam mengenai apa sih sebetulnya motivasi orang sewa pemusik untuk hajatannya? Kita akan meninjau dulu di jaman kuno. Jamannya Beethoven, Chopin itu sudah ada Gig. Beethoven sering dipakai dalam Gig yang diadakan para bangsawan maupun para pangeran.

Pada saat Gig, Beethoven harus main dengan mempesona yang hadir. Lalu kenapa si pangeran atau bangsawan harus sewa Beethoven? Ya karena Beethoven itu ajaib. Jadi yang menyewa akan mendapat prestise, sanjungan, pujian, karena bisa menyewa seorang pemusik genius. Tidak berhenti sampai disitu, demi prestisenya, pemusik yang hebat seperti Beethoven, dijadikan “pengisi tetap” acara si bangsawan dan si pangeran.

Hidupnya dijamin, dikasih makan enak, duit dan happy-happy. Dalam rangka apa? Ya prestise itu tadi. Supaya si bangsawan dan/atau si pangeran naik status sosialnya menjadi lebih tinggi lagi karena dianggap memiliki kemampuan ekonomi dan cita rasa seni yang hebat. Hal semacam itu masih terjadi sampai di jaman kita sekarang ini.

Ambil contoh saja satu hotel. Tiap malam di Music Lounge-nya ada Gig. Hanya Piano main sendirian. Kadang pemain pianonya kalau sedang happy ya nyanyi, kadang juga main musik tanpa kata saja. Meskipun tamu tamu hotel berlalu lalang dan sama sekali tidak memperhatikan Gig dari si pemain piano, ada saatnya ketika Gig tersebut menjadi penentu keberhasilan promosi dari pihak Hotel.

Yakni manakala ada instansi atau orang kaya kurang kerjaan yang ingin meeting secara privat. Mereka akan duduk dulu berlama lama di Music Lounge Hotel. Untuk apa? Mengamati sajian musiknya. Jika pemain pianonya seperti anak grade 2, jelas ini hotel cita rasanya agak diragukan. Para penyewa private akan langsung nyinyir tanya berbagai macam hal. Misalnya, apa bisa disediakan pianis yang seperti ini, itu, anu, dan seterusnya. Namun jika pianisnya berkelas, mereka akan langsung Direct Booked dan meminta pihak hotel untuk menampilkan si pianis dalam bookingan acaranya. Dan ini tentu sebuah keberhasilan promosi.

Latah
Ada banyak alasan dan faktor yang menyebabkan orang mengadakan Gig bagi Pemusik. Yang paling umum adalah karena latah. Punya hajatan nikahkan anaknya. Atau mengkhitan sunat anaknya. Dia lihat biasanya teman temannya ada Live Music selagi ada acara begituan. Dia latah. Ikut ikutan. Untuk Gig yang model begini lazimnya honor pemusik akan sangat murah. Si empunya hajat akan menawar milyaran kali. Karena toh baginya kehadiran musik dalam hajatannya hanya pelengkap karena dia ikut- ikutan. Bagi pemusik, ada harga ada rupa. Kalau tidak rugi, ya angkat deh. Yang penting ada yang dibawa pulang. Hal begini sudah jamak dan menjadi bagian tak terpisahkan dari hiruk pikuk dagangan musik.

Lain lagi ada yang seperti jaman Beethoven. Si empunya hajat ingin menghunjukkan status sosialnya. Ia ingin prestise. Jika dia punya uang banyak, dia akan pilih artis legendaris atau artis yang sedang rame naik daun. Pokoknya yang bayarannya fantastis. Misal 8 milyar rupiah untuk 5 lagu. Ini misal saja. Atau jika uangnya tidak begitu banyak, atau bisa saja dia punya pikiran lain untuk spend uangnya, dia akan pilih pemusik dan/atau penyanyi cover si artis legendaris. Tentu bayarannya tak se-fantastis Sang Legenda. Bagi Pemusik itu sendiri, sangat tidak gampang untuk bisa laku dalam Gig sebagai penampil cover. Saingan sudah terlalu banyak. Terlalu banyak orang yang ingin dapat Gig. Anda harus terkenal karena sebuah tindakan sensasional terlebih dahulu baru bisa dilirik untuk bisa memperoleh Gig sebagai pemusik cover.

Sebetulnya, Gig adalah sebuah ajang yang cukup menjanjikan. Di jaman seperti sekarang ini, jika akan Konser atau resital, mencari sponsor bagai mencari kuman dalam jerami. Sangat sulit. Gig menjanjikan secara finansial. Meski tentu ada idealisme musik yang harus dikorbankan.Ya memang hidup tak bisa untuk mendapatkan semua sekaligus. Bertalian dengan hal tersebut, menjadi menarik untuk sedikit mengungkap bagaimana keadaan finansial sebuah Gig. Apa yang sering menjadi biang kerok dalam sebuah Gig.

