ELIZABETH MICHELLE HERYAWAN

562

Article Top Ad

KEHILANGAN orang tercinta yang selama ini mendampinginya, sangat berat bagi Elizabeth Michelle Heryawan. Pianis muda yang juga guru piano di Surabaya ini harus kehilangan papanya, yang juga tulang punggung keluarganya, akibat terpapar Covid 19 di tengah semangat dan gairahnya untuk mendaki lebih tinggi lagi pencapaiannya dalam bermusik. Apalagi sang papanyalah yang selama ini mendorong dan memberi dukungan penuh kepada Michelle untuk berkarier sebagai pianis dan guru piano. Berikut ungkapan hati Michelle kepada STACCATO.

Saya ikut berduka dengan wafatnya pak Indra, ayahanda Michelle. Beliau orang yang baik. Bagaimana beliau terpapar Covid 19?
Jadi sebenarnya yang terpapar covid pertama kali di rumah kami itu mama saya, saat akhir Juni 2021. Beberapa hari setelah itu, saya dan adik saya juga ikut terpapar. Papa saya merupakan orang terakhir yang terpapar. Kondisi kami semua saat itu sudah lumayan parah, dan kami kesulitan mencari obat serta rumah sakit yang kosong karena kasus Covid di Surabaya saat itu sangat tinggi. Semua rumah sakit penuh. Oksigen juga langka. Namun mengingat kondisi papa saya yang tidak punya riwayat penyakit apa-apa, dan usia beliau masih 45 tahun pada saat itu, dalam benak saya tidak pernah terpikirkan kalau beliau akan mengalami masa kritis karena Covid, yang bahkan pada akhirnya meninggal.

Apa yang terpikir oleh Michelle saat itu?
Saya mengira kalau papa saya akan sembuh seperti biasanya, karena beberapa hari pertama saat beliau terpapar, kondisinya baik-baik saja. Tidak seperti orang sakit. Beliau hanya mengeluh lemas saja. Tapi sehari sebelum papa saya meninggal, tiba-tiba kondisi beliau drop dan mama saya mendapatkan firasat kuat kalau papa saya mungkin akan pergi untuk selamanya. Mama saya mendengar papa saya berbicara sendiri. Beliau mengigau. Saat mendengar hal itu, jujur saya langsung shock dan panik, mengingat bahwa semua rumah sakit penuh, bahkan untuk mendapatkan tabung oksigen juga susah. Namun saya sekeluarga tidak ingin putus asa. Pagi hari sebelum papa meninggal, kami memutuskan untuk keliling ke hampir rumah sakit di Surabaya untuk mencari perawatan untuk papa saya, namun hasilnya nihil. Bahkan kami sendiri melihat belasan orang memakai kursi roda dan tabung oksigen antri di UGD padahal kondisi mereka juga kritis.

Article Inline Ad

Apa yang dilakukan Michelle melihat kondisi seperti itu?
Yang jelas sangat panik. Tidak tahu harus berbuat apa karena semua rumah sakit penuh. Oksigen juga langka. Kondisi papa saya hari itu juga sudah kritis, saturasi oksigennya bahkan mencapai 32, sebelum naik ke angka 60 setelah mendapatkan perawatan sementara. Malam harinya kami pulang ke rumah setelah gagal mendapatkan perawatan di rumah sakit. Saya membawa Ayah kembali ke rumah untuk dirawat di rumah saja. Tetapi malamnya beliau menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya di kamar beliau. Pada saat itu saya masih tidak bisa percaya dan sangat terpukul. Langit rasanya runtuh. Saya merasa bingung apa yang harus saya lakukan, mengingat saya, adik dan mama saya juga dalam kondisi terpapar. Tidak ada yang bisa dimintai tolong. Kami bertiga sangat lelah dalam kepanikan setelah seharian mencari obat, rumah sakit, dan akhirnya malamnya pemakaman papa. Semua terjadi dalam kurun waktu hanya sehari. Kondisi mama saya saat itu juga masih parah. Saya sungguh khawatir beliau tambah drop mengetahui papa telah meninggal dan saya juga sangat takut sekali kalau-kalau hal itu menimpa mama. Saya berdoa sepanjang hari meminta pertolongan Tuhan. Saya bersyukur mama saya masih bisa selamat dan akhirnya sembuh. Saya percaya walaupun kejadian ini terasa pahit dan menyedihkan, Tuhan punya rencana yang lebih baik lagi.

