Dr. Hendry Wijaya-Belajar di Dua Guru

363

Article Top Ad

Yth. Dr. Hendry,
Saya seorang ibu rumah tangga dengan dua anak, usia 38 tahun. Pada waktu usia SD sampai dengan SMA saya pernah belajar piano (guru privat), total sekitar 8 tahun. Setelah lulus SMA saya berhenti total main piano, sampai kuliah dan bekerja. Setelah sekitar 7 tahun berhenti total, saya mulai main piano lagi. Karena saat ini tidak lagi bekerja di kantor, saya tertarik untuk memperdalam piano kembali, karena saya merasa bahwa teknik bermain dan penjiwaan lagu saya masih kurang memuaskan. Selain itu saya juga ingin bisa mengajar di kemudian hari.

Mula-mula saya mendaftarkan diri di sekolah musik yang menggunakan “teknik modern”– sebut saja sekolah musik A. Pada waktu itu saya berpikir bahwa karena usia saya yang sudah cukup “tua”, saya memilih teknik modern yang “menjanjikan” dapat belajar dengan cepat. Karena mereka belum juga membuka kelas baru setelah saya tunggu beberapa bulan (dan tidak ada prediksi waktu kapan akan ada kelas karena menunggu group), akhirnya saya mendaftarkan diri di sekolah musik yang masih menggunakan “teknik tradisional” karena saya tidak mau membuang-buang waktu. Sebut saja sekolah musik B.

Di sini saya bisa langsung memulai pelajaran. Setelah belajar beberapa bulan, sekolah musik A memberitahu saya akan adanya kelas baru. Saya tidak ingin meninggalkan sekolah musik B karena sebenarnya saya merasa puas dengan cara pengajaran guru saya dan ternyata saya juga bisa mendapatkan kemajuan (yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan karena “faktor usia” seperti saya sebutkan sebelumnya).

Article Inline Ad

Karena rasa ingin tahu saya tentang “teknik modern” di sekolah musik A, akhirnya saya memutuskan untuk mengikutinya, tanpa meninggalkan sekolah musik B. Hal ini belum pernah saya diskusikan dengan guru saya di sekolah musik B, karena saya tidak ingin beliau berpikir bahwa saya kurang puas dengan pengajarannya. Jadi saat ini saya belajar di dua tempat yang berbeda secara bersamaan.

Dr. Hendry, yang ingin saya tanyakan adalah, apakah yang saya lakukan saat ini “melanggar” peraturan sekolah musik pada umumnya? (Setahu saya di sekolah musik A maupun B tidak ada peraturan tertulis yang melarang siswa untuk belajar musik di sekolah lain, akan tetapi saya tahu ada juga sekolah musik yang melarang siswanya untuk belajar di sekolah lain).

Kalau hal itu sebenarnya wajar-wajar saja, apakah sebaiknya saya memberitahu salah satu atau kedua guru saya mengenai kondisi saya sebenarnya, untuk mencapai hasil yang optimal? Apabila di kemudian hari saya ingin menjadi guru di salah satu sekolah musik tersebut, apakah dengan belajar di dua tempat seperti yang saya lakukan saat ini (yang notabene menggunakan pendekatan yang berbeda), akan menjadi hambatan di dalam penerimaan dari pihak sekolah? Sekian dan terima kasih banyak atas perhatiannya.

Salam,
Nancy P.
Jakarta

 

Ibu Nancy yang Budiman,

Saya dapat merasakan bagaimana bingungnya Anda dalam menghadapi masalah ini. Saya yakin bahwa ada pembaca STACCATO lainnya yang juga pernah atau sedang mengalami masalah yang serupa.

Pada zaman sekarang ini, semakin banyak guru-guru atau sekolah-sekolah musik yang menawarkan sistem pengajaran dengan “teknik modern” yang menjanjikan Anda untuk dapat belajar dengan cepat dalam waktu yang singkat. Bahkan berbagai rekaman dan buku-buku yang menjanjikan Anda untuk dapat segera bermain piano dalam jangka waktu 24 jam pun mulai bermunculan.

