
MEMILIKI anak yang cerdas dan berprestasi tentulah impian semua orangtua. Tak terkecuali Lidiana Bunyamin. Bagi pianis dan guru piano yang juga pimpinan Jakarta International Music Academy (JIMA) sekaligus orangtua dari Nathasia Djong ini, faktor terpenting bagi semua keberhasilan di bidang apapun adalah, adanya motivasi yang kuat diiringi dengan kemauan untuk belajar, kedisplinan dan komitmen jangka panjang dalam melakukannya. Dengan kombinasi semua faktor tersebut, sebuah proses belajar apapun, niscaya akan menemukan keberhasilan. Berikut bincang singkatnya dengan STACCATO.
Bagaimana masa kecil ibu dan bagaimana ibu terhubung dengan musik?
Saya bukan berasal dari keluarga musisi. Saya generasi pertama yang bisa main musik di keluarga saya. Papa saya bisa main musik tapi hanya otodidak. Sewaktu umur 6 tahun saya menonton sebuah film Korea, jaman dulu pakai parabola, ada seorang cewek cantik banget bisa main piano. Tapi karena persaingan ketat, banyak musisi lain menghalalkan segala cara untuk menang termasuk menjebak pianis ini, dengan mengunci ruangan latihan, begitu kira-kira. Karena filemnya seru, saya tertarik sama piano untuk pertama kalinya. Saya minta papa daftarkan saya les. Namun mama menentang karena saya anak pertama, semua memanjakan saya. Kata mama, itu hanya kesenangan sesaat saya hahaha… Jangan diturutin. Apalagi belajar musik itu cukup mahal dan hanya dari kalangan atas yang bisa menikmati. Hari demi hari tiap kali saat makan, jari-jari saya mengetuk-ketuk meja makan layaknya saya memainkan tuts piano. Papa saya melihat hal itu dan langsung bilang, besok kita trial piano di salah satu sekolah musik di Medan.
Bagaimana perasaan Anda saat itu?
Senang banget hahaha….Sejak saat itu lah my journey of music begin, walaupun keluarga besar tidak ada yang setuju saat papa saya membelikan saya piano. Semua berpendapat piano mahal. Tapi papa saya orang berpendidikan dan berwawasan luas. Beliau berpendapat jika anak sudah minta, kita kasih support, karena kita hanya bisa investasikan ilmu ke anak. Jika investasi harta, belum tentu kelak anak pinter kelolanya. Sejak saat papa saya belikan piano hubungan papa dengan keluarga menjadi renggang karena ada perdebatan, mereka merasa kita sok- sokan hahaha… Namun sejak melihat saya berhasil sampai seperti sekarang, semua cucu saudara-saudara papa saya, bisa main piano semua hahaha… Semua meniru. Mungkin saya menginspirasi mereka.
Kapan Anda mulai mengajar?
Saya mengajar sejak tahun 2005, jadi sudah 21 tahun lebih. Saya melihat murid saya yang saat itu masih pakai rok merah, sekarang sudah berkeluarga. Bahkan beberapa murid saya saat ini anaknya les lagi sama saya. Dulu mengajar mamanya, sekarang mengajar anaknya hahaha….
Kenapa memilih piano? Apa yang menarik dari piano?
Saya memilih piano karena saya senang dengan suara dan teknik memainkannya. Piano itu alat musik yang memiliki jangkauan nada luas, lengkap, dan mandiri sehingga pemain dapat memainkan melodi dan akord sekaligus, menghasilkan ekspresi emosi dan dinamika suara yang sangat kaya. Piano juga cocok bagi anak-anak yang pertama kali belajar musik karena instrumen ini menyajikan visual nada yang lurus dan logis, memudahkan anak menghasilkan bunyi yang bersih tanpa teknik rumit, serta efektif melatih koordinasi motorik dan kerja sama otak kiri-kanan secara simultan. Itu juga menjadi tantangan bagi saya sebagai guru piano, bagaimana mengajar murid-murid dari nol, dari tidak tahu, sampai mereka bisa tahu dan lulus ujian dengan nilai yang baik, bahkan menjuari beberapa kompetisi piano bergengsi.
Apa filosofi Anda, baik sebagai pribadi maupun pengajar musik, khususnya piano?
Sebagai pribadi dan pengajar piano, filosofi saya berakar pada keyakinan bahwa musik adalah media pembentukan karakter, kejujuran emosi, dan ruang aman untuk bertumbuh. Musik bukan sekadar soal teknik yang sempurna, melainkan cerminan dari jiwa yang terus belajar mengenali diri sendiri dan terhubung dengan orang lain secara tulus. Membentuk karakter, rasa percaya diri, dan kecintaan murid pada seni jauh lebih utama daripada sekadar mengejar hafalan lagu.
Bagaimana filosofi Anda dalam menyeimbangkan latihan teknis dengan repertoar pembelajaran?
