Menalar Penjarian Tangganada

495

Article Top Ad

DI DUNIA ini, dalam kehidupan kita sebagai manusia, banyak hal yang asal usulnya tidak kita ketahui. Misalnya saja peralatan memasak batu yang ditemukan di Wajak Tulungagung. Yang diklaim sebagai piranti manusia purba. Bagaimana cikal bakalnya. Lalu relief di Candi Borobudur. Yang terbilang banyak juga mengeksplorasi adegan bercinta. Bagaimana konsep pemikiran dan asal-usulnya. Kemudian juga peninggalan Kerajaan Kalingga yang diklaim sudah memiliki sistem irigasi persawahan. Semua itu tidak kita ketahui pasti cikal bakalnya. Demikian juga dalam musik. Banyak yang kita tak tahu pasti, bahkan sama sekali tak tahu cikal bakalnya. Salah satunya adalah: penjarian dalam memainkan tangganada.

Tangganada atau Scale didefinisikan sebagai urutan nada-nada dengan pola tertentu dan diakhiri oktaf nada yang pertama. Memainkan dan melatih Tangganada, disinyalir dapat meningkatkan penguasaan geografi instrumen anda.  Di Gitar Klasik, mestinya setiap siswa dan siapapun yang belajar Gitar Klasik, “wajib” memainkan Tangganada versi Maha Gitaris Andre Segovia.

Article Inline Ad

Tangganada versi Andre Segovia ini, tidak saja memuat penjarian dalam sebuah sistem melainkan juga menuntut pemainnya untuk melakukan penjeljahan di seluruh leher gitar melalui berbagai posisi penjarian. Rupanya, yang model begini yang agak pas jika dikatakan sebagai upaya untuk lebih menguasai geografi instrumen, dalam hal ini Gitar Klasik.

Bagaimana dengan piano? Piano itu rajanya semua instrumen musikK. Sangat penting menatap dengan tajam, apa yang terjadi pada Piano sehubungan dengan Tangganada. Ternyata prinsipnya sama saja. Ada sebuah sistem penjarian yang nyaris baku untuk memainkan dan melatih Tangganada.

Yang jadi pertanyaan adalah: kenapa sih, main tangganada urutan jarinya harus seperti itu? Dan pertanyaan ini sebetulnya, kalau kita mau jujur, selalu tertanam di benak para siswa. Sementara, banyak guru piano tidak memberi penalaran penjarian Tangganada.

Piano ditemukan rancangannya sekitar tahun 1700-an. Dan sebetulnya, banyak juga klaim asala usul penjarian Tangganada Piano. Salah satunya adlah dalam buku yang ditulis Carl Philipp Emmanuel Bach atau CPE Bach, anak dari JS Bach sang Maha Maha Legenda. CPE Bach ini menulis buku yang sampai sekarang jadi “Buku Suci” para pianis professional dunia. Judul bukunya adalah Essay on the True Art of Playing Keyboard Instruments. Atau Uraian Seni Murni pada permainan instrumen berpapan nada. Buku ini bisa anda beli di amazon.com. Kalau lancar dan slamet, 2 mingguan sampai ke alamat Anda.

Sering  terjadi, guru piano hanya dan hanya memberi instruksi penjarian: 1 2 3 – 1 2 3 4 1 dan seterusnya. Tanpa memberi penjelasan penalaran.  Kita tidak tahu persis bagaimana cikal bakalnya. Kita hanya membaca dan membaca ulang uraian misalnya dari CPE Bach. Namun kita tidak pernah tahu relung pemikiran konsepnya. Meski demikian, upaya menalar penjarian dalam Tangganada, setidaknya bisa dirujuk dengan memperhatikan butir-butir sebagai berikut.

Mari kita tilik sejenak anatomi tangan dan jari kita:

  1. Tangganada itu lazimnya, terdiri dari 7 nada. Nada yang ke-8 itu oktaf nada yang pertama. Sedangkan kita hanya punya 5 jari di setiap tangan. Jadi jelas, kita membutuhkan cara. Pedoman. Patokan efisiensi pemakaian jari untuk main Tangganada.
  2. Logikanya, lebih cepat, lebih lancar dan lebih efisien jika kita memakai semua 5 jari di tiap tangan. Dibanding jika memainkan Tangganada hanya dengan dua jari saja misalnya jari telunjuk dan jari tengah. Perlu juga sebetulnya disampaikan  tentang Prinsip Finger Grouping

Dalam memainkan Tangganada ada 2 Grup Jari. Grup BESAR: 1 2 3 4, Grup KECIL: 1 2 3. Dengan demikian jika misalkan siswa main G Major Scale untuk Right Hand, Guru bisa memberikan penalaran bahwa selalu Grup Kecil, besar, kecil, besar. Ini lebih rasional daripada siswa harus menghafal mati dan melihat contoh semata, tanpa tahu prinsip dasarnya.