Mudah sekali bagi orang-orang awam atau profesional sekalipun untuk tergiur oleh tawaran-tawaran yang sedemikian menarik. Bukankah kita semua hidup pada zaman yang semuanya berjalan serba cepat dalam jangka waktu yang terasa semakin lama semakin singkat? Orang-orang berpikiran, kenapa tidak mengikuti “teknik modern” yang dapat menghemat waktu kita dalam berlatih untuk mencapai sukses?

Walaupun kebanyakan dari iklan-iklan yang demikian hanya semata-mata salah satu cara dari guru-guru atau sekolah-sekolah musik untuk memancing murid-murid baru, memang ada sejumlah kecil dari guru-guru yang sebetulnya sanggup mengajar murid-muridnya untuk dapat bermain alat musik pilihan mereka dalam waktu yang sangat singkat.

Namun demikian, saya merasa prihatin terhadap siswa-siswi, terutama tingkat pemula, yang ter-‘exposed’ oleh sistem pengajaran teknik modern ini, karena ada banyak tingkatan-tingkatan yang sebetulnya penting dalam pembentukan teknik dasar permainan alat musik yang terloncatkan atau tersingkirkan sama sekali. Akhirnya, siswa-siswi ini memang sanggup memainkan alat musik dengan cepat, namun memiliki fondasi yang tidak kuat, yang dapat menjadi penghambat di kemudian hari apabila sang murid memutuskan untuk melanjutkan pendidikan musik pada jenjang yang lebih tinggi.

Karena Ibu Nancy memiliki latar belakang yang berbeda, dimana Anda sudah pernah belajar piano selama kurang lebih 8 tahun, saya merasa tidak ada salahnya kalau Anda merasa penasaran dan ingin mengikuti kursus di sekolah musik A, yang menggunakan “teknik modern” ini. Saya menganggap bahwa ibu memiliki setidak-tidaknya dasar permainan piano yang cukup baik melalui kursus Anda selama 8 tahun dengan sistem tradisional. Dengan waspada, gunakanlah kesempatan Anda di sekolah musik A untuk memperbandingkan kelebihan dan kekurangan antara sistem pengajaran tradisional dan modern. Dengan demikian, suatu hari nanti Anda akan menjadi seorang guru yang bijaksana dalam memutuskan cara mengajar yang terbaik untuk murid-murid Anda.

Manjawab pertanyaan ibu mengenai pengambilan kursus di dua sekolah yang berlainan secara bersamaan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pada umumnya, jarang sekali ada sekolah musik yang melarang murid-muridnya untuk belajar di sekolah musik lain. Yang menjadi masalah di sini adalah dalam segi moral dan etis. Kalau guru Anda di sekolah musik B mengetahui bahwa Anda juga belajar di sekolah musik A tanpa pemberitahuan Anda, mungkin guru Anda di sekolah musik B ini akan merasa agak tersinggung atau kurang dipercayai.

Demikian pula sebaliknya. Perasaan yang negatif antara guru dan murid ini tentunya akan menghambat sistem belajar dan mengajar terhadap murid. Dalam kasus ini, yang pasti dirugikan adalah murid itu sendiri. Jadi, saya sarankan, usahakanlah agar Anda menjelaskan situasi Anda ini secara jujur kepada guru-guru Anda, baik di sekolah musik A, maupun sekolah musik B, sebelum guru-guru Anda mengetahui segala sesuatu tanpa pemberitahuan Anda.

Saya yakin bahwa guru yang baik akan mengerti keadaan yang sedang dialami muridnya. Bahkan guru Anda mungkin akan membantu untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Yakinkanlah guru Anda di sekolah musik B, bahwa Anda juga belajar di sekolah musik A semata-mata karena rasa keingintahuan Anda akan “teknik modern” dan tidak ada hubungannya dengan kepercayaan Anda terhadap guru di sekolah musik B.

