Samuel K.Tedjawidjaja, M.Mus

575

Article Top Ad

Steinway Family Story

Peran orangtua dalam proses pembelajaran musik sangat penting. Andai tidak mengikuti saran dan arahan orangtuanya, Samuel K.Tedjawidjaja, M.Mus mungkin tidak berada di dunia musik sebagai pianis gereja dan dosen musik saat ini. Sebuah dunia dimana dia bisa membagi berkatnya di dua misi sekaligus: untuk Tuhan dan manusia. Berikut bincang singkatnya di Steinway Family Story

 

Article Inline Ad

Sejak kapan Anda mengenal musik dan dengan siapa saja Anda belajar?

Saya mulai belajar musik di usia 4 tahun dengan mengikuti Kelas Musik Anak di Yamaha Malang, Jawa Timur. Pada usia 6 tahun saya melanjutkan belajar piano di bawah bimbingan ibu Cynthia Jenardi dan kemudian dengan ibu Mary Novia Tanaja di Malang. Setelah lulus SMA saya memutuskan untuk belajar musik lebih dalam dengan mengambil kuliah musik di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, dengan konsentrasi piano performance tahun 2007. Selama kuliah, saya belajar dengan ibu Nirai Kristiana, Michelle Sensenig, dan Midya Wirawan. Saya juga pernah mengikuti masterclass piano antara lain dengan Conny Mulawarma, Henk Mak van Dijk, Toru Oyama, Nariaki Sugiura, dan dr. Johannes S. Nugroho. Setelah lulus dari UKSW tahun 2012, saya aktif mengajar sebagai guru privat, dosen di UKSW dan STT Abdiel, serta sebagai tenaga musik paruh waktu di GKI Beringin, Semarang

 

Apakah musik memang menjadi minat Anda sejak kecil?

Saya tidak tahu persis karena waktu masih kecil, saya hanya menurut apa yang dilakukan orangtua. Termasuk ketika saya dileskan musik, ya saya ikuti. Saya mulai tetarik untuk benar-benar belajar musik sejak usia 6 tahun ketika pertamakali  belajar piano. Minat saya muncul ketika saya merasakan bahwa ternyata saya bisa menangkap apa yang diajarkan guru, dan saya bisa main piano. Dari sini saya menyadari bahwa rasanya saya berbakat di musik hahaha….Apalagi orangtua saya mendorong saya untuk sekolah musik saja. Beliau juga membelikan saya piano, dan serius mengarahkan saya ke musik,  padahal saya maunya di kedokteran atau di bidang teknologi informasi.

 

Tapi akhirnya Anda ke musik juga kan?

Iya. Saya sempat pikir ulang tentang tujuan saya di dua bidang tersebut dan ternyata saya juga tidak bisa menemukan alasan yang tepat kenapa kok saya mau belajar kedokteran atau IT. Untuk kedokteran saya pikir karena saya mau jadi dokter dan karena banyak teman saya mau ke kedokteran juga. Mau ke IT karena nilai pelajaran IT saya di sekolah, baik. Tapi sesungguhnya saya tidak bisa bilang kalau saya suka dengan bidang tersebut. Waktu kelas XII itu akhirnya saya menemukan bahwa main musik menyenangkan juga, dan saya memutuskan untuk coba ikut saran orangtua untuk kuliah di musik saja. Saya bilang ke orangtua, coba lihat dulu deh satu tahun bagaimana. Kalau memang nggak kerasan ya keluar.

 

Bagaimana Anda tiba pada keputusan bahwa musik akhirnya menjadi pilihan Anda?

Setelah saya mengikuti saran orangtua, saya mulai mencari kira-kira mana nih universitas musik yang bisa saya masuki. Akhirnya pada tahun 2014 saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan musik dalam bidang piano performance di University of Maryland, College Park, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright dan lulus tahun 2016. Selama di Amerika saya belajar piano di bawah bimbingan Bradford Gowen dan Artur Aksenov, belajar musik kamar dengan Rita Sloan, dan juga organ pipa dengan Theodore Guerrant. Selama belajar di Amerika pula, saya aktif sebagai pengajar piano privat, mejadi pemusik di beberapa gereja, dan juga tampil dengan beberapa grup musik di area Washington, DC antara lain Indonesian Kids Performing Arts, House of Angklung, dan kelompok musik Batak Saroha.

 

Bagaimana  pandangan Anda terhadap musik senyampang belajar di universitas?

