‘Memory Loss’ dalam Pertunjukan

219

Article Top Ad

Pernah mengalami “memory lapse”? atau “memory loss” atau “hilangnya ingatan sesaat” pada saat Anda sedang pentas? Rasanya setiap pianis, atau pemain alat musik apapun, pernah mengalami situasi dan kondisi dimana mereka tiba-tiba “hilang ingatan” atau lupa dengan bagian-bagian musik tertentu yang sedang dimainkan, bahkan para musisi dan pianis professional sekalipun. Mengapa bisa terjadi?

MENURUT Jennifer Mishra, professor musik di Department of Music University of Northern Iowa, fenomena “memory lapse” atau “memory loss” yang dialami para pianis dan kebanyakan musisi, bukanlah sesuatu yang mengherankan, dan bukan merupakan bencana besar. Fenomena itu justru menjadi seni tersendiri dan tantangan bagi setiap musisi bagaimana mereka mengatasi memory lapse di tengah permainannya, tanpa harus kehilangan kendali atas permainannya.

Pemain musik yang baik, kata Mishra, bukan semata-mata karena ia bisa memainkan setiap not dengan benar, tepat dan akurat, tetapi pada bagaimana mereka mengatasi setiap kesulitan-kesulitan dengan caranya sendiri dan khas. “Pianis-pianis professional mengembangkan teknik sendiri bagaimana menghadapi setiap kemungkinan dalam pertunjukannya, termasuk misalnya bila mereka lupa sebuah bagian lagu, dengan cara sedemikian rupa sehingga pertunjukan mereka tetap bisa berlangsung menarik,” katanya.

Article Inline Ad

Mishra menjelaskan, dalam setiap wacana yang membahas tentang penghafalan notasi musik atau memorization, terdapat sebuah pemahaman yang tersirat bahwa ‘kelupaan’ atau ‘kehilangan memori’ dapat terjadi setiap saat, sewaktu-waktu, dan pada siapa saja.
Berbagai macam metode, teknik dan sejumlah langkah-langkah antisipasi dibuat sedemikian rupa untuk membantu musisi mengurangi risiko ‘terlupa’ atau ‘kehilangan memori’ saat performance. “Tetapi kehilangan memori tetap saja menjadi sebuah fenomena yang tidak mungkin dihindari. Bahkan muncul berbagai spekulasi dari beberapa peneliti yang mencoba menjabarkan sebab-sebab terjadinya kasus kehilangan memori’ itu,” katanya.

Salah satu persoalan yang mencoba menjelaskan mengapa kelupaan sering terjadi adalah bahwa sebuah gangguan yang muncul pada saat memainkan sebuah lagu yang sudah dihafal di tengah berlangsungnya performance, tidak selalu disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengingat kembali musik. Salah seorang peneliti masalah ini, John Rider mengatakan bahwa, kesalahan memori yang menyebabkan kemacetan dan gangguan sebenarnya lebih disebabkan oleh keterampilan teknik yang belum memadai, atau kurangnya menguasai teknik. Namun hingga kini belum ada riset yang bisa menjelaskan apakah memang munculnya gangguan atau interupsi di tengah permainan yang secara umum disebut “memory lapse” itu bisa terjadi juga pada musik-musik yang telah dicetak (partitur).

Dua peneliti, masing-masing Binkowski dan Jacobson mengatakan bahwa faktor kemampuan teknik menjadi pengaman utama disaat seseorang mengalami ‘kehilangan memori’. Binkowski memberikan catatan bahwa bagian-bagian lagu terdiri dari harmoni-harmoni perubahan-perubahan yang rumit, berpotensi menyebabkan sebuah “memory lapse”.

Ia juga berargumen bahwa kegelisahan dan stress yang disebabkan oleh persiapan yang kurang dan kesulitan-kesulitan teknis, bisa menyebabkan hilangnya ingatan atau lupa pada saat seseorang sedang performance. Sementara Jacobson menjelaskan bahwa musik, baik secara teknik, intelektual, maupun dalam memori kesulitan-kesulitan musikal, dapat menimbulkan kesalahan dalam memori.

