KONSER

452

Article Top Ad

ENTAH sampai kapan pandemi COVID-19 dengan segala carut marutnya akan berakhir. Jika berakhir saat ini pun, segudang persoalan masih menanti. Satu pertanyaan besarnya adalah: berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh dunia dalam segala segi dan lingkup kehidupan, untuk dapat kembali pada keadaan seperti sebelum adanya pandemi.
Pertanyaan ini sangat mengusik siapapun yang setidaknya merasakan atau bahkan terhimpit dan terkeremus dalam ketidakberdayaan akibat pandemi. Sudah barang tentu, musik tak terkecuali. Pemusik sudah dapat dikatakan terkeremus menjadi remahan bagai kerupuk.

Sebetulnya pandemi ini hanyalah sebuah dentuman besar saja. Porak poranda dan kejatuhan musik, terutama musik industri dan industri musik, sudah dapat dirasakan dan diprediksi sejak 2010. Akar persoalannya menjadi rumit, meski sebetulnya ujung pangkalnya hanya satu. Adanya ruang, waktu dan kesempatan untuk menampilkan musik. Pemusik, apapun genre musik dan lingkup pekerjaannya, termasuk guru musik, membutuhkan ruang, waktu dan kesempatan untuk mengekspresikan diri melalui karya. Butuh panggung.

Justru “panggung” itulah yang sejak pandemi, tak lagi sama. Panggung diganti layar kaca secuil dan seiprit. Meski di beberapa negara termasuk Indonesia, panggung sudah mulai tersedia, itupun menuntut sebuah perhelatan ekstra. Dari mulai prokes sampai pada sterilisasi ruang dan jika perlu diadakan swab test secara realtime. Bukan masalah biaya. Melainkan hal seperti ini tentu membuat para produser acara musik termasuk promotor dan impressario mendapat tambahan beban kerja yang bisa saja amat sangat merepotkan.
Bertalian dengan keadaan tersebut, adalah baik jika kita kembali menelisik panggung pertunjukan musik. Dalam hal ini ada baiknya dan tak ada ruginya kita melakukan napak tilas sampai menembus esensi panggung pertunjukan musik. Kita akan bernapak tilas menyusuri tapak demi tapak untuk menguak dan menyeruak tentang konser. Tentu muara akhirnya adalah dengan menguak dan menyeruak kembali, siapa tahu masih ada relung tersisa. Sehingga konser tak lagi hanya berupa pertunjukan dalam sebuah layar kaca secuil dan seiprit.

Article Inline Ad

KONSER, RESITAL & ENSEMBEL
Sebetulnya, istilah konser itu diberi batasan sebagai pertunjukan musik hidup yang ada hadirinnya, penampilnya bisa cuma satu orang. Yang model begini lazim disebut sebagai resital. Bisa juga penampil adalah sebuah kelompok musik. Yang ini lazim disebut sebagai ensembel. Ini termasuk grup band. Orkestra, paduan suara juga dapat disebut sebagai ensemble, tentu dalam skala akbar.

Konser diadakan dengan berbagai macam settingan, termasuk besar kecilnya area konser. Mulai dari diadakan di rumah, klub, gedung konser, sampai sebuah amphitheater. Bisa juga diadakan di taman, kolam berenang, gedung atau aula serba guna, sampai sebuah arena dan stadion sepak bola. Sebutan lain dari konser, yang akrab dipakai para pelaku musik adalah GIG. Yuk nge-gig itu artinya ya yuk kita konser.

Di lokasi atau area konser, pemusik lazimnya tampil pada sebuah stage atau panggung. Meski bisa saja pemusik tampil sejajar dengan hadirinnya, panggung nya tentu harus dilengkapi tata lampu dan sound system. Bukan semata agar hadirin dapat mendengar(kan) dengan apresiatif, melainkan adakalanya sound system ini adalah senjata kedua dari para pemusik untuk mengolah bunyi alat musiknya agar lebih berkarakter.