Latihan dasar sebagai pondasi disiplin, sedangkan repertoar adalah ruang ekspresi jiwa. Keduanya berjalan selaras ibarat merawat akar dan menumbuhkan buah, di mana teknik memberi kekuatan struktur, sementara repertoar memberi makna pada proses belajar. Mengajarkan tahapan kecil secara konsisten tanpa memaksakan hasil akhir yang instan.
Bagaimana pendekatan yang Anda lakukan dalam mengajarkan keterampilan dasar kepada siswa dewasa dan anak-anak?
Berdasarkan usia peserta didik, karena motivasi dan cara belajar anak-anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Untuk anak-anak, belajar sambil bermain. Tiap anak juga berbeda-beda. Proses belajar si A, si B si C juga berbeda cara ngajarinnya. Mungkin kalau ke si A kita belajar sambil bermain dia akan anggap kelas ini kurang serius. Jadi main-main, lalu kapan bisa nya? Kalau kasus seperti itu biasa saya analisa anak dulu. Ini anak pakai pendekatan yang mana. Tegas, disiplin, tapi tetap happy dalam belajar atau harus disiplin sekali. Untuk anak-anak kecil, saya memiliki metode sendiri yang saya ciptakan dan telah saya praktekan untuk murid-murid kecil di sekolah musik saya, Jakarta International Music Academy.
Bagaimana Anda mengintegrasikan teori musik, pelatihan telinga, dan membaca notasi ke dalam pengajaran?
Saya menggabungkan teori musik, latihan pendengaran atau ear training, dan membaca notasi secara bersamaan dalam satu waktu. Ketiga hal ini saling mendukung dan tidak diajarkan secara terpisah. Tangganada, aural test itu penting sekali dalam pembelajaran musik. Di Jakarta International Music Academy kita memiliki kelasnya masing-masing, untuk piano, ear training dan teori.
Metode atau kurikulum apa yang paling nyaman Anda ajarkan?
Di Jakarta International Music Academy kita menggunakan Faber Piano Adventures karena kurikulum piano ini yang paling nyaman dan sering direkomendasikan untuk diajarkan. Tingkat kenyamanan ini bergantung pada kecocokan materi dengan usia dan gaya belajar murid. Sedangkan untuk faktor penentu progress seorang murid itu berbeda-beda tergantung dari hasil ketekunan latihan dan mereview kembali pelajaran yang di ajarkan. Anak yang latihan tiap hari pasti akan berbeda progressnya dengan anak yang latihan seminggu sekali.
Bagaimana Anda menangani siswa yang bergumul dengan konsep atau karya yang sulit?
Untuk menghadapi siswa seperti itu harus sabar dan kreatif. Biasanya saya akan bedah lagu itu menjadi bagian-bagian kecil terlebih dahulu. Fokus pada satu baris dan bagian kecil-kecil. Kadang latihan pisah tangan. Pahami konsep dari karya tersebut terlebih dahulu serta latihan dengan tempo pelan, tidak langsung latihan dengan tempo aslinya. Jika kelihatan ada progress, biasanya murid harus diberikan apresiasi, dipuji, dan lain-lain, sehingga mereka akan berpikir wahhh…lagu susah aja aku bisa, sehingga mereka lebih percaya diri. Sedangkan untuk pendekatan multi sensori untuk konsep yang sulit, saya gunakan analogi-analogi.
Misalnya?
Jika siswa kesulitan memahami dinamika, misalnya crescendo, saya gunakan analogi seperti “pesawat yang sedang lepas landas”. Jika kesulitan memahami artikulasi staccato, saya menyebut seperti “menyentuh sesuatu yang panas”. Untuk konsep teori atau ritme yang rumit, saya biasa gunakan tepuk tangan, ketukan kaki, atau gambar visual sebelum mereka mencobanya di atas tuts piano. Kadang saya meminta siswa untukmenyanyikan melodi lagu tersebut. Jika mereka bisa menyanyikannya dengan benar, biasanya jari mereka akan lebih mudah mengikutinya.
Strategi apa yang Anda gunakan untuk memotivasi siswa yang terus-menerus gagal berlatih atau malas?
Kami menggunakan strategi Metode Micro-Practicing dimana kami meminta siswa berlatih cukup 5–10 menit sehari, daripada 1 jam langsung. Lalu targetkan per baris, dengan memfokuskan untuk menguasai 1 atau 2 baris lagu saja per hari, bukan satu lagu penuh. Saya biasanya meminta murid hanya duduk di kursi piano dan membuka buku. Biasanya mereka akan lanjut bermain, dan minta tolong orangtuanya untuk mendampingi tanpa menghakimi. Baru pencet salah, sudah mulai di marahin. Jangan ya, karena hal ini akan membuat anak merasa minder dan merasa tidak berbakat sehingga membuat mereka malas latihan jika ada mamanya.
Bagaimana mengidentifikasi gaya belajar unik siswa dan menyesuaikan metode pengajaran Anda?