Bagaimana perasaan Michelle setelah papa berpulang?
Sedih dan terpukul. Rasanya tidak percaya beliau pergi begitu cepat. Saya sangat kehilangan sosok yang begitu menyayangi saya. Beliau sangat memperhatikan setiap proses belajar musik saya, sejak kecil hingga saya meraih Master of Music di Sydney. Papa bahkan merencanakan resital untuk saya jika covid berakhir. Tetapi sebelum itu terlaksana, beliau meninggal, justru akibat Covid itu sendiri

Sampai sekarang masih ingat terus?
Pastilah. Rasanya beliau masih ada di sekeliling saya. Kadang kalau ingat, saya menangis. Apalagi kalau saya buka gallery atau album foto. Saya merasa begitu cepat sekali papa pergi. Masih susah rasanya untuk menahan air mata kalau sudah benar-benar rindu papa. Menyiapkan mental untuk meneruskan hidup tanpa papa di samping saya, sungguh tidak mudah bagi saya. Guru piano saya menasehatkan, anggap saja papa pergi ke luar negeri selama setahun. Papa masih di sini, cuma nggak bisa ketemu secara langsung, and honestly that paradigm works well for me

Kesadaran seperti apa dalam diri Michelle yang muncul setelah kepergiaan papa?
Setelah papa tidak bersama kami lagi, tentunya saya sebagai anak pertama merasa bertanggung jawab untuk support finansial keluarga saya. Sejak kecil, papa selalu menanamkan pemikiran dan prinsip kepada saya dan adik saya untuk bisa hidup mandiri saat kelak dewasa. Saya tentunya juga berusaha menggantikan peran ayah saya untuk mendidik dan mengarahkan adik saya yang masih duduk di bangku SMA supaya bisa meraih kesuksesannya

Bagaimana dengan study Michelle sendiri?
Kebetulan hasil final study saya keluar seminggu sebelum papa saya meninggal, dengan nilai yang memuaskan. Setidaknya, saya merasa benar-benar lega papa bisa mengetahui hasil study saya dan bahagia karena beliau merupakan salah satu orang yang paling bersemangat mendukung saya untuk belajar lebih dalam di bidang musik.

Bagaimana peran orangtua dalam mendukung proses belajar musik Michelle?
Papa dan mama saya merupakan supporter terbesar saya dalam berkarir di bidang musik. Sejak saya kecil, beliau berdua menghendaki saya untuk belajar dan memperdalam musik sebagai karier hidup saya. Walaupun papa sibuk dengan pekerjaannya, beliau selalu menyempatkan waktu untuk mengantar saya les piano, ujian piano, lomba, performance, bahkan job di luar kota. Tapi beliau tidak pernah mengeluh dan malah senang bisa menemani saya. Kalau saya terlalu lama berlatih piano di rumah, justru papa yang sering khawatir dan selalu mengecek saya di ruang latihan. Karena unconditional love and endless support yang orangtua saya berikan, saya bisa lanjut bermusik sampai hari ini. Mungkin salah satu alasan papa mendukung saya untuk bermusik juga karena beliau suka musik. Papa bisa main piano, tapi belajar otodidak. Beliau sering memberikan pelayanan di gereja waktu masih SMP-SMA. Dulu papa saya minta untuk kursus piano, namun sama orangtuanya tidak disupport. Mama saya orangnya sangat positif dan ceria, jadi saat saya sedih dan butuh teman curhat, mama saya selalu ada dan memberi respon yang membuat saya merasa lebih baik. Saya tau mungkin mama saya jauh merasa lebih sedih, namun mama jarang menunjukkan hal itu di hadapan saya, beda sama saya yang lumayan ekspresif