Selain faktor kemampuan teknik, berbagai varisi kegelisahan seperti pernafasan yang tidak teratur, tangan yang tiba-tiba dingin, lutut gemetaran, telapak tangan menjadi berkeringat, tangan atau kaki menjadi kaku dan sulit digerakkan, hingga sulit berkata-kata, menyebabkan situasi performance penuh dengan kemungkinan terjadinya penyimpangan dan kesalahan-kesalahan yang tidak seharusnya terjadi seperti ketika direncanakan dalam latihan.

Pemain, misalnya, mula-mula mungkin tidak secara sadar memperlihatkan terjadinya penyimpangan disebabkan terpecahnya konsentrasi akibat pengaruh penonton.
Peneliti lain, Foster, mengambarkan sebuah pengalaman yang dialaminya ketika ia kehilangan konsentrasi dalam sebuah kompetisi piano. Salah seorang juri memanggilnya, kemudian ia bertanya apakah orangtua dikerumunan penonton itu yang menyebabkan ia kehilangan konsentrasi.

“Saya heran dan kembali bertanya, orangtua yang mana? Rupanya secara tidak sadar saya sebenarnya baru saja mengalami kehilangan konsentrasi, saat ada seseorang memasuki ruangan dari sisi kanan hall, mengambil duduk di depan kerumunan penonton. Ia kemudian berdiri melepas jaketnya sambil menepis-nepisnya, dan meletakannya di sebuah kursi sebelum ia duduk kembali. Agaknya ini cukup mengganggu konsentrasi saya, meskipun saya tidak menyadari adanya insiden itu,” kata Foster.

Latihan yang Buruk
Menurut Jordan-Anders, beberapa kasus hilangnya konsentrasi sepanjang seseorang berada dalam sebuah performance disebabkan karena kebiasaan latihan yang buruk. “Semakin banyak waktu latihan yang dihabiskan, secara otomatis membuat konsentrasinya lebih fokus pada musik itu sendiri, sehingga tidak memiliki peluang menciptakan kondisi mental yang vakum, yang merupakan sifat alami pada setiap manusia. Pada kondisi vakum, pikiran seseorang akan mudah dimasuki dengan berbagai kemungkinan, misalnya, tiba-tiba saja terlintas pikiran makan apa nanti malam ya?” katanya.

Dalam sebuah situasi performance, kekosongan pikiran akan dapat diisi dengan sesuatu pemikiran yang lebih berbahaya lagi, yang mungkin tiba-tiba muncul untuk membingungkan dan tidak jarang menyebabkan kehilangan memori. Hal itu menyebabkan munculnya penyimpangan-penyimpangan, termasuk pertanyaan dalam dirinya yang juga menambah kebingungannya, dimana seharusnya seorang musisi diminta memprioritaskan permainannya sepanjang pertunjukannya. Misalnya muncul pertanyaan,”Apakah saya benar-benar mengetahui apa yang harus saya lakukan berikutnya? Pada bagian mana saya harus mulai? Berapa lama saya harus memainkannya di sesi A?, atau, Apa ya..notasi berikutnya?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu dapat mengganggu. Menurut Jacobson, kebiasaan latihan yang jelek juga merupakan sebuah alasan terjadinya perpecahan konsentrasi selama pertunjukan, yang sangat membutuhkan konsentrasi secara intens. Jika konsentrasi hanya dilakukan secara setengah-setengah selama latihan, tidak menutup kemungkinan penampil akan sulit berkonsentrasi penuh sepanjang pertunjukannya.

Belajar dari pengalaman musisi-musisi terkenal, dapat digunakan untuk belajar membebaskan diri mereka sendiri secara elegan untuk keluar dari kondisi hilangnya konsentrasi. Bila pikiran kosong ini menyergap pada mereka yang masih anak-anak, akan lebih parah lagi kerusakan yang diakibatkan. Mereka dapat dengan tiba-tiba berhenti memainkan instrumennya dan memulai dari awal lagi.