Seringkali, dalam konser dilakukan komersialisasi. Ini diatur oleh seorang promotor dan tim nya. Artis atau penampilnya diurus oleh seorang Impressario. Sedang perkara panggung diurus oleh Stage Manager. Hal yang pritilan seperti akomodasi dan makan serta snack diurus oleh manager Produksi.

Sebetulnya tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pemusik tatkala tampil dalam ruang pertunjukan akbar, berhadapan dengan hadirin melalui piranti elektronik, mengalami stress dan anxiety. Bahkan pada tur konser yang dilakukan di beberapa kota, stress, dan anxiety ini bisa berkembang menjadi depresi.

Tak hanya stress dan depresi. Pada konser Musik Rock, pemusik berhadapan dengan gain atau volume yang luar biasa keras. Ini bisa menyebabkan rusaknya pendengaran. Dari sisi hadirin, lingkungan konser juga bisa membuat histeria dan bahkan keadaan trance alias “kesurupan”.

Pada beberapa sajian musik, sang vokalis seringkali menari dan ditimpali pula dengan goyangan dari hadirin. Keadaan seperti ini disebut crowd psychology dan seringkali efeknya tidak baik-baik saja. Di sisi lain, seperti pada konser Musik Klasik, hadirin hanya pasif saja dan (entah beneran ngerti atau tidak) nampak seperti para interpretator dan apresiator yang aristokrat.

Dalam perjalanan sejarahnya, konser juga mengalami pasang surut. Di abad ke-17, nyaris tak ada konser resmi. Sebagai gantinya, diadakan perkumpulan untuk menikmati musik. Seperti yang dilakukan Universitas Oxford dan Cambridge di Inggris dan beberapa Universitas terkemuka di Eropa. Perkembangan sejarah juga mencatat bahwa Konser yang berbayar adalah gagasan dari John Banister, seorang violinist dari Inggris.

Beberapa abad kemudian, Konser berkembang dengan ruang pertunjukan yang semakin besar dan akbar dan hadirin dalam jumlah banyak. Hal ini seiring dengan makin populernya Simfoni Musik Klasik. Setelah Perang Dunia ke-2, sajian Konser dapat dikatakan sudah sepenuhnya terlihat sebagaimana konser modern yang kita kenal.

Adalah menarik untuk tahu bahwa Konser berbayar pertama kali tidak diadakan dalam gedung pertunjukan, mMelainkan dalam rumah violinist John Banister di Whitefriars London pada 1672. Lalu 6 tahun kemudian, Thomas Britton menggagas konser regular yang berlangsung secara mingguan. Konser yang digagas Britton ini unik. Para peminat membeli annual subscription atau berlangganan selama setahun penuh. Dan dengan bayar untuk setahun, penikmat bebas leluasa menghadi berbagai konser yang digelar.

Pada abad ke-17, di Perancis digagas konser yang eksklusif. Hanya untuk kalangan terbatas dan bersifat “rumahan’. Pencetus idenya adalah Anne Danican Philidor. Sayangnya konser yang digagasnya menuai pro dan kontra masyarakat dunia, karena tak melulu soal musik namun lebih kepada sebuah sajian yang berfokus pada religiositas. Konser ini diselenggarakan pada hari besar keagamaan sebagai pengisi saat pentas opera Libur.

Di akhir abad ke-18, Konser di Inggris dipenuhi dengan penampilan karya-karya dari Haydn dan Mozart. Dan menariknya, satu set karya Haydn yang terdiri dari 12 Simfoni kemudian diklaim sebagai London Symphonies. Selain itu, di Inggris juga dipenuhi pagelaran yang mengedepankan keindahan dan elegannya bangsa Inggris. Sebut saja misalnya Konser yang diadakan di Vauxhall, Ranelagh, dan Marylebone. Saat itu, untuk Konser semacam ini juga ditampilkan karya yang saat itu populer, tak melulu karya musik serius seperti karyanya Mozart.

