Pembaca Budiman,
RASANYA tak bisa dibantah bahwa segala yang ada dalam kehidupan ini, digerakkan oleh apa yang kita sebut sebagai “cinta”. Kehidupan itu sendiri ada, karena cinta. Cintalah yang menjadikan hidup. Maka terasa benar apa yang dikatakan para penyair dan orang-orang bijak, bahwa tanpa cinta, kehidupan akan membeku.
Semua karena cinta, kata Glenn Fredly dalam sebuah lagunya. Maka, mengajar (musik) pun seharusnya karena cinta. Belajar pun juga karena cinta. Mereka yang menolak realitas ini, akan bertabrakan dengan kesadaran nuraninya. Persoalannya adalah, cinta ibarat sebuah kanvas kosong dimana setiap orang bebas menggoreskan semaunya.
Atau ibarat kertas putih dimana setiap kepala boleh mendefinisikannya menurut isi kepala dan kesadarannya. Maka kita menemukan beragam arti cinta, bentuk cinta, dan ekspresi cinta, yang antara satu orang dengan lainnya sangat berbeda, tergantung pada kualitas kesadaranya.
Kualitas kesadaran itu sendiri sangat ditentukan oleh seberapa dalam dan luas pemahamannya terhadap realitas. Sementara pemahaman terbentuk dari proses belajar dan pengalaman. Maka sangat boleh jadi, antara satu guru dengan guru lainnya pun, memiliki pemahaman yang berbeda tentang apa yang dimaksud teaching with love. Pun demikian, antara satu murid dengan murid lainnya dalam memahami learning with love.
Seringkali cinta diekspresikan (atau bahkan disamakan) dengan “senang”. Padahal, dua pengertian itu sangat berbeda, bahkan mungkin kontradiktif. “Anda boleh senang dengan sesuatu, tapi belum tentu Anda mencintainya. Sebaliknya, cinta mungkin sekali berawal dari senang, sebab Anda tentu tidak akan mencintai tanpa rasa senang,” kata psikolog Gustav Jung.
Dari perspektif yang lebih dalam, cinta muncul dari kedalaman hati yang bening dan bersih. Sementara senang, lahir dari nafsu (keinginan). Tidak dengan sendirinya nafsu itu jelek, sebab ia merupakan sumber enerji, bagian yang sangat penting dari kelangsungan dan kegairahan makhluk hidup, seperti yang dikatakan Goethe, “Cinta dan nafsu merupakan sayap-sayap jiwa menuju tindakan-tindakan besar”. Cinta dan nafsu menetapkan tujuan, barulah logika memikirkan bagaimana cara mencapainya atau membenarkannya.
Dari luar, cinta sejati tampaknya hampir-hampir tak dapat dibedakan dengan nafsu. Padahal keduanya berbeda. Cinta adalah tentang “memberi”, sedangkan nafsu adalah tentang “memuaskan”. Dan ketika cinta tidak dibedakan dengan nafsu, misalnya, proses mengajar dan belajar tak lebih dari sekadar proses jual beli belaka. “Saya jual, dan kamu membayarnya”. Selesai!
Apa sebenarnya cinta? Anda boleh menuliskan apa saja tentang cinta, tetapi ada satu perasaan universal yang sulit kita bantah bahwa cinta adalah kecenderungan hati pada sesuatu, diiringi dengan kesediaan berkorban demi sesuatu itu. Pada konteks pendidikan, cinta sejati seorang guru, barangkali seperti yang diwasiatkan tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara.
“Ing ngarso sun tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”.
Cinta sejati seorang pendidik, harus mampu menempatkan dirinya pada posisi: “Di depan, ia memberi teladan yang baik”, “Di tengah, ia membimbing dan memberikan semangat”, “Di belakang, ia mengawasi dan mengingatkan”.
Salam musik
Eddy F. Sutanto (Pimred STACCATO)














