Hilangnya memori ini dapat terjadi pada siapa saja dan pada momen-momen yang tidak diharapkan. Meskipun seorang penampil dapat memainkan sebuah karya dengan sempurna dari awal hingga akhir pada saat gladi bersih, namun itu bukan jaminan ia tidak akan mengalami saat-saat yang menyebalkan pada saat performance yang sebenarnya. Situasi seperti ini memang sulit dicegah dan tidak dapat diduga. Belum termasuk berbagai aktivitas yang dapat menyulut terjadinya ‘kekosongan’ dalam performance.

Pre-Concert
Salah satu kegiatan yang mungkin dapat membantu menguatkan memori dan mencegah hilangnya memori dalam sebuah performance adalah melalui sebuah pre-concert performance. Kebanyakan guru lebih suka menggunakan dalam bentuk gladi bersih atau sebuah masterclass kepada siswanya untuk melatih repertori mereka.

Pada umumnya, pre-concert performance ini diadakan pada sebuah ruang dengan panggung kecil di depannya, dan audien yang simpati kepadanya. Artinya, penonton yang tidak dalam rangka memberikan kritikan atas permainannya meski pemain melakukan kesalahan teknik atau terlupa. Untuk mendatangkan audien ini dapat mengundang teman-teman dekatnya, keluarga bahkan famili dan membolehkan menggunakan sebuah tape recorder.

Meskipun tidak banyak, penonton simpatik ini akan mengurangi kemungkinan munculnya kegelisahan, dan bisa membantu pemain melakukan penghapalan. Performance ini akan lebih baik jika menggunakan tempat-tempat seperti gereja, ruangan di sekolah musik atau sekolah paduan suara. Bahkan lebih baik lagi jika suasana di sekitar dibuat sedemikian rupa sehingga mendekati nuansa panggung yang sebenarnya, seperti penataan lampu, tepuk tangan, memberi hormat, kesesuaian program dan saat istirahat.

Merancang setting ruangan menyerupai panggung yang akan dipergunakan sebenarnya selama latihan, adalah cara meniru gangguan yang mungkin muncul dan mengacaukan konsentrasi dan bagaimana dapat menguasainya. Gagasan yang sama juga dikemukakan oleh Foster dengan mendorong siswa-siswanya berlatih dengan suasana yang tidak tenang. Misalnya membiarkan televisi dalam keadaan menyala, membiarkan orang-orang berbincang-bincang disekitarnya, atau anak-anak yang berlarian di sekitar ruangan ketika ia latihan.

Konsep latihan performance yang disarankan dua pemeliti lainnya, Ford dan Magarth adalah perlunya “tekanan yang tidak biasa” dalam pre-concert performance. Seorang audien pada umumnya tidak selalu memberikan penghargaan ketika seorang anak tampil untuk latihan, namun si anak harus siap dengan kondisi apapun seperti ia akan benar-benar tampil. Magarth bahkan menyarankan mereka juga sebaiknya mengenakan sepatu yang sama yang akan dipakai saat performance nanti.

Bagi pianis, bentuk, penampilan, atau merek piano yang tidak biasa digunakan, hanya semakin menambah gangguan. Idealnya, penampil dapat lebih dulu mencoba memainkan piano jenis apa yang akan dipergunakan dalam pementasannya nanti. Ini berguna untuk mencegah gangguan yang mungkin timbul disebabkan karena memainkan sebuah instrument yang berbeda.

Magarth juga menyarankan agar mereka sebisa mungkin mencoba berbagai jenis piano yang berbeda. Jika seorang pianis dapat memainkan musiknya pada berbagai piano yang berbeda, maka ketika ia harus tampil dengan piano yang tidak biasa ia mainkan, hal itu dapat mengurangi persoalan yang mungkin timbul.

Sebagian besar saran yang dikemukakan tersebut berdasarkan pada pengalaman dan kondisi umumnya. Namun hingga kini belum ada penelitian bagaimana sebenarnya aktifitas yang disarankan tersebut dapat mengurangi gangguan dalam performance. Studi tentang memori dalam musik secara khusus masih sangat sedikit, tetapi dapat ditemukan dalam kajian bidang lain yaitu tentang memori, khususnya kegagalan memori, yang mungkin dapat menjelaskan mengapa terjadi ‘gangguan memori’ dan bagaimana cara untuk mencegahnya. (Dien)

Article Bottom Ad