Pada akhirnya saya menikmati kelas-kelas musik yang saya ikuti di perkuliahan dan banyak pengalaman yang saya ikuti juga, seperti konser, kompetisi, dan juga pelayanan di gereja. Saya juga banyak berinteraksi dengan orang-orang hebat di dunia musik, dan mendapatkan akses yang mudah untuk informasi yang melimpah tentang dunia musik. Kalau bisa saya rangkum, pada akhirnya saya bisa merasakan bahwa musik itu bukan hanya sekadar notasi di partitur atau bunyi, tetapi ada rasa dan estetika di dalamnya, ada seni, cerita, sejarah, yang memperkaya saya. Nah, setelah saya dapatkan semua itu, saya ingin membagikan itu ke orang lain, dan cara paling baik adalah dengan mengajar, baik ke rekan-rekan pemusik atau murid-murid saya.

 

Kapan Anda kembali ke Indonesia? Mengapa kembali? Apa yang Anda lakukan sekembali dari Amerika?

Saya kembali ke Indonesia pada tahun 2017 setelah meraih Master of Music dari University of Maryland. Jujur saya sebenarnya masih ingin mendapatkankan beasiswa lagi untuk memperdalam musik saya, tapi kondisi waktu itu memang kurang menguntungkan. Visa saya tidak bisa diperpanjang lantaran saya memakai visa pelajar yang memang masa berlakunya terbatas. Jika mau tinggal di Amerika untuk meneruskan belajarnya, saya harus mengubah visa saya, dan itu ribet banget. Disamping itu, tahun 2017 itu pemerintah Amerika mengurangi alokasi dana beasiswa, sehingga sangat sulit untuk mendapatkan beasiswa waktu itu. Akhirnya saya kembali ke Indonesia, sambil melihat kemungkinan untuk bisa studi lagi di luar, entah di Amerika atau negara lain. Sekembali dari Amerika saya mengajar piano secara privat dan mengiringi berbagai paduan suara dalam berbagai konser maupun kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Saat ini saya dosen penuh waktu di Seminari Alkitab Asia Tenggara atau SAAT di Malang,  mengajar praktik instrumen piano, pedagogi piano dan sejarah musik. Saya mengajar musik secara umum

 

Bagaimana awalnya Anda bermain musik di gereja?

Suatu saat saya ditawari untuk mengiringi ibadah di gereja. Awalnya ragu juga sih. Ayah saya mendorong untuk menerima tawaran itu, dan ternyata saya bisa melakukannya. Nah sejak bermain musik di gereja inilah, saya mulai merasakan musik sesungguhnya, dan mendapatkan kepuasan batin. Sebelumnya saya lebih banyak main musik di luar konteks gereja, seperti lomba, ujian, dan konser. Setelah saya main di gereja, saya merasa bahwa ohh…belajar musik ini ternyata ada gunanya juga ya… Bisa dibilang juga bahwa saya pertama kali merasakan dan bisa menikmati musik adalah dari bermain musik di gereja. Dari pengalaman ini, saya pelan-pelan mulai bisa menikmati juga musik klasik. Seiring berjalannya waktu, saya juga yakin bahwa talenta yang sudah Tuhan titipkan ke saya harus saya pakai untuk Tuhan, yang mana salah satunya adalah melayani di gereja. Sebelum itu, saya melihat belajar musik tidak ada gunanya, hanya membuang waktu saya saja.

 

Dengan kata lain, gereja berhasil mengubah cara pandang Anda terhadap musik?

Iya. Saya merasakan untuk pertama kali bahwa musik dapat dipakai untuk mengkomunikasikan sesuatu dan berdampak untuk orang lain. Saya merasa punya tugas dan tanggung jawab dalam hal ini karena musik tidak bisa dilepaskan dalam ibadah gereja. Perannya sangat penting untuk membantu jemaat agar lebih dapat menyampaikan dan menghayati iman mereka, dan juga memuji Tuhan dengan lebih baik

 

Misalnya?

Beberapa ibadah pujian dan penyembahan yang ada di gereja-gereja saat ini cenderung lebih menampilkan pertunjukan daripada sebuah pengalaman yang interaktif.  Jemaat seringkali hanya duduk di kursi dan didorong untuk hanya melihat sebuah pertunjukan. Musik di dalam peribadatan harus dapat melibatkan setiap orang yang hadir untuk bernyanyi, bertepuk tangan, dan bahkan bergerak mengikuti irama lagu.  Musik juga dapat memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk dapat mengekspresikan apa yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan yang ada di hati dan pikiran. Musik harus bisa menyentuh emosi sehingga orang benar-benar dapat merasakan komunikasi dengan Tuhan. Jadi bermusik di gereja itu memiliki aspek religi.  Setiap orang yang terlibat di dalamnya punya kesempatan lebih dalam, lebih luas, dan lebih utuh untuk benar-benar mengalami sebuah kehidupan dan menjadi manusia sepenuhnya

 

Peran dan kontribusi apa yang Anda berikan dalam hal ini?