Sifat alamiah sebuah Konser, ternyata bergantung pada: berbagai genre musik, pribadi si penampil, dan tentu saja gedungnya. Sebuah Konser Jazz dalam bentuk combo atau Konser Musik Country ragam Bluegrass, bisa saja memiliki intensitas yang sama dalam hal program sajian, mood dan kekerasan volumenya. Namun, tentu saja akan berbeda dalam hal ragam musiknya dan busana yang dikenakan penampil maupun hadirin.

Sifat alami ini, oleh sebagian musisi dipergunakan dan di eksploitasi menjadi daya tarik bagi penggemarnya. Biasanya adalah dalam tata rambut, busana dan tingkah laku di depan publik. Hal seperti ini terjadi di era 60-an. Para penampil umumnya berambut gondrong, sandal jepit dan busana yang sesederhana dan semurah mungkin. Hampir seperti gembel.

Hal yang bertalian erat dengan Konser adalah istilah Resital. Sebuah Resital adalah Konser yang dilakukan oleh seorang pemusik atau dalam kelompok kecil. Biasanya sangat bersahaja. Pengiring yang lazim adalah Piano. Sebuah resital bisa berupa penampilan banyak pemusik, namun hanya membawakan karya dari seorang komposer saja. Bentuk resital dipelopori oleh manusia setengah dewa dalam ranah piano yakni Franz Liszt.

Di dalam sebuah Konser. Beberapa penampil dan grup seringkali memanipulasi sensasi. Mereka merencanakan sebuah pertunjukan yang spektakuler. Turun dari helicopter. Membawa Macan ke panggung, membawa gajah dan kuda serta tak segan-segan membakar piano di atas panggung. Peralatan lighting dirancang spektakuler. Tak jarang, dilengkapi pula dengan tata lampu laser beam yang mahal, canggih dan mencengangkan. Panggung dijadikan arena teatrikal. Lengkap dengan para penari latar, pemain pantomim dan banyak figuran lainnya. Kostum pun ditata bak negeri dongeng antah berantah. Tata rambut eksentrik dan make up wajah yang aneh.

Khusus untuk Konser Musik Klasik, kita dapat membaginya menjadi 2, yakni : Konser orkestra dan konser paduan suara atau Choir. Lazimnya digelar di Gedung Konser atau Gedung Seni Pertunjukan. Hal ini bergantung pada seberapa banyak pemain yang terlibat. Jika Format yang diambil adalah Orkestra Lengkap plus Paduan suara besar tentu mau tidak mau harus digelar di gedung Seni Pertunjukan mengingat daya tampung panggunggnya.

Dalam Konser, orkestra bisa tampil sebagai Orkes kamar. Yang beranggota 10 sampai 40 orang dan biasanya hanya memainkan alat musik gesek saja. Sementara Symphony atau Full Orchestra bisa beranggotakan 80 sampai ratusan pemain dengan berbagai seksi instrumen. Dan format sebegini besar tentu wajib menuntut kehadiran seorang Dirigen untuk menjalankan fungsi Direksi.

Dalam ranah ruang pertunjukannya, dikenal aneka jenis ruang pertunjukan, bergantung pada ukuran, lokasi dan jenis musik yang lazim di gelar di situ. Sebuah GEDUNG KONSER atau Concert Hall adalah sebuah ruang khusus untuk pementasan musik Simfoni Orkestrasi. Concert Hall sendiri adalah bagian dari sebuah Gedung Pusat Pertunjukan atau Performing Art Centre.Salah satu Concert Hall paling terkenal adalah The Royal Albert Hall di Inggris.

Selain Concert Hall, dikenal juga Amphiteatre. Sebetulnya ini juga Concert Hall namun sangat besar ukurannya dan berbentuk setengah lingkaran. Pada Amphitheatre digelar tak hanya musik klasik, tapi juga Pop dan Rock.Gedung Amphitheatre yang sangat terkenal adalah Red Rock Amphitheatre di Colorado USA. Adapula Madison Square Garden. Gedung ini besar ukurannya sehingga lebih sering dipakai untuk Konser Pop dan Rock yang selalu dihadiri hadirin dalam jumlah melimpah ruah.

