DR. Johannes Sebastian Nugroho

2415

Article Top Ad

‘Tidak Menyerah di Situasi Kritis’

PIANIS konser yang pernah meraih hadiah utama di Kompetisi Piano Internasional St. Charles 1999 di Chicago, tampil di aula konser utama Sydney Opera House dan Berlinskonzerthaus sebagai solois di bawah konduktor Addie MS, Dr. Johannes Sebastian Nugroho, pernah  hampir goyah dalam perjalanannya belajar musik selama 13 tahun di Amerika. Sempat down dalam situasi galau dan nyaris frustasi. Tetapi ia mampu bangkit lagi dan menemukan jati dirinya. Berikut bincang singkatnya di Steinway Family Story

 

 

Article Inline Ad

Bagaimana Anda berkenalan dengan musik?

Yang mengenalkan saya ke musik pertama kali adalah ayah saya. Pada umur 9 tahun saat kelas 5 SD, saya dipaksa les piano oleh ibu. Kenapa dipaksa, karena saya waktu itu termasuk bandel, dan sebenarnya tidak tertarik dengan musik. Namanya anak kecil, maunya kan main saja. Ketika dileskan piano, saya sering kabur kalau disuruh latihan. Ibu sering marah dan memukul kaki saya dengan kemoceng, sampai belang-belang kaki saya hahaha … Dalam hal ini, ibu seperti polisi yang kemocengnya sering saya umpetin. Beliau mengawal dan mengawasi kalau saya latihan. Tiap hari paling sedikit 30 menit saya harus latihan. Ibu sangat keras dan disiplin padahal beliau bukan pemusik.

 

Jadi Anda bukan dari keluarga pemusik?

Ya. Tapi keluarga yang menyukai musik hahaha…. Ayah saya otodidak bermain biola. Saat masih muda, ayah suka menonton konser klasik yang dimainkan orang-orang Belanda dan dari situlah ayah tertarik dengan musik dan ingin jadi pemusik, tetapi ditentang oleh kakek nenek dan dipaksa kuliah kedokteran di Unair. Sekalipun begitu, ayah diam-diam belajar biola. Rupanya keinginan bermusik sang ayah diwujudkan pada anak pertamanya. Nama saya menjadi saksinya. Ayah sangat mengagumi Brahms dan Bach maka diberikanlah nama Johannes (dari Brahms) dan Sebastian (dari Bach).  Saat saya berusia 9 tahun ayah  mendorong saya belajar musik dan membelikan saya piano. Seiring berjalannya waktu, kami sering bermain duet. Ayah main biola dan saya mengiringinya. Beliaulah yang menumbuhkan cinta saya pada musik. Beliaulah yang perlahan tapi pasti telah menginspirasi saya.

 

Sejak kapan Anda menyadari bahwa Anda mulai menyukai musik?

Guru piano mula-mula saya, Ibu Elizabeth Atma sering saya minta memainkan lagu-lagu saat les. Awalnya supaya waktu lesnya habis oleh guru saya yang main piano, bukan saya yang belum latihan, tetapi lama-lama saya mulai suka. Kemudian ketika saya masuk Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM), saya melihat  orang-orang  begitu hebat main pianonya. Ini menggelitik alam bawah sadar yang mendorong saya untuk bisa seperti mereka. Nah ini yang kemudian menjadi motivasi kuat saya untuk belajar piano lebih dalam lagi. Di YPM awalnya saya dibimbing oleh Ibu Medaningsih Lesmana dan kemudian lanjut bersama Ibu Iravati M. Sudiarso yang sangat penuh perhatian, dan membuka wawasan saya lebih luas lagi mengenai musik, piano, dan dunia seni.

 

Apakah hal itu yang mendorong Anda untuk kuliah musik?

Sebenarnnya tidak juga. Saat saya duduk di SMA, cita-cita saya sebenarnya ingin jadi arsitek atau ahli pertanian. Saya suka sawah dan pedesaan, saya juga suka merancang bangunan. Tidak terpikirkan bakal kuliah musik. Baru saat kelas 2 SMA, dimana waktu itu saya berkesempatan ke Amerika mengikuti Summer Music Camp saya menyaksikan betapa luasnya cakrawala musik klasik. Dalam dunia musik ada rancang bangun, dalam dunia musik saya bisa berimaginasi ke alam pedesaan. Akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di musik. Saya mendapat beasiswa dari Towson University di Amerika sampai meraih gelar Bachelor’s dan Master’s Degrees in Piano Performance. Setelah itu saya mengambil program S3 dan meraih gelar Doctor of Music di Indiana University, Jacobs School of Music di Bloomington, Amerika. Saya pernah meraih hadiah utama. Selama 13 tahun saya menghabiskan waktu untuk kuliah musik di Amerika, sampai kemudian kembali ke Indonesia.

 

Tigabelas tahun belajar musik di luar negeri, tentu bukan waktu yang pendek. Adakah saat-saat dimana Anda merasa jenuh dan putus asa?