Seperti saya katakan di awal, bahwa saya mengajarkan teknik piano, pedagogi piano dan sejarah musik di SAAT, adalah untuk memberikan pemahaman, pengetahuan dan teknik bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam musik gereja dari sekedar yang ada dan berjalan selama ini. Seringkali musisi gereja merasa sudah cukup dengan apa yang dikuasainya. Sekedar untuk mengiringi  saja sudah cukup. Padahal dengan teknik dan pemahaman yang lebih dalam, kita bisa membuat musik gereja lebih memberikan nuansa kekhusuyukan dalam beribadat.

 

Kalau boleh ditarik ke belakang, siapa sosok penting yang membawa Anda ke dunia musik?

Papi saya. Beliau orang yang sejak awal mengarahkan dan mendorong saya untuk belajar musik. Papi memaksa saya untuk harus latihan tiap hari. Papi juga menyakinkan saya bahwa musik bisa menjadi sumber penghidupan. Padahal, sesungguhnya saya orang yang awalnya tak terlalu serius di musik. Waktu kecil saya sering malas latihan. Tetapi papi memaksa saya dan dengan sabar mendampingi saya latihan. Bahkan beliau adalah guru saya juga karena beliau pernah belajar musik juga waktu masih kuliah. Jadi beliau tahu kalau saya salah menekan tuts, tempo yang terlalu cepat atau lambat, beliau yang koreksi.

 

Kini Anda merasa bahwa pilihan orangtua ternyata tepat?

Ya…Saya merasakan peran papi dan mami memang sangat besar dalam mengarahkan saya. Andai saya tidak menurut apa kata orangtua saya, mungkin saya tidak seperti saat ini. Terutama saat papi melarang saya berhenti  belajar musik, dan mami juga mendukung. Melihat saya masih bermusik sampai sekarang, bisa dibilang pilihan papi dulu tepat hehehe….

 

Banyak anak Indonesia yang kembali dari studi di luar negeri, memilih menjadi pengajar musik. Dalam pandangan Anda, seberapa besar potensi pengajaran musik di Indonesia? Dan bagaimana prospeknya ke depan?

Saya kira sah-sah saja seseorang untuk menjadi apa. Menjadi pianis konser adalah bagus. Demikian pula menjadi guru piano adalah bagus juga. Yang penting bagi saya, bagaimana output dan kontribusinya. Perkembangan pengajaran musik di tanah air sangat menjanjikan. Potensi ke depannya juga bagus, dengan banyaknya sekolah dan kursus-kursus musik yang tumbuh dan berkembang di tanah air saat ini. Minat belajar musik juga tetap tinggi, dan saya percaya ke depannya, musik akan menjadi pilihan dalam pembelajaran anak-anak, setidaknya sebagai penyeimbang di tengah kehidupan yang makin kompetitif  dan keras. Dalam masa pandemi ini saja, saya merasakan gairah belajar dan mengajar musik masih tetap tinggi sekalipun dilakukan secara online.  Saya optimis dunia pengajaran musik di Indonesia akan tetap cerah di masa depan

Menilik pencapaian Anda saat ini, apa yang Anda rasakan?

Saya bersyukur kepada Tuhan buat talenta dan kesempatan untuk bisa belajar musik, baik di Indonesia maupun di Amerika, dan juga orangtua yang mendukung saya dalam musik. Semakin ke sini, saya semakin sadar kalau saya harus terus belajar dan membagikan juga apa yang sudah saya alami dan pelajari. Saya juga lihat banyak hal yang bisa dilakukan di Indonesia untuk memajukan dunia musik terutama musik klasik.

 

Sebagai musisi dan pengajar musik, bagaimana Anda melihat piano Steinway?

Piano Sieinway menurut saya piano terbaik di dunia. Piano Steinway bisa memenuhi apapun kemauan dan keinginan pianis. Kualitas suaranya benar-benar hebat. Perpaduan sempurna antara kualitas bahan baku serta detail pembuatannya yang akurat dan tingkat presisi yang tinggi sehingga menghasilkan piano berkualitas tinggi. Sangat beruntung kami di Concert Hall Gereja  SAAT memiliki Concert Grand Piano Steinway D. (*)

Article Bottom Ad