TAMAM HOESEIN

559

Article Top Ad

Tamam Hoesien:

YAKINLAH DENGAN PILIHANMU

 

Article Inline Ad

BADROET Tamam Hoesein lebih dikenal dengan panggilan Mas Tamam, rela berhenti kuliah demi berkarier di musik. Sosok sentral di tahun ‘70-an dalam kiprahnya membuka lembaga musik di 25 propinsi ini, adalah sosok musisi lengkap. Ia memiliki jaringan luas di indrustri musik dan pemerintahan. Bagaimana ia membangun semua itu?

Bagaimana Mas Tamam terhubung dengan musik?
Saya lahir dari dari keluarga ambtenaar, ayah saya terakhir menjadi Pembantu Gubenur, atau istilahnya jaman dulu Residen Surabaya. Saya sejak kecil telah terbiasa mendengar musik karena orangtua saya memang senang musik, terutama Hawaian Music. Ayah menyuruh anak-anaknya untuk belajar musik. Ada yang belajar gitar, piano dan menyanyi. Saya ingat, kalau sore, ayah selalu ingin mendengarkan Hawaian Music, dan kami disuruh memainkannya untuk beliau. Saya sendiri anak nomor empat dari enam bersaudara, dan dari enam bersaudara itu hanya saya yang jadi musisi. Lainnya di pemerintahan dan swasta

Sejak kapan mulai belajar musik?
Saya mengenal piano sejak usia 4 tahun dan belajar secara otodidak. Waktu itu keluarga saya mendapat hibah sebuah piano dari keluarga orang Belanda yang sudah menganggap kami sebagai keluarga mereka. Pada saat kelas 4 SD saya pindah ke Pamekasan, Madura, dan mulai belajar dengan guru piano namanya om Frizt sampai SMP dan SMA, tapi waktu itu saya sudah tidak konsisten lagi di klasik. Pokoknya main lagu apa saja. Nah waktu saya lulus SMA saya diterima di ITS atau Institut Teknik Surabaya jurusan arsitek. Karena posisi keluarga di Jember, saya harus kos di Surabaya. Ayah saya meminta harus tetap belajar musik sambil kuliah, dan saya disuruh bawa piano ke tempat kos agar tetap bisa belajar musik. Wah…mana ada tempat kos yang bisa terima piano juga, pikir saya. Akhirnya saya dapat kos di kawasan Dharmawangsa yang bisa terima piano. Selama di Surabaya saya belajar dengan maestro jazz, almarhum Bubi Chen, kemudian bergabung dengan band Arista Bhirawa. Tampil rutin di Surabaya dan Makassar dengan band bentukan sendiri. Dari bermain musik itu saya mulai mendapatkan uang. Saat itu terpikir, enak juga ya main musik. Ayah rupanya tahu kalau saya banyak main musik daripada kuliah. Waktu saya dikontrak untuk bermain di Makassar, beliau mengatakan, kalau memang masih mau kuliah, saya harus balik ke Surabaya. Tapi kalau mau main musik, ya mainlah yang betul. Saya sempat bimbang juga, tapi akhirnya saya putuskan untuk main musik saja. Saya bilang ke ayah, bismillah saya mau bermusik saja. Saya pun keluar dari ITS setelah bertahan 2 semester.

Apa yang dilakukan sekeluar dari ITS?
Ya main musik. Waktu itu saya dikontrak untuk bermain di Makassar. Sepulang dari Makassar saya balik ke Surabaya dan bergabung dengan band asal Filipina yang bermukim di Hongkong yang waktu itu main di Surabaya. Atas permintaan om Jun Sen, musisi yang juga pengusaha alat musik saya diminta untuk mengisi posisi keyboard yang waktu itu ditinggal pemainnya. Bersama grup ini saya banyak bermain di Singapura, Okinawa, Hongkong, Guam, Vietnam, dan Philipina. Pengalaman yang mengesankan bersama grup ini adalah ketika menghibur tentara Amerika di Okinawa yang sedih karena akan diberangkatan ke perang Vietnam, dan tentara-tentara Amerika di Vietnam yang senang karena akan pulang ke Amerika. Saya menghibur orang-orang dengan dua karakter yang berbeda ini, dan itu sangat mengesankan bagi saya. Setelah itu tahun 1972 saya kembali ke Indonesia, dan masuk sebuah ke lembaga pendidikan dan mendapat beasiswa untuk sekolah di sebuah akademi di Jepang, dengan program yang diperuntukan bagi mereka yang disiapkan untuk menjadi direktur. Sepulang dari Jepang, oleh lembaga pendidikan ini, saya diberi tugas untuk menyebarkan pengetahuan yang saya peroleh, khususnya dalam proyek membuka cabang-cabang lembaga ini di 25 provinsi di Indonesia, dimana saya mengajari para guru musik di lembaga pendidikan yang akan didirikan, dan juga sistem administrasinya. Hanya Aceh dan Papua yang tidak saya masuki. Jadi saya banyak teman di seluruh Indonesia gara-gara ini hehehe…

