Dr.Stephanie Neeman – CARA MENGONTROL DINAMIKA

360

Article Top Ad

DR. Stephanie yang terhormat,
Saya mengikuti artikel Anda dan DR. Hendry Wijaya selama beberapa tahun terakhir. Terima kasih atas artikel-artikel yang kalian tulis di majalah Staccato. Saya sekarang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian diploma dari ABRSM dan lagu-lagu yang saya mainkan sejauh ini tidak terlalu sulit untuk saya. Walaupun demikian, saya memiliki kendala untuk mengontrol besar dan kecilnya suara ketika saya bermain piano. Seperti yang Anda ketahui pada level yang advanced, pianis harus dapat memainkan lagu-lagu dengan jangkauan atau range dinamika yang besar. Saya merasa bahwa kemampuan saya untuk memproduksi suara yang keras seperti fff dengan kualitas suara yang baik sangatlah terbatas. Selain itu, memainkan bagian-bagian musik yang ditandai pp, terkadang saya mainkan secara lembut, tetapi malah tidak kedengaran. Pertanyaan ini seolah-seolah sangatlah mudah, tetapi saya yakin bahwa banyak unsur-unsur yang dapat dipertimbangkan dalam keberhasilan seorang pianis dalam bermain memproduksi dinamika dengan baik. Apakah DR. Stephanie bersedia untuk membagikan beberapa tips mengenai topik ini? Terima kasih banyak atas waktu Anda!

Melinda

skateme*****@gmail.com

Article Inline Ad

 

Saudari Melinda yang baik,
Terima kasih atas pertanyaan Anda. Saya sangat setuju dengan Anda bahwa banyak unsur-unsur yang perlu dipertimbangkan dan dikuasai untuk dapat mengontrol volume permainan Anda dengan baik. Kemampuan untuk memproduksi suara dengan ‘dynamic range’ yang besar sangatlah penting khususnya pada tingkat advanced seperti Diploma ABRSM, karena dinamika disertai dengan berbagai cara dalam menyentuh atau memainkan tuts-tuts piano dapat menghasilkan warna-warna musik yang berbeda-beda.

Dalam pengalaman saya mengajar selama ini, seringkali saya melihat banyak pianis-pianis yang hanya mengandalkan jari-jari mereka ketika memainkan piano. Melatih jari-jari untuk menjadi kuat itu penting, tetapi jari-jari mempunyai keterbatasan dalam memproduksi suara, terutama ketika kita ingin memproduksikan suara yang keras. Memproduksi suara yang keras dengan hanya mengandalkan kekuatan jari-jari Anda tidaklah mustahil, tetapi biasanya jika kita hanya menekankan tuts-tuts piano dengan sekuat mungkin, suara yang dihasilkan akan cenderung terdengar kasar.

Ketika membahas cara memainkan piano kepada murid-murid, saya selalu menjelaskan bahwa pengandalan kekuatan jari-jari adalah langkah pertama dalam memproduksi suara. Setelah itu, kita perlu mempertimbangkan pergelangan tangan kita. Pergelangan tangan harus selalu “rileks” dan fleksibel atau lentur. Salah satu cara untuk memainkan not atau akor dengan suara yang sedikit lebih keras adalah dengan mendorongkan pergelangan tangan Anda untuk membantu jari-jari Anda.

Bagian tubuh lainnya yang juga dapat membantu jari-jari kita dalam memproduksi suara yang keras adalah lengan kita. Istilah yang sering diungkapkan untuk teknik ini adalah “arm weight,” yang artinya menggunakan berat dari lengan kita untuk memberikan kekuatan ekstra kepada jari-jari kita. Terkadang teknik ini juga dapat dikombinasikan dengan bantuan dari siku-siku.

Ketika berat dari lengan kita masih tetap tidak cukup juga untuk memproduksikan suara keras yang kita hendaki, kita dapat menggunakan bantuan berat dari seluruh bagian atas tubuh kita dengan mentransferkan berat dari bagian tubuh tersebut ke jari-jari kita. Teknik ini hanya dapat berhasil jika teknik-teknik yang saya sebutkan di atas juga diterapkan, misalnya “relaxed wrist” dan kombinasi tenaga lengan dengan bantuan siku-siku, “arm weight with elbows.”

Teknik-teknik yang saya sebutkan di atas dapat membantu saudari Melinda dalam memproduksi dinamika yang besar. Walaupun demikian, seringkali kita lupa bahwa jika kita menginginkan sepotong lagu dengan dinamika yang keras terdengar kuat, kita juga harus ingat bahwa kita perlu juga untuk memainkan bagian-bagian di sekitarnya dengan tidak terlalu keras. Hal lainnya yang dapat dipertimbangkan ketika kita bertransisi dari bagian dengan suara keras dan suara lembut adalah kita perlu untuk memberikan sedikit jedah untuk mengizinkan suara yang keras untuk mengurangi intensitasnya.

Tanda Dinamika
Pada beberapa lagu-lagu, sang komponis menandai beberapa bagian dengan fff, dan terkadang suara yang dihasilkan di bagian sebelumnya sudah sangat keras dan sudah tidak memungkinkan lagi untuk memainkan dengan lebih keras. Pada kasus seperti ini, kita dapat memberikan kesan potongan lagu tersebut dimainkan dengan suara yang lebih keras dengan meregangkan waktu (“stretch the time”). Contohnya, cara ini dapat diterapkan pada bagian akhir dari Prelude in C-sharp minor, Op. 3 No. 2, karangan Sergei Rachmaninoff atau bagian akhir dari Ballade No. 2, karangan Franz Liszt.

Salah satu unsur yang penting dalam memproduksi suara keras dengan kualitas “tone” yang baik adalah dengan selalu bermain piano dengan jari-jari yang dekat dengan tuts-tuts piano dan menggunakan berat-berat dari tubuh kita untuk membantu. Hal yang perlu diingat adalah jangan pernah memukul tuts-tuts piano dengan sekuat mungkin dengan posisi tangan yang jauh dari tuts-tuts piano.

Menjawab pertanyaan saudari Melinda mengenai produksi suara yang lembut di piano, memang kasus ini sering terjadi di kalangan pianis. Seringkali karena mereka ingin memainkan sepotong lagu dengan lembut/pianissimo, kadang-kadang malah jadi tidak terdengar. Ini sering terjadi karena ketika murid-murid tersebut mencoba untuk memainkan piano dengan lembut, mereka mengontrolnya hanya dengan jari-jari mereka.
Ketika kita hanya mengandalkan jari-jari kita, jari-jari akan cenderung menjadi tegang dan justru tidak dapat mengontrol permainan kita, khususnya dalam memproduksi suara yang lembut. Cara bermain lagu dengan dinamika yang lembut adalah dengan selalu menyentuh tuts-tuts piano terlebih dahulu dan kemudian melepaskan berat dari jari-jari kita ke tuts piano dengan se-relax mungkin.

Semoga artikel ini dapat membantu saudari Melinda dan pembaca Staccato lainnya dalam mengontrol dinamika dalam memainkan piano. Selamat tahun baru!

Salam Staccato
Dr. Stephanie Neeman

Article Bottom Ad