Lihat permainan Ananda di Youtube
TIDAK banyak yang tahu bahwa pianis Ananda Sukarlan, orang Indonesia satu-satunya yang namanya masuk dalam daftar Outstanding Musicians on the 20th Century, menderita asperger’s syndrome. Yakni, salah satu bentuk dari autisme, di mana bahkan sekilas pengidapnya tak nampak bahwa mereka mengalami gangguan kesehatan mental.
Bahkan Ananda sendiri belum tahu bahwa ia mengidap sindrom autisme tersebut hingga berusia 28 tahun saat ia tinggal di Eropa. Sindrom Asperger (juga dikenal sebagai Gangguan Asperger) pertama kali dijelaskan pada tahun 1940-an oleh dokter anak Hans Asperger, yang mengamati perilaku seperti autisme dan kesulitan dengan keterampilan sosial dan komunikasi pada anak laki-laki yang memiliki kecerdasan normal dan perkembangan bahasa.
Ananda sendiri mengakui masa kecilnya tidak terlalu indah, di luar pengalamannya bermain piano. Saat ia masih berusia 5 tahun ia sempat mengalami speech delay alias telat berbicara. “Waktu itu orang tua mikir saya masalah ini, masalah itu, dan waktu itu di Indonesia istilah autisme mungkin belum ada ya di tahun 70-an,” tutur Ananda seperti yang dikutip dari detikHealth.
Saat bersekolah, ia disebut kemampuan sosialnya sangat kurang, karena ia jarang berinteraksi dengan teman-temannya dan suka menyendiri. Ia disebut anti sosial dan sempat mendapat bully-an dari teman-temannya di sekolah.”Saya sih tentu saja ada rasa rendah diri, kemudian saya selalu berpikir kenapa sih saya kayak gini. Tapi saya nggak tertarik sama hal-hal yang harusnya orang lain tertarik. Olahraga, saya sama sekali nggak bisa olahraga. Saat saya nyetir pun nggak bisa-bisa. Naliin sepatu gitu aja buat saya susah banget,” jelas Ananda.
Mereka yang mengidap asperger’s memang biasanya terlihat seperti anak jenius yang memiliki kesulitan bersosialisasi sehingga tak jarang mendapat julukan antisosial. Pengidap sindrom asperger’s juga kesulitan dalam mengekspresikan dirinya atau menyatakan emosinya, dan itu juga yang Ananda rasakan. Dan saat itulah Ananda menemukan cara untuk mengekspresikan dirinya lewat piano yang ada di rumahnya. Saat ia sedih, saat ia senang tak begitu nampak di wajahnya, yang disebut oleh Ananda rancu dan kadang-kadang seperti tanpa ekspresi.
“Kebetulan karena ada piano di rumah, saya seringnya main piano aja. Saya tuh kebalikannya dengan anak-anak yang kalo sekarang tuh ngehits banget kalo les piano gitu kan. Orang tuanya selalu tanya ‘hari ini udah main piano belum?’ kalo saya kebalikannya, ‘hari ini udah bikin PR belum?’ ‘kamu udah mandi belum?’ karena saya kerjaannya main piano doang, fokusnya di situ,” kata Ananda.
Namun siapa sangka, dengan ketekunannya bermain piano ia dapat mengatasi gangguannya tersebut. Lewat menulis musik, ia jadi lebih tahu emosinya sendiri karena kadang ia mengaku tak terkoneksi dengan emosinya sendiri. “Jadi waktu saya nulis musik dan musiknya itu saya dengerin, wah ternyata saya perasaannya lagi begini. Sedih itu kan cuma satu kata, tapi sedihnya kayak apa kan itu musik yang spektrumnya, rangenya tuh bisa besar sekali jadi ia bisa mengatakan kesedihannya seperti apa gitu,” katanya.
Musik menjadi perantaranya dalam mengekspresikan dan menyatakan apa yang tidak bisa ia ungkapkan. Baginya musik jauh lebih spesifik dalam menjelaskannya ketimbang kata-kata. Akhirnya hal ini membawanya menjadi seorang pianis dan komposer terkenal, baik di Indonesia maupun di luar negeri, khususnya di Eropa. Baru-baru ini ia bahkan menjadi pianis pertama yang bermain di atas kapal Greenpeace.
Ananda kini tak menemukan kesulitan dalam berinteraksi dengan keluarganya setelah mereka mengerti tentang keadaannya tersebut. Ia juga sering memberikan awareness lewat media sosialnya, meski tak sedikit yang tetap merespon negatif. “Banyak yang bilang ‘ah lo tu gila aja, nggak ngaku aja kalo lu gila’. Cuekin aja, orang yang sok tahu mau dibilangin kayak apa juga susah kan hahaha….,” kata Ananda, yang kini masih berusaha mengatasi masalah buta arah yang sering membuatnya nyasar.
Selain aktif dalam berpiano, Ananda juga menyempatkan melatih guru-guru piano untuk anak-anak autis, salah satunya di Yayasan Daya Pelita Kasih Jakarta Selatan, di mana ia telah bekerja sama untuk kurang lebih 2 tahun terakhir. Ananda menyebut kondisi jaman sekarang menghadapi autisme sudah lebih baik ketimbang zamannya dulu, walau masih ada beberapa orang tua yang denial ketika mengetahui anaknya mengidap autisme. Ia berharap ke depannya autisme dapat memiliki tempat yang lebih baik dan tidak dianggap sebagai ‘alien’. (eds)













