Setelah tidak lagi di lembaga pendidikan musik, apa saja kegiatan mas Tamam?
Ya. Setelah cukup lama saya berada di lembaga pendidikan itu, saya memutuskan untuk berkarier sendiri. Saya banyak terlibat dalam berbagai proyek rekaman sendiri maupun dengan musisi lain, menggarap musik untuk film, proyek pribadi yang membuat musik untuk beberapa perusahaan, seperti SLI 008, penata musik untuk berbagai program acara, mengaransemen, dan juga menjadi peran Ayah di program pencarian bakat Akademi Fantasi Indonesia di Indosiar, dan juga menerima order dari berbagai instansi pemerintah. Pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto saat itu, setiap instansi menyelenggarakan acara-acara kesenian, seperti memperingati Hari Olah Raga Nasional, Hari Kesaktian Pancasila, dan masih banyak lagi. Nah itu saya mendapat proyek untuk membuat musiknya. Sampai sekarang. Di acara Natal Bersama yang diselenggarakan pemerintah tiap tahun misalnya, itu saya terlibat dalam penataan musik dan pelaksanaannya. Nah yang paling berkesan adalah saat saya diserahi tanggungjawab untuk mengisi pembukaan dan penutupan penyelenggaraan SEA Games tahun 1997, dimana saat itu saya membuat musik gabungan dari 20-an propinsi, dan menampilkan 6000 penari yang ditangani teman-teman dari IKJ. Itu proyek luar biasa yang sangat berkesan.

Apa yang menjadi keyakinan mas Tamam untuk berkarier di musik?
Saya orang yang percaya bahwa setiap makhluk hidup itu sudah disediakan dan diatur rejekinya oleh Yang Maha Kuasa. Rejeki itu ada dimana saja. Di bidang apapun. Masalahnya, kita yakin gak? Orang yang yakin, dia akan bersungguh-sungguh dan total dalam berusaha di bidang apapun. Orang yang tidak yakin, akan selalu ragu-ragu, tidak akan pernah sampai kemana-mana. Terus terang, dorongan dari orangtua saya waktu saya pamit mau main musik di Makassar, menjadi motivasi saya. Seperti yang disampaikan ayah saya waktu itu bahwa kalau saya tetap mau kuliah, saya harus balik ke Surabaya. Tapi kalau tetap mau main musik, ya mainlah yang bener. Jangan setengah-setengah. Itu benar-benar menguatkan saya. Orangtua saya sangat demokratis. Terserah mau jadi apa, asal diseriusin dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tapi jujur, waktu kemudian saya memutuskan untuk hidup di musik, memang belum terpkirkan sih bahwa musik itu akan berpenghasilan, atau menghasilkan, atau apalah. Nggak terbayang apa-apa. Tapi dengan niat dan tekad saya untuk hidup di musik, saya percaya pasti ada jalan. Apalagi orangtua saya membekali dengan doa, dan saya yakin dengan kekuatan doa dari orangtua untuk anak-anaknya. Ini juga yang saya tekankan kepada anak-anak saya sekarang, bahwa kamu mau jadi apa saja silakan. Tapi lakukan dengan baik dan tuntaskan, karena kita ini dari keluarga yang uang itu bukan datang sendiri. Tapi uang itu harus kita usahakan, kita cari.

Selain sebagai musisi, mas Tamam juga aktif sebagai pengajar. Adakah sesuatu yang mendorongnya?
Ya. Salah satu alasanya karena saya ingin berbagi ilmu. Bukan dipegang sendiri. Sama seperti kita musik, kan harus dibagikan agar orang merasakan manfaatnya. Agar merasa terhibur dengan musik kita. Buat apa kita main musik kalau hanya untuk didengar diri sendiri. Ya kan? Kalau orang lain senang mendengar musik yang kita mainkan, kan enak. Ada kepuasan bathin. Saya telah berkeliling ke banyak kota di dan daerah di Indonesia. Pernah ke Sampit, Kalimantan Tengah, hingga Kaimana dan juga Timika di Papua. Saya melihat banyak anak-anak berbakat, dan bertalenta musik, hanya saja mereka tidak dilengkapi dengan ilmu yang memungkinkan bakat-bakat mereka berkembang lebih baik lagi. Jadi saya merasa disini peran saya. Selalu ingin berbagi. Juga saya kira ini juga peran siapapun yang memiliki kompetensi dalam musik, untuk membagikan ilmunya. Oleh karena itu saya mengajak para pelaku musik jangan menumpuk di Jakarta, tapi juga harus ada di daerah lain misalnya di kawasan timur, seperti Ambon, Sulawesi, Manado, Papua dan lain-lain

