Balada Headphone

298

Article Top Ad

PANDEMI COVID-19 memang menabur beberapa perubahan yang memang memaksa manusia untuk “berubah”. Salah satu diantaranya adalah konsep tentang pertemuan. Pertemuan tak lagi dimaknai sebagai bertemu bertatap muka secara fisik. Melainkan saling jumpa melalui media. Layar kaca yang kadang hanya seiprit. Hal ini berlaku di semua segi kehidupan. Orang semakin individual. Karena berakrab-akrab, apalagi dalam jumlah yang relatif banyak, merupakan resiko yang akan teramat mahal.

Keadaan seperti demikian, semakin mengukuhkan private area, yang dalam batas tertentu juga merupakan isolation area. Tak terkecuali dalam ranah seni. Seni, khususnya musik, tak lagi dipandang sebagai tontonan massal. Seni memiliki dimensi baru. Sebuah perjalanan rasa, pengalaman estetis dan pergumulan manusia dengan entitas keindahan melalui ruang yang sangat pribadi. Di titik inilah, balada headphone menjadi kisah yang tak terpisahkan dari hiruk pikuknya rona relung kehidupan manusia modern. Keberadaan headphone, memang bukan karena Pandemi COVID-19.

Namun, pandemi inilah yang makin mengukuhkan cengkeraman headphone pada realita aktifitas manusia saat ini. Mendengar dan/atau mendengarkan musik via headphone adalah kegiatan yang tak dapat dinafikan. Mungkin malahan Anda saat ini sedang membaca artikel sambil memasang headphone dan mendengar atau mendengarkan musik kesukaan Anda. Dan hal seperti ini sangat jamak kita saksikan. Di Mall. Di Halte. Dalam Transportasi publik. Dalam ruang publik. Bahkan dalam area warung kaki lima. Mereka semua mendengarkan musik, yang dipercaya mampu membuat manusia bekerja dengan lebih terfokus dan berkonsentrasi. Dan… musik itu didengar/didengarkan melalui headphone.

Article Inline Ad

The triumph of headphones is that they create, in a public space, an oasis of privacy. Ya. Benar. Keunggulan Headphone adalah bahwa piranti tersebut mampu membuat “sebuah privasi di ruang publik”. Dalam ranah ilmu pengetahuan, sebetulnya beberapa riset menunjukkan bahwa terlalu lama mendengar (bukan mendengarkan) musik, membuat kemampuan menstimulasi diri sendiri menjadi menurun. Di Taiwan, pernah diadakan riset.
Riset tentang hubungan antara syair lagu dalam musik pop, dalam hubungannya dengan tingkat konsentrasi para murid SMA. Pernah pula dilakukan riset yang lain dan hasilnya adalah bahwa lirik lagu sangat mempengaruhi proses verbal dalam otak manusia. Terlalu banyak mendengar nyanyian akan membuat otak kita seperti sajian telur dadar. Kesimpulannya: keheningan masih tetap hal terbaik untuk kinerja otak.

Lalu, pertanyaannya: Jika mendengar musik terlalu lama mempengaruhi kinerja otak, berapa lama idealnya manusia mendengar musik. Dan kenapa headphone terus, terus dan terus diproduksi. Padahal headphone, merangsang keinginan manusia untuk terus, terus dan terus mendengar musik. Pertanyaan tersebut, terjawab manakala kita mulai berkiblat pada nilai ekonomis. Ambil satu contoh. Di Amerika Serikat, sudah terjadi perubahan drastis. Dari agraris menjadi ranah pekerjaan yang lebih merupakan layanan. Dan hal ini tentu menuntut totalitas dan konsentrasi yang jauh lebih tinggi dari pelaku kerja dibanding dengan saat mereka bercocok tanam.

Semakin banyak pekerjaan layanan, semakin besar tuntutan konsentrasi. Dan ini, membuat para pekerja , sebetulnya, berada dalam “ruang sempit”. Ruang sempit ini tentu akan menghimpit kejiwaan para pekerja. Mereka butuh relaxing. Pengendoran tekanan. Pelepasan katarsis ketenangan jiwa. Disinilah headphone memainkan perannya. Meski sebetulnya buruk dalam hal stimulus konsentrasi dan kemampuan verbal.
Sampai pada keadaan ini, sebetulnya ada pergeseran narasi. Dari nilai ekonomi menjadi nilai budaya. Headphone sejatinya memberi kita sebuah ruang pendengaran. Yang sangat private, padahal kita bekerja dalam ranah service work pada ruang publik.
Konsekuensi dari fenomena seperti ini, sebetulnya adalah sebuah pertautan yang sangat mendasar. Hubungan antara manusia dengan musik. Balada Headphone, adalah sebuah Balada. Sebuah kisah. Asmara. Antara manusia dengan relung paling subtil dalam keberadaannya, yakni Seni Musik.

Diawali pada 1910, Divisi Radio dari Angkatan Laut Amerika Serikat dikejutkan oleh kedatangan sepucuk surat. Dalam kertas biru pinky.Tintanya berwarna purple. Sungguh sebuah surat yang sangat nyentrik dan hanya orang super eksentrik yang membuat surat dengan kemasan semacam itu. Dan memang benar. Surat tersebut ditulis oleh Nathaniel Baldwin. Seorang pemikir yang sangat eksentrik dari daerah Utah.

Baldwin dalam suratnya menulis bahwa ia, di dalam dapurnya, telah membangun sebuah headset baru yang mampu mengamplifikasi bunyi. Tentu sja, setelah membaca isi surat, pihak Angkatan Laut Amerika Serikat mengajukan permintaan untuk sound test. Permintaan tersebut disetujui. Dan…. hasilnya, perwira Angkatan Laut yang mengetest benar-benar terkesima. Ia dihadapkan pada headset yang benar benar nyaman, efisien dan paling OK di masa itu. Itulah kali pertama dunia mengenal headphone.

