Ketika Anak Malas Berlatih

184

Article Top Ad

TAK terhitung lagi berapa banyak orangtua yang mengeluh dan kecewa dengan anak-anaknya yang cenderung malas dan susah diajak latihan di rumah. Bahkan tidak jarang anak-anak mereka malah ngambek atau menangis gara-gara selalu disuruh berlatih.

Ada orangtua yang kemudian memarahi anaknya, mengancam anak untuk tidak akan membelikan ini dan itu kalau tidak mau berlatih, membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain, atau bahkan ada orangtua yang mengunakan cara kekerasan (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Tanpa disadari, semua ini akan sangat berpengaruh pada fisik maupun psikis anak-anak.

Bagaimanakah cara untuk mengatasi anak yang malas berlatih? Diperlukan kesediaan orangtua untuk menganalisa anaknya: mencari penyebab dari perilaku malas berlatih, kemudian mencari solusi guna mengatasinya.

Article Inline Ad

Sebenarnya, malas berlatih pada anak secara psikologis merupakan wujud dari melemahnya kondisi mental, intelektual, fisik, dan psikis anak. Rasa malas timbul dari beberapa faktor. Untuk lebih mudahnya terbagi menjadi dua faktor besar, yaitu faktor intrinsik (dari dalam diri anak), dan faktor ekstrinsik (faktor dari luar anak).

Faktor intrinsik dapat disebabkan karena kurang atau tidak adanya motivasi diri. Motivasi ini kemungkinan belum tumbuh dikarenakan anak belum mengetahui manfaat dari berlatih atau belum ada sesuatu yang ingin dicapainya. Selain itu kelelahan dalam beraktivitas dapat berakibat menurunnya kekuatan fisik dan melemahnya kondisi psikis. Sebagai contoh, terlalu lama bermain, terlalu banyak mengikuti les ini dan les itu, terlalu banyak mengikuti ekstrakulikuler ini dan itu, atau membantu pekerjaan orangtua di rumah, merupakan faktor penyebab menurunnya kekuatan fisik pada anak.

Sementara faktor ekstrinsik tidak kalah besar pengaruhnya terhadap kondisi anak untuk menjadi malas berlatih. Ini bisa ditimbulkan dari, misalnya, sikap orangtua sendiri. Sikap orangtua yang tidak memberikan perhatian dalam berlatih atau sebaliknya terlalu berlebihan perhatiannya, bisa menyebabkan anak malas berlatih.

Banyak orangtua di masyarakat kita yang menuntut anak untuk belajar dan berlatih hanya demi angka (nilai) dan bukan mengajarkan kepada anak sebuah kesadaran dan tanggung jawab anak untuk belajar dan berlatih. Akibat dari tuntutan tersebut tidak sedikit anak yang stress dan sering marah-marah (ngambek) sehingga hasil yang ia peroleh kurang memuaskan.

Parahnya lagi, tidak jarang orangtua yang marah-marah dan mencela anaknya bilamana anak mendapat hasil yang kuang memuaskan. Menurut para pakar psikologi, sebenarnya anak-anak (pra sekolah hingga SD) jangan terlalu diorentasikan pada nilai (hasil belajar/berlatih), tetapi bagaimana membiasakan diri untuk belajar, berlatih tanggung jawab, dan berlatih dalam suatu aturan.

Faktor ekstrinsik lain yang juga berpengaruh, juga muncul dari sikap sikap guru sendiri. Guru selaku tokoh teladan atau figur yang sering berinteraksi dengan anak dan dibanggakan oleh mereka, tapi tidak jarang sikap guru juga menjadi objek keluhan siswanya. Ada banyak macam penyebabnya, mulai dari ketidaksiapan guru dalam mengajar, tidak menguasai bidang pelajaran akan diajarkan, atau karena terlalu banyak memberikan tugas-tugas dan pekerjaan rumah.Selain itu, sikap sering terlambat masuk kelas di saat mengajar, bercanda, atau membawa masalah pribadi ke kelas, membuat suasana belajar semakin tidak nyaman, tegang dan menakutkan bagi siswa tertentu.

Suasana rumah juga berperan penting sebagai faktor ekstrinsik. Bukan suatu jaminan rumah mewah dan megah membuat anak menjadi rajin berlatih. Tidak pula rumah yang sangat sederhana menjadi faktor mutlak anak malas berlatih. Rumah yang tidak dapat menciptakan suasana belajar dan berlatih yang baik adalah rumah yang selalu penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap.

