Sri Hanuraga

630

Article Top Ad

Mengawali belajar piano dengan musik klasik, Sri Hanuraga justru menemukan identitas dirinya di Jazz Progresif. Bagaimana ia menemukan jati dirinya di musik yang sarat dengan improvisasi itu? Berikut bincang singkatnya di Steinway Family Story

 

Bagaimana Anda mengenal musik?

Article Inline Ad

Awalnya saya belajar gitar dengan ayah yang juga gitaris. Saat umur 11 tahun,  saya belajar privat piano. Saat itu saya tidak terlalu serius. Kalau disuruh belajar saya sering bolos hahaha…Nah saya mulai serius dan tertarik dengan piano saat di Yayasan Pendidikan Musik. Pada waktu itu saya sering nonton video musik, terutama trio progressive rock Emerson, Lake, and Palmer. Saya kagum dengan pemain keyboardnya, Keith Emerson dan format trio yang diusungnya dimana hanya dengan keyboard, bass dan drum, menghasilkan musik yang luar biasa. Gaya musik ELP ini benar-benar obsesi saya, dan Keith Emerson adalah idola saya

 

Apakah Keith Emerson  memberi pengaruh dalam proses kreatif Anda?

Bisa dibilang begitu. Saya selalu bertanya bagaimana dia bisa bermain sehebat itu, siapa yang menginspirasinya? Ini membawa saya mengenal musisi jazz legendaris seperti Charlie Parker, Red Garland, Oscar Peterson dan Bud Powell. Disini, Indra Lesmana, Riza Arshad bersama kelompok Simak Dialog-nya, Dwiki Dharmawan dan musisi jazz Indonesia lainnya, juga memberi pengaruh gaya musik saya yang cenderung progresif.

 

Bagaimana Anda memahami musik progresif dan mengapa memilih Jazz sebagai pijakannya?

Sifat progresif dalam musik lebih pada pengertian memperluas batas dan gaya yang terkait dengan genre musik tertentu. Progresif berada di antara formalisme dan eklektisisme musik. Formalisme mengacu pada sistem komposisi dan  kesatuan struktur yang ketat. Eklektisisme cenderung menuju sintesis atau integrasi gaya, mengedepankan diskontinuitas antara gaya historis dan kontemporer, serta pemanfaatan efek media elektronik, idiom, dan budaya yang berbeda. Musik progresif biasanya mensintesis pengaruh berbagai domain budaya. Dalam segi pemasaran, istilah musik progresif digunakan untuk membedakan produk dari musik pop komersial. Kenapa saya memilih jazz, ya karena saya menyukai jazz yang di dalamnya menyediakan ruang improvisasi tak terbatas. Ini cocok dengan karakter saya yang selalu mencari sesuatu yang baru.

 

Bagaimana Anda mengaplikasikan idiom progresif ke dalam musik Anda?  

Manifestasi jazz progresif saya adalah dengan membawa unsur budaya di musik tradisional kita. Berbeda dengan beberapa kawan yang menghadirkan alat musik tradisional dalam komposisinya, saya lebih suka memasukan motif saya sendiri baik secara personal maupun grup dengan lebih mengedepankan spontanitas dan kebebasan  melalui beragam gaya seperti bebop, hardbop, swing, blues, dan funk. Album saya, “Just Braggin” adalah contoh jelas bagaimana definisi progresif dalam pemahaman saya. Di dalamnya terdapat folksong “Ilir Ilir”, “Cublak Suweng” dan lagu nasional “Bangun Pemuda Pemudi.”

 

Anda belajar piano klasik, bagaimana kemudian keluar dari  formalitas musik klasik?

Meskipun saya belajar jazz, selama tahun pertama di konservatorium saya ambil kelas musik klasik, karena banyak aspek yang bisa diserap seperti tentang teknik, komposisi, interpretasi, dan banyak lagi yang sangat berguna untuk diaplikasikan di jazz.  Musisi jazz pun banyak diantaranya adalah musisi klasik seperti Oscar Peterson, Bill Evans, Chick Corea, yang berhasil memadukan estetika bebop dengan kepekaan musik klasik, menghasilkan gaya permainan piano yang sangat harmonis, romantis, liris dan kaya ekspresi. Jika kemudian saya memainkan jazz, karena passion saya memang di jazz. Belajar musik klasik tidak mesti harus menjadi musisi klasik. Jadi, ini soal pilihan saja. Keith Emerson sendiri adalah sosok yang menemukan identitasnya justru dengan belajar beragam style musik mulai dari sonata-sonata Beethoven, Bach, Aaron Copland, Oscar Peterson, Shostakovich, hingga Dave Brubeck dan Fats Waller.