Apa saja aktivitas Michelle sepeninggal papa?
Yang jelas tetap belajar dan mengajar musik secara online mengingat kondisi pandemi yang belum selesai. Kebanyakan orangtua murid juga masih khawatir kalau les offline. Kadang saya bantu mama saya bikin kue. Kadang saya juga buat piano cover dan aransemen piano pop di YouTube kalau ada waktu luang

Menurut Michelle, bagaimana pengajaran online saat ini?
Tentunya saat awal mengajar online, banyak tantangannya, karena musik itu bukan sesuatu yang dapat dipelajari secara instan. Namun saya merasa beruntung karena murid-murid saya dan orangtua mereka tetap semangat untuk mengikuti distance learning dari tahun 2020, bahkan murid-murid saya yang mengikuti ujian dan lomba bisa mendapatkan hasil yang memuaskan hanya dari pembelajaran online kami. Baik kursus online maupun offline, semua ada plus minusnya. Saya sendiri berusaha fleksibel sehingga bisa menemukan metode yang sesuai dengan setiap murid.

Apa tantangan mengajar online?
Tantangan yang paling sering saya alami dari mengajar online saat awal pandemi yaitu untuk menjaga murid saya yang masih anak-anak agar bisa fokus 100% selama kursus berlangsung. Maka dari itu, pendampingan orangtua terhadap anaknya sangat penting dalam pembelajaran online, khususnya untuk memaksimalkan fokus anak.

Apa plus minus mengajar piano secara online?
Keuntungan pertama tentunya adalah fleksibilitas waktu dan jarak. Distance learning ini membuka peluang baru bagi saya dan juga para pendidik musik lainnya untuk memperluas jangkauan murid, tidak hanya di dalam negeri namun juga di luar negeri, sehingga ‘market’ nya sendiri menjadi semakin luas. Bagi murid-murid yang berdomisili di kota besar, mungkin cukup mudah untuk menemukan guru piano yang bagus dan berpengalaman, namun untuk mereka yang tinggal di kota yang lebih kecil, akan susah mendapatkan akses tersebut, sehingga dengan adanya online learning, mereka bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang bagus dan memilih guru yang cocok dengan mereka tanpa khawatir akan jarak dan domisili. Kedua, saya bisa mendapatkan perspective baru dalam mengajar yang akan berguna untuk perkembangan belajar musik mereka. Contohnya, saya bisa memeriksa kondisi instrumen dan lingkungan latihan murid saya di rumah, apakah instrumen mereka butuh di tuned? Bagaimana posisi dan jarak kursi piano mereka saat latihan di rumah? Hal-hal kecil seperti itu tidak akan bisa saya cek sendiri apabila tidak melihat langsung melalui online lessons kami. Terlepas dari kelebihan distance learning di atas, ada beberapa kekurangan les online, khususnya untuk piano. Selain adanya kemungkinan untuk terganggu lingkungan sekitar yang bisa menyebabkan hilang fokus, murid juga tidak mendapatkan opportunity untuk bermain dan berlatih di instrumen guru mereka yang biasanya lebih professional. Internet yang ‘lemot’ juga bisa menjadi penghalang utama dalam kelancaran proses belajar mengajar online. Maka dari itu, penting untuk mengecek kondisi-kondisi tersebut sebelum benar-benar memutuskan untuk melakukan distance learning.

Apa rencana ke depan Michelle?
Untuk saat ini belum ada rencana-rencana ke depan mengingat situasi pandemi. Belum ada plan khusus untuk ke depan. Saya masih ingin break dulu. Prinsip saya saat ini ya just let flow. Untuk sementara, saya ingin fokus mengajar dulu, karena saya benar-benar enjoy mengajar. Saya merasa senang dan bersyukur jika pengetahuan saya bisa membantu murid saya untuk berkembang. Waktu melihat murid-murid saya bisa lebih mencintai musik, saya merasa puas.