Konsentrasi Bunyi di Ranah Pribadi
Rancangan headphone yang pertama, oleh perancangnya, bertujuan untuk mengkonsentrasi bunyi dalam ranah yang sangat pribadi. Penemuan ini merupakan fenomena yang sangat radikal dalam sejarah keberadaan musik dalam ranah sosial. Nils L. Wallin dan Bjorn Merker, sampai menulis dalam bukunya yang berjudul “The Origin of Music”. Bahwa kini, musik, bersama sama dengan Dance, memberikan asimilasi pelayanan secara biologis dan kultural, melalui teknologi, terhadap jalinan sosial.

Abad ke-20 memang sarat dengan perkembangan teknologi musik. Sebut saja misalnya penemuan Radio. Piranti yang menjadikan musik bisa bersifat transmitted. Tak lagi harus dinikmati dengan hadir secara fisik.Penemuan radio untuk mobil, membuat musik selain bersifat transmitted, juga menjadi memiliki sifat mobilitas (mobile).

Penemuan Speaker menjadikan musik dapat hadir dengan lantang sehingga dapat dinikmati lebih banyak orang secara fisik. Sebuah revolusi penemuan, yakni Chip Silikon, menjadikan musik “mengecil” dalam ukuran. Orang tidak perlu serombongan Orkestra dihadirkan. Cukup dengan Chip Silikon yang sangat kecil, orang dapat mendengar dan/atau mendengarkan musik. Kenyataannya, dari semua penemuan teknologi musik di abad 20, Headphone lah yang imbasnya paling besar sebetulmnya bagi lifestyle dan paradigma manusia tentang musik.Musik memang adalah perekat aneka gaya hidup. Dan anehnya, meski memberi sarat ruang bagi personal individu, Headphone memegang peran utama sebagai perekat peran musik dalam pranata sosial.

Di tahun 1950, John C. Koss menemukan STEREO Headphone. Dia menyebutnya: “designed explicitly for personal music consumption,” Kemudian, koran The New York Times, melalui reporter Virginia Heffernan, mengutip pendapat Keir Keightley, seorang Professor studi media dari Universitas Western Ontario, bahwa kaum kelas menengah mulai membungkam nilai rasa kekeluargaan dengan Headphone dan perlengkapan high Fidelity atau HiFi.

Peran headphone setara dengan peran yang dilakukan oleh menulis dan literasi dalam ranah bahasa. Semuanya membuat lebih bernuansa pribadi. Saat itu mulailah sebuah Jargon yang sangat terkenal. Sebuah Paradoks. Alone, Together. Loneliness is one of the first things ordinary Americans spend their money achieving. Kebersamaan dalam kesendirian. Kesendirian kemudian menjadi hal yang bahkan rela dibayar oleh orang Amerika. Sebuah Paradoks tata nilai dalam gaya hidup. Dan ini sungguh revolusioner.
Terhadap hal itu, Stephen Marche dalam editorial Cover The Atlantis, mensitir begini: Kesendirian sudah mengakar pada masyarakat Amerika, pada satu produk yang mengundang selera dan tegak sejak lama untuk sebuah kemandirian. Dan itu adalah harga dari upaya penentuan nasib melalui kemandirian.

Dan memang, dengan mengambil contoh situasi pranata sosial di Amerika akan keberadaan headphone, secara gampangan kita dapat mencap bahwa headphone membuat manusia menjadi anti sosial. Namun, sebagaimana disitir oleh Marche, kekayaan dapat terbeli dan karenanya, teknologi modern dapat memberikan kemerdekaan berupa kemandirian yang selalu dicari orang. Orang-orang selalu memiliki pemikiran pribadi. Headphone memiliki kapasitas untuk membuat musik kita seperti pikiran kita. Sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain. Sesuatu yang bisa kita pilih untuk didengarkan dan dibagikan.

Dr. Michael Bull, seorang pakar perangkat musik pribadi dari University of Sussex, telah berulang kali menegaskan bahwa perangkat musik pribadi mengubah hubungan kita dengan ruang publik. “Orang-orang suka mengontrol lingkungan mereka,” katanya kepada majalah Wired, dan “musik adalah media paling kuat untuk mengendalikan pikiran, suasana hati, dan gerakan”.

Mengontrol lingkungan publik kita lebih penting sekarang karena orang Amerika telah berhenti dan menjauh dari kepadatan. Daerah pinggiran kota yang terkena sunbelt saat ini sedang merana. Pusat-pusat kota berkembang pesat. “Hari ini, real estat paling berharga terletak di lokasi perkotaan yang dapat dilalui dengan berjalan kaki,” Christopher B. Leinberger melaporkan dalam sebuah studi baru di Brookings minggu lalu.

Di Amerika Serikat yang telah mengalami urbanisasi ulang, earbud adalah stereo “berjalan” baru. “Dengan ruang kota yang semakin banyak dihuni, semakin aman perasaan Anda,” kata Bull. “Anda merasa aman jika Anda bisa merasakan orang-orang di sana, tetapi Anda tidak ingin berinteraksi dengan mereka.” Balada Headphone sebetulnya adalah kisah dan ungkapan situasi gaya hidup orang modern. Pranata sosial Amerika sudah memaparkan contohnya. Pertanyaan konklusifnya adalah: Bagaimana dengan kita di Indonesia? (*)

Penulis: Michael Gunadi Widjaja (Pemerhati Musik)

Article Bottom Ad