 

Bagaimana Anda memperdalam musik jazz?

Setelah banyak bermain dengan musisi jazz, ada kesadaran dalam diri saya bahwa saya harus memperdalam ilmu dan keterampilan. Mengandalkan bakat dan senstifitas saja, tidak cukup. Atas dorongan mentor saya, Indra Lesmana dan Riza Arshad, juga musisi jazz lainnya, saya memutuskan untuk memperdalam pengetahuan jazz saya. Pada usia 19 tahun, saya berangkat ke Belanda, belajar jazz piano di Conservatorium van Amsterdam. Pinginnya sih ke Boston tetapi saat itu  rumah keluarga kebakaran sehingga keuangan yang ada untuk merenovasi rumah.

 

Apa yang Anda dapatkan selama belajar jazz di Belanda

Banyak. Di samping ilmu musik, juga sumber informasi dan kepustakaan yang lengkap, lingkungan dan musisi yang memiliki visi beragam dan teknik permainan tinggi sehingga memperkaya wawasan musik saya. Saya aktif tampil bersama. Selain di Belanda, saya banyak tampil di Paris, Nice, Cannes, Monaco, Belgia, Hungaria, Jerman dan Rumania. Saya juga mengikuti berbagai kompetisi. Saya meraih soloist prize di East of Eastern Jazz Festival di Nijmegen, Belanda, April 2006. Dan pada Januari 2009 saya juara kedua Young Pianist Foundation (YPF) Jazz Piano Competition di Belanda. Saya lulus di tahun 2011 dengan predikat summa cum laude with distinction dari program Master Jazz Piano Performance. Sekembali dari Belanda, saya tampil di Java Jazz dan  saya dinobatkan sebagai “The Indonesian Young Talent Award”. Di tahun yang sama saya menang di The European Keep an Eye Jazz Award untuk kategori “Best Band” bersama Daniel Master Quartet.

 

Anda memadukan bakat, intuisi, dan pengetahuan akademis. Bagaimana Anda menjelaskan semua itu?

Sebelum saya belajar di Belanda, saya bermain jazz lebih karena bakat dan intuisi. Melihat permainan orang lain. Kadang muncul dari ide sendiri. Mas Riza Arshad adalah sosok yang mendorong saya untuk memperdalam pengetahuan musik saya. Waktu kuliah, saya masuk di lingkungan yang intensif belajar musiknya, levelnya tinggi dan punya visi  musik yang beragam banget. Itu memperkaya wawasan saya, bahkan bukan jazz saja, tetapi juga musik klasik dan kontemporer. Yang tadinya saya kuliah sekedar ingin jadi pemain Bebop handal, tapi karena terpapar berbagai jenis musik tadi, akhirnya goal saya lebih dari itu. Menurut saya, ketika orang bersekolah, maka cara berkaryanya akan lebih metodik dan lebih luas. Tanpa basic akademik, cara bermusik lebih bersifat intuitif. Sekedar didengar, ditiru dan diresapi.  Ini berbeda dengan mereka yang belajar, yang melihat musik sebagai ilmu pengetahuan, dimana basic berkaryanya tidak cuma intuisi saja tapi juga dilengkapi dengan rasio. Itulah kenapa  musik mereka terdengar beda, lebih dalam dan luas.

 

Menurut Anda apa yang menarik dari jazz?

Yang menarik dari jazz adalah improvisasinya. Pemain jazz berimprovisasi menggunakan ritme dan akord untuk menciptakan melodi yang unik. Sebuah yang lagu dibawakan musik ini, selalu akan terdengar berbeda. Ada tiga ciri jazz yang khusus. Pertama, adanya fenomena Swing. Yang kedua, adanya individual code atau kode individu, yang membuat pemain jazz langsung bisa dikenali pendengarnya. Kode individu ini merupakan bagian penting dari komunikasi antara pemain jazz dan pendengarnya. Ketiga, jazz biasanya berlangsung dalam konteks jamsession, yang memiliki aspek ritual. Pemain berpartisipasi dalam semacam ritual dimana mereka berinteraksi dengan penonton dan satu dengan lainnya. Dan seperti dalam ritual, ada bentuk perilaku tertentu yang harus diperhatikan, misalnya pemain tidak memaksakan ego sendiri, tidak menjadi beban bagi pemain lainnya, dan penonton boleh menjadi bagian dari ritual itu dengan menari, menghentakkan kaki, teriakan penyemangat atau tepuk tangan. Musik jazz juga menyediakan satu metode dimana kita bisa menyerap kosa bunyi dari musik lain secara efektif ke dalam kosa bunyi musik jazz.

 

Konsep seperti apa yang Anda bangun dalam  memasukan unsur tradisi ke musik Anda?