Sebagai seorang pengajar sekaligus owner Jakarta International Music Academy, saya diprogram untuk menganalisis respon, kecepatan belajar, dan preferensi yang ditunjukkan siswa selama berinteraksi. Berbeda murid akan berbeda pendekatan. Untuk murid di bawah 4 tahun, kita akan gunakan kode warna untuk notasi, panduan video demonstrasi penempatan jari, dan ilustrasi visual untuk menjelaskan dinamika lagu, seperti tanda crescendo. Sendangkan untuk anak umur diatasnya, kita bisa melatih mereka menghafal notasi, membaca dan di praktekan ke lagu-lagu pendek. Di usia ini anak-anak sudah bisa memahami teori musik, menghitung ketukan secara matematis, dan suka mencatat petunjuk atau instruksi pada buku musik mereka.
Bagaimana perasaan ibu mempersiapkan siswa untuk ujian, festival, dan pertunjukan konser?
Wahhh… ini emosi nya campur aduk hahaha… Ada rasa deg-degan, cemas, dan bangga. Jujur sebagai seorang guru kita pasti menginginkan hasil terbaik saat lomba, festival maupun konser. Namun saya tidak pernah menargetkan juara dan nilai untuk murid-murid saya. Pesan saya hanya, lakukan yang terbaik maka kamu akan memetik hasilnya nanti. Jangan pikirin target terus. Yang ada malah anak-anak jadi grogi dan kurang maksimal saat lomba karena fokusnya sudah berbeda. Yakin dan percaya jika kita melakukan sesuatu dengan senang hati dan rileks, hasilnya pasti maksimal.
Berkaitan dengan prestasi dan pencapaian putri Anda, Nathasia, yang meraih Grade 8 ABRSM dalam usia 10 tahun, bagaimana itu terjadi?
Saya melihat bahwa keberhasilan Nathasia adalah buah dari kerja keras, dan kedisiplinan latihan sejak usia sangat dini. Sebelumnya, Nathasia sudah meraih Grade 5 di usia 5 tahun sehingga tercatat sebagai peserta termuda yang mengambil ujian grade 5, sampai-sampai saat saya mendaftarkan Nathasia, pihak penyelenggara menyuruh saya memastikan bahwa tahun kelahiran benar atau tidak hahaha… Saya menjawab benar pak, karena ini anak saya.
Apa makna dari pencapaian Nathasia di Grade Grade 8 ABRSM ini?
Sebagai gambaran umum, kualifikasi Grade 8 ABRSM merupakan tingkat kemahiran tertinggi dalam sistem ujian musik klasik standar Inggris sebelum memasuki jenjang Diploma. Tingkat ini umumnya baru dicapai oleh siswa usia remaja akhir, mahasiswa musik, atau pengajar piano tahap awal. Namun di usia 10 tahun Nathasia telah menyelesaikan program ini, saya sebagai orangtuanya tentu merasa bangga sekali dan bersyukur atas ketekunan dan disiplinnya dalam berlatih sehingga bisa lulus Grade 8 dalam usia yang masih sangat muda.
Sebagai guru piano, apa yang membahagiakan ibu?
Sebagai guru piano, yang membahagiakan saya, banyak sekali hahaha…Banyak momen-momen dimana saya merasa bahagia. Misalnya, ketika melihat siswa saya berhasil melewati kesulitan teknis, saat saya melihat mulai tumbuhnya rasa cinta yang mendalam murid-murid saya terhadap musik, dan mereka mampu bermain dengan penuh perasaan serta ekspresi diri yang jujur. Saya juga bahagia melihat murid-murid saya sukses tidak hanya di bidang piano, tapi di bidang-bidang lain. Saya telah mengajar selama 21 tahun dan saya menyaksikan murid-murid saya banyak yang sudah sukses. Ada yang jadi dokter, memilki klinik dan buka praktek sendiri. Ada yang jadi notaris, chef, psikolog, auditor… wah sudah hebat-hebat semua deh. Saya bangga. Jika saya perlu bantuan, tinggal telepon mereka saja hahaha…
Apa harapan ibu sebagi guru musik/piano kepada murid-murid?
Harapan saya mereka menemukan kegembiraan dalam bermusik, membangun karakter yang kuat, dan menjadikan musik sebagai bagian dari kehidupan mereka untuk jangka panjang. Guru tidak hanya fokus pada teknik bermain yang sempurna, melainkan juga pada pertumbuhan pribadi sang murid secara keseluruhan. Melalui musik mereka bisa belajar tentang kedisplinan, kesabaran, ketekunan, tanggungjawab dan kreativitas.
Terimakasih atas bincang-bincangnya.
Terimakash juga dari saya atas kesempatannya.
Semoga memberi inspirasi bagi siapa saja yang berkecimpung dalam pengajaran musik di tanah air kita, khususnya pengajaran piano. Juga bagi para orangtua yang saat ini anak-anaknya sedang belajar musik. (eds)













