Hal pertama tentu adalah fee. Tentang fee ini cukup unik. Yang meng-hire tentu tidak akan pernah mau membayar lunas. Karena bisa saja si pemusik ingkar tak datang. Jadi pasti akan diberikan DP saja. Lazimnya disertai dengan secarik kertas dan/atau skrinsyut percakapan Whatsapp. Tentu ini maksudnya sebagai sebuah fakta berkekuatan hukum jika nantinya timbul perseteruan. Persoalannya, alur finansialnya itu begini : DP – Pemusik Perform – Pelunasan. Nah… Pelunasan ini bisa saja yang punya hajat ngemplang tak mau bayar. Jangan mengira orang tajir melintir pasti akan bayar lunas. Sering terjadi, dengan semilyar alasan dan pembenaran mereka berdalih. Hasil akhirnya, dengan alasan semilyar komplainan, mereka akan memberi pelunasan namun lebih kecil dari yang disepakati.

Hal lain yang kerap terjadi adalah, pelunasannya bisa lebih dari seminggu. Alasannya basi, ini lah, itu lah, dan lain-lain. Di sini posisi bargaining pemusik sangat lemah. Meski ada secarik kertas bermaterai cukup, bisa saja terjadi wanprestasi. Mau menuntut ? Hmm… ngimpi. Ingat, yang dihadapi orang banyak duit.

Dalam Gig, Pemusik memang serba salah. Misalnya saat requestnya banyak tapi gak ada extra tips. Waaah… Dilema ini. Mau minta tambahan nanti gak dipakai lagi. Gak minta tambahan, tenaga dan skill nya sudah terkuras. Selain itu bisa saja jam performance nya ngelantur sampai dua jam misalnya, dari kesepakatan. Ini akibat requestnya yang mau nyanyi banyak banget. Mau minta extra charge ? Gak usah macam macam. Nanti akan dijawab,“ Lho yang nyanyi banyak kan berarti skill musik kamu dihargai. Itu peluang bisnis di kemudian hari “.

Belum lagi jika ada tamu undangan yang sok pintar. “saya mau nyanyi Mabok Janda. Main di E minor yaaaa”. Pas di E minor eeeee kerendahan. Melotot. Berbisik : “Kamu ini baru ya”. Doktrinnya memang ya cuekin saja yang penting dapat fuluuuz. Tapi bagi pemusik, yang notabene adalah pekerja seni, hal semacam itu merupakan gangguan yang setara dengan Bullying. Hmm….

Benang merah yang terajut dan nampak menjadi penting dari rangkaian paparan panjang lebar di atas, adalah : Bahwa tips- tips untuk cara mendapatkan Gig, harus dipertanyakan lagi. Di Youtube, Google, Medsos ada banyak sekali bahkan terlalu banyak tips untuk bagaimana pemusik mendapat Gig. Dari yang menyebar banyak itu, intinya hanya dua saja. Bahwa untuk mendapat Gig: pemusik harus mengaktualisasi diri dan, jika ada artis atau group beken berusahalah untuk bisa main bersama.Ya.. minimal sepanggunglah.

Mari kita cermati. Aktualisasi diri. Instagram. Facebook. Bikin Channel Youtube, kalau perlu bayar orang untuk boost agar subscribernya ratusan juta. Bikin namecard. Email proposal ke EO, PT, teman. Berhasilkah? Ya. Dengan kemungkinan 1 dibanding setrilyun! Lho? Kok?! Ya gampang saja. Saingannya sudah terlalu banyak Dan…. ada faktor penentu. Yakni, mesti tenar dulu, baru orang melirik. Itu trend jaman now. Orang sudah tidak mengapresiasi teknik permainan karena hidup sudah sedemikian sulit. Gak ada waktu untuk mengapresiasi, mengasah cita rasa seni bunyi musik.

Kemudian hal tentang kolaborasi dengan pemusik yang sudah beken. Haha… Emang ada yang mau? Persaudaraan dalam musik itu cuma slogan basi dan bau. Ingat. Gig itu uang. Dan, ini dalam ranah industri musik yang keras dan sangat tidak ramah. Adanya malah nanti dimanfaatkan oleh artisnya. Ide Ada dicuri doang. Tragis dan miris. Jaman sekarang ini sudah Homo Homini Lupus. Manusia adalah Serigala bagi sesamanya. Seluruh dunia sudah susah. Hidup cemas. Kejar uang yang tak kunjung dapat karena krannya dibumpet oleh para cukong.

Gig sebetulnya adalah alternatif yang bagus untuk cari nafkah bagi pemusik selain dagangan online yang juga sudah berat persaingan dan lajunya. Persoalannya, adalah bagaimana sebetulnya membuat ruang agar sebanyak mungkin pemusik, apapun genre dan kemampuannya, bisa dapat Gig.

Pemerintah sebetulnya pernah menggagas agar Gig bisa dijadikan Ekonomi Kreatif. Hotel dan Resto yang gedongan dihimbau untuk ada Live Music seminggu 2 kali. Himbauan ini sebetulnya disambut gembira oleh para pengusaha Hotel, Resto dan tempat hiburan. Masalahnya, ketika ditawarin, pemusiknya yang besar kepala. Minta bayaran lebih tinggi dari langit. Ya memang serba susah sih. Ada yang bilang, kalo new comers jangan mahal mahal dulu lah. Lho… tapi mau sampai kapan dibilang New Comers. Itu masalahnya.
Bicara tentang Gig seperti bicara tentang benang kusut. Siapa yang bisa mengurai. Dan apakah memang perlu diurai. Jawabannya… tanya pada alat musik masing-masing. (*)

Penulis :Michael Gunadi Widjaja (Pemerhati Musik)

Article Bottom Ad