Putus asa sih tidak sampai. Jenuh pernah. Bosan juga sering hahaha…Saya lulus S1 dan S2 hanya dalam waktu 4 tahun. Normalnya kan 6 tahun.  Kalau cuma untuk dapat ijasah dan gagah-gagahan sih sudah cukup. Tapi saya ingin “lebih gagah lagi”. Maka saya mengambil studi S3, dan saat kuliah S3 itulah pikiran mulai terbuka, wawasan makin luas, tapi justru karena itu malah merasa membuat saya galau karena saya semakin merasa “tidak memiliki apa-apa”.

 

Kenapa?

Begini. Semua orang pasti punya sosok yang menjadi idola. Di dunia musik apalagi. Beberapa favorit saya Argerich, Zimmerman, Radu Lupu. Orang-orang musik di dunia tahu siapa mereka. Sosok yang wow… pokoknya luar biasa banget buat saya. Kenapa ya kok bisa luar biasa banget? Pikiran matang saya mulai mencari kenapa. Tapi justru ketika saya mencari tahu kenapa, itu yang kadang bikin tambah nelangsa, sengsara. Tapi kalau tidak mencari tahu kenapa, saya akan cenderung merasa baik-baik saja padahal permainan masih jauh dari harapan. Saya bisa main rapi, menyenangkan penonton, tapi pertanyaan saya, apakah saya yang menguasai musik, atau musik yang menguasai saya? Nah proses saya menguasai musik itulah yang melelahkan dan tidak mudah, bikin frustasi, bener-bener sampai ke very-very low, hampir saya goyah dan merasa bahwa rasanya saya salah jalan, sia-sia, tidak cukup berbakat. Ada perasaan  menyalahkan diri sendiri dan ingin nyerah saja. Saya mengalami hal seperti itu, sampai saya kemudian menemukan kendali yang kemudian menuntun dan menguatkan saya.

 

Keyakinan apa yang menguatkan Anda bisa melewati saat-saat kritis seperti itu?

Sebagai orang beriman, saya serahkan ke Tuhan. Saya bisa lulus S3, bisa belajar dengan guru-guru istimewa, itu kan Tuhan sudah buka jalan buat kehidupan saya, yang memang panggilan hidup buat saya. Ini juga yang saya tekankan ke murid-murid saya, dan juga saya pesankan ke siapa saja yang menggeluti musik, bahwa Anda harus punya tujuan yang jelas. Ada panggilan jiwa kenapa belajar musik. Jangan sampai terlambat. Jangan setelah kuliah musik baru mempertanyakan apa tujuan hidupnya dalam musik. Dengan tujuan yang jelas, dengan adanya panggilan jiwa, itu akan menguatkan kita dalam setiap peperangan batin.

 

Jadi, panggilan jiwa itu penting?

Jelas. Itu seperti kita mau pergi ke suatu tempat, kan mesti tahu arahnya. Tahu jalannya. Jelas tujuannya. Kalau belajar musik cuma karena cinta saja, passion saja nggak cukup. Bakat saja pun nggak cukup. Yang penting justru tujuannya apa. Calling-nya apa. Calling itu nanti yang akan mempertahankan kita ketika kita benar-benar goyah, down dan kehilangan harapan, karena kalau  kita sudah kehilangan harapan, passion kita sudah nggak ada. Seperti api. Padam. Apalagi jika hanya membanggakan bakat. Kita bisa putus asa karena merasa nggak berbakat. Nah, satu-satunya yang mempertahankan kita dalam situasi dan kondisi seperti itu, ya calling itu sendiri. Jadi, panggilan jiwa-nya harus jelas. Mau ngapain? Calling-nya harus yang betul-betul bikin kita maju, walaupun mungkin kita merasa seperti nggak ada harapan apa-apa, tapi kita tetap harus maju karena adanya panggilan jiwa yang jelas itu

 

Kalau boleh tahu, apa calling yang membuat Anda bangkit?

Cinta saya ke musik, mau saya bagikan ke orang-orang. Itu yang menjadi misi atau panggilan jiwa saya dalam musik.  Maksudnya, musik itu kan bukan sekedar bunyi yang indah. Tapi kalau kita belajar musik klasik, itu betul-betul membentuk suatu pribadi, baik secara intelektual maupun spiritual. Jadi saya punya misi, memanusiakan manusia. Mungkin terdengar tinggi. Maaf ya. Tapi saya ingin keberadaan saya di bumi ini, kontribusinya seperti itu. Manusia itu suatu ciptaan yang luar biasa yang dibekali Tuhan dengan perangkat yang luar biasa juga, kalau kita bisa melihat. Kalau kita menyadari. Tapi seringkali itu tidak disadari. Buta dan sudah tidak sensitif lagi dengan kedalaman dan kekayaan kemanusiaan. Main piano itu kan tidak cuma refleks dan instinct doang, tetapi juga menyangkut serangkaian kerja intelektual dan pendalaman maknanya. Nah, mungkin dalam hal ini saya bisa berkontribusi melalui musik

 

Sebuah panggilan jiwa kan tidak mungkin muncul begitu saja tanpa sebuah kesadaran dan perenungan. Kapan Anda menyadari perlunya sebuah panggilan jiwa dalam profesi Anda?