Setelah Covid-19 meledak dan menggila, gedung gedung konser mati suri. Sebagai gantinya adalah layar kaca secuit dan seiprit. Konser kemudian berubah menjadi terdigitalisasi. Agar para pemusik tetap dapat nafkah untuk hidup. Munculah platform pertunjukan digital. Ada yang live streaming. Ada yang hanya suaranya doang. Ada yang berbayar meski sangat sepi dan ada yang dilakukan dengan home live alias siaran konser dari dan di rumah saja. Tragis dan miris. Ya kita berdoa ini cepat berakhir.

Adakalanya Konser melibatkan banyak penampil dan terselenggara lebih dari sehari. Sajian ini dinamakan Festival. Lazim pada sebuah festival, musik Klasik berada dalam satu panggung dengan Jazz, Rock dan Pop. Melihat skalanya, sebuah Festival umumnya digelar secara outdoor. Bisa pula berbentuk Jam Cruise atau digelar di sebuah kapal pesiar, seperti yang diadakan di kapal Mayan Halidaze dengan destinasi kota Tullum.

Mungkin anda sering mendengar istilah Concert Tour. Itu adalah istilah yang diberikan bagi kegiatan Konser berserie yang dilakukan di banyak tempat. Misal banyak kota, banyak negara ataupun dalam kota namun lokasinya berbeda beda. Para penampil, umumnya yang sudah berprofesi sebagai artis, menggunakan istilah Concert Tour ini sebagai citra dari album rekamannya.

Sebut saja misalnya Ariana Grande Sweetener World Tour. Dalam ranah musik Pop, sebuah Concert Tour dapat memakan waktu sampai berbulan-bulan bahkan setahun penuh.Tentu saja, di masa sebelum ada Covid19, Concert Tour adalah lahan uang. Istilah lain yang berhubungan dengan Konser adalah Residency Concert. Sebetulnya ini juga adalah Concert Tour. Tampilannya berserie namun lokasinya hanya di satu tempat saja.

Dalam ranah industri musik, konser tentu bertalian erat dengan pendapatan. Meskipun tiket masuk ke beberapa konser gratis, sudah merupakan hal yang umum untuk membebankan biaya untuk konser dengan menjual tiket masuk. Sebelum munculnya penjualan musik rekaman dan royalti mekanik di awal abad ke-20, konser adalah sumber pendapatan utama bagi musisi. Pendapatan dari penjualan tiket biasanya masuk ke artis pertunjukan, produser, venue, penyelenggara, dan broker. Dalam kasus konser amal, sebagian dari keuntungan sering digunakan untuk organisasi amal, tentu setelah disisihkan untuk biaya produksi.

Pendapatan tambahan juga sering diperoleh melalui iklan dalam konser, dari konser lokal gratis untuk sponsor lokal hingga sponsor dari perusahaan selama tur besar, misalnya “Tur Vans’ Warped 2009 yang dipersembahkan oleh AT&T”. Baik Vans dan AT&T akan membayar jumlah yang signifikan agar nama perusahaan mereka dicantumkan di garis depan dalam semua materi pemasaran untuk Warped Tour.

Pada tahun 2017, penyanyi Italia Vasco Rossi memegang rekor terbesar dari konser bertiket dengan total 220.000 tiket terjual untuk pertunjukannya di Enzo Ferrari Park, Modena, Italia pada 1 Juli 2017.Rekor ini sebelumnya dipegang oleh konser Paul McCartney tahun 1990 dengan penonton yang membayar sebanyak 185.000 di Stadion Maracanã, Rio de Janeiro. Rod Stewart juga memegang rekor kehadiran terbesar dalam konser gratis, dengan perkiraan penonton 3,5 juta selama konser Malam Tahun Baru 1994 di Pantai Copacabana, Rio de Janeiro. (*)

Article Bottom Ad