Dalam hal ini saya terinspirasi apa yang dilakukan Bela Bartok. Kebetulan waktu di Amsterdam saya mengambil kelas yang membahas musik Bartok secara mendalam. Bartok menurut saya menarik karena dia ingin mencari warnanya dia sendiri melalui musik tradisi. Tapi prosesnya cukup metodikal. Dia berkeliling ke Hungaria, Rumania lalu dia rekam musiknya satu-satu, dan ditulis, mengaransemen lagu-lagu folk tadi dan memahami cara kerjanya, lalu dia buat karyanya sendiri. Jadi sebenarnya dalam rangka menemukan gaya saya sendiri, tidak jauh berbeda dengan Bartok. Saya mengaransemen lagu-lagu folk Indonesia, lalu saya aransemen dengan gaya jazz. Itu yang saya lakukan di album Indonesia 1. Di album Indonesia 2 beda lagi. Lagu tradisi saya aransemen dengan elemen musik tradisi. Jadi bukan saya bawa ke jazz karena saya ingin memperkaya kosa bunyi improvisasi saya yang dasarnya jazz, tapi saya merasa perlu memperkaya diri saya dengan elemen musik tradisi karena ada situasi-situasi musikal tertentu yang saya hadapi, khususnya ketika saya bergabung dengan grup Simak Dialog dimana saya harus bermain dengan kendang. Lalu saya merasa kosa bunyi Bebop saya terasa nggak nyambung. Jadi saya perlu kosa bunyi lain untuk melengkapi Bebop saya sehingga bisa berinteraksi dengan kendang. Jadi mulai album Indonesia 2 saya mulai menyerap musik tradisi ke improvisasi saya sehingga terjadi sintesis dengan bahasa Bebop saya. Kira-kira begitu

 

Selain musisi, Anda juga pengajar jazz. Bagaimana ceritanya?

Saat teman dan kolega saya yang juga berasal dari luar Amsterdam kembali ke negaranya setelah lulus, saya pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Di Indonesia saya tidak langsung mengajar di Universitas Pelita Harapan, tapi saya terlibat dalam suatu proyek musik dahulu. Satu tahun kemudian saya baru masuk UPH menjadi koordinator departemen piano jazz dan pop, mengajar piano kelas konsep improvisasi, aransemen dan ansambel.  Saya orangnya suka mengajar, memberikan edukasi, karena bagi saya saat bermain musik itu juga memberikan edukasi kepada orang-orang. Saat mengajar, muncul banyak ide serta kreativitas yang bisa saya bagikan ke mahasiswa saya.

 

Bagaimana Anda melihat prospek Jazz di negara kita?

Prospeknya bagus. Sebelum pandemi  banyak festival jazz di berbagai pulau di Indonesia. Ada sekitar 50 jazz festival dalam setahun. Beberapa yang cukup besar seperti  Java Jazz, maupun  Jazz Goes to Campus. Saya percaya, setiap genre musik selalu ada penggemarnya, dan selalu muncul bibit-bibit baru musisinya. Generasi muda saat ini hebat-hebat mainnya. Prospek ke depannya  sangat bagus. Jazz bukan sekedar dikenal sebagai musiknya orang-orang tua karena apa yang ada di jazz sekarang ini adalah campuran pengaruh dari aliran musik lain yang cukup kuat. Saya sekarang sedang mendalami jazz dengan musik tradisional, karena saat ini saya merasa banyak elemen musik nusantara yang dapat memberi nilai tambah dan memperbanyak kosa bunyi saya.

 

Sebagai musisi, bagaimana kesan Anda terhadap piano Steinway and Sons?

Saya suka piano Steinway. Konser-konser saya di Amsterdam dan negara lain, selalu memakai piano Steinway. Bagi saya Steinway itu piano luar biasa, yang bisa menyediakan semua ekspresi yang dimaui pianisnya. Suaranya melankolis, dalam dan kaya akan ekspresi, seolah seluruh tubuh saya menyatu dengan piano Steinway saat saya memainkannya karena apa yang ingin saya sampaikan lewat permainan saya, begitu mudah tersampaikan dan hasilnya sangat indah, jauh dari ekspetasi saya.

 

Baiklah. Apa pesan Anda kepada anak-anak muda yang sekarang sedang belajar musik?

Pesan saya satu: jangan takut bereksperimen. Jelajahi semua kemungkinan dalam beragam genre musik. Masuklah ke dalamnya dan nikmati. Musik itu medan kreatifitas yang luas. Kalian akan menemukan jati diri kalian sendiri dalam medan kreativitas itu. Bukan dalam diam. (*)

Article Bottom Ad