Selain itu tersedianya fasilitas-fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Mulai dari radio tape yang menggunakan kaset, CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games). Kondisi seperti ini berpotensi besar untuk tidak terciptanya suasana belajar yang baik.

Setidaknya ada enam langkah untuk mengatasi malas berlatih pada anak dan membantu orangtua dalam membimbing dan mendampingi anak yang bermasalah dalam belajar antara lain:

1. Mencari Informasi
Orangtua sebaiknya bertanya langsung kepada anak guna memperoleh informasi yang tepat mengenai dirinya. Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas berlatih. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.

2. Membuat Kesepakatan
Kesepakatan dibuat untuk menciptakan keadaan dan tanggung jawab serta memotivasi anak dalam berlatih, bukan memaksakan kehendak orang tua. Kesepakatan dibuat mulai dari bangun tidur hingga waktu hendak tidur, baik dalam hal rutinitas jam belajar, lama waktu belajar, jam belajar bilamana ada PR atau tidak, jam belajar di waktu libur sekolah, bagaimana bila hasil belajar baik atau buruk, hadiah atau sanksi apa yang harus diterima dan sebagainya. Kalaupun ada sanksi yang harus dibuat atau disepakati, biarlah anak yang menentukannya sebagai bukti tanggungjawabnya terhadap sesuatu yang akan disepakati bersama.

3. Menciptakan Disiplin.
Bukanlah suatu hal yang mudah untuk menciptakan kedisiplinan kepada anak jika tidak dimulai dari orangtua. Orangtua yang sudah terbiasa menampilkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari akan dengan mudah diikuti oleh anaknya. Orangtua dapat menciptakan disiplin dalam belajar yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Latihan kedisiplinan bisa dimulai dari menyiapkan peralatan untuk berlatih, buku-buku pelajaran, mengingatkan tugas-tugas yang diberikan gurunya, menanyakan bahan pelajaran yang telah dipelajari, ataupun menanyakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam suatu pelajaran tertentu, terlepas dari ada atau tidaknya tugas dari guru

4. Menegakkan Kedisiplinan.
Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). Untuk mengalihkannya gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak. Bila dapat melakukan aktivitas bersama di dalam satu ruangan saat anak berlatih, orang tua dapat sambil membaca koran, majalah, atau aktivitas lain yang tidak mengganggu anak dalam ruang tersebut. Dengan demikian menegakkan disiplin pada anak tidak selalu dengan suruhan atau bentakan sementara orang tua melaksanakan aktifitas lain seperti menonton televisi atau sibuk di dapur.

5. Ketegasan Sikap
Ketegasan sikap dilakukan dengan cara orangtua tidak lagi memberikan toleransi kepada anak atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya secara berulang-ulang. Ketegasan sikap ini dikenakan saat anak mulai benar-benar menolak dan membantah dengan alasan yang dibuat-buat. Bahkan dengan sengaja anak berlaku ‘tidak jujur’ melakukan aktivitas-aktivitas lain secara sengaja sampai melewati jam berlatih. Ketegasan sikap yang diperlukan adalah dengan memberikan sanksi yang telah disepakati dan siap menerima konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukannya.

6. Menciptakan Suasana Berlatih
Menciptakan suasana berlatih yang baik dan nyaman merupakan tanggung jawab orangtua. Setidaknya orang tua memenuhi kebutuhan sarana berlatih, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat berlatih. Sebagai selingan, orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana latihan tidak tegang dan tetap menarik perhatian. Ternyata malas berlatih yang dialami oleh anak banyak disebabkan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu sebelum anak terlanjur mendapat nilai yang tidak memuaskan dan membuat malu orangtua, hendaknya orangtua segera menyelidiki dan memperhatikan minat belajar anak. Selain itu, menumbuhkan inisiatif mandiri pada anak, menanamkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang.

Jika enam langkah ini dapat diterapkan pada anak, maka sudah seharusnya tidak adalagi keluhan dari orangtua tentang anaknya yang malas berlatih atau anak yang ngambek karena selalu dimarahi orang tuanya. (eds, berbagai sumber)

Article Bottom Ad