Perlu juga ditekankan kepada guru di sekolah musik B bahwa Anda merasa sangat puas dengan apa yang pernah diajarkan selama ini. Mengenai guru di sekolah musik A, guru itu seharusnya mengerti karena memang sekolah itu sendiri yang telat memulai kursus mereka. Dengan demikian, Anda telah menghindari kemungkinan adanya kesalah-pahaman di kemudian hari yang dapat menghambat hubungan antara murid dan guru.

Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan apabila Anda memang ingin melanjutkan kursus musik pada kedua sekolah secara bersamaan yaitu, antara lain:

1. Meskipun guru Anda tidak berkeberatan atas kemauan Anda untuk belajar di dua sekolah musik, apakah Anda memiliki waktu yang cukup banyak untuk latihan piano dengan bahan latihan yang dua kali lipat banyaknya dari dua sekolah yang berbeda? Waktu latihan yang cukup adalah sangat penting. Kalau Anda tidak latihan secukupnya, sistem pengajaran yang sebagaimana pun akan sia-sia hasilnya.

2. Walaupun Anda sanggup mengatasi waktu latihan Anda, mungkin sekali Anda akan menghadapi konflik dengan dua cara pengajaran yang berbeda. Anda mungkin harus bermain piano dengan satu cara pada sekolah A dan dengan cari lain pada sekolah B. Apakah Anda siap untuk menghadapinya?

3. Kalau situasi memungkinkan, usahakanlah agar Anda memberi informasi kepada guru Anda akan pelajaran-pelajaran baru yang diajarkan oleh guru yang lain sebagai perbandingan. Dengan demikian, guru Anda dapat mencari jalan tengah atau memberikan penjelasan yang fair/ adil untuk menghindari konflik akan sistem pengajaran yang mungkin berlawanan. Hal ini tentunya tidak memungkinkan apabila Anda mengambil kursus yang bukan privat (kelompok/ group).

Kekhawatiran ibu akan tidak diterimanya untuk menjadi guru di salah satu sekolah ini di kemudian hari adalah sebetulnya tidak perlu. Saya yakin bahwa semua guru di sekolah musik A itu sendiri, dengan sistem pengajaran yang modern ini, pernah mengikuti sistem pengajaran tradisional pada masa yang lalu. Sebaliknya, sekolah musik B akan melihat bahwa pengetahuan Anda terhadap “teknik modern” sebagai suatu kelebihan yang dapat diambil segi positifnya dalam pengajaran sistem tradisional. Kalau memang kedua sekolah ini tidak ingin menerima Anda untuk mengajar di sekolah mereka di kemudian hari, masih banyak lagi sekolah musik lainnya yang dapat Anda hubungi. Jadi, ibu tidak perlu khawatir.

Melalui kolom ini, saya hanya dapat menyarankan hal-hal yang mungkin perlu dipertimbangkan. Akhirnya, masih Anda sendiri yang harus mengambil keputusan yang terbaik untuk diri sendiri, karena setiap orang memiliki situasi yang berbeda. Saya sangat tidak menyarankan murid-murid tahap pemula untuk belajar di dua sekolah atau dua guru yang berbeda, karena mereka akan menjadi bingung akan perbedaan informasi yang diterima.

Tetapi untuk tingkatan Anda (yang mungkin sudah hampir menjadi guru?), Anda dapat menganggap kursus-kursus ini sebagai seminar yang akan menambah pengetahuan atau wawasan Anda, tanpa harus merasa setuju atau tidak setuju akan berbagai metode pengajaran yang berbeda. Dengan demikian, Anda akan terlengkapi untuk menjadi guru yang baik di kemudian hari. Bagi para pembaca STACCATO lainnya, ingatlah bahwa apapun metode pengajaran modern yang ditemukan, kerajinan dan kesabaran masih tetap adalah kunci kesuksesan dari seseorang.

Salam,
Dr. Hendry Wijaya

Article Bottom Ad