Pesan apa yang bisa disampaikan Michelle, khususnya bagi mereka yang juga kehilangan orang-orang tercinta di tengah pandemi ini?
Awalnya saya sempat tidak bisa menerima kenyataan bahwa papa meninggalkan saya dan keluarga secepat itu. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Berhari-hari saya tercekam rasa tidak percaya itu. Tapi pada akhirnya saya menyerah, karena semua yang kita miliki di dunia ini, termasuk juga keluarga kita, hakikatnya bukan benar-benar milik kita. Tetapi milik Tuhan sang Pencipta, dan saat Tuhan mengambil semua itu, maka itu adalah hak Dia. Saya juga menyadari bahwa siapapun dia, cepat atau lambat pasti akan meninggalkan dunia yang sementara ini. Dengan kata lain, kematian itu sesuatu yang pasti dirasakan semua makhluk hidup. Suatu saat saya juga akan meninggalkan dunia ini dan berharap bisa bertemu dengan papa di sorga. Atas kesadaran seperti itulah, saya mulai bisa menyesuaikan diri untuk menjalani hari-hari selanjutnya tanpa papa di sisi saya. Saya tidak boleh bersedih terus menerus karena kehidupan harus tetap berjalan. Dan, saya masih punya tanggungjawab yang harus saya tuntaskan. Masih ada mama dan adik di samping saya. Jadi, apapun ketentuan Tuhan, saya harus menjalaninya dengan ikhlas. Saya percaya, Tuhan punya rencana lain yang terbaik buat saya dan keluarga saya.

Baiklah. Semoga Michelle tetap tegar
Terimakasih. (eds)

TENTANG ELIZABETH MICHELLE HERYAWAN

Elizabeth Michelle Heryawan merupakan pianis muda asal Surabaya yang menyelesaikan pendidikan Master of Music di Sydney, Australia tahun lalu (2021). Elizabeth juga telah menyelesaikan Yamaha Advanced Piano grade 3 dan Fellowship of London College of Music (FLCM) in piano performance.

Selain mengajar musik, Elizabeth menemukan ketertarikannya di bidang ethnomusicology, terutama musik Indonesia. Salah satu hasil karya Elizabeth, “Sedap Malam”, yang menggabungkan dua elemen dari musik Western dan musik tradisional Indonesia, Gamelan.

Dalam karir musiknya, Michelle telah meraih tiga rekor MURI dan dua rekor dunia dari Record Holders Republic. Rekor MURI Michelle yang pertama sebagai lulusan Diploma of London College of Music in Piano Performance Termuda di Indonesia yang diraih tahun 2015,ertepatan dengan acara HUT MURI yang ke 25, bersama dengan Menteri Perikanan dan Kelautan 2014-2019 (Susi Pudjiastuti), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia (Puan Maharani) dan Ketua Komisi Pemilihan Umum 2012-2016 (Husni Kamil Manik).

Michelle tampil di resital tahun 2015 di Jakarta, memainkan komposisi piano dari Baroque hingga Modern period dan karya Jaya Suprana. Michelle juga pernah diundang untuk wawancara di berbagai program TV nasional dan radio regional, salah satunya adalah ‘IDENESIA’ Metro TV dengan host Yovie Widianto tahun 2017. Michelle juga tampil di ‘British Sizzling Summer Toast 2019′ oleh British Chamber Indonesia dihadiri Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Owen Jenkins; ’93rd birthday celebration of Her Majesty Queen Elizabeth II 2019’ dihadiri Duta Besar Inggris untuk Indonesia 2014-2019, Moazzam Malik, dan Wagu Jatim, Emil Dardak, diundang Wali Kota Surabaya untuk audiensi di Balai Kota Surabaya pada tahun 2017. (*)

 

Article Bottom Ad