Dari pengalaman berbagi ilmu itu, apa yang berkesan bagi mas Tamam?
Semua berkesan karena saya merasakan ada hasilnya. Jadi nggak sia-sialah. Dari yang semula tidak tahu, menjadi tahu. Yang tadinya main biasa-biasa saja, menjadi mengerti bahwa musik itu ternyata sangat kaya. Sebuah lagu bisa dimainkan dalam berbagai gaya, variasi dan teknik yang memperindah permainan. Jadi, membuka wawasan yang lebih luas lagi. Saya juga banyak terlibat dalam kegiatan anak-anak berkebutuhan khusus. Saya melibatkan anak saya, Nina, membuat pelatihan musik untuk anak berkebutuhan khusus. Dan ternyata peminatnya banyak. Yang membuat saya terharu adalah ketika suatu saat saya menerima WA dari seorang ibu yang mengabarkan bahwa putranya sekarang sudah bisa mandiri setelah mengikuti pelatihan tersebut. Anak ibu ini seorang tunanetra. Jadi seperti itulah. Bagi saya mengajar maupun bermain musik sama-sama membawa misi, yaitu membahagiakan orang.

Mas Tamam dikenal sebagai musisi yang memiliki jaringan yang luas dengan berbagai kalangan, baik di musik maupun di luar musik, khususnya pemerintahan. Apa kuncinya?
Saya sendiri tidak tahu apa kuncinya hahaha….tapi mungkin yang membuat mereka peracaya karena saya ini orangnya terbuka dengan siapa saja dan senang bekerjasama dengan siapa saja. Dan saya juga tidak menutup diri terhadap kritik, saran, dan usulan, karena dalam setiap proyek, yang ada kan kerjasama. Hasilnya ya hasil dari kerja banyak orang, bukan karena saya pribadi. Bukan hasil dari bos. Jadi saya tidak merasa saya ini paling hebat, paling pinter dan segala macam. Tidak. Yang kedua, mungkin karena saya ini orangnya apa adanya. Being honest itu menjadi landasan kerja saya. Kejujuran itu kan yang bisa melanggengkan semua hubungan dan komunikasi, karena dari kejujuranlah akan terbangun kepercayaan. Kira-kira seperti itulah

Banyak anak muda kita belajar musik, bahkan lulusan luar negeri dan kembali ke Indonesia untuk berkarier di musik. Apa saran mas Tamam untuk mereka?
Saran saya, nomor satu jangan cepat puas dengan apa yang didapat sekarang. Ikuti perkembangan, dan tetap belajar. Jangan berhenti berlatih. Dunia musik memang butuh banyak sarana yang mendukung, tapi jangan karena tidak ada sarana kemudian kita putus asa. Ada tidaknya sarana, tetap berkaryalah meski sesederhana apapun itu. Hormati orang apa adanya. Banyaklah bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan karena kita akan banyak belajar dari orang-orang di sekeliling kita. Kedua, jangan melupakan orang-orang yang pernah berjasa dengan kita, betapapun kecilnya, siapapun itu, guru-guru kita, teman-teman kita, lebih-lebih orangtua kita. Ketiga, yakin dengan apa yang sudah jadi pilihan. Kerjakan dan tuntaskan.

Sebagai musisi dan pengajar musik, bagaimana pendapat mas Tamam tentang Steinway?
Saya sudah memainkan piano dari banyak merek. Termasuk yang mahal-mahal seperti Steinway, dan saya dapat mengambil kesimpulan bahwa piano yang bagus dan mahal itu, semakin mahal harganya ternyata semakin bersifat personal. Maksud saya, piano ini bisa demikian menyatu dengan pemainnya, dan mampu menyediakan semua aspek yang diinginklan pemainnya. Piano-piano mahal seperti Steinway ini bagaikan punya sukma, karena sepertinya dapat memahami karakter yang memainkannya. Semakin mahal, semakin personal, dan itu luar biasa buat saya. (*)

Article Bottom Ad