Penalaran semacam itu, tentu saja tidak bertujuan untuk menyederhanakan semua kesulitan yang kerap kali muncul berkaitan dengan memainkan Tangganada. Namun, dilihat dari alur logigakanya, penalaran semacam itu semestinya akan cukup membantu. Setidaknya siswa dapat sedikit memiliki pedoman dan pengetahuan yang memadahi.

Dengan demikian diharapkan siswa sedikit banyak (sesuai kemampuan daya nalarnya) tidak lagi memangdang permainan Tangganada sebagai sebuah senam jari yang menyiksa. Melainkan sebagai sesuatu yang konseptual, ada unsur reasonable-nya. Tujuan akhirnya tetap harus dicapai dengan latihan yang keras, konsisten dan intens.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Tangganada lebih bersifat mekanik daripada musikal. Banyak siswa yang sebetulnya mempertanyakan. Untuk apa kita main Tangganada. Dan jika kita mau jujur, sebeturnya banyak pemain piano, dan alat musik lain di dunia yang tidak pernah mendalami Tangganada. Mereka hanya tahu saja bahwa nada itu ada “Ladder” nya. Pola urutan seperti anak tangga.

Di sisi lain para penyelenggara ujian musik Internasional, memasukkan Tangganada sebagai materi wajib. Seyogyanya memang kita tidak terjebak pada dikotomi semacam itu. Kita ambil jalan tengah. Bahwa siswa perlu di beri penalaran tentang untuk apa dia bermain Tangganada. Apa sih kegunaannya. Dan baik juga jika misalnya guru menyajikan Tangganada tidak melulu sebagai sebuah entitas mekanik.

Guru bisa saja mencarikan pieces yang banyak mengeksplorasi Tangganada. Tentu tujuannya adalah dalam benak siswa dapat tertanam dan bahkan terpatri satu penalaran. Bahwa Tangganada itu bukan makhluk aneh yang mengerikan dan menyiksa. Melainkan teman dan bahkan piranti untuk menopang keberhasilannya menggeluti dan bergumul dalam blantika musik.

Sebagai aktualisasi pelaksanaan penjarian tangga nada, bisa kita tilik apa yang dilakukan Frederick Chopim dalam memberi pelajaran piano pada murid muridnya. Sangat betbeda dengan apa yang pernah popular selama beberapa dekade. Yakni, pelajaran penjarian dimulai dari C tengah atau Middle C.

Hal ini dilakukan dengan pemikiran. Bahwa jika memulai lesson dengan C tengah maka siswa selama satu kurun waktu, hanya akan  berhadapan dengan tuts putih semua.. Hal ini dianggap lebih mudah dan friendly dibanding dengan memulai lesson melibatkan tuts hitam yang nampak “ mengerikan”.

Anggapan seperti ini sebetulnya sudah berkembang sangat lama. Dan, hal ini dibantah keras oleh Chopin. Postulat Chopin adalah: bahwa bermain dengan tuts putih semua adalah hal yang sangat sulit. Kenapa? Karena Tuts putih semua sangat tidak ergonomis dengan bentuk kurva tangan dan jemari manusia.

Menurut Chopin, justru bermain dengan tuts hitam semua, atau kombinasi tuts hitam dan putih adalah posisi paling ergonomis bagi tangan dan jemari manusia. Chopin juga mendasarkan Postulatnya pada 3 nada utama, dalam bentuk campuran Tuts Hitam dan Putih. Dari 3 nada itu kemudian Chopin membuat prinsip “Clumping”.

Clumping ini akan sangat memudahkan siswa dalam melakukan passage atau phrases dengan kecepatan tinggi. Mengapa ? Karena posisi jari dan tangannya sudah sangat ergonomis. Dan itulah juga mengapa karya Chopin, jarang sekali yang semuanya bermain menggunakan Tuts putih. Bukan karena tingkat kesulitan, melainkan lebih kepada ergonomi tangan dan jari. Malahan, Chopin selalu mengajarkan permainan All White Keys pada sesi pengajaran yang terakhir.

Dalam ranah pelajaran Piano Modern, prinsip Chopin diterapkan juga oleh Faber dalam seri pelajaran The Piano Adventure nya yang sangat terkenal. Siswa tidak memulai dari tuts putih melainkan dari Tuts Hitam. Malahan dalam prinsip Faber, notasi grafis diperkenalkan terlebih dahulu daripada Notasi Balok yang sangat simbolistis dan rumit abstraksinya.

Penjarian, terutama dalam Tangganada, Ladder, atau Scale, bukan semata latihan untuk beradaptasi dengan jari yang berganti ganti. Penjarian dalam Tangganada adalah juga sebuah prinsip yang paradigmanya bukan sesuatu yang sifatnya teknis semata. (*)

 

Michael Gunadi Widjaja
Michael Gunadi Widjaja

Penulis:Michael Gunadi Widjaja (Pemerhati Musik)

Article Bottom Ad