Saya mulai menyadari bahwa saya harus memiliki tujuan dan misi yang jelas itu, kira-kira sejak kuliah S1 dan S2, meskipun sebenarnya terlambat. Bahkan di saat itupun belum jelas benar apa sebenarnya yang saya inginkan dalam bermusik ini. Memang sudah ada konsep besarnya, tapi belum terdefinisikan secara jelas. Masih seperti nebula. Selama di S1 dan S2 itulah proses pematangan itu berlangsung. Baru saat kuliah S3, ketika saya mulai matang, saya mulai bertanya dalam musik itu saya mau ngapain. Saya terus mencari sampai akhirnya ketemulah apa yang menjadi panggilan jiwa saya. Nah gara-gara ketemu panggilan itu prosesnya bukannya makin mudah, malah tambah susah haha … Tapi itu bagus, karena begitu pikiran kita terbuka, kita bisa melihat kekurangan kita. Kalau pikiran gak kebuka, kita merasa sudah bagus banget. Ini juga yang ingin saya pesankan kepada murid-murid saya dan siapa saja yang belajar musik, bahwa punya tujuan itu penting, karena dialah energi yang mendorong kita maju dan kompas yang mengarahkan kemana kita berlayar.

 

Baiklah. Bagaimana akhirnya Anda kembali ke Indonesia dan mengajar di  Universitas Pelita Harapan?

Saat saya kuliah di Amerika, saya sebenarnya punya niat atau sumpah ke diri saya bahwa jika belum merasa cukup ilmu yang didapat selama di Amerika, saya tidak mau pulang dulu ke Indonesia haha … tetapi jalan hidup berbicara lain. Waktu masih di Amerika, Universitas Pelita Harapan baru membuka Music Departement. Kebetulan yang menjabat Wakil Rektor atau Vice President-nya adalah teman sekelas SMP saya. Akhirnya saya mempersingkat waktu studi agar segera dapat membantu mengajar di Conservatory of Music, Universitas Pelita Harapan.

 

Apa saja aktivitas Anda disamping menjadi dosen di UPH ?

Saya di UPH 2 hari mengajar, piano dan komposisi. Di luar UPH, saya banyak memberikan masterclass di Firstly Piano Studio, Surabaya dan Feirist Piano Studio, Medan.

 

Bagaimana pandangan Anda dengan perkembangan musik klasik di Indonesia saat ini?

Saya merasa perkembangan musik klasik saat sekarang sangat bagus dan  berkembang pesat karena adanya teknologi, di mana media sosial  memberikan dampak yang luar biasa. Tetapi bedanya, anak, termasuk orang tua jaman sekarang cenderung ingin instan. Tidak seperti dulu dimana orang mau berusaha keras untuk menjadi pemusik. Hal ini mungkin karena tuntutan akibat banyaknya kompetisi sehingga anak yang belajar bermain piano misalnya, lebih mengejar prestise dan piala daripada ilmu dan makna yang sebenarnya harus didapat untuk menjadi seorang musisi yang seutuhnya. Untungnya ada banyak lulusan musik, bahkan sudah banyak doktor di bidang piano sehingga bersama bisa saling membantu memberikan ilmu dan pendidikan yang lebih terarah dan tersistem, tidak hanya belajar musik hanya untuk senang atau pamer saja, untuk banyak-banyakin koleksi piala saja, atau untuk sebuah ujian saja. Dalam mempelajari musik harus mempunyai landasan yang kuat untuk nantinya bisa bersaing dengan orang-orang yang mendapat pendidikan musik di luar negeri yang sangat mengutamakan dasar  atau  pondasi yang kuat, bukan hanya sekedar belajar untuk bisa main piano, tetepi belajar untuk bisa bebas maksimal mengekspresikan diri, citarasa, pemahaman, pemikiran serta kreatifitas seninya.

 

Sebagai pianis konser, bagaimana Anda melihat piano Steinway ?

Piano Steinway merupakan piano favorit banyak pianis legendaris di seluruh dunia termasuk saya. Juga paling banyak digunakan di ruang-ruang konser terkenal di dunia.  Saya suka dengan sound quality piano New York Steinway yang bagi saya punya karakteristik tone melow, cocok dengan pribadi melankolis saya haha … Hamburg Steinway saya juga suka, karakternya brilliant, sangat cocok untuk sebuah panggung konser. Beruntung Steinway memiliki dua opsi ini. Keduanya dasyat, wooden tone hasil produksi soundboadnya itu sungguh tak tertandingi, rahasia abadi Steinway, begitu indah dan dalam. (*)